LAPORAN MARKET INTELLIGENCE :
April 2009
PERKEMBANGAN INDUSTRI BENIH TANAMAN PANGAN
Produksi padi bersertifikat capai 181 ribu ton
Produksi benih padi bersertifikat di Indonesia meliputi benih sebar dan benih benih berlabel merah muda. Hingga tahun 2007, benih label yakni label merah jambu masih boleh diproduksi, namun mulai tahun 2008 benih label merah jambu ini sudah tidak boleh diproduksi lagi karena mutunya kurang.
Sebagian besar benih padi yakni meliputi lokal dan komposit diproduksi oleh instansi pemerintah seperti balai benih sementara sebagian kecil yakni benih hibrida diproduksi oleh perusahaan BUMN dan swasta.
Volume produksi benih padi dalam 6 tahun terakhir terus menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2007 pertumbuhan produksi benih sebar mencapai sekitar 22 persen menjadi 147.363 ton sementara benih label merah jambu turun sekitar 70 persen menjadi 161 ton, dengan total volume benih bersertifikat sebesar 147524 atau tumbuh 21,5 persen.
Sementara itu, pada tahun 2008, volume produksi masih meningkat dengan pertumbuhan lebih tinggi yakni 23 persen sehingga menjadi 181400 ton.
Peningkatan produksi benih bersertifikat ini terjadi seiring semakin banyaknya petani menggunakan benih bersertifikat dan sebaliknya semakin sedikit petani menggunakan benih asalan.
Volume produksi benih padi bersertifikat ini kurang lebih separuh dari kebutuhan benih padi nasional yang mencapai 300 ribu ton per tahun pada lahan padi nasional seluas 12,66 juta hektar.
Sementara itu, produksi benih padi hibrida dalam dua tahun terakhir juga mengalami peningkatan yang cukup berarti yakni sekitar 21 persen. Volume produksi benih hibrida pada tahun 2007 mencapai 1.231 ton sementara pada tahun 2008 sebesar 4.624 ton.
Pertumbuhan volume produksi yang cukup berarti ini karena para petani mulai lebih tertarik untuk menggunakan benih jenis ini karena tingkat produktivitasnya yang jauh lebih tinggi dari varietas non hibrida.
Meskipun meningkat, namun prosentase produksi benih padi hibrida yang merupakan benih unggulan masih sangat kecil dibandingkan dengan tingkat produksi benih secara total yakni rata-rata dari tahun 2003 hingga 2008 sebesar 0,61 persen.
Mahalnya harga benih padi hibrida ini membuat petani masih enggan menggunakannya secara luas. Harga benih padi hibrida rata-rata mencapai sekitar Rp. 50 ribu per kg jauh di atas benih non hibrida yang harganya sekitar Rp. 7 ribu per kg.
Selain masalah harga, masih ada hambatan dalam penggunaan oleh petani diantaranya pola tanam yaitu berbeda seperti frekwensi pemupukan yang lebih banyak dan ketergantungan terhadap pemasok enih hibrida karena petani tidak bisa menangkar sendiri benih padi hibrida.
Produksi Benih Padi Hibrida
Produksi benih padi hibrida memiliki prospek yang cukup baik di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terlihat dari peningkatan volume produksinya. Pada tahun 2006 volume produksinya melonjak sebesar dari 7,7 ton menjadi 201 ton.
Peningkatan kembali terjadi pada dua tahun berikutnya. Pada tahun 2007 produksi meningkat sebesar 510 persen menjadi 1231 ton. Tahun berikutnya produksi kembali meningkat sebesar 275 persen menjadi 4624 ton.
Peningkatan produksi ini mencerminkan prospek bisnis benih padi hibrida yang cukup baik.
Sementara itu, dari 14 produsen padi hibrida di Indonesia terdapat 3 produsen yang volume produksinya lebih dari 100 ton yakni PT. BISI, SHS, DuPont. BISI Internasional menjadi pemain terbesar yang memproduksi benih padi hibrida dengan volume mencapai 3000 ton pada tahun 2008.
Produksi benih jagung
Sementara itu volume produksi benih jagung bersertikat juga mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir yakni sejak tahun 2005. Pada tahun 2007 pertumbuhan produksi mencapai 24,3 persen menjadi 38349 ton. Tahun 2008 produksi kembali meningkat dengan pertumbuhan lebih tinggi yakni 49,3 persen menjadi 57266 ton.
Berbeda dengan benih padi yang share volume produksi benih hibridanya masih kecil dibanding produksi total benih bersertifikat, volume produksi benih jagung hibrida rata-rata pada tahun 2003 hingga 2008 mencapai 70 persen dari total produksi benih jagung bersertifikat.
Sementara itu, penggunaan benih jagung hibrida di Indonesia mencapai 56 persen dari total benih jagung yang digunakan pada tahun 2008.
Masalah dalam penggunaan benih hibrida