2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI PASAR MODAL NASIONAL BERGELUT DI TENGAH KRISIS GLOBAL

Mei 2009

<<Halaman Sebelumnya

IPO 2008 mencapai Rp 24,39 triliun

Sepanjang 2008 perusahaan yang mengeluarkan IPO di BEI tercatat sebanyak 18 emiten dengan total dana IPO sebesar Rp 24,39 triliun. Beberapa emiten besar diantaranya dari sektor perbankan yaitu PT Bank Ekonomi Raharja Tbk dan PT. Tabungan Pensiun Nasional Tbk serta sektor pertambangan melalui PT. Adaro Energy Tbk , PT. Bayan Resources Tbk dan PT. Indika Energy Tbk.

Sedangkan  secara keseluruhan sepanjang 2008 total dana segar yang dihimpun oleh perusahaan go public mencapai Rp82,45 triliun yang terdiri dari IPO Rp24,39 triliun, rights issue Rp56,07 triliun, dan penerbitan waran Rp1,98 triliun. Jumlah itu jauh diatas jumlah dana yang dikumpulkan pada 2007 yang hanya  Rp29,35 triliun dari 27 deal yang terjadi pada 2007. Lonjakan itu terutama ditopang oleh  IPO PT Adaro Energy Tbk dan rights issue PT Bakrie & Brothers Tbk.

Bank Ekonomi Raharja Tbk (BER) dari Grup Wings menggelar IPO dengan menawarkan harga saham IPO Rp 1.080 per lembar. Saham BER yang ditawarkan ke publik sebanyak 270 juta saham atau setara dengan 10,11% saham dengan nilai nominal Rp 100. Dana yang diraup dari IPO Bank Ekonomi Rp 291,6 miliar. Bertindak sebagai penjamin pelaksana emisi efek adalah PT Dinamika Usahajaya yang dibantu 12 penjamin emisi lainnya.

Dana dari hasil IPO digunakan untuk meningkatkan pemberian pinjaman berupa modal kerja dan investasi dengan fokus pada UKM sebesar 70%. Sementara sisanya sekitar 15% akan digunakan untuk menambah jaringan operasional di seluruh Indonesia, dan 15% akan digunakan untuk pengembangan sistem IT dan SDM.

Setelah IPO, komposisi kepemilikan saham Bank Ekonomi adalah Hendrik Tanojo (2,21%), Teddy Jeffrey Katuari (3,78%), Hanny Sutanto (4,01%), Finney Henry Katuari (2,45%), PT Lumbung Artakencana (38,84%), PT Alas Pusaka (38,60%) dan publik (10,11%).  Per 31 Agustus 2007, total aset Bank Ekonomi mencapai Rp 15,051 triliun dan laba bersih sebesar Rp 124,946 miliar.

PT Adaro Energy Tbk menawarkan harga saham IPO di kisaran Rp 1.050-1.125 per lembar dengan melepas  31,7% sahamnya  di BEI.  Dari IPO tersebut Adaro mendapatkan dana segar Rp 12, 252 triliun. PT Danatama Makmur ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi (Lead Managing Underwriter) dalam proses go public ini. Selain juga menunjuk UBS, Morgan Stanley dan DBS, yang akan bertindak sebagai International Placement Agents.

Adaro Energy dan anak perusahaannya saat ini merupakan salah satu perusahaan pertambangan batubara terintegrasi terbesar di Indonesia. Terdiri dari unit usaha strategis pertambangan dan perdagangan batubara, jasa penambangan serta infrastruktur dan logistik batubara.

Adaro Energy melalui anak perusahaannya, Adaro Indonesia, juga merupakan produsen tambang batubara tunggal terbuka terbesar di dunia. Operasional pertambangan Adaro Energy merupakan pertambangan batubara terbuka (surface open-cut mining) dari wilayah pertambangannya yang berlokasi di Kalimantan Selatan, yang hak pengelolaannya berlangsung hingga tahun 2022.

