INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MEI 2009
FOKUS
MOMENTUM UNTUK MENARIK DANA ASING KE SEKTOR RIIL
Semenjak Indonesia dilanda krisis moneter tahun 1998, maka sektor manufaktur seolah mandeg, selain produksi yang tidak berkembang, juga kapasitas produksinya rendah karena mesin-mesin yang sudah tua dan perlu diremajakan.
Selama lebih dari lima tahun industri petrokimia seperti industri bahan baku plastik Poly Ethylen, Poly Propylene, PVC dll kapasitas produksinya hampir tidak mengalada peningkatan. Demikian juga kapasitas produksi baja hulu semenjak krisis moneter hampir tidak ada penambahan kapasitas produksi. Berkali-kali dicanangkan rencanan pembangunan industri baja hulu oleh PT Krakatau Steel, namu n sampai saat ini belum terealisasi. Padahal impor produk tersebut terus meningkat, apalagi dalam tiga tahun terakhir sektor hilirnya sudah mulai bangkit seperti industri konstruksi dan properti, industri makanan dan minuman, dan industri consumer goods lainnya yang menyebabkan kebutuhan terhadp produk bahan baku meningkat.
Namun pengusaha kesulitan memperoleh dana karena sektor usahanya masih dinggap memiliki risiko yang tinggi sehingga perbankan masih menghindarinya. Pemerintah berusaha membantu sektor industri misalnya industri tekstil dengan mensubsidi sebagian bunga kredit investasi dalam rangka restrukturisasi. Tapi realisasinya rendah selain karena prosesnya yang cukup rumit, juga nilanya rendah hanya sekitar Rp. 3,5 milyar, sehingga bagi industri tekstil yang besar dana seperti itu tidak memenuhi kebutuhannya.
Perbankan mengarah ke retail banking
Bank yang diharapkan sebagai sumber dana bagi investasi disektor industri juga semakin menghindar dalam mendanai investasi untuk sektor riil tersebut. Sebaliknya bank semakin gencar mendanai kredit konsumsi dan properti. Dalam lima tahun terakhir dari total persetujuan kredit yang diberikan oleh semua bank umum (komersial), porsi kredit investasi semakin menurun dibanding kredit modal kerja dan kredit konsumsi.
Pada tahun 2002 kredit investasi mencapai 18,8% kemudian menurun menjadi hanya 13,6% pada tahun 2006. Sementara kredit konsumsi meningkat dari 24,7% pada tahun 2002 menjadi 34,7% tahun 2005. Pada tahun 2006 porsi kredit konsumsi menurun sedikit karena melemahnya daya beli masyarakat ketika harga BBM naik.
Sementara itu kredit modal kerja relatif tetap perannya yaitu sekitar 56%. Pada tahun 2006 kredit modal kerja porsinya meningkat kembali karena pada tahun 2006 pertumbuhan kredit konsumsi melambat.
Bank juga kini masih menjauhi kredit korporasi karena masih dihantui pengalaman buruk ketika terjadinya krisis moneter yang mengakibatkan banyaknya kredit macet dari proyek investasi raksasa.
Dari data besarnya kredit yang disalurkan oleh bank umum menurut golongan debitur terlihat bahwa saat ini perbankan Indonesia makin mengarah ke ritail banking. Peran debitur perorangan kini telah melampaui debitur golongan badan usaha swasta. Misalnya pada tahun 2002 kredit yang disalurkan yang terbesar yaitu 47,1 % kepada badan usaha swasta, sementara untuk perorangan 46,9%. Pada tahun 2006 debitur perorangan makin mendominasi yaitu mencapai 54,9% sementara debitur badan usaha swasta menurun menjadi hanya 41,1%.
Dengan perubahan orientasi perbankan nasional yang lebih mengarah ke retail banking maka makin sulit industri memperoleh dana untuk investasi dalam jumlah besar. Kredit yang disalurkan perbankan kepada industri kebanyakan adalah kredit modal kerja, dan itupun biasanya harus dijamin oleh kontrak pekerjaan atau penjualan agar bisa mengurangi risiko kredit gagal sekecil mungkin. Pendanaan bagi proyek baru pun makin sulit lagi karena kebanyakan bank saat ini lebih berminat membiayaai nasabah lama yang masih terus berkembang. Proyek investasi baru makin sulit mendapat pembiayaan dari perbankan, atau kalaupun ada maka bunganya tidak bersaing dibanding bunga yang diterima oleh perusahaan lainnya dinegara yang menjadi pesaing industri tersebut.
Dana asing membanjiri Indonesia
Pada sisi lain ironisnya, bank sedang kelebihan liquiditas, sementara itu dana asing terus membanjiri Indonesia sehingga melambungkan IHSG sampai ke tingkat diatas 2000. Menurut BI selama Januari-Mei 2007 ada dana masuk dari luar negeri ke instrumen SBI sebesar US$ 3,96 milyar, masuk ke SUN sebesar US$ 3,2 milyar dan saham US$ 1,3 milyar sehingga seluruhnya mencapai sekitar US$ 8,5 milyar. Dengan derasnya dana asing yang masuk selama ini maka dana asing pada instrmen SBI posisinya saat ini mencapai US$ 6 milyar (sekitar Rp 53 trilyun) sedangkan posisi dana asing pada SUN sebesar US$ 9,4 milyar (sekitar 83 trilyun). Pada busrsa saham, kapitalisasi saham milik asing telah mencapai US$ 62 milyar.
Dampak langsung dari aliran dana masuk tersebut terlihat dari terus menurunya sukubunga BI rate yang kini mencapai 8,5% setelah BI berturut-turut menurunkan sukubunganya. Demikian juga dengan besarnya cadangan valuta asing yang dikuasai oleh BI yang mencapai lebih dari US$ 53 milyar maka Rupiah terus menunjukkan penguatan sehingga pada akhir Mei 2007 nilai tukar ruiah terhadap dolar US mencapai Rp. 8.828. Demikian juga IHSG semenjak Januari 2007 terus bergerak naik sehingga index mencapai 2093 pada akhir Mei 2007, tiga bulan sebelumnya IHSG bergerak sekitar angka 1800.
Namun seolah membaiknya indikator makro ini tidak ada hungunannya dengan sektor riil. Dana yang dihimpun BI tidak bisa dipergunakan untuk mendanai investasi karena sebagai instrumen moneter perannya tidak langsung terhadap sektor riil. Pintu untuk menarik dana asing untuk masuk ke sektor riil adalah melalui pasar modal dengan melakukan IPO (initial Public offering) atau menerbitkan obligasi.
Pintu menarik dana asing ke sektor riil
Kini adalah saat yang tepat untuk bisa menggaet dana asing melalui pasar modal karena masih terbatasnya emiten dibursa saham. Dengan IHSG yang tinggi maka akan rentan untuk terjadinya crash jika dana asing berbalik kembali. Dengan semakin banyak saham yang diperdagangkan maka bursa akan memiliki peluang untuk terus berkembang.
Namun banyak industri yang membutuhkan dana investasi untuk meremajakan pabrik atau menambah kapasitas produksinya kini kondisi keuangannya tidak begitu baik sehingga akan kurang menarik untuk dijual ke pasar modal.
Juga dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyiapkan proses IPO untuk perusahaan di sektor industri manufaktur, sehingga peluang yang baik saat ini ketika pasar modal terus bergairah, sulit untuk dimanfaatkan.
Salah satu pintu untuk bisa memanfaatkan aliran dana asing saat ini untuk sektor riil yang segera bisa dilakukan adalah dengan menambah volume surat utang negara atau SUN. Pemerintah bisa menggunakan dana SUN untuk turut membiayai kebutuhan dana APBN untuk pembangunan, baik pembangunan infrastruktur ataupun pembangunan sektor industri.
Upaya mendorong perkembangan sektor riil selama ini seolah buntu, karena tidak tersedianya sumber dana yang cukup dengan bunga yang bersaing. Pada sisi lain pasar Indonesia terus menjadi daya tarik asing untuk menanamkan modalnya melalui pasar modal ataupun pada instrumen keuangan lainnya. Untuk mengawinkan antara kebutuhan dana investasi di sektor riil disatu sisi dan di sisi lain tersedianya dana asing dalam bentuk investasi portofolio yang sangat mobile karena mereka tidak ingin melakukan investasi langsung disektor riil yang belum cukup kondusif, maka disini diperlukan kemampuan rekayasa keuangan dari Pemerintah untuk bisa menjembatani kesenjangan ini. Pemerintah harus bisa menciptakan berbagai instrumen keuangan yang bisa ditransfrormasikan menjadi dana pembangunan yang bisa dimanfaatkan sektor riil.
Dengan tersedianya dana yang dikuasai Pemerintah yang berasal dari Surat Utang Negara maka Pemerintah dituntut untuk melakukan pengelolaan yang lebih transparan namun Pemerintah juga memiliki kontrol penuh dalam penggunaannya. Tidak seperti dana pinjaman dari negara donor yang lebih kaku dlaam penggunaannya. Dana dari SUN tentu saja tidak akan cukup untuk membiayai pembangunan sektor riil seluruhnya, namun pengelolaan yang efisien dan tepat guna dari dana SUN untuk merangsang pertumbuhan sektor riil akan menjadi acuan bagi invstor asing untuk mau menanamkan danannya langsung ke industri yang membutuhkan.