INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER - Edisi Indonesia
Desember 2008
PROSPEK INDUSTRI MANUFAKTUR TAHUN 2009
Prospek industri manufaktur per sektor tahun 2009
Industri semen
Pertumbuhan industri semen hingga akhir tahun 2008 masih mencapai kisaran 11%. Namun, pertumbuhan sebesar itu kemungkinan sulit dicapai pada 2009, karena hampir semua sektor, termasuk properti dan pembangunan infrastruktur ikut terkena dampak krisis global.
Akan menurunnya kinerja industri semen karena sebagian besar proyek investasi juga dievaluasi ulang dan investor sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Semen Gresik BUMN yang merupakan produsen semen terbesar di Indonesia, yang menguasai 45% pangsa pasar semen dalam negeri, di mana 95% produksi untuk memenuhi pasar lokal, hanya mentargetkan peningkatan produksi sebesar 1,6% dari produksi tahun 2008.
Sementara itu PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memprediksikan pertumbuhan produksinya tahun 2009 akan berjalan lambat, diperkirakan mencapai kisaran angka 0-5 persen.
Kendati demikian, INTP akan terus melanjutkan investasinya dalam membangun unit baru penggilingan pabrik semen sebanyak dua unit di Cirebon dengan kapasitas produksi sebesar 1,5 juta ton. Rencananya, pembangunan penggilingan pabrik semen yang memakan dana sebesar USD50 juta akan ditargetkan selesai pembangunannya pertengahan tahun depan, tepatnya pada bulan Juni 2009.
Sebagai gambaran, saat ini kebutuhan semen sebagian besar 15 persen untuk sektor infrastruktur dan 85 persen untuk sektor properti dan lain-lain. Sementara untuk permintaan semen hingga Oktober 2008 tercatat sebanyak 37 juta ton, dari suplai yang ada sebanyak 50 juta ton.
Industri tekstil
Departemen Perindustrian memperkirakan pertumbuhan tekstil pada 2009 akan turun menjadi minus 2,2 persen. Hal ini merupakan dampak penurunan daya beli dari negara tujuan ekspor. Pada triwulan ketiga tahun 2008 pertumbuhan sektor industri tersebut mencapai minus 3,4 persen.
Menurut Direktur Jenderal Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka, Anshari Bukhori, produk alas kaki, 50 persennya diekspor dan 40 persen negara ekspor ada di Eropa dan Amerika yang merupakan negara tempat berawalnya krisis keuangan global ini, yang hingga saat ini dalam kondisi yang masih terpuruk.
Industri sektor riil seperti tekstil paling cepat terkena imbas krisis global karena permintaan pasar terhadap produk sektor ini langsung berkurang. Pesanan Januari sampai Maret 2009 sudah tercatat ada penurunan sehingga pangsa pasar pun turut menciut. Antara lain mencontoh, konsumsi tekstil Amerika berkurang dari 38 kg per kapita menjadi 32kg per kapita, hal yang sama terjadi di Eropa.
Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengungkapkan bahwa industri tekstil tak mampu mencapai target ekspor US$ 11 miliar pada 2008. Ekspor tekstil hanya mencapai US$ 10.6 miliar, sedikit di atas nilai ekspor tahun 2007 sebanyak US$ 10.3 miliar.
Kondisi ini membuat perusahaan tekstil Indonesia mulai memperketat pengeluarannya untuk 2009, antara lain dengan melakukan PHK. Menurut perkiraan Asosiasi Pertekstilan Indonesia, paling sedikit 10 persen pekerja akan dirumahkan atau menerima pemutusan hubungan kerja. Hal ini tidak bisa dibendung, karena volume permintaan tekstil menurun jauh.
Industri baja
Satu lagi industri yang akan memangkas produksinya pada tahun 2009 karena krisis keuangan global adalah industri baja.. Pengusaha industri baja nasional memperkirakan akan memangkas produksinya pada tahun 2009 sebesar 30% hingga 40%. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Anshari Bukhari menyatakan produksi baja Indonesia tahun 2009 diperkirakan turun antara 30 persen - 40 persen dibanding tahun 2008.
Pada tahun 2008, total produksi baja Indonesia sebanyak 4 juta ton dan bila tahun depan terjadi perkiraan penurunan produksi sebesar 30-40 persen maka jumlah produksi baja tahun 2009 diperkirakan sebesar 2.4 juta sampai 2.8 juta ton.
Pemangkasan produksi bukan tanpa sebab. Ada tiga faktor menjadi alasan produsen mengurangi produksi mereka. Pertama, produsen hulu dan hilir masih memiliki stok bahan baku yang menumpuk yang mereka beli pada saat harga tinggi. Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Terakhir, ketergantungan industri dalam negeri terhadap produk baja impor.