Cadangan terbukti (proven reserve) di wilayah pertambangan Adaro Energy melalui anak perusahaannya diperkirakan sebesar 876 juta ton, dengan sumber daya (resources) diperkirakan sebesar 2.803 juta ton. Sedangkan total luas seluruh wilayah pertambangan Adaro Energy saat ini adalah seluas kurang lebih 34.940 hektar. Saat ini kapasitas produksi Adaro mencapai 40 juta ton per tahun dan berencana untuk meningkatkan kapasitas produksinya hingga mencapai 80 juta ton dalam jangka waktu 5 tahun ke depan.

Perusahaan tambang yang lainnmya yaitu Bayan Resources  melalui IPO melepas 31,6% saham dengan opsi over subscription dan over allotment dan meraup dana segar sebesar Rp 8,1 triliun. Struktur penawaran saham perdana Bayan terdiri dari 833.333.500 lembar ditambah opsi oversubscription 83.333.500 lembar dan opsi over allotment 137.500.500 lembar.

Dengan harga perdana mulai Rp 5.600 hingga Rp 7.700 per saham, dinilai cukup tinggi. Harga tersebut didasarkan pada prospek perusahaan ke depan dan perhitungan price earning ratio (PER) Bayan yang mencapai 6 hingga 8 kali.

Pada 2007, volume penjualan batubara perseroan sebanyak 7,1 juta ton di harga rata-rata US$ 51 per ton, sehingga Bayan membukukan penjualan sebesar US$ 362 juta. Sementara produksi batubara perseroan tahun lalu sebanyak 4,7 juta ton. Pada  2008 produksi batubara kami sekitar 9 juta ton dan volume penjualan diperkirakan sekitar 9,9 juta ton. Proyeksi harga rata-rata batubara yang diterima Bayan sekitar US$ 76-80 per ton. Dengan demikian Bayan memperoleh penjualan batubara sebesar US$ 752-792 juta, atau tumbuh signifikan antara 207-218,8% dibanding sebelumnya.

Saat ini Bayan memiliki 8 tambang. Namun yang baru dioperasikan baru 3 tambang yaitu Gunungbayan, Wahana dan Perkasa Inakakerta. Lima tambang lainnya yaitu Teguh-Firman dan Fajar-Taba-Brian (FTB), masih dalam tahap pengembangan dan pembangunan infrastruktur.

Sekitar Rp 800 miliar hingga Rp 1,02 triliun dari dana IPO, akan digunakan untuk pengembangan proyek Wahana, Perkasa dan FTB. Teguh-Firman baru mulai pembangunan infrastruktur. Dari target produksi batubara tahun 2008, komposisinya akan diambil dari Gunungbayan blok II sebesar 4,5 juta ton, Wahana 2 juta ton, Perkasa 2 juta ton dan Taba 500 ribu ton. Hingga akhir triwulan I 2008 lalu, jumlah cadangan terbukti sebesar 78,7 juta ton dengan total cadangan sebesar 476,9 juta ton. Sementara resources batubara Bayan ada sebesar 1 miliar ton.

PT. Indika Energy (sebelumnya bernama PT. Indika Inti Energy) menggelar IPO  di bursa pada Juni 2008,  dengan  melepas 937,284 juta saham di harga Rp 2.950 per saham, sehingga meraup dana sebesar Rp 2,764 triliun.

Dana hasil IPO digunakan untuk belanja modal dan pengembangan usaha energi 15%, pengembangan usaha daya energi termasuk akuisisi batubara 56,6 dan rencana pengembangan di bidang energi 28,2%. Total anggaran belanja modal perusahaan selama lima tahun ke depan diperkirakan mencapai US$ 580 juta. Indika per 31 Desember 2007 mencatat pendapatan Rp 2,337 triliun dan laba bersih Rp 265 miliar.

