INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Juli 2011
FOKUS
KETAHANAN PERBANKAN DI INDONESIA MENGHADAPI KRISIS FINANSIAL
Krisis finansial global yang diawali tahun 2008 yang lalu ternyata belum berakhir sampai sekarang bahkan ancaman untuk munculnya krisis yang lebih parah terus menghantui saat ini akibat belum terselesaikannya masalah ancaman default beberapa negara di zona euro seperti Yunani, Irlandia, Italia, Portugal dn kemungkinan negara zona euro lainnya.
Walaupun krisis fianansial saat ini lebih banyak mengancam negara di zona euro dan Amerika Serikat, namun krisis yang berlarut-larut bukan tidak mungkin akan menyebar ke negara lain termasuk kawasan Asia Timur yang selama ini mampu mempertahankan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Sebagaimana krisis finansial yang pernah terjadi, penyebaran krisis paling cepat adalah melalui sektor keuangan. Negara yang sektor perbankannya mengalami eksposur yang intensif terhadap utang dari negara yang mengalami krisis akan segera menghadapi ancaman krisis. Negara yang perbankannya banyak mengkoleksi surat utang dari negara yang sedang menghadapi krisis, maka dampak krisis segera dirasakan.
Sektor perbankan di Indonesia saat ini tidak menghadapi paparan yang intense terhadap utang negara luar negeri baik dari negara yang sedang mengalami krisis hutang di zone euro maupun Amerika Serikat. Dengan demikian dampak krisis finansial tidak begitu terasa. Namun penyebaran krisis finansial tidak hanya akibat paparan langsung dengan hutang negara yang sedang dilanda krisis. Sektor perbankan di Indonesia juga bisa menghadapi dampak krisis bila keadaan ini terjadi berlarut-larut.
Krisis likuiditas dapat tejadi apabila bank-bank asing yang kantor pusatnya mengalami kesulitan dana akibat memiliki obligasi dari negara yang sedang terkenan krisis, kemudian menarik dana yang mereka kuasai di kantor cabangnya di negara Asia termasuk Indonesia. Penyebaran krisis perbankan yang lebih nyata akan terjadi jika korporasi besar mulai kesulitan mendapatkan dana dari perbankan di negara asalnya kemudian mulai mengkoleksi sendiri dana dari seluruh jaringan perusahaannya di dunia yang menyebabkan tersedotnya dana yang dikuasai perbankan sehingga bank mulai kekurangan likuiditas, karena dana yang dikuasainya menyusut. Hal ini akan berdampak ke pada perbankan nasional secara tidak langsung.
Kemungkinan penyebaran krisis keuangan juga bisa terjadi dari kelesuan sektor riil karena menciutnya pasar ekspor karena negara tujuan ekspor sedang melemah permintaannya. Akibatnya pasokan dana valuta asing ke sektor perbankan nasional menyusut dan bank kesulitan mendapatkan sumber dana yang murah.
Ketahanan Perbankan masih tinggi
Setelah berjalan lebih dari tiga tahun sektor perbankan di Indonesia ternyata masih tahan terhadap krisis finansial. Hal ini ditunjukkan oleh berbagai indikator perbankan yaitu; laju pertumbuhan kredit, kecukupan likuiditas, permodalan, dan pencadangan kredit bermasalah. Dalam situasi krisis, bank yang kreditnya tumbuh cepat tapi tidak disertai dengan kecukupan likuiditas, permodalan, dan pencadangan, maka bank itu akan mengalami problem.
Laju pertumbuhan kredit perbankan Indonesia dalam lima tahun terakhir cukup pesat kecuali tahun 2009 ketika krisis finansial mencapai puncaknya. Rata-rata pertumbuhan klredit bank umum mencapai lebih dari 20% per tahun. Pada tahun 2009 pertumbuhan kredit hanya mencapai 10% namun setahun kemudian pada tahun 2010 pertumbuhan kredit kembali tinggi mencapai 23%.
Walaupun pertumbuhan kredit cukup tinggi, namun likuiditas perbankan nasional masih cukup aman. Semenjak tahun 2008 LDR bank umum telah meningkat menjadi diatas 70%, namun dengan pertumbuhan kredit yang cukup tinggi dalam dua tahun terakhir ternyata sampai Juni 2011 LDR perbankan Indonesia baru mencapai 79,67%. Artinya likuiditas perbankan masih cukup aman karena dana pihak ketiga masih lebih besar dibanding kredit yang disalurkan.
Demikian juga secara nasional kecukupan modal perbankan di Indonesia saat ini jauh lebih baik dibandingkan keadaan ketika Indonesia menghadapi kriswis moneter tahun 1998 yang lalu. Permodalan industri perbankan saat ini tergolong sangat baik. Secara nasionakl CAR dari Bank umum selama lima tahun terakhir selalu berada diatas 12% sesuai dengan ketentuan internasional Basel III. Sampai Juni 2011 CAR Bank Umum mencapai 17%.
Ketahanan perbankan nasional juga ditunjukkan oleh tingkat non performing loan (NPL) yang cukup rendah walaupun perbankan terus melakukan ekspansi kredit dalam dua tahun terakhir.
Pada tahun 2006 Gross NPL perbankan masih cukup tinggi yaitu mencapai 6,07%, namun pada tahun berikutnya sejalan dengan perbaikan operasional bank yang didukung oleh perekonomian nasional yang membaik, maka NPL terus menurun menjadi hanya 2,74% pada Juni 2011.
Walaupun Gross NPL per Juni 2011 hanya 2.7%. suatu rasio yang cukup baik, namun bukan berarti tidak ada risiko. Karena masih mungkin terjadi potensi kenaikan NPL di sektor kredit konsumsi dan kredit usaha kecil yang cukup tinggi, jika harga BBM meningkat atau suku bunga naik, atau jika terjadi goncangan di sisi pendapatan masyarakat misalnya karena penurunan ekspor komoditas.
Kinerja perbankan Nasional juga membaik dilihat dari ROA (return on Investment) yang terus meningkat 2,33% tahun 2008 menjadi 3,07% pada Juni 2011. Sementara itu Net Interest margin (NIM) masih cukup tinggi yaitu 5,79% walaupun suku bunga sudah cenderung menurun.
Dengan rasio profitabilitas yang baik (NIM dan ROA) yang tinggi, maka perbankan kita memiliki daya pembentukan provision coverage yang berasal dari penyisihan laba operasional. Provision coverage ratio adalah rasio pencadangan terhadap gross NPL, yang berguna untuk membentuk ketahanan perbankan karena jika terjadi kenaikan NPL maka provision coverage akan tergerus. Hal ini akan dapat diatasi apabila bank memiliki NIM dan ROA yang tinggi karena akan mampu menyisihkan pencadangan dari laba yang cukup besar, untuk membentuk provision coverage.
Kinerja yang baik dari perbankan juga dapat dilihat dari besarnya laba yang diperoleh perbankan. Dalam tiga tahun terakhir laba perbankan meningkat cukup tajam yaitu dari Rp 30.606 muilyar tahun 2008 menjadi Rp. 57.309 milyar tahun 2010 dan sudah mencapai Rp. 37.096 milyar samapi Juni 2010. Dengan rasio laba dan permodalan yang baik maka tidaklah mengherankan bahwa harga saham perbankan Indonesia menjadi termasuk saham yang termahal di dunia.
Kinerja bank terbesar masih baik
Sektor perbankan Indonesia yang sehat ditunjang oleh kinerja dari bank nasional yang besar. Bank nasional yang relatif aman dari dampak krisis finansial terus membukukan kinerja yang baik.
Bank Umum terbesar di Indonesia saat ini yaitu Bank Mandiri, mampu mempertahankan kinerja yang baik. Dengan pertumbuhan kredit yang tinggi, Bank Mandiri masih mampu memiliki CAR sebesar 16,65% dan likuiditasnya masih baik karena LDRnya baru mencapai 73%.
Secara umum bank-bank besar di Indonesia memiliki rasio yang bagus. yaitu rasio pencadangan terhadap gross NPL yang mencapai di atas 100%. Contohnya BCA. Mandiri. BRI. BNI. CIMB Niaga. Danamon. BTPN. OCBC NISP memiliki provision coverage ratio di atas 100%.
Selain itu bank besar juga memiliki LDR dibawah 100%, kecuali Bank Tabungan Negara (BTN) yang mencapai 110 %. Walaupun cukup tinggi bank besar masih mampu memenuhi likuiditasnya karena memiliki akses ke pasar obligasi. Tapi tentu harus diingat bahwa likuiditas di pasar obligasi sering berfluktuasi. sangat dipengaruhi oleh kepercayaan investor asing karena mereka menguasai pangsa 35% dari Surat Utang Negara.
Bank nasional yang tidak banyak terpapar terhadap hutang negara zona euro terbukti mampu mempertahankan kenerjanya. Sementara itu Bank Asing yang sebelumnya selalu memiliki ratio profitabilitas yang tinggi kini mulai menyurut. Bahkan Citi bank yang tahunsebelumnya termasuk 10 bank terbesar di Indonesia kini terlempar dari kelompok tersebut setelah bank tersebut menurun perolehan laba akibat terkena sanksi BI setelah muncul kasus penyelewengan dana nasabah yang dilakukan oleh salah satu pegawainya dan juga skandal kematian nasabah karu kredit oleh debt collectornya.
Dengan tantangan masih besarnya ancaman krisis finansial dari zona euro, maka perbankan Indonesia walaupun masih memiliki ketahanan yang besar harus mulai lebih hati-hati lagi. Bank kecil saat ini mulai mengalami kesulitan likuiditas hanya dua bank terbesar yaitu Bank MANDIRI dan BCA yang masih kelebihan likuiditas. Apabila pasokan valas mulai sulit karena dana perbankan asing mulai sulit di akses, bukan tidak mungkin juga akan berimbas ke likuiditas bank besar karena harus mulai menjaga likuiditasnya sendiri.