Masih menumpuknya bahan baku baja, karena pada akhir tahun 2008 banyak produsen baja mengimpor baja yang didominasi oleh bahan baku baja berupa bijih besi, billet, dan baja kasar (scrap).
Kondisi ini terlihat dari impor baja selama Januari-Oktober 2008 yang melonjak hingga 124%, dibandingkan periode yang sama tahun 2007, dari US$ 4,52 miliar menjadi US$ 10,15 miliar.
Padahal dengan anjloknya harga baja produk jadi berupa baja canai panas (hot rolled coils/HRC), impor bahan baku yang melonjak tajam itu berpotensi tidak akan diolah atau menumpuk di gudang. Soalnya, harga produk hilir saat ini cenderung menurun, sedangkan harga bahan baku stagnan.
Industri otomotif
Tahun 2008 merupakan masa keemasan penjualan industri otomotif, karena menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) periode Januari-November 2008 penjualan mobil nasional mencapai 568.150 unit. Sampai akhir tahun 2008 diperkirakan penjualan menembus 600 ribu unit, angka ini berarti jauh melampaui penjualan selama 2007 yang hanya 432 ribu unit.
Tingginya penjualan pada tahun 2008 diperkirakan tidak akan terulang pada tahun 2009, karena pada akhir tahun 2008 permintaaan produk otomotif kembali menurun , seiring turunnya pertumbuhan perekonomian dan pengetatan likuiditas perbankan akibat krisis keuangan global yang masih berlangsung hingga saat ini.
Seperti yang disampaikan Wakil Ketua Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johnny Darmawan, penjualan otomotif pada tahun 2009 diperkirakan akan menurun 30 persen dari pencapaian tahun 2008 ini yang mencapai sekitar 600.000 unit, Kondisi ini terjadi karena banyak konsumen yang terpaksa membatalkan pembelian kendaraan karena dampak dari krisis saat ini.
Menurut Dirut PT Toyota Astra Motor (TAM) ini, pembatalan pembelian kendaraan itu lebih banyak dialami pada segmen menengah ke atas. Karena meskipun Indonesia tidak lepas dari pengaruh krisis keuangan ini, tetapi kemungkinan besar yang terkena imbasnya adalah penjualan mobil-mobil besar (dengan mesin di atas 2.000 cc), karena tingkat keterdesakan membeli mobil-mobil besar relatif lebih rendah dibandingkan dengan keterdesakan konsumen dalam membeli mobil kecil dan menengah (1300 CC - 2,000 CC) sehingga konsumen akan menunda pembelian mobil besar tersebut.
PT Isuzu Astra Motor Indonesia tidak berani mentargetkan terlalu tinggi pada tahun depan, sehingga target penjualannya pada tahun 2009 hanya 17.000 unit saja. Sementara itu TAM tetap yakin target penjualan tahun ini bisa tercapai. sehingga TAM tidak akan merevisi target penjualannya yang sebanyak 185 ribu unit. TAM pun akan tetap mematok target market share sebanyak 35%.
Jenis Multi Purpose Vehicle (MPV) masih akan mendominasi penjualan tahun 2009, karena pola permintaan masyarakat terhadap mobil di Indonesia masih tetap didominasi oleh mobil yang ukurannya cukup luas, harga yang terjangkau serta irit bahan bakar.
Sementara itu menurut Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata, penjualan sepeda motor pada tahun 2009 akan mengalami penurunan berkisar 30 persen dari target 2008, sehinga diperkirakan akan mencapai angka 4,5 juta unit.
Dominasi Honda motor di kendaraan roda dua di Indonesia sampai saat ini belum terpatahkan oleh para pesaingnya. Karena sampai akhir tahun 2008, Honda masih mampu menjual sekitar 600.000 hingga 700.000 unit sehingga total penjualan Honda menjadi sekitar 2,7 juta hingga 2,8 juta unit.
Jenis sepeda motor bebek masih mendominasi penjualan sepeda motor di Indonesia, dan mulai disaingi penjualannya oleh jenis skutermatik. Pada tahun 2009 ini pasar skutermatik diperkirakan akan meningkat penjualannya, meskipun secara total penjualan sepeda motor di Indonesia akan menurun.
Industri Pulp & Kertas
Produsen pulp atau bubur kertas dan kertas nasional seperti juga sektor industri lainnya sedang dalam kondisi terpuruk. Imbas krisis membuat produsen pulp dan kertas memangkas produksi mereka tinggal 50% dari kapasitas produksi mereka. Akibatnya, produksi pulp turun dari 6 juta ton menjadi hanya tinggal 3 juta ton. Sementara produk kertas turun dari 8 juta ton menjadi 4 juta ton pada tahun 2008.
