2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Maret  2011

FOKUS

KETAHANAN EKONOMI INDONESIA TERHADAP KRISIS FINANSIAL


Ditengah gencarnya tekanan krisis finansial global yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, Indonesia menjadi negara yang terus menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Berbagai indikator makro ekonomi menunjukkan perekonomian Indonesia yang bukan saja mampu bertahan terhadap serangan krisis finansial namun juga terus tumbuh dan menjadi salah satu negara yang pertumbuhannya terus bertahan diatas 6% dalam tiga tahun terakhir pasca pecahnya krisis finansial global tahun 2008.

Namun timbul pertanyaan apakah ekonomi Indonesia cukup kuat untuk terus bertahan terhadap dampak krisis finansial yang masih terus berlangsung terutama di kawasan  Eropa dan Amerika Utara.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat telah menenpatkan Indonesia sebagai salah satu anggota negara G20 dengan GDP yang mencapai USD 713 milyar. Peningkatan GDP menurut harga berlaku ini cukup pesat dibanding tahun 2009 yang baru mencapai USD 544 milyar. Hal ini didukung oleh kuatnya nilai tukar Rupiah terhadap US dolar dan inflasi yang terkendali sekitar 5%.

Demikian juga ekspor Indonesia, semenjak tahun 2006, ekspor barang dan jasa  mengalami peningkatan kecuali tahun 2009 yang sempat menurun akibat krisis finansial global yang telah menurunkan permintaan di pasar ekpor negara maju.

Pada tahun 2006 ekspor barang dan jasa Indonesia baru mencapai USD 122,5 milyar, kemudian terus meningkat sehingga mencapai USD 184,3 milyar pada tahun 2010 dan  diperkirakan akan mencapai USD 195,6 milyar pada tahun 2011.

Indikator ekonomi lainnya yang menyolok peningkatannya adalah cadangan devisa. Pada bulan Maret 2011 cadangan devisa Indonesia telah menembus diatas USD 100 milyar. Hal ini didorong oleh kuatnya peningkatan ekspor dan derasnya laju masuknya dana asing ke Indonesia pasca krisis finansial tahun 2008. Diperkirakan selama tahun 2011 cadangan devisa masih akan terus meningkat karena Indonesia masih termasuk negara emerging market yang menarik sebagai tempat investasi ketika negara-negara maju banyak mengalami kesulitan ekonomi bahkan peringkat utang negara superpower seperti Amerika Serikat saja peringkatnya diturunkan.

Indikator ekonomi makro ini memberikan  suatu kekuatan ekonomi Indoneisa untuk  bisa tahan terhadap dampak negatif krisis finansial yang masih berlangsung saat ini di dunia.

Struktur utang luar negeri

Namun ketahanan Indonesia untuk terhindar dari krisis finansial juga didukung oleh struktur utang luar negeri yang relatif aman terhadap gejolak finansial dunia.

Krisis yang dihadapi oleh negara maju di Eropa maupun Amerika Serikat salah satunya terlihat dari besarnya ratio utang luar negri terutama hutang public/negara terhadap PDB negara tersebut yang menyebabkan negara tersebut rentan terhadap gejolak keuangan ketika hutang negara tersebut jatuh tempo. Defisit anggaran negara yang terus menggelembung sementara itu pada saat yang sama di sektor swasta juga terjadi bubble economy yang disebabkan oleh penggelembungan pinjaman di sektor properti. Keadaan ini menyebabkan sistim perbankan di negara tersebut goyah ketika terjadi gelombang kredit macet. Akibatnya negara pun terpengaruh, ketika utang negara jatuh tempo sulit didapatkan dana untuk menutupi kebutuhan dana sehingga utang negara terancam default. Untuk mengatasinya dibutuhkan suntikan dana talangan dari negara donor atau lembaga multilateral seperti IMF. Hal yang sama yang pernah terjadi di Indonesia tahun 1998.
Pada saat krisis finansial saat ini, Indonesia dan negara Asia lainnya yang sebelumnya telah mengalami krisis memiliki ketahanan ekonomi yang kuat salah satunya karena struktur utang publik yang lebih aman.

Secara umum beberapa indikator beban utang luar negeri Indonesia telah memperlihatkan perbaikan signifikan dibanding keadaan pada saat krisis moneter tahun 1998 yang lalu. Rasio utang luar negeri Indonesia terhadap PDB terus menurun. Pada 1998 tercatat sebesar 150%, kemudian menurun menjadi 54,9% pada 2004 dan menjadi 28,0% pada 2010.

Dari 2006 sampai dengan 2010, posisi utang luar negeri Indonesia secara nominal meningkat yaitu dari sebesar USD 132,6 miliar (48,7%) menjadi USD 202,4 milyar. Peningkatan terjadi baik pada utang luar negeri pemerintah maupun swasta. Namun demikian, pada periode yang sama peningkatan utang luar negeri tersebut diikuti peningkatan PDB yang relatif lebih besar yaitu dari USD 369,3 milyar tahun 2006 menjadi  sebesar USD 713,7 miliar tahun 2010 sehingga ratio utang terhadap PDB menurun.

Rasio utang terhadap ekspor juga mengalami penurunan secara signifikan dari 179,7% pada 2004 menjadi 108,5% pada 2010. Pada periode yang sama, debt service ratio Indonesia terlihat berfluktuasi. Pada 2006 debt service ratio mencatat angka tertinggi 25,0%, kemudian terus menurun menjadi 21,5% pada 2010.


Posisi utang luar negeri Indonesia sebagian besar adalah utang Publik yaitu utang Pemerintah dan Bank Indonesia yaitu dari utang luar negeri sebesar US$ 210,09 milyar sebesar USD 124,6 milyar adalah utang publik dan sisanya sebesar USD 85,47 milyar adalah utang swasta.


Ratio utang Indonesia relatif aman

Utang Pemerintah semenjak tahun 2006 terus meningkat namun dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi selama periode tersebut maka ratio utang Pemerintah terhadap PDB terus menurun. Per 31 Desember 2010, rasio total utang pemerintah (dalam dan luar negeri) terhadap PDB menurun tajam menjadi 26%, dari sebesar 47% pada 2005, dan sebesar 89% pada 2000.

Jika dibandingkan dengan negara maju terutama dengan negara Eropa yang sedang mengalami krisis seperti Yunani dan Italia, maka ratio utang publik Indonesia relatif rendah. Nilai rasio utang pemerintah Indonesia terhadap PDB yang relatif rendah merupakan cerminan dari kebijakan fiskal yang efisien dan berhati-hati. Hal ini merupakan satu faktor yang membantu ketahanan ekonomi untuk bisa terhindar dari dampak krisis finansial dunia yang masih terus berlangsung.

Tidak perlu khawatir berlebihan terhadap krisis finansial

Kekahawatiran mengenai krisis finansial global yang kini sedang melanda negara maju di Eropa dan Amerika, memang tidak bisa dikesampingkan. Kondisi ekonomi dunia yang belum sepenuhnya pulih akan berdampak buruk terhadap perkembangan ekonomi dinegara lainnya termasuk Indonesia. Namun kekhawatiran tersebut tidak perlu berlebihan, mengingat kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih baik dibanding ketika krisis moneter yang terjadi tahun 1997 yang diawali dengan krisis mata uang yang terjadi di Thailand telah menarik Indonesia kedalam krisis keuangan yang parah.

Salah satu sebab terjerumusnya Indonesia ke dalam jurang krisis satu dekade yang lalu terjadi karena struktur utang luar negeri yang tidak sehat. Ketika itu dengan mudahnya swasta dan sektor perbankan menarik pinjaman luar negeri yang kemudian dipakai untuk spekulasi dan juga untuk membiayai sektor properti yang tumbuh tidak wajar.

Pada waktu itu, kekuatan ekonomi Indonesia juga masih lemah, cadangan devisa masih rendah dan ekspor juga belum begitu signifikan dalam menunjang ketahanan ekonomi Indonesia.

Setelah berpengalaman lebih dari satu dekade dalam menghadapi krisis moneter, kini Pemerintah, Bank Indonesia dan Perbankan telah cukup berhati-hati untuk tidak kembali terjerumus kedalam krisis keuangan. Dengan struktur utang luar negri yang relatif moderat dan cadangan devisa yang makin besar didukung oleh ekspor yang terus meningkat maka dengan tetap berhati-hati, Indonesia tidak perlu terperosok kejurang krisis ekonomi seperti yang dialami negara Eropa.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN -Maret 2011

FOKUS: KETAHANAN EKONOMI INDONESIA TERHADAP KRISIS FINANSIA

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI TELEKOMUNIKASI SELULER 2011        
  • Current issue
  • Sistem telekomunikasi selular
  • Pelaku usaha        
  • Dominasi Asing
  • Investasi baru
  • Perkembangan pelanggan
  • Teknologi dan Infrastruktur
  • Pendapatan industri telekomunikasi seluler
  • Fitur baru
  • Tingkat persaingan
  • Pendapatan industri telekomunikasi seluler
  • Strategi pemasaran
  • Kebijakan pemerintah
  • Risiko usaha dan hambatan
  • Kesimpulan dan Prospek

INDUSTRI : INDUSTRI  TELEPON TETAP (FIXED LINES) DI TENGAH PERSAINGAN TELEPON NIRKABEL

INDUSTRI : TELEPON TETAP NIRKABEL (FWA) MENJADI PUSAT PERTUMBUHAN BARU        61
  • Jaringan telekomunikasi telepon tetap nirkabel        61
  • Jumlah pelanggan telepon tetap nirkabel masih tumbuh        62
  • Pemain FWA        63
  • Kapasitas jaringan beberapa pemain        65
  • Tahun 2011 para pemain ekspansi jaringan        66
  • ARPU cenderung turun akibat persaingan        67
  • Optimalisasi BTS        67
  • Merger dan akuisisi        68
  • Layanan data menjadi strategi ekspansi        69
  • Kesimpulan        71
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.