2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
November 2010

FOKUS

ANCAMAN INFLASI DIAKHIR TAHUN 2010


Menjelang akhir tahun 2010, optmisme masyarakat memasuki tahun 2011 yang cukup menggebu karena harapan pulihnya ekonomi dunia, agak terganggu dengan kekhawatiran ancaman inflasi yang tinggi karena naiknya harga berbagai jenis bahan pokok seperti beras, cabe dan bumbu masak lainnya. Kekhawatiran ini juga ditunjukkan dengan terkoreksinya IHSG pada bulan November 2010 padahal sebelumnya sepanjang tahun 2010, pasar modal Indoneisa terus menunjukkan kinerja yang baik.

Turunnya IHSG merupakan cerminan pelaku pasar yang mengharapkan Bank Indonesia dan Pemerintah bertindak mengatasi inflasi dengan menaikan suku bunga. Namun nampaknya BI dan Kementrian Keuangan belum melihat perlunya menaikan suku bunga. Sampai bulan November 2010  Bank Indonesiamasih mempertahankan tingkat suku bunga BI rate sebesar 6.5% yang telah bertahan semenjak tahun 2009 yang lalu. Dan kelihatannya BI menilai kenaikan inflasi penyebabnya  faktor suplai sehingga menaikan suku bunga tidak akan berdampak banyak terhadap keseimbangan pasok. BI berharap inflasi akan normal lagi jika masalah pasok sudah teratasi.

Inflasi naik bulan November

Pada bulan November 2010 terjadi inflasi sebesar 0,60 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 124,03. Dari 66 kota IHK, 61 kota mengalami inflasi dan 5 kota mengalami deflasi.

Pada bulan Oktober 2010 sebelumnya inflasi hanya mencapai 0,06% dan bulan September 0,44%.  Dengan demikian laju inflasi tahun kalender (Januari-November) 2010 mencapai sebesar 5,98 persen dan laju inflasi year on year (November 2010 terhadap November 2009) sebesar 6,33 persen.



Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada kelompok bahan makanan yaitu sebesar  1,49 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,46 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,25 persen; kelompok sandang 0,89 persen; kelompok kesehatan 0,09 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,08 persen dan kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan 0,01 persen.



Harga bahan makanan naik

Kenaikan harga beras dan bumbu makanan seperti cabe telah menjadi pendorong utama inflasi pada akhir tahun 2010. Harga beras mulai merayap pada bulan Oktober harga beras jenis IR 64 kualitas sedang Rp 7.000/kg  kemudian naik menjadi   Rp 7,200 per kg pada akhir November. Sementara itu harga bumbu masak seperti cabe meningkat lebih tinggi lagi dari sebesar Rp 11,000 Per kg pada bulan Oktober menjadi   Rp 20,000 Per kg pada akhir November 2010.

Diperkirakan kenaikan harga ini masih akan berlanjut sampai bulan Februari tahun 2011. Terhambatnya pasok beras  dan cabe terjadi akibat gangguan  cuaca ekstrim yang banyak menyebabkan kegagalan panen dan kacaunya pola tanam padi. Pengaruh gangguan cuaca bukan hanya terjadi di Indonesia tapi juga hampir seluruh dunia sehingga mengganngu pasok  bahan makanan. Seperti banjir besar di Australia telah mengganggu pasok gandum yang banyak diekspor oleh negara tersebut. Demikian juga akibat gangguan cuaca Rusia dan Ukraina mulai  membatasi ekspor gandum.

Berkurangnya pasok bahan makanan dunia berpengaruh terhadap pasokan bahan pangan lain seperti beras, sehingga harga beras dunia cenderung naik.



IHSG mulai terkoreksi

Kekhawatiran berlanjutnya inflasi sampai tahun 2011, menyebabkan terkoreksinya pasar modal. Selama tahun 2010 IHSG terus meningkat didorong oleh kepercayaan pasar terhadap ekonomi Indonesia yang terus tumbuh dan mampu menghindari dampak dari krisis finansial global. Kondisi ekonomi Indonesia yang baik ini telah mendorong derasnya dana asing masuk ke Indonesia salah satunya masuk ke pasar modal. Kenaikan IHSG terutama terjadi pada bulan September 2010 yaitu IHSG mencatatkan kenaikan sebesar 13,6% dibanding bulan Agustus 2010 dari 3081 pada akhir Agustus 2010 menjadi 3501 pada akhir September 2010. Kenaikan terus berlanjut sehingga pada akhir Oktober 2010 IHSG mencapai 3635.

