INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Maret 2009
FOKUS
KINERJA EMITEN 2008 BUKTIKAN FUNDAMENTAL EKONOMOMI INDONESIA MASIH CUKUP KUAT
Fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup kuat ditengah terjangan krisis finansial global sepanjang tahun 2008, terlihat dari masih tumbuhnya pendapatan emiten di Pasar Modal.
Berdasarkan laporan keuangan tahun 2008 yang baru saja dipublikasikan, pendapatan berbagai perusahaan besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tergabung dalam 45 saham terlikuid (LQ45) tumbuh rata-rata 34 persen.
Beberapa perusahaan pertambangan seperti Indo Tambang Raya Megah,Tambang Batubara Bukit Asam, dan Adaro Energy bahkan tumbuh lebih dari 40 persen pada 2008.Pertumbuhan tersebut terjadi baik dari sisi volume maupun harga.
Emiten sektor pertambangan yang keuntungannya menurun adalah sektor pertambangan di luar batubara seperti timah dan nikel karena harga barang tambang tersebut pada tahun 2008 terus menurun, setelah mencapai puncaknya tahun 2007. Demikian juga perusahaan minyak yang mengalami penurunan keuntungan pada tahun 2008 setelah nharga minyak turun mencapai harga terendah dalam dua tahun terakhir.
PT Aneka Tambang pada tahun 2008 hanya memperoleh keuntungan Rp 1,3 trilyun dari sebelumnya Rp. 5,1 trilyun pada tahun 2007 atau menurun sekitar 73%. Demikian juga PT Timah dan PT Inco yang labanya merosot tajam.
Laba Emiten sektor Pertanian meningkat pesat
Sementara delapan emiten di bidang pertanian dan perkebunan seperti Astra Argo Lestari, Tunas Baru Lampung, Bakrie Sumatra Plantation, Sampoerna Agro, Astra Agro Lestari, PP London Sumatera BISI International dan Gozco Plantation pendapatannya tumbuh lebih dari 30 persen atau secara keseluruhan pendapatan ke delapan emiten tersebut tahun 2008 tumbuh 47,8% dibanding tahun 2007.
Peningkatan laba yang diperoleh emiten di sektor Pertanian dan Perkebunan berbeda. Sebagian perusahaan mengalami penurunan laba, namun secara umum emiten disektor pertanian mengalami peningkatan laba pada tahun 2008 dibanding 2007. Misalnya Astra Agro Lestari pada tahun 2008 berhasil membukukan laba sebesar Rp. 2,63 trilyun atau meningkat 33% dibanding laba tahun 2007 yang mencapai Rp. 1,97 trilyun; Sedangkan Bakrie Sumatera Plantation labanya mengalami penurunan sebesar 16% pada tahun 2008 dibanding tahun sebelumnya. Secara umum rata-rata peningkatan laba ke delapan emiten disektor pertanian ini pada tahun 2008 mencapai 50,3%
Secara umum kebanyakan emiten yang tergabung dalam saham LQ45 mengalami peningkatan laba selama tahun 2008, hanya 10 perusahaan yang labanya menurun dan satu yang mengalami kerugian yaitu Barito pacific. Kerugian Barito Pacific berasal dari unit Petrokimia (Candra Asri) yang baru diakuisisinya akhir tahun 2007.
Emiten besar seperti Astra International pada tahun 2008 mampu membukukan peningkatan pendapatan sebesar 38,3% yaitu dari Rp 70 trilyun tahun 2007 menjadi Rp. 97 trilyun tahun 2008. Laba yang diperoleh pun meningkat dari Rp. 6,5 trilyun menjadi Rp. 9,2 trilyun tahun 2008 atau meningkat 41%
Berikut ini dapat dilihat kenerja keuangan 40 emiten yang tergabung dalam saham emiten yang terlikuid atau LQ45.
Kinerja emiten yang baik menunjang perbaikan ekonomi
Kinerja emiten yang relatif masih bagus dalam tahun 2008 dan juga laporan dari sebagian emiten yang masih mengalami keuntungan pada kwartal I 2009 memberi andil yang cukup besar kepada tingkat kepercayaan bagi investor dan dunia usaha.
Ditengah tekanan internasional yang masih berat seperti masih lemahnya pasar ekspor dan sulitnya mendapatkan sumber dana dari luar negeri merupakan tantangan yang dihadapi banyak negara termasuk Indonesia dan negara Asean lainnya. Dalam kondisi krisis banyak negara tetangga Indonesia yang kondisinya lebih sulit karena ketergantungan terhadap pasar ekspor yang besar dan ketergantungan kepada investor asing, maka kondisi Indonesia yang sebelumnya merupakan kelemahan kini menjadi faktor penunjang daya tahan ekonomi.
Masih kuatnya pasar lokal diperlihatkan dengan masih banyaknya emiten yang berbasis pasar dalam negeri seperti industri barang konsumsi yang tetap mendapatkan keuntungan yang tinggi. Walaupun pasar dmestik juga melemah sebagai dampak dari krisis finansial global namun beberapa indikator mulai menunjukkan peluang untuk membaiknya pasar domestik. Misalnya di dalam negeri inflasi sudah bisa dikendalikan sehingga BI kembali menurunkan BI rate sampai 7,5%, Diharapkan jika bank sudah mampu menurunkan suku bunga dan menggenjot kembali pinjaman maka daya beli masyarakat juga akn terangkat.
Walaupun ekspor komoditi lainnya seperti produk manufaktur masih terus menurun namun masih banyak juga produk ekspor Indonesia lainnya yang masih mendapatkan pasar terutama komoditi primer seperti minyak sawit dan batubara yang tetap dibutuhkan dan harganya mulai merangkak lagi.
Disamping itu yang tidak kalah penting adalah kondisi politik maupun keamanan yang kondusif walaupun menghadapi Pemilihan Umum. Hal ini memberikan tingkat kepercayaan yang tinggi bagi dunia usaha.
Memang kondisi ini akan sulit dipertahankan jika krisis finansial global berlarut-larut penyelesaiannya. Demikian juga jika langkah perbaikan ekonomi tidak bisa ditunjukkan oleh Pemerintah secara nyata kepada rakyat maka kondisi sosial dan politik akan terganggu. Namun demikian nampaknya kini Indonesia berada dalam keadaan yang relatif lebih baik dari negara tetangga yang mengalami ketidak stabilan politik seperti di Thailand, maupun gangguan keaman yang masih merongrong seperti di Filipina. Bahkan Malaysia dan Singapura kini kondisinya tidak lebih baik dari Indonesia.
Dengan kondisi pelaku ekonomi yang masih sehat seperti yang ditunjukkan oleh emiten yang masih mampu meraih keuntungan, maka hal ini bisa menjadi bekal yang positif bagi Pemerintahan Indonesia yang akan datang.