INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Januari 2010
FOKUS
MENJAGA MOMENTUN UNTUK MENARIK INVESTOR ASING
Latar belakang
Dalam dua tahun terakhir Indonesia disejajarkan dengan dua negara berkembang lain yaitu Cina dan India yang sukses meningkatkan perekonomiannya ditengah badai krisis finansial global yang meluluh lantakan super power keuangan yaitu Amerika Serikat. Sehingga salah satu icon sektor finansialnya yaitu Lehman Brothers yang merupakan investment banking ke 4 terbesar di Amerika Serikat terpaksa menerima kenyataan untuk menyatakan diri bankrut pada bulan September 2008 setelah tidak mampu lagi memenuhi kewajibannya.
Dampak krisis finansial mendunia karena hampir semua negara maju dan negara berkembang yang terkait dengan keuangan global ketar ketir karena pemilik modal menarik dananya dari tempat yang dianggap rentan terhadap krisis global. Dengan susah payah Pemerintah berbagai negara maju di Eropah dan Amerika, enggelontorkan dana untuk membail out sektor perbankannya yang mulai berjatuhan mengikuti jejak Lehman Brothers.
Setelah hampir dua tahun semenjak puncak krisis pada pertengahan tahun 2008, ternyata belum sepenuhnya dunia terbebas dari dampak krisis tersebut. Saat ini beberapa negara Uni Eropa yaitu Spanyol, Portugal dan terutama Yunani, sedang menghadapi krisis keuangan yang kembali mencuat dan menimbulkan kekhawatiran akan berdampak kepada perekonomian Uni Eropa yang menggunakan mata uang Euro.
Kondisi ini menjadikan negara yang berhasil melewati krisis dengan baik seperti Cina dan India menjadi pilihan menarik untuk investasi. Selama dua tahun terakhir aliran modal baik melalui pasar modal maupun foreign direct investment ke dua negara tersebut terus meningkat. Sehingga kini banyak pihak yang mengganggap harga saham di Cina sudah terlalu tinggi dan banyaknya direct investment juga sudah mulai menyebabkan ekonomi Cina mulai memanas. Akibat kekhawatiran bubble economy yang mungkin akan dihadapi Cina, kini investor mulai mencari tempat investasi lain yang masih menjanjikan.
Indonesia yang semula kurang dilirik investor, kini menjadi salah satu alternatif investasi yang menjanjikan. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi yaitu 4,5% selama tahun 2009 yang bahkan diatas perkiraan banyak pihak merupakan bukti bahwa Pemerintah dan dunia usaha di Indonesia telah mampu menjaga kestabilan ekonominya selama krisis berlangsung. Inflasi yang rendah selama tahun 2009, nilai tukar Rupiah yang menguat, dan cadangan devisa yang meningkat memberikan sinyal positif kepada investor.
Pasca krisis finansial, aliran modal yang masuk ke Indonesia lebih banyak masuk melalui pasar modal. Terlihat dari melejitnya index harga saham Gabungan (IHSG) yang mampu mencapai rekor tertinggi selama ini yaitu 2500. Kuatnya fundamental perekonomian dalam negeri membuat IHSG mampu keluar dari tekanan krisis global sejak kuartal I/2009. Pada akhir Maret, IHSG sudah berada di level 1.500 dan terus melambung hingga 2.500 pada Oktober 2009.
Menurut banyak kalangan di pasar modal, dengan data pertumbuhan ekonomi yang cukup baik dan kinerja emiten yang tetap solid, IHSG berpeluang mencapai level 2600 di tahun 2009. Namun suhu politik dalam negeri pasca pemilu yang terus memanas memberikan dampak negatif terhadap perdagangan saham. Sentimen politik yang cukup kencang seperti perseteruan KPK-Polri yang berlanjut pada kasus Bank Century direspons negatif pelaku pasar. Ini terlihat dari nilai transaksi yang semakin susut dan gerak indeks yang relatif stagnan.
Keberhasilan dalam menarik investor di pasar modal oleh banyak pihak dinilai belum banyak memberikan dampak positif ke sektor riil. Apabila aliran modal berupa foreign direct investment telah meningkat, barulah dampanya kepada perekonomian secara luas akan mulai terasa.