Harga kedua produk itu pada akhir 2008 terus melorot ke kisaran US$ 700 per ton dari US$ 1100 per ton untuk kertas. Sementara harga pulp jatuh dari US$ 800 per ton menjadi US$ 400 per ton. Akibatnya produsen menurunkan produksinya karena harga terus menurun, selain itu ditambah oleh sulitnya mendapatkan pembeli.
Pada semester pertama 2008, produsen menikmati pertumbuhan yang positif, karena permintaan maupun harga kertas sangat baik. Kondisi ini membuat banyak produsen meningkatkan produksi hingga kapasitas produksi maksimal. Dari total produksi pulp dan kertas nasional, sebesar 50% dijual ke pasar ekspor.
Berdasarkan data asosiasi menunjukan kinerja ekspor pulp dan kertas dalam dua tahun terlihat cukup baik. Tahun 2006, mencapai US$ 1,39 miliar. Kemudian naik menjadi US$ 1,69 miliar pada 2007. Negara Tujuan ekspor adalah Amerika, Jepang, Korea, Thailand, Timur Tengah dan China. Jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor ini naik dari 243.537 orang pada 2006 menjadi 247.722 orang pada 2007. Artinya, ada peningkatan yang baik di industri pulp dan kertas nasional.
Kondisi berubah total setelah krisis, karena pasar yang selama ini menjadi tumpuan penjualan seperti Amerika dan Eropa terus menurun jumlah pesanannya, karena itu pula harga pulp dan kertas ikut anjlok. Pengusaha yang tengah gencar menggenjot produksi terkena dampak besar. Akibatnya, beberapa produsen mengambil kebijakan drastis. Mulai dari merumahkan karyawan hingga memecat mereka. Kondisi ini mengakibatkan pada tahun 2009 penjualan sektor industri kertas akan menurun akibat melemahnya pasar ekspor serta semakin sulitnya mendapatkan bahan baku.
Industri pupuk
Sektor industri pupuk merupakan salah satu sektor industri yang tidak terlalu mengalami dampak krisis keuangan global saat ini, karena sebagian besar produksinya adalah untuk memasok kebutuhan domestik, karena saat ini pemerintah sedang menggalakan revitalisasi industri pertanian untuk meningkatkan produksi hasil pertanian terutama tanaman pangan.
Pada tahun 2009 pemerintah mentargetkan swasembada pangan untuk beberapa komoditi pertanian antara lain beras, jagung dan beberapa komoditi utama lainnya. Kondisi ini mengakibatkan kebutuhan terhadap pupuk pada tahun 2009 masih akan terus meningkat, karena pembangunan beberapa pabrik baru masih menjadi program yang menjadi perhatian pemerintah.
pemerintah meminta produsen pupuk urea menggenjot produksinya di 2009. Pemerintah membebankan tugas itu terutama kepada dua Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pupuk yakni PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) dan PT Pupuk Iskandar Muda (PIM). Targetnya tahun depan, produksi pupuk mencapai 7 juta ton. Naik 2 juta ton dari proyeksi produksi di 2008 sebesar 5 juta ton.
Peningkatan produksi itu bertujuan guna mengantisipasi lonjakan permintaan pupuk pada musim tanam yang terjadi awal 2009. PKT pada tahun depan wajib memaksimalkan produksinya menjadi 2,7 juta ton, sementara PIM 1 juta ton. Namun, instruksi tersebut masih terganjal penambahan gas yang belum jelas, karena itu Wapres menugaskan kepada BP Migas mencarikan pasokan gasnya.
Sebenarnya instruksi penambahan pasokan pupuk sudah terjadi tahun 2008. Pada Desember 2008, pemerintah telah meminta PIM kembali berproduksi sebesar 40.000 ton dan PKT sebesar 80.000 ton. Sebelumnya, PIM hanya ditugaskan berproduksi sebesar 250.000 ton di 2008 denganpasokan gas swap dari PKT. Produksi mereka pun hanya ditujukan ke pasar ekspor. Karena kebijakan ini, produksi PKT menjadi tak maksimal.
Kebutuhan pupuk untuk sektor perkebunan juga masih sangat besar, karena meskipun penjualan ekspor minyak sawit (CPO) menurun, tetapi target produksi pada tahun 2009 akan ditingkatkan pemerintah menjadi 19 juta ton, dari tahun 2008 yang mencapai 18 juta ton. Produksi ini akan ditujukan untuk melayani kebutuhan CPO di dalam negeri yang masih terus meningkat.
