2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
September 2011

FOKUS

PERDAGANGAN LUAR NEGERI INDONESIA TUMBUH PESAT TAHUN 2011


Ditengah kelesuan ekonomi yang terjadi di negara Eropa dan Amerika Serikat, perdagangan luar negeri Indonesia ternyata masih bisa terus meningkat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan ekspor dan impor yang cukup tinggi dalam tiga tahun terakhir semenjak krisis finansial global mulai pda akhir tahun 2008.

Ketika puncaknya krisis finansial global tahun 2009, ekspor Indonesia turun hingga tinggal US$ 116 milyar. Namun dua tahun kemudian ekspor kembali naik pesat melebihi nilai ekspor tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2011 baik ekspor maupun impor diperkirakan kembali akan mencetak rekor.

Ekspor bisa mencapai US$200 milyar

Sampai akhir  tahun 2011, ekspor Indonesia diperkirakan bisa mencapai lebih dari US$ 200 milyar, karena secara kumulatif nilai ekspor Indonesia pada perioda Januari?November 2011 sudah mencapai US$186,11 miliar atau meningkat 32,04 persen dibanding periode yang sama tahun 2010, sementara ekspor nonmigas mencapai US$148,45 miliar atau meningkat 27,79 persen.

Nilai ekspor Indonesia November 2011 mencapai US$16,92 miliar atau mengalami penurunan sebesar 0,20 persen dibanding ekspor Oktober 2011. Sementara bila dibanding November 2010 ekspor mengalami peningkatan sebesar 8,25 persen.

Ekspor nonmigas November 2011 mencapai US$13,74 miliar, turun 1,13 persen dibanding Oktober 2011, sedangkan dibanding ekspor November 2010 meningkat 7,18 persen.

Sebelumnya, mendekati akhir tahun 2011 timbul kekhawatiran bahwa ekspor Indonesia sudah mulai terkena dampak penurunan permintaan dari pasar negara amaju terutama dari negara Eropa, karena krisis finansial yang terus berlangsung di kawasan tersebut.

Namun Indonesia kelihatannya sampai sejauh ini masih mampu mengatasi dampak buruk tersebut dengan terus meningkatkan ekspor. Memang segagaimana yang terjadi pada tahun sebelumnya ekspor pada bulan November relatif tidak banyak mengalami peningkatan dibanding bulan Oktober.

Menurut data BPS, ekspor pada bulan November tahun 2011, mengalami sedikit penurunan dibanding ekspor pada bulan Oktober 2011 sebelumnya. Namun nilainya tidak begitu berarti, karena diperkirakan penurunan terjadi  karena faktor musiman, ketika eksportir menunggu order dan pengiriman mendakati bulan Desember atau Januari.          


Penurunan ekspor nonmigas terbesar November 2011 terjadi pada bijih, kerak, dan abu logam sebesar US$353,8 juta, sedangkan peningkatan terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$872,3 juta.

Ekspor nonmigas ke Cina November 2011 mencapai angka terbesar yaitu US$2,31 miliar, disusul Jepang US$1,57 miliar dan Amerika Serikat US$1,18 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 36,83 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,62 miliar.


Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari?November 2011 naik sebesar 27,84 persen dibanding periode yang sama tahun 2010, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 3,48 persen serta ekspor hasil tambang dan lainnya naik 32,25 persen.

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada periode Januari?September 2011 berasal dari Kalimantan Timur dengan nilai US$28,19 miliar (18,52 persen), diikuti Jawa Barat sebesar US$20,27 miliar (13,32 persen) dan Riau sebesar U$15,52 miliar (10,20 persen).

Impor Juga meningkat

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus meningkat ditengah krisis finansial dunia tidak hanya ditunjukkan oleh peningkatan ekspor, tapi juga oleh peningkatan impor.

Selama Januari-November 2011 nilai impor mencapai US$160,96 miliar atau meningkat 31,38 persen jika dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya (US$122,52 miliar).

Kenaikan nilai impor tersebut terjadi pada  semua golongan penggunaan barang selama Januari-November 2011 dibanding impor periode yang sama tahun sebelumnya masing-masing meningkat, yaitu impor barang konsumsi sebesar 36,55 persen, bahan baku/penolong sebesar 33,94 persen, dan barang modal sebesar 20,12 persen.


Sebagaimana ekspor, nilai impor pada bulan November sedikit menurun dibandingkan bulan Oktober. Nilai impor Indonesia pada bulan  November 2011 tercatat sebesar US$15,40 miliar atau turun 0,88 persen dibanding impor Oktober 2011 yang besarnya US$15,53 miliar, sedangkan jika dibanding impor November 2010 (US$13,01 miliar) naik 18,37 persen.

Impor nonmigas November 2011 sebesar US$11,95 miliar atau turun US$0,30 miliar (2,50 persen) dibanding impor nonmigas Oktober 2011 (US$12,25 miliar), sedangkan impor nonmigas selama Januari?November 2011 mencapai US$123,91 miliar atau naik 26,77 persen dibanding impor nonmigas periode yang sama tahun 2010 (US$97,75 miliar).

Impor migas November 2011 sebesar US$3,45 miliar atau naik US$0,17 miliar (5,19 persen) dibanding impor migas Oktober 2011 (US$3,28 miliar), sedangkan impor migas selama Januari?November 2011 mencapai US$37,05 miliar atau naik 49,59 persen dibanding impor migas periode yang sama tahun sebelumnya (US$24,77 miliar).

Nilai impor nonmigas terbesar November 2011 adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai US$2,23 miliar. Nilai ini turun 7,64 persen (US$0,18 miliar) dibanding impor golongan barang yang sama Oktober 2011 (US$2,41 miliar). Sementara itu, impor golongan barang tersebut selama Januari?November 2011 mencapai US$22,21 miliar atau meningkat 22,33 persen (US$4,05 miliar) dibanding impor golongan barang yang sama tahun sebelumnya (US$18,16 miliar).

Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama November 2011 masih ditempati oleh Cina dengan nilai US$23,15 miliar dengan pangsa 18,68 persen, diikuti Jepang US$17,46 miliar (14,09 persen) dan Singapura US$9,55 miliar (7,70 persen). Impor nonmigas dari ASEAN mencapai 21,95 persen, sementara dari Uni Eropa sebesar 9,00 persen.



Perlu iklim usaha yang sehat untuk memajukan perdagangan luar negeri

Memasuki akhir tahun 2011, perdagangan luar negeri Indonesia masih mengalami peningkatan baik ekspor maupun impor, yang menggambarkan kondisi makro ekonomi Indonesia yang baik.   Hal ini pada satu sisi menunjukkan penguasaaan komoditi ekspor yang permintaannya tinggi dari   komoditi perkebunan seperti crude palm oil dan karet dan komoditi pertambangan seperti batu bara dan kemampuan daya saing produk ekspor  dari berbagai produk industri manufaktur yang juga meningkat sehingga  mampu menembus pasar dunia walaupun keadaan pasar ekspor sedang mengalami kelesuan.

Disisi lain berkat keberhasilan ekonomi, maka impor meningkat baik impor bahan baku maupun impor barang konsumsi. Walaupun banyak kekhawatiran derasnya pemasukan barang impor yang bisa melemahkan daya saing industri lokal, namun sampai sejauh ini secara umum industri manufaktur masih bisa bangit kembali. Selama pemerintah dapat menyeimbangkan masuknya barang impor dengan aturan yang benar sehingga tidak terjadi dumping ataupun kecurangan lain seperti masuknya barang ilegal, maka pasar lokal tidak perlu terlalu khawatir akan habis digerogoti oleh produk impor.

Pemerintah juga harus mampu memberikan iklim usaha yang baik bagi eksportir dan membantu mengatasi hambatan impor yang dilakukan negara tujuan ekpor. Saat ini banyak negara yang menerapkan hambatan impor yang tidak fair, termasuk oleh negara maju dengan alasan yang tidak masuk akal.

Demikian juga untuk meningkatkan daya saing perlu didukung oleh kemudahan dalam berproduksi termasuk untuk kebutuhan modal seperti dengan menurunkan suku bunga pinjaman. Bank Indonesia telah mulai menurunkan BI rate untuk memaksa perbankan menurunkan suku bunga pinjamannya, namun sampai saat ini suku bunga bank masih lambat untuk mengikuti penurunan suku bungan BI rate.

Dengan displin dari semua pelau bisnis dan Pemerintah, seharusnya Indonesia mampu terus meningkatkan perdagangan luar negerinya, karena sampai saat ini kondisi ekpnopmi makro sangat sehat untuk menunjang pertumbuhan bisnis.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.