Memasuki tahun 2010 Indonesia berpeluang untuk kembali menjadi tempat investasi yang menarik, karena selama ini besarnya pasar domestik telah terbukti mampu menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi.
Berbagai negara seperti Jepang telah kembali menempatkan Indonesia sebagai tempat untuk melakukan relokasi bagi pabrik-pabriknya. Bukan hanya relokasi dari pabrik di Jepang tapi juga pabrik dibeberapa negara Asia lainnya. Demikian juga Korea Selatan, makin banyak investor dari negeri ini yang masuk ke Indonesia. Bahkan ketika krisis finansial masih berlangsung, perusahaan dari Korea Selatan terus meningkatkan investasinya di Indonesia.
Peluang untuk menjadikan Indonesia sebagai tempat yang menarik untuk investasi sangatlah terbuka saat ini. Namun hal itu bukan tidak ada hambatan, bahkan kalau tidak berhati-hati Indonesia bisa kehilangan momentum yang baik saat ini.
Perkembangan Penaman modal di Indonesia
Dalam tiga tahun terakhir minat investor asing untuk melakukan investasi di Indonesai sebenarnya sudah mulai membaik dibandingkan lima tahun yang lalu. Baik jumlah proyek maupun nilai investasi dalam tiga tahun terakhir terus melningkat. Namun ditengah krisis finansial dunia, maka dampaknya mulai terasa pada tahun 2009 yang lalu. Realisasi investasi asing atau direct innvestment nilainya menurun walaupun jumlah proyeknya masih meningkat.
Pada tahun 2006 jumlah investasi asing (PMA) hanya mencapai 869 proyek dengan nilai US$ 5,99 milyar. Kemudian pada tahun 2007 dan 2008 meningkat masing-masing 982 proyek dan 1.138 proyek dengan nilai berturut-turut US$ 19,24 milyar dan US$ 14,87 milyar. Akibat krisis baru terasa sejak akhir 2008 dan selama 3 kuartal tahun 2009. Jumalh realsisasi investasi dalam jumlah proyek masih meningkat yaitu menjadi 1.221 proyek namun nilai investasinya menurun menjadi US$ 10,82 milyar.
Jumlah investasi tersebut hanya yang tercatat oleh BKPM, diluar investasi sektor minyak& gas bumi, perbankan, lembaga keuangan non bank, asuransi, multi finance, dan tambang dalam rangka kontrak karya.
Sementara itu investasi domestik dalam tiga tahun terakhir berfluktuasi dan masih lebih rendah dalam jumlah proyek dibandingkan keadaan sepuluh tahun yang lalu sebelum terjadinya krisis moneter yang menimpa ekonomi Indonesia .
Realisasi Investasi tahun 2009 turun
Selama tahun 2009 sektor transportasi, jasa pergudangan dan komunikasi merupakan sektor investasi asing yang paling besar realisasinya dengan nilai sebesar US$ 4.170,3 juta. Sektor ini merupakan sektor ekonomi yang banyak mendukung sektor perdagangan dalam negeri dan sektor telekomunikasi yang relatif masih cukup marak selama tahun 2009.
Kemudian sektor industri kimia dan farmasi merupakan sektor industri manufaktur dengan realisasi investasi terbesar yaitu mencapai US$ 1.183,1 juta disusul oleh industri kendaraan bermotor sebesar US$ 756,2 juta.
Singapura pada tahun 2009 menjadi negara dengan peringkat pertama yang melakukan investasi langsung di Indonesia. Investasi dari Singapura pada tahun 2009 meningkat dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2008 realisasi investasi dari Singapura mencapai US$ 1.487,3 juta dan naik menjadi US$ 4.341,0 juta. Kenaikan ini disebabkan banyaknya investor Singapura yang menamkan modalnya di Indonesia ketika iklim investasi di Singapura dan Malaysia pada tahun tersebut kurang mendukung akibat terkena dampak krisis finansial. Dengan potensi pasar domestik yang besar maka investor Singapura yang memanfaatkan meomentum tersebut untuk mengalihkan pasarnya dari pasar ekspor negara maju yang sedang ditempa krisis.