Outlook industri manufaktur 2009
Industri manufaktur belum sepenuhnya pulih ketika krisis finansial global kembali menerpa sektor ini. Melemahnya pasar ekspor diperkirakan menjadi hambatan utama bagi industri manufaktur pada tahun 2009. Diperkirakan baru pada tahun 2010 pasar ekspor mulai pulih kembali, sehingga tahun 2009 akan menjadi tahun yang berat bagi sektor industri manufaktur.
Selain masalah melemahnya pasar ekspor, maka industri manufaktur menghadapi masalah kesulitan likuiditas, ketika perbankan menjadi lebih hati-hati dalam menyalurkan kredit dengan suku bunga yang masih tinggi.
Menghadapi kondisi tersebut maka peranan Pemerintah akan sangat menentukan dalam menyelamatkan sektor industri manufaktur. Salah satunya adalah bagaimana mengamankan pasar domestik yang menjadi tumpuan bagi pemasaran produksi nasional, dan kelonggaran likuiditas yang memungkinkan industri tetap beroperasi.
Pemerintah telah mulai memperketat masuknya produk impor ilegal terutama untuk produk elektronik, tekstil dan barang konsumsi lainnya yang selama ini peranan produk impor ilegal cukup besar. Sementar itu Pemerintah juga telah mengambil kebijakan untuk memberikan stimulus fiskal dan menurunkan harga BBM. BI juga mulai menurnkan suku bunga BI rate yang diperkirakan bisa sampai 8% seperti sebelum krisis finansial melanda Indonesia.
Masalahnya adalah implementasi dari kebijakan tersebut apakah bisa dilaksanakan secara disiplin oleh jajaran Pemerintah dan pelaku usah. Karena keberhasilannya tentu harus ditunjang oleh kemauan yang baik dari semua pihak terkait.
Industri manufaktur paling terpukul oleh krisis finansial globalkarena dua hal, pasar yang menyusut baik dipasaran ekspor maupun pasar dalam negeri, biaya produksi yang tinggi karena harga-harga bahan baku impor masih tinggi dengan lemahnya nilai tukar rupiah, dan kesulitan likuiditas karena bank masih belum berani menurunkan suku bunga walaupun suku bunga BI rate sudah menurun.
Namun demikian, kondisinya tidaklah akan seburuk seperti ketika krisis moneter tahun 1998 yang lalu. Pertama, walaupun sebagian bank mengalami kesulitn likuiditas namun kondisi sektor perbankan relatif masih sehat sehingga dengan terus turunnya suku bunga BI rate, perbankan pada gilirannya akan mengikuti dengan menurunkan suku bunga ketingkat yang lebih wajar bagi dunia usaha maupun bagi sektor konsumsi. Dengan demikian industri manufaktur yang pasarnya banyak ditentukan oleh ketersediaan kredit konsumsi yang murah akan bisa bergairah kembali, seperti industri otomotif, elektronik, dan consumer goods lainnya. Suku bunga yang rendah juga akan menggairahkan kembali sektor properti dan konstruksi sehingga industri bahan bangunan akan cukup tertolong.
Kedua, dengan turunya harga minyak bumi dan berbagai bahan pokok lainnya maka inflasi akan cukup rendah sehingga daya beli masyarakat meningkat. Pada gilirannya kemampuan masyarakat untuk mengkonsumsi berbagai produk terutama bahan kebutuhan rumah tangga akan meningkat. Dengan demikian industri makanan olahan, industri toiletries, dan industri penghasil barang kebutuhan rumah tangga akan mampu bangkit kembali. Walaupun demikian ancaman tetap ada karena produk imporpun akan mengincar pasar Indonesia yang cukup besar.
Ketiga, walaupun pasar ekspor akan menyusut, namun masih ada peluang untuk mempertahankan ekspor dengan memperluas pasar baru seperti Timur Tengah maupun negara di kawasan Asia lainnya.
Semua peluang itu bisa dimanfaatkan jika semua pihak terkait mau menjalankan perannya masing-masing. Misalnya, Pemerintah dengan konsisten menjalankan kebijakan untuk memberi insentif kepada sektor industri, mengetatkan impor dengan memberantas impor ilegal, segera mencairkan dana APBN dengan memulai proyek-proyek Pemerintah, Pemeberantasan korupsi dan berbagai penyebab ekonomi biaya tinggi harus terus dijalankan. Dunia usaha juga konsisten, misalnya penurunan harga bahan bakar harus diikuti dengan turunnya tarif angkutan yang setara. Peningkatan efisiensi dan daya saing harus dilakukan sehingga pasar domestik tidak tergerus oleh produk impor. Masyarakat juga harus lebih menghargai produk nasional sehingga pasar untuk produk lokal bisa terselamatkan.