2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER - Edisi Indonesia
Desember 2008


OUTLOOK EKONOMI 2009


<<Halaman Sebelumnya

Outlook  ekonomi dunia 2009

Bank Dunia meramalkan bahwa ekonomi global pada tahun 2009 masih akan menunjukkan kondisi yang suram. Pertumbuhan ekonomi global di tahun depan akan sangat lambat, sementara itu volume transaksi perdagangan global akan anjlok untuk pertama kalinya dalam 26 tahun belakangan.

Dalam laporan Global Economic Prospects, yang dipublikasikan awal Desember 2008, Bank Dunia memangkas tajam perkiraan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2009 yaitu hanya akan mencapai sebesar 0.9% dan volume perdagangan akan mengalami penurunan sebesar 2.1%. Kontraksi perdagangan ini merupakan yang pertama kalinya sejak
tahun 1982 lalu.

Krisis kredit yang terjadi di seluruh dunia telah menerpa negara-negara kaya dan miskin sehingga ekonomi negara-negara berkembang menurut Bank Dunia diperkirakan hanya tumbuh 4,5 persen sementara negara kaya diperkirakan mengalami kontraksi 0,1 persen.

Proyeksi inilebih pesimis dari proyeksi yang dibuat pada bulan Juni lalu yang memperkirakan bahwa pertumbuhan negara maju akan sebesar 3% sementara negara berkembang mengalami pertumbuhan sebesar 6.4%.

Sebelumnya pada minggu pertama November 2008 tiga institusi berbeda  yaitu IMF, Dirjen Urusan Ekonomi dan Keuangan Komisi Eropa, dan Lembaga  Fitch Ratings mengeluarkan kesimpulan yang hampir sama mengenai prospek ekonomi dunia yaitu pertumbuhan ekonomi dunia  2009 akan menciut.

Ketiga institusi melaporkan angka berbeda mengenai prospek pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2009. Komisi Eropa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia akan turun dari 3,75% pada 2008 menjadi 2,25% pada 2009. Penurunan tajam dari angka pertumbuhan rata-rata dunia 2004-2007 sebesar 5%. Hampir mirip dengan Komisi Eropa, IMF memperkirakan ekonomi dunia akan bertumbuh sekitar 2,2% sepanjang 2009. Angka ini adalah penurunan 0,75% dari estimasi IMF sebelumnya yang dicantumkan pada World Economic Outlook edisi Oktober 2008.

Adapun Fitch Ratings memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2009 hanya akan mencapai 0,9%, pertumbuhan terendah sejak awal tahun 1990-an, dan jauh di bawah angka 3,5% yang menjadi angka pertumbuhan rata-rata dunia selama lima tahun terakhir. Angka ini sesuai dengan proyeksi terakhir dari Bank Dunia yang melihat pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2009 lebih buruk dari perkiraan semual.

Menurut proyeksi Bank Dunia Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2009 hanya akan mencapai 4,4% dan akan mulai pulih kembali tahun 2010 dengan pertumbuhan sebesar 6.0%.  Negara ASEAN lainnya seperti Thailand diperkirakan mengalami pertumbuhan ekonomi yang lebih rendah dari Indonesia yaitu hanya sekitar 3,6% tahun 2009.

Dari berbagai proyeksi tersebut, umumnya berbagai pihak sepakat bahwa pemulihan ekonomi akan terjadi pada tahun 2010.

Prospek Ekonomi Indonesia 2009

Tidak dapat dipungkiri ekonomi Indonesia pada tahun 2008 terutama pada triwulan terakhir sudah mulai  menunjukkan kondisi yang lebih buruk dibanding  tiga triwulan sebelumnya. Hal ini terutama terlihat dari kecenderungan ekspor yang semakin rendah pertumbuhannya. Walaupun demikian memasuki tahun 2009, ekonomi Indonesia masih memiliki modal yang baik dalam menghadapi krisis pada tahun 2009.

Tidak seperti negara tetangga di ASEAN seperti Malaysia dan Singapore, maka Indonesia peran ekspor terhadap GDP tidak sebesar negara tetangga yang hampir mencapai 100%. Dengan demikian penurunan pasar ekspor tidak serta- merta mematikan industi lokal karena masih ada pasar domestik yang bisa menyerap sebagian hasil produksi. Tentu saja pasar dalam negeri tidak akan cukup mampu menyerap seluruh produksi, namun paling tidak ada waktu untuk menyesuaikan diri dengan keadaan pasar yang sedang berubah.

Ekonomi Indonesia masih mengandalkan konsumsi rumah tangga sebagai motor pertumbuhan. Walaupun saat ini daya beli menurun, namun dalam dua bualan terakhir muncul insentif bagi daya beli masyarakat, yaitu turunnya harga bahan bakar dan bahan pokok lainnya sehingga beban masyarakat menurun. BI juga akan menurunkan suku bunga BI rate dari 9,25% ketingkat yang lebih rendah, sehingga diharapkan suku bunga kredit konsumsi akan turun sampai sekitar 8,5%. Pada gilirannya hal ini akan mendorong daya beli masyarakat.

Aliran modal asing juga sebagian telah mulai kembali, sehingga nilai tukar Rupiah juga lebih stabil dikisaran Rp. 10.500 - 11.000 per US dolar. Dengan demikian pelaku usaha bisa menyusun business plan nya lebih baik dalam menghadapi krisis tahun 2009.

Stimulus Fiskal

Walaupun inflasi telah mulai mereda dan BI akan menurunkan suku bunganya, namun pertumbuhan ekonomi masih terhambat oleh kekurangan likuidatas pada perbankan karena masih tersendatnya pinjaman antar bank. Saat ini likuidats perbankan masih menumpuk di bank-bank besar terutama bank BUMN. Kekhawatiran akan emburuknya ekonomi dan meningkatnya kredit macet, menyebabkan bank sangat hati-hati menyalurkan kredit, termasuk kepada bank lainnya. Akibatnya bank kecil yang kesulitan likuiditas terpaksa meningkatkan suku bunga deposito agas bisa mengumpulkan dana masyarakat. Akibatnya suku bunga pinjaman belum akan bisa turun, walaupun BI menurunkan suku bunganya.

Untuk melancarkan likuidas perbankan dibutuhkan stimulus fiskal dari Pemerintah yang akan membantu menambah likuiditas disektor keuangan. Pada akhir Desember Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus on top dari anggaran 2009 yang sebagian akan diambil dari sisa anggaran 2008.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah akan mengumumkan industri dan komoditi apa saja yang mendapatkan insentif fiskal. "Mulai pembebasan pajak pertambahan nilai dan biaya masuk yang ditanggung pemerintah,"  Sri menjelaskan penentuan industri dan komoditi, salah satunya didasarkan pada penciptaan tenaga kerja. Sebelumnya dia mengatakan pemerintah telah menganggarkan insentif fiskal sebesar Rp 12,5 triliun dalam anggaran 2009.


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan pemerintah akan meningkatkan pembangunan infrastruktur yang dilakukan Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Perhubungan, Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Departemen Pertanian guna mendorong pertumbuhan dan penciptaan lapangan kerja.

Stimulus fiskal ini diharapkan dapat melonggarkan likuiditas disektor keuangan, sehingga dunia usaha akan bisa bergerak kembali. Implementasi kebijakan ini akan sangat menentukkan kemampuan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tantangan tahun 2009, karena kini Pemerintahlah yang bisa menjadi ujung tombak bagi pemulihan eknomi. Sebelumnya dunia usaha masih bisa bertahan karena ditopang oleh pasar ekspor yang baik dan konsumsi domestik yang tinggi. Kini ketika keduanya melemah, tinggal sektor pengeluaran Pemerintah yang bsia secara cepat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Apabila itu terlaksana kemungkinan ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih dari 4,4% diatas proyeksi Bank Dunia.

<<Halaman Sebelumnya
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
MONTHLY REPORT
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.