Sementara itu, Jepang yang cukup berat terkena dampak krisis finansial global banyak mengurangi investasinya di Indonesia. Pada tahun 2008 realisasi investasi langsung Jepang di Indonesia mencapai US$ 1.365,4 juta, namun merosot pada tahun 2009 menjadi hanya US$ 678,9 juta.
Setelah ekonomi Jepang mulai pulih, diperkirakan investor Jepang akan kembali ke Indonesia. Dalam suatu kesempatan kepada pers, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan pihak Jepang tahun ini berniat melakukan investasi pengembangan enam wilayah di Indonesia sebagai koridor ekonomi dan telah melakukan kajian memetakan keperluan infrastruktur untuk menggarap potensi ekonomi di wilayah tersebut.
Mendag Mari Elka Pangestu mengemukakan enam koridor ekonomi yang dimaksud berada di daerah Sumatera Timur dan Jawa Barat Laut, Jawa Utara, Kalimantan, Sulawesi Barat, Jawa Timur dan Bali serta Nusa Tenggara, Papua.
Selain itu beberapa perusahaan terkemuka Jepang juga telah menunjukkan minat untuk merelokasikan pabriknya di Indonesia tahun 2010 ini. Panasonic menurut rencana akan merelokasikan pabrik lampu hemat energinya yang berlokasi di Osaka ke Pasuruan.
Korea Selatan selama ini juga cukup aktif berinvestasi di Indonesia. Setelah menurun pada tahun 2008, maka investasi Korea Selatan pada tahun 2009 yang lalu meningkat kembali menjadi US $ 624,6 juta dari US$ 301 juta tahun sebelumnya.
Belanda pada tahun 2009 merupakan salah satu negara dengan investasi terbesar yang banyak menanamkan modalnya di bidang perhotelan, tekstil dan logam.
Kesimpulan
Indonesia saat ini ada dalam posisi yang menguntungkan untuk bisa menarik investor asing, karena Indonesia telah membuktikan sebagai negara yang mampu mempertahankan tingkat pertumbuhan dan kestabilan ekonominya menghadapi krisis finansial global. Setelah investor berbondong-bondong menanamkan modalnya ke Cina dan India maka kini mulai timbul kekhawatiran jika ekonomi Cina terlalu memanas sehingga menjadi buble economy yang bisa meledak suatu saat.
Dengan melihat kenyataan tersebut maka kini banyak investor yang mempertimbangkan untuk memilih negara diluar Cina sebagai alternatf Investasi. Dan Indonesia merupakan alternatif yang paling potensial. Selama krisis finansial sejak tahun 2008 yang lalu, banyak pihak yang memuji otoritas keuangan di Indonesia yang berhasil meredam gejolak dampak buruk krisis finansial sehingga termasuk dari sedikit negara besar didunia yang bisa melewati krisis dengan selamat. Dengan berbekal hal itu maka investor mulai menunjukkan minatnya untuk masuk ke Indonesia semenjak akhir tahun 2009.
Namun masuknya investor asing ternyata tidak begitu mulus. Selain masih banyak hambatan teknis seperti masalah kurangnya infrastruktur seperti listrik, jalan raya, pelabuhan dll, juga dalam beberapa bulan terakhir terutama pasca pemilihan presiden, ternyata kondisi politik Indonesia memanas yang melibatkan otoritas keuangan di Indonesia diantaranya BI dan Menteri Keuangan. Kondisi ini direspon negatif oleh pelaku pasar yang selama ini memberikan kepercayaan tinggi kepada otoritas keuangan di Indonesia sebagai salah satu yang terbaik di dunia dalam menjaga kestabilan ekonomi. Dengan dipertanyakannya integritas dari otoritas keuangan Indonesia oleh para politikus, menimbulkan ketidak pastian bagi peluang investasi di Indonesia.
Dengan persaingan yang ketat untuk menarik investasi saat ini maka penanganan kasus yang melibatkan kepercayaan pihak investor baik asing maupun lokal terhadap otoritas keuangan haruslah dilakukan dengan bijaksana dan proporsional. Jangan sampai kegaduhan politik menyebabkan hambatan yang tidak perlu bagi pemulihan ekonomi nasional yang membutuhkan masuknya investasi di berbagai sektor.