Setelah IPO pemegang saham Indika adalah, PT Indika Mitra Energi 57,4%, PT Tunas Bhakti Manunggal 17,32%, Pandri Prabono-Moelyo 4,32%, Eddy Junaedy Danu 1,48%, Wadyono Suliantoro Wirjomihardjo 1,48%, dan publik 18%.

Menurut Lembaga pemeringkat internasional, Fitch Ratings, selain potensi dana dari IPO, Indika masih menyimpan hasil perolehan dari penerbitan obligasi senilai US$ 250 juta pada Mei 2007 yang belum digunakan dalam bentuk kas senilai US$ 103,5 juta  atau Rp974,7 miliar, di luar kas dan setara kas sebesar US$ 92,7juta  (sekitar Rp873,4 miliar) per akhir Desember 2007.

Dari para emiten baru tersebut, hanya empat saham yang memberikan imbal hasil (return) positif untuk pemodal. Hingga penutupan pasar pada 30 Desember 2008, emiten lainnya justru memberikan return negatif di kisaran 3,33% hingga 83,79%.

Berdasarkan data Bloomberg, sejak sahamnya ditransaksikan hingga penutupan pasar tahun lalu, saham PT Bank Ekonomi Raharja Tbk memberikan return positif paling tinggi yaitu 106,02%. Sebaliknya saham PT Bayan Resources Tbk justru memberikan return negatif terbesar yaitu  -83,79%.

Minimnya jumlah perusahaan yang melakukan IPO pada 2008 memberikan return positif karena kondisi pasar yang tidak kondusif. Emite baru bisa memberikan imbal hasil positif karena jumlah saham yang dilepas ke pasar tidak terlalu besar.

Menurut para pengamat, harga saham perusahaan baru yang bisa bertahan karena kapitalisasi pasarnya rendah, sehingga tidak banyak pemodal yang melepas sahamnya ketika krisis terjadi. Kepemilikan saham itu tidak menyebar secara luas.

Sejumlah emiten terkena sanksi denda

Berdasarkan peraturan BEI, semua emiten diwajibkan menyerahkan laporan keuangan secara berkala yaitu per twiwulan setiap tahunnya. Namun hingga batas waktu yang telah ditetapkan, terdapat sejumlah emiten yang belum memenuhi kewajibannya karena berbagai hal.

BEI memberikan peringatan tertulis dan denda masing-masing Rp50 juta kepada 15 emiten yang belum menyerahkan laporan keuangan per 31 Maret 2009 tepat waktu. Selain itu, hingga per 1 Juni 2009, ada sebanyak 24 emiten yang belum menyampaikan laporan keuangan periode 31 Maret 2009.

Rencana IPO pada 2009

Seiring kondisi pasar yang perlahan mulai membaik, banyak perusahaan yang akan menggelar IPO pada semester kedua tahun 2009 ini yang sudah melapor ke BEI.

Optimisme bahwa bursa saham akan kembali membaik karena rencana IPO sejumlah perusahaan BUMN. Saham BUMN selalu menarik minat investor di pasar modal karena memiliki prospek yang bagus dan memiliki kapitalisasi pasar yang cukup besar.

Pada 2009 ini BEI mentargetkan 15 perusahaan akan mencatatkan saham perdananya. Diantaranya 11 calon emiten merupakan kandidat yang  seharusnya melakukan IPO pada 2008, namun mundur menjadi  tahun ini, akibat kondisi bursa yang memburuk. Sementara ada 2 calon emiten yang mengajukan IPO, namun BEI meminta calon emiten tersebut untuk memperbaiki operasionalnya lebih dulu. Disamping itu, BEI menargetkan 30 perusahaan akan menggelar aksi korporasi berupa penerbitan saham baru atau rights issue, dan 27 emiten menerbitkan obligasi pada tahun ini.

BEI juga menargetkan rata-rata nilai transaksi harian sebesar Rp 2,75 triliun. Target ini lebih kecil ketimbang rata-rata nilai transaksi harian selama tujuh bulan pertama tahun ini, yