INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Agustus 2010
FOKUS
BANK MASIH ANDALKAN KREDIT KONSUMSI
Perbankan Indonesia berhasil selamat dari dampak negatif krisis finansial global yang melanda negara maju dan juga negara tetangga anggota ASEAN seperti Singapura. Perbankan Indonesia yang terpuruk pada saat krisis moneter tahun 1998, saat ini lebih kokoh dan berhati-hati dalam menjalankan bisnisnya. Ketika terjadi gejolak finansial global yang menyebabkan ditariknya dana asing yang dikuasai perbankan asing di berbagai negara ternyata hal itu tidak banyak memberikan pengaruh kepada sistim perbankan Indonesia yang diawasi ketat oleh BI dalam hal penggunaan dan pemanfaatan dana asing.
Namun disisi lain sebagai dampak kehati-hatian perbankan maka penyaluran kredit ke sektor riil juga lambat pertumbuhannya. Walaupun BI telah berupaya mendorong pertumbuhan kredit dengan menetapkan suku bunga BI rate yang relatif rendah dibanding suku bunga perbankan yang berlaku selama ini, namun pertumbuhan kredit masih lambat.
Semenjak tahun 2007, sebenarnya kredit sudah mulai meningkat. Sebelumnya sebagai dampak kenaikan BBM pada akhir tahun 2005, BI mengetatkan ekonomi nasional dengan meningkatkan suku bunga BI rate sehingga pertumbiuhan kredit sangat rendah hanya sebesar 13,9% pada tahun 2006. Baru ketika ekonomi nasional telah stabil, SBI kembali diturunkan dan akhirnya bertahan pada tingkat 6,5% dalam dua tahun terakhir dan masih dipertahankan sampai sekarang ini.
Setelah pertumbuhan kredit melambat tahun 2009 sebagai dampak dari krisis finansial global, maka pada tahun 2010 penyaluran kredit perbankan meningkat lagi. Pada tahun 2009 kredit hanya tumbuh sebesar 10% dibanding tahun sebelumnya, padahal pada tahun 2008 kredit tumbuh sebesar 30,5%. Sampai bulan Agustus 2010 kredit perbankan telah tumbuh sebesar 14,1% dan diperkirakan bisa tumbuh diatas 20% selama tahun 2010.
Tabel - 1
Kredit Bank Umum (Rp. Milyar)
Pertumbuhan kredit ini juga telah meningkatkan Loan to Deposit Ratio yang sebelumnya sangat rendah. Pada tahun 2006 dan 2007 LDR hanya sekitar 60%. Artinya masih lebih banyak dana pihak ketiga yang mengendap di sistim perbankan yang tidak disalurkan ke masyarakat atau dunia usaha. Pada saat itu masih banyak dana perbankan yang diparkir di SBI yang bunganya masih relatif tinggi. Baru mulai tahun 2008 LDR meningkat dan rata-rata telah mencapai 74,6% tahun 2008. Pada tahun 2009 LDR sedikit menurun menjadi 72,88 % sejalan dengan melambatnya pertumbuhan penyalkuran kredit tahun itu. Baru pada tahun 2010 LDR meningkat lagi menjadi 78,01% pada bulan Agustus 2010 sejalan dengan mulai pulihnya perekonomian nasional.
Tabel - 2
Loan to Deposit Ratio (%)
Sektor perdagangan masih menjadi sektor terbesar tempat penyaluran kredit perbankan disusul oleh sektor industri manufaktur. Sektor perdagangan termasuk sektor ritel menjadi target penyaluran kredit karena sektor perdagnagn didukung oleh pasar domestik Indonesia yang besar dan mampu terus tumbuh dimasa krisis finansial.
Krdit untuk sektor industri pada tahun 2010 masih termasuk besar yaitu mencapai Rp. 264 triltyun. Namun jumlah ini menurun jika dibandingkan penyaluran kredit untuk sektor ini pada tahun 2008, yang mencapai Rp. 271 trilyun.
Dengan masih banyak nya sektor industri manufaktur yang terpuruk dan belum sepenuhnya bangkit dari dampak krisis moneter sepuluh tahun yang lalu maka perbankan merasa lebih aman menyaklurkan kreditnay ke sekktor perdagangan dibanding sektor industri.
Kredit Konsumsi meningkat lebih dua kali lipat
Perbankan masih sangat hati-hati dalam menyalurkan kredit. Bank masih melihat Kredit konsumsi sebagai tempat penyaluran kredit yang menarik dengan bunga yang tinggi. Selama lima tahun terakhir porsi kredit konsumsi meningkat dari 28.6% menjadi 30,6%. Sementara kredit modal kerja menurun porsinya dari 52,3% tahun 2006 menjadi 49,6%. Sementara kredit investasi tidak banyak berubah porsinya.
Dengan pertumbuhan kredit yang tinggi maka kredit konsumsi dalam lima tahun meningkat lebih dari dua kali lipat. Pada tahun 2006 kredit konsumsi Bank Umum nasional mencapai Rp 226 trilyun, kemudian meningkat menjadi Rp. 501 trilyun.
Bank Persero merupakan Bank pemberi kredit konsumsi terbesar, namun satu hal yang menarik adalah makin gencarnya Bank Asing dan Bank Campuran menyalurkan kredit konsumsi. Sebelumnya Bank asing lebih banyak menyalurkan kredit korporasi untuk investasi pada proyek besar maupun untuk modal kerja. Namun semenjak krisis moneter tahun 1998 yang lalu, bank asing juga mulai melirik kredit konsumsi setelah banyak kredit korporasi yang macet akibat bangkrutnya perusahaan konglomerat.
Dalam sepuluh tahun terakhir porto folio kredit Bank asing mulai bergeser dengan makin besarnya porsi kredit konsumsi, baru dalam dua tahun terakhir bank asing mulai lagi meningkatkan kredit korporasi dengan menyalurkan pembiayaan berupa kredit investasi dan modal kerja yang lebih besar dibanding kondisi dua tahun yang lalu.
Tabel - 5
Posisi Pimjaman Konsumsi yang Diberikan Bank Umum dan BPR Menurut Kelompok Bank
Bank Asing kebanyakan menyalurkan kredit konsumsi melalui kartu kredit dan Kredit tanpa agunan. Dari total kredit konsumsi sebesar Rp 21,28 trilyun, sebanyak Rp. 12,4 trilyun disalurkan melalui credit card. HSBC, Citibank, ANZ Bank dan Standard Charter Bank merupakan bank asing yang mengincar kredit konsumsi melalui credit card.
Besarnya kredit konsumsi yang disalurkan oleh bank asing melalui credit card jauh melebihi bank persero.
Tabel - 6
Kredit yang penarikannya menggunakan kartu kredit
Daya tarik kredit konsumsi bagi perbankan salah satunya adalah suku bunga kredit yang tinggi. Dibandingkan jenis kredit lainnya maka kredit konsumsi suku bunganya paling tinggi. Misalnya pada bulan Agustus 2010 suku bunga kredit konsumsi dalam Rupiah rata-rata sekitar 13,8% sementara suku bunga kredit investasi lebih rendah yaitu sebesar 11.8% dan kredit modal kerja sebesar 12,6%. Sementara itu suku bunga BI rate masih sebesar 6,5%. Dengan demikian spread bunga untuk kredit konsumsi ini cukup besar.
Tabel - 7
Suku Bunga Rata-rata Kredit Bank Umum Berdasarkan Jenis Penggunaan
Dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 6% (y ony) selama semester I 2010, maka potensi kredit konsumsi di Indonesia masih besar sehingga hampir semua bank mengincar kredit ini dalam ekspansi kreditnya.
Telah banyak peringatan bahwa akan adanya kekhawatiran kredit konsumsi akan berlebihan sehingga mendorong naiknya inflasi dan pada gilirannya menambah risiko kredit. Namun nampaknya banyak dari kalangan perbankan yang mengenyampingkan kekhawatiran tersebut, karena sampai saat ini terbukti perekonomian Indonesia masih mampu tumbuh ditengah krisis finansial global. Dan yang menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu adalah sektor konsumsi masyarakat yang didukung daya belinya oleh kredit konsumsi.
Salah satu yang menjadi pertimbangan keyakinan masih amannya pertumbuhan kredit konsumsi adalah kenyataan sampai saat ini ternyata NPL untuk kredit konsumsi rata-rata masih cukup rendah yaitu masih sekitar 3% pada Agustus 2010. Jauh dibawah NPL pada tahun 2006 yang mencapai 6%
Tabel - 8
Non Fermorming Loan Bank Umum Berdasarkan Jenis Penggunaan
Industri otomotif, properti, elektronik, dan ritel merupakan sektor yang sangat bergantung kepada kredit konsumsi. Sektor ekonomi ini diperkirakan akan tetap menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia, sehingga kredit konsumsi akan terus didorong untuk tumbuh.