2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
September2009

FOKUS
PEREKONOMIAN INDONESIA TERUS MEMBAIK


Perkembangan perekonomian global yang terus menunjukkan pemulihan telah berdampak pada membaiknya ekonomi Indonesia. Bank Indonesia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh lebih baik dari perkiraan semula, baik untuk tahun 2009 maupun tahun 2010. Di tahun 2009, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 4,0-4,5% atau lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya sebesar 3,5-4,0%. Sementara itu, untuk tahun 2010, pertumbuhan ekonomi diprakirakan mencapai 5,0-5,5%.

Potensi itu, antara lain, ditunjukkan oleh laju konsumsi domestik dan ekspor pada kuartal III-2009 yang lebih baik dari perkiraan. Komoditas ekspor yang meningkat terutama CPO, batu bara, dan tembaga.

Di sisi permintaan domestik, penjualan barang-barang tahan lama dan barang-barang eceran meningkat. Konsumsi yang lebih baik itu selain bersumber dari tabungan masyarakat juga ditopang pembiayaan perbankan.

Namun, karena ini baru tahap awal, belum berdampak pada investasi baru. Namun, berbagai indikasi dari seluruh kawasan dunia semakin jelas terjadi pemulihan, sebagai implikasinya ada perbaikan permintaan ekspor Indonesia.

Permintaan domestik

Beberapa indikasi dari meningkatnya permintaan domestik terlihat dari meningkatnya indikator konsumsi   seperti  terlihat dengan membaiknya GDP sektor konsumsi pad kuartal II 2009 yang masih meningkat sebesar 4,8 % dibanding perioda yang sama tahun 2008. Padahal sebelumnya diperkirakan akan menurun tajam. Demikian juga pengeluaran konsumsi Pemerintah meningkat pesat sebesar 17% sehingga membantu meningkatkan permintaan pada pasar domestik.

Kenaikan konsumis masyarakat juga dapat dilihat dari  kenaikan kembali penjualan sepeda motor dan mobil yang sempat merosot diawal tahun 2009. Demikian juga  barang elektronik rumah tangga yang penjualan meningkat cukup tinggi walaupun kurs rupiah melemah terhadap US dollar. Namun ternyata harga jual barang elektronik tidak mengalami banyak perubahan.

Penjualan produk elektronik pada Mei 2009 mencapai Rp1,69 triliun atau meningkat sembilan persen dibanding bulan sebelumnya yang meraih Rp1,56 triliun.

Data Electronics Marketer Club (EMC) menunjukkan penjualan barang elektronik pada Mei didominasi jenis televisi sebanyak 333.094 unit, kulkas (211.361 unit), video/compact disk player (DVD/CD) (189.477 unit), mesin pompa air (133.406 unit), alat pendingin ruangan (AC)" (115.495 unit) dan mesin cuci (104.139 unit).

Sementara itu, persentase pertumbuhan penjualan alat elektronik yang tertinggi pada Mei 2009 dibanding periode sama tahun 2008, yakni jenis produk DVD/CD sebesar 189.477 unit dari 81.877 atau meningkat 131,4 persen.

Selanjutnya penjualan AC naik sekitar 11 persen (115.495 unit dibanding 104.113), mesin cuci sebesar 14 persen (104.139 unit dibanding 90.728), kulkas mencapai 8 persen (211.361 unit dibanding 195.846) dan mesin cuci sebesar 8,2 persen (133.496 unit dibanding 123.464). Hanya beberapa jenis barnag elektronik seperti TV dan perangkat audio  yang mengalami penurunan.

Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar AS yang terjadi pada awal Juni 2009, ternyata  tidak berpengaruh banyak terhadap harga produk elektronik secara keseluruhan, sehingga masyarakat masih tertarik untuk mengadakan pembelian.

Kalangan produsen otomotif optimistis penjualan mobil tahun ini melebihi target yang ditetapkan. Hingga September 2009, jumlah penjualan hampir mencapai 300 ribu unit mobil. Angka ini mendekati target akhir tahun, sebesar 450 ribu unit mobil.

Ketua Gabungan Asosiasi Kendaraan Bermotor Indonesia Gaikindo, Bambang Trisulo, Senin (12/10), mengatakan, penjualan mobil tertinggi dicapai pada Agustus lalu. Penjualan yang bertepatan dengan bulan Ramadan itu mencapai 48 ribu unit mobil. Sedangkan pada September atau setelah Lebaran, penjualan turun menjadi 38 ribu unit mobil karena adanya hari raya, namun diperkirakan tiga bulan mendatang penjualan mobil akan meningkat kembali seiring dengan membaiknya ekonomi nasional.

Kinerja ekspor

Selama semester I 2009 kinerja ekspor nasional menurun drastis sebagai dampak dari krisis finansial dunia saat itu yang telah menyebabkan menurunya permintaan dari pasar ekspor utama Indonesia seperti Amerika Serikat, Jepang dan negara Uni Eropa.

Pada tahun 2008 ekspor Indonesia mencapai US$ 126 milyar atau perbulan nilai ekspor mencapai lebih dari US$ 10 milyar. Pada bulan Januari 2009 nilai ekspor turun tajam sehingga hanya mencapai US$  7,1 milyar atau turun lebih dari 20% dari rata-rata ekspor bulanan tahun 2008.

Namun memasuki paruh kedua tahun 2009, kinerja ekspor terus menunjukkan perbaikan dan pada bulan Agustus 2009 ekspor kembali mencapai lebih dari US$ 10 milyar. Hal ini seiring dengan membaiknya ekonomi dunia seperti yang ditunjukkan dengan mulai pulihnya ekonomi  negara besar seperti Amerika Serikat dan Jepang yang sudah keluar dari resesi ekonomi yang paling parah dalam dua dekade terakhir ini.

Pemulihan ekspor Indonesia saat ini masih ditunjang oleh ekspor komoditi primer seperti crude palm oil (CPO), batubara, tembaga dan barang tambang lainnya, sejalan dengan meningkatnya permintaan produk primer dari China, India dan Korea Selatan.
Sementara itu produk manufaktur masih mengalami proses pemulihan yang lambat, karena masih banyaknya hambatan seperti suku bunga pinjaman yang masih tinggi walaupun suku bunga BI rate sudah turun jauh mencapai 6,5 % bulan Sepetember 2009.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan, pemerintah menyiapkan dana stimulus ekspor yang diharapkan bisa mendongkrak kinerja ekspor yang tahun ini masih minus. Dari stimulus ini juga diharapkan penetrasi ekspor ke pasar-pasar baru lebih terjaga. Namun, hingga kini belum dapat memastikan besaran anggaran yang disiapkan.

Nilai tukar Rupiah telah mulai menguat kembali

Setelah mengalami gejolak yang cukup tajam selama paruh pertama tahun 2009, nilai tukar rupiah mulai menguat kembali dan talah mulai stabil di level sekitar Rp. 9600 terhadap dolar AS. Hal ini tidak lepas dari masuknya kembali dana asing ke pasar Indonesia seperti yang ditunjukkan dengan membaiknya IHSG yang kini telah menembus angka 2500 yang merupakan pencapaian baru IHSG selama ini yang telah bangkit kembali dari kejatuhan pada tahun 2009.

Menguatnya nilai tukar rupiah juga terkait neraca pembayaran. Menurut Gubernur BI mengatakan, saat ini neraca pembayaran dalam kondisi surplus yang lebih baik daripada perkiraan. Cadangan devisa kuartal III-2009 mencapai 58,8 miliar dollar AS, cukup untuk 5-7 bulan impor dan pembiayaan utang luar negeri. Cadangan devisa ini mendorong apresiasi nilai tukar rupiah.


Kurs Rupiah terhadap dalam bulan mendatang diperkirakan masih akan terus menguat sampai kelevel Rp. 9300-9400 yang dianggap masih menguntungkan bagi eksportir. BI diperkirakan akan terus menjaga agar perubahan kurs tidak terlalu bergejolak baik ketika kurs melemah maupun ketika mulai mnguat seperti sekarang ini.

Inflasi relatif rendah

Selama tahun 2009 inflasi relatif rendah bahkan pada bulan Januari dan April terjadi deflasi sebesar 0,07 % dan 0,31% berturut-turut. Tingginya inflasi pada bulan September sebesar 1,05% terjadi karena pada bulan itu ada hari raya besar yaitu Iedul Fitri. Namun secara keseluruhan inflasi masih berada ditingkat yang rendah yaitu dalam 9 bulan pertama tahun 2009 baru mencapai 2,04%.

Menurut Bank Indonesia, rendahnya tekanan inflasi selama triwulan III-2009 terkait dengan ekspektasi inflasi yang membaik, nilai tukar rupiah yang menguat, dan perkembangan harga komoditas global yang masih rendah. Sementara, tekanan dari sisi permintaan masih minimal meski terindikasi sudah mulai meningkat. Dari faktor non-fundamental, selama triwulan III-2009, kebijakan Pemerintah di bidang harga masih minimal serta pasokan bahan pangan yang melimpah turut mengurangi tekanan terhadap harga. Kenaikan harga ruas tol pada 28 September 2009 diperkirakan memberi dampak minimal terhadap inflasi, sebesar 0,05% pada pembentukan inflasi di tahun 2009.

Rendahnya inflasi akan membantu memberikan iklim usaha yang kondusif karena akan membantu peningkatan daya beli masyarakat karena pertumbuhan ekonomi tidak tergerogoti oleh inflasi.

Pembiayaan Perbankan

Sektor perbankan secara umum juga relatif stabil. Secara mikro kondisi perbankan dalam kondisi baik. Ini ditunjukkan dengan posisi rasio kecukupan modal 17,3 persen per Mei 2009. Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) masih di bawah 5 persen.
Likuiditas perbankan termasuk antarbank membaik. Adapun penurunan suku bunga acuan BI yang sudah 250 basis poin sepanjang 2009 diikuti penurunan suku bunga perbankan.

Sejak kebijakan moneter dilonggarkan, suku bunga deposito mencatat penurunan 190 basis poin, suku bunga kredit baru turun 80 basis poin. Peluang penurunan suku bunga pinjaman mestinya masih besar. Lambatnya penurunan suku bunga pinjaman telah menyebabkan lambatnya pertumbuhan jumlah kredit, padahal untuk mendorong ekonomi agar berjalan lebih cepat terutama untuk sektor riil, maka suku bunga pinjaman yang rendah akan mendorong sektor usaha meningkatkan kemampuan keuangannya.


Kesimpulan

Indonesia dalam sembilan bulan terakhir 2009 telah menunjukkan kemampuannya untuk bertahan terhadap gejolak krisis finansial dunia yang telah banyak merontokkan ekonomi baik negara maju maupun negara berkembang. Pasar domestik yang besar mampu menahan dampak negatif krisis finansial global yang telah menciutkan pasar ekspor dunia terutama di negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropah.

Ketika ekonomi dunia berangsur pulih, optimisme di Indonesia semakin menguat karena kinerja ekspor menjadi semakin baik dan bahkan pada bulan September ekspor kembali mencapai elbih dari US$ 10 milyar. Sementara itu inflasi tetap rendah dan nilai tukar rupiah kembali menguat.

Indikator makro ini akan sangat membantu mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun masih banyak masalah yang harus dibenahi agar ekonomi Indonesia  bisa terus melaju. Peningkatan ekspor yang masih bertumpu kepada komoditi primer disebabkan sektor manufaktur yang masih lemah. Kondisi infrastruktur yang kurang memadai, suku bunga pinjaman yang masih tinggi, dan kurangnya insentif untuk sektor riil masih mempersulit sektor manufaktur untuk bisa meningkat.

Masalah ini akan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh Pemerintahan Presiden SBY dimasa tugasnya yang kedua mulai Oktober 2009 mendatang yang harus segera diatasi.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN - September 2009


FOKUS: PEREKONOMIAN INDONESIA TERUS MEMBAIK
  • Permintaan domestik
  • Kinerja ekspor
  • Nilai tukar Rupiah telah mulai menguat kembali
  • Inflasi relatif rendah
  • Pembiayaan Perbankan
  • Kesimpulan

PROFIL INDUSTRI: PERKEMBANGAN INDUSTRI ALUMINIUM SHEET DAN ALUMINIUM FOIL

PROFIL INDUSTRI: PASAR STAINLESS STEEL BATANGAN DAN KAWAT SANGAT TERGANTUNG PRODUK IMPOR
  • Pendahuluan
  • Volume pasar melonjak tahun 2008
  • Import meningkat sejak 2005
  • Pasar didominasi oleh grade SS 304
  • Sebagian besar impor oleh Industri pemakai
  • Impor terutama berasal dari  Asia
  • Pemasok utama stainless steel bar dan wire
  • Industri kawat las pemakai utama stainless steel bar dan wire
  • Profil pemakai besar stainless steel bar dan wire
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.