Optimisme yang terus meningkat selama tahun 2010 mulai menghadapi tantangan ketika kecenderunga  inflasi mulai mengurangi keyakinan pelaku pasar. Pada pertengahan November 2010 IHSG mulai terkoreksi sehingga pada akhir November, IHSG anjlok 99,425 poin (2,72%) ke level 3.531,211. Sentimen negatif dunia menjadi pemicu turunnya IHSG. Pada awal perdangangan 30 November 2010, investor bahkan melepas saham-saham blue chips di sektor konsumer, pertambangan serta perbankan.

Biasanya pada akhir tahun IHSG akan membaik kembali.



Tak perlu khawatir berlebihan

Ancaman inflasi yang terus meningkat menyebabkan timbulnya desakan untuk menaikan suku bunga BI, namun pada sisi lain timbul kekhawatiran apabila suku bunga BI meningkat maka bunga kredit perbankan akan meningkat sehingga biaya bunga menjadi tinggi. Pada gilirannya hal itu akan menyebabkan  pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melemah tahun 2011.

Seharusnya penyebab inflasi yaitu kekurangan pasok bahan pangan terutama beras diatasi terlebih dahulu sehingga faktor pendorong inflasi akan hilang sejalan dengan menurunnya harga beras. Dengan gangguan cuaca ekstrim yang masih terus berlanjut maka banyak pihak meragukan pasok beras dari dalam negeri akan mampu mengatasi kelangkaan pangan yang terjadi saat ini. Maka satu-satunya pilihan adalah dengan membuka kembali pintu impor beras.


Pada bulan November Pemerintah kembali memberi Ijin  impor beras kepada Perum Bulog sebanyak 300.000 ton yang akan direalisasikan hingga akhir tahun 2010. Dengan demikian total impor beras pemerintah tahun ini menjadi 600.000 ton.

Sebelumnya Bulog telah mengantongi izin impor beras sebanyak 300.000 ton beras dari Kementerian Perdagangan. Tambahan impor beras sebanyak 300.000 ton untuk memastikan stok beras Bulog hingga 1,5 juta ton di penghujung tahun 2010 bisa terpenuhi. Impor beras tambahan sebanyak 300.000 ton ini berasal dari Vietnam dan Thailand. Rencana akan masuk paling lambat bulan Desember 2010.

Tentu saja tidak semua pihak senang dengan opsi impor beras ini. Terutama petani yang sudah menurun daya belinya karena barang-barang menjadi mahal akibat kenaikan inflasi, kini mereka dihadapkan pada kemungkinan harga beras akan anjlok jika beras impor masuk. Impor beras pada akhir tahun dianggap tidak perlu karena hasil angka ramalan BPS produksi beras masih naik 2,46%, sehingga produksi beras nasional akan masih tetap surplus. Meskipun ancaman penguatan La Nina masih akan terjadi pada akhir tahun ini.

Namun jika Pemerintah tidak segera mengantisipasi pemenuhan pasok beras dan terlambat melakukan impor dikhawatirkan akan menghadapi kondisi seperti yang dialami Philipina tahun 2008 yang lalu yaitu ketika mereka terlambat mengimpor beras ditengah harga beras yang terus meningkat. Pada bulan November 2010 kekhawatiran terus melesatnya harga beras sebenarnya terlalu dibesar-besarkan karena memang  pada bulan itu sedang dalam akhir musim panen sementara harga beras dunia sedang naik. Namun jika musim panen diawal tahun depan tiba yaitu sekitar bulan Februari diperkirakan harga beras akan turun kembali. Sehingga tidak perlu ada kekhawatiran berlebihan bahwa  inflasi akan terus membumbung tahun 2011. Dengan masuknya masa panen maka harga beras akan dapat t ditekan kembali.

Tentu saja Pemerintah harus bisa mengatur supaya impor beras hanya dilakukan sebelum masuk masa panen dan segera dihentikan menjelang masa panen, supaya harga beras tidak anjlok yang akan merugikan petani.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN -November 2010

FOKUS: ANCAMAN INFLASI DIAKHIR TAHUN 2010

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI PERBANKAN TUMBUH

KEUANGAN : BISNIS BANK SYARIAH RAIH PERTUMBUHAN 35,6% PER TAHUN

HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.