2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
 
MONTHLY REPORT
PERKEMBANGAN INDUSTRI KABEL DI INDONESIA

Maret 2009

Halaman Berikut>>

Pendahuluan

Industri kabel pasca krisis moneter tahun 1998 sangat terpuruk. Sampai tahun 2004 pemanfaatan kapasitas produksi hanya sekitar 25- 30% dari kapasitas produksi terpasang. Baru dalam tiga tahun terakhir yaitu semenjak tahun 2006, industri kabel mulai bergairah lagi.  Dari kapasitas terpasang sebesar 445 ribu ton/tahun, produksi kabel tahun 2007 hampir mencapai 300 ribu ton atau sekitar 65 %  dari kapasitas produksi. Maraknya pembangunan proyek pembangkit listrik dan juga makin bergairahnya pasar ekspor mampu mendukung pulihnya industri kabel.

Mendesaknya kebutuhan akan penambahan daya listrik mendorong Pemerintah membangun proyek pembangkit listrik baru dengan bahan bakar batubara. Tahap pertama Pemerintah merencanakan pembangunan 10.000 MW pembangkit listrik bertenaga uap yang diharapkan selesai tahun 2010 dan rencananya akan dilanjutkan dengan tahap berikutnya juga sebesar 10.000 MW.Proyek tahap pertama ini sudah berjalan dan telah mendorong permintaan terhadap kabel listrik untuk menyalurkan daya listrik sampai ke konsumen.

Selain di dalam negeri pasar kabel juga sudah banyak merambah ke pasar ekspor terutama di kawasan Timur Tengah. Negara kaya minyak di kawasan ini sedang marak dengan pembangunan kota-kota baru  setelah mendapatkan rejeki nomplok akibat meroketnya harga minyak semenjak tahun 2005.  Pembangunan kota baru tersebut pada gilirannya  membutuhkan pasokan  daya listrik  termasuk jaringan transmisi dan distribusinya.

Bergairahnya pasar kabel sepanjang tahun 2007 dan 2008 terlihat dari kinerja keuangan pabrik kabel yang telah go public. Selama tiga tahun terakhir penjualan dan keuntungan pabrik kabel meningkat pesat. Misalnya PT Sumi Kabel pada tahun 2004 nilai penjualannya hanya mencapai Rp.976 milyar, kemudian meningkat pesat mencapai Rp. 1.914 milyar tahun 2006. PT Supreme Cable (SUCACO) penjualan pada tahun 2007 meningkat pesat  menjadi Rp 2.281 milyar  dari Rp. 1.483 milyar tahun 2006.

Namun memasuki akhir tahun 2008, pasar kabel mulai melambat pertumbuhannya. Pasar ekspor juga muai mengendur karena banyaknya proyek infrastrukur dan pembangunan kota baru yang ditunda, menyusul krisis finansial global yang menyebabkan banyak perusahaan mengalami kesulitan dalam membiayai pembangunan proyeknya.

Di dalam negeri pasar kabel juga mendapat gangguan karena melambatnya pembangunan kelistrikan sebagai imbas krisis finansial global yang menyebabkan sulitnya mencari sumber pembuayaan bagi pembangunan proyek pembangkit listrik.

Kenaikan harga bahan baku seperti tembaga juga menyebabkan margin penjualan dari pabrik kabel semakin menyusut. Banyak perusahaan kabel yang mengalami rugi kurs karena melakukan pembelian bahan baku tembaga dalam denominasi US$ namun harus membukukannya dalam Rupiah.

Walaupun saat ini pasar menyusut, namun industri kabel masih mempunyai prospek yang menarik karena pembangunan pembangkit listrik umumnya terus dilanjutkan karena sudah menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. 

Jenis kabel

Industri kabel di Indonesia telah berkembang dan mampu memproduksi berbagai jenis kabel. Secara umum jenis kabel dibagi menjadi kabel listrik, kabel telekomunikasi, kabel control, fiber optic dan kabel lainnya.

Kabel listrik dikelompokkan kepada jenis tegangannya yaitu tegangan tinggi (High Voltage/HV), Medium Voltage (MV), dan Low voltage. Berdasarkan penggunaan isolasinya kabellistrik dibagi menjadi kabel telanjang yang terdiri dari kawat aluminium (Bare Alluminium Conductor) dan Bare Cooper Conductor. Umumnya kabel telanjang ini adalah kabel udara bertegangan ekstra tinggi, tinggi  atau menengah. 

Hampir semua pabrik kabel besar  memproduksi semua jenis kabel baik kabel listrik, telepon maupun fiber optic. Misalnya Seperti PT Sucaco, Sumi Indo Kabel, Voksel elektrik dll.

Setiap kabel memiliki kode pengenal yang menunjukkan jenis konduktor, jenis isolator, jenis  pelindung dll. Misalnya kabel berkode NYY adalah kabel dengan konduktor jenis tembaga (kode N), jenis bahan isolasinya PVC yang  terdiri dari 2 lapis (kode YY)

Kabel bisa memiliki beberapa jenis konduktor dan beberapa jenis  bahan isolasi. Juga diperlengkapi dengan bahan penguat atau pelindung dari pita baja. Misalnya kabel daya tegangan tinggi untuk diletakkan dibawah tanah biasanya selain memiliki beberapa lapis  isolator untuk pelindung dari tegangan listrik juga dilengkapi dengan lapisan pelindung dari pita baja untuk melindungi dari kemungkinan terkena kerusakan akibat kena hantaman benda keras atau benda tajam seperti penggalian secara tidak sengaja.


Produk Sucaco meliputi berbagai macam kabel low volatage, medium voltage dan high voltage. Selain kabel untuk listrik dan kabel telepon, Sucaco juga memproduksi kabel jenis enameled wire. Yang terdiri dari jenis Polyvinyl Formal Copper Wire, Polyester-imide Copper Wire,  Polyester Copper Wire,  Polyurethane Copper Wire, Polyester Nylon Copper Wire, Polyester Amide Imide Copper.


Standarisasi  Kabel

Pemerintah telah menetapkan  11 Standar Nasional untuk kabel diantaranya dua SNI telah ditetapkan sebagai SNI wajib oleh Departemen Perindustrian yaitu SNI 04-2697-1992 dan SNI 04-3234-1992.  SNI 04-2697-1992 diterapkan untuk untuk Kabel listrik   yang menggunakan  XPLE untuk bahan isolasinya dan kabell listrik tersebut bertegangan antara 1 kV sampai dengan 30 kV.  SNI 04-3234-1992 diterapkan untuk kabel fleksibel berisolasi dan berselubung PVC dengan  tegangan nominal 500 V (tegangan rendah) yaitu kabel jenis  NYMHY

Penetapan SNI wajib tersebut telah ditetapkan semenjak tahun 1988 melalui SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan No. 407/M/SK/10/1980.  mengenai penerapan standar industri Indonesia dan pemakaian tanda SII terhadap 6 (enam) standar kabel listrik tegangan rendah dan  pada tahun 1988 telah melalui SK Menteri No. 74/M/SK/2/1988 tentang penerapan standar industri Indonesia secara wajib dan penggunaan tanda SII bagi 5 (lima) macam kabel listrik untuk jenis fleksibel: SII.2256-87; SII.2257-87; SII.2258-87; SII. 2259-87 dan SII. 2260 -87.

Semenjak tahun 1992 Standar Industri Indonesia (SII) telah diubah menjadi Standar Nasional Indonesia (SNI) berdasarkan keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan tahun 1992.

Produsen kabel dan kapasitas produksinya

Pasca krisis moneter tahun 1998, jumlah pabrik kabel dan kapasitas terpasang relatif tidak banyak mengalami perubahan. Sebagai indikator anggota Asosiasi Produsen Kabel (APKABEL) yang mencakup hampir semua pabrik kabel semenjak tahun 1997 jumlah anggotanya tidak banyak berubah. Pada tahun 1997  sebelum krisis moneter jumlah pabrik kabel anggota APKBEL mencapai 35 perusahaan dan pada tahun 2006 jumlahnya berkurang menjadi 34 perusahaan.

Menurut catatan Departemen Perindustrian dari 48 pabrik kabel yang terdaftar pada tahun 2005, hanya 33 pabrik yang beroperasi.

Jumlah pabrik kabel anggota Asosiasi Produsen Kabel (Apkabel)

"        1974 =   5 perusahaan
"        1997 = 35 perusahaan
"        2000 = 35 perusahaan
"        2002 = 36 perusahaan
"        2005 = 33 perusahaan
"        2006 = 34 perusahaan
Demikian juga dengan kapasitas produksi kabel nasional. Semenjak tahun 2004 kapaitas produksi kabel nasional tidak banyak mengalami peningkatan. Menurut catatan APKABEL kapasitas produksi kabel nasional mencapai 445 ribu ton per tahun untuk segala jenis kabel diantaranya yang terbesar adalah kabel power.

Tabel - 5
Total Kapasitas Produksi kabel nasional tahun 2006

Jenis Kabel                        Kapasitas produksi
                               (ton/ tahun)
o Telecommunication Cable        132,900
o Power Cable                        258,650
o Special Cable                        43,150
o Enammeled Wire                8,800
TOTAL                                445,090
Sumber: Apkabel


Sebagian besar pabrik kabel telah beroperasi sebelum krisis moneter tahun 1998 yang lalu. Pada waktu itu kapasitas produksi kabel meningkat pesat sejalan dengan tingginya pembangunan waat itu. Namun  sejak krisis moneter hampir tidak ada lagi penambahan pabrik baru.

Rendahnya permintaan pada waktu itu menyebabkan banyak pabrik beroperasi jauh dibawah kapasitas produksinya. Baru semenjak tahun 2005 produksi meningkat kembali dan puncaknya tahun 2007 ketika permintaan terhadap kabel baik di dalam maupun diluar negeri meningkat.

Pada masa itu mulai lagi ada investasi di industri kabel baik untuk perluasan maupun pembangunan pabrik baru. Misalnya sebuah perusahaan Malaysia membangun pabrik di Medan yaitu PT Wonderful Wire and Cable. Sementara sebuah perusahaan PMA yaitu PT Prysman juaga menambah kapasitas pabriknya.

Saat produsen kabel terbesar di Indonesia ada sekitar  15 perusahaan. Umumnya pabrik kabel yang besar sudah beroperasi cukup lama seperti PT Tranka  Kabel  yang mulai berproduksi tahun 1952.

PT Sumi Indo Kabel Tbk (Perusahaan) didirikan pada tanggal 23 Juli 1981, dengan nama PT Industri Kawat Indonesia. Perusahaan mengubah namanya menjadi PT IKI Indah Kabel Indonesia tahun  1982.

PT Voksel Electric Tbk. Berdiri tahun 1971 kemudian statusnya menjadi PMA setelah bekerja  sama dengan  Showa Electric Wire & Cable Co. Ltd  dari Jepang. Tercatat ada 6 pabrik kabel yang telah go public. Selain PT Supreme Cable Manufacturing and Commerce TBK (SUCACO), PT Sumi Indo Kabel, PT Kabelindo, PT Voksel Electric,  PT KMI Wires and Cables dan PT Jembo Cable.

Produksi kabel mendekati kapasitas penuh

Industri kabel mengalami pukulan yang hebat ketika terjadi krisis moneter karena turunnya permintaan akibat berkurangnya pembangunan. Pada saat krisis utilisasinya hanya sekitar 25%-30%, Keadaan mulai membaik tahun 2004 dan 2005 setelah ekonomi Indonesia mulai stabil dan pembangunan infrastruktur termasuk pembangunan di sektor kelistrikkan.


Namun perkembangan yang menonjol terjadi tahun 2007 setelah secara gencar Pemerintah melakukan pembangunan pembangkit listrik dan jaringannya melalui proyek percepatan pembangunan pemabngkit listrik 10,000 MW. Disamping permintaan dalam negeri yang melonjak juga terjadi kenaikan dari ekspor terutama kawasan Timur tengah yang saat itu sedang giatnya membangun kota=kota naru beserrta infrastruktur pendukungnyaq seperti listrik.


Dengan tingginya permintaan kondisi industri kabel nasional tahun 2007 telah membaik. pada tahun 2007 pemanfaatan kapasitas naik dan sudah mencapai  65%-70%. Produksi kabel nasional tahun 2008 diperkirakan mencapai 90% dari total kapasitas terpasang sebesar 445,090 ton, jika program percepatan proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt berjalan lancar.


Bila tingkat utilisasi produksi kabel di dalam negeri bisa mencapai 90%, berarti kondisinya akan sama dengan posisi sebelum krisis. Karena itu pelaku industri ini berharap proyek pemerintah tersebut berjalan lancar.

Pertumbuhan produksi kabel yang pesat terutama untuk jenis kabel listrik karena gencarnya pembangunan jaringan listrik sebagai bagian dari pembangunan pembangkit listrik baru.

Sementara untuk produk kabel telpon yang dikenal dengan jenis metalik kini justru akan mengalami pergeseran.  Pasalnya hampir seluruh operator telepon termasuk PT Telkom Tbk beralih menggunakan serat optik. Hal ini telah diantisipasi olehi industri kabel nasional,  karena hampir seluruh pabrik kabel metalik juga mampu memproduksi serat optik.
Pemerintah, telah memiliki rencana pengembangan ring palapa yang akan mendorong permintaan produk kabel serat optik

Memasuki akhir tahun 2008 permintaan terhadap kabel mulai menurun semenjak krisis finansial global mulai berdampak kepada kelangsungan berbagai proyek infrastruktur dan properti didunia. Banyak proyek properti dan pembangunan kota baru di kawasan Timur tengah yang ditunda pelaksanaannya shingga mengendurkan permintaan terhadap berbagai bahan bangunan termasuk kabel listrik.

Halaman Berikut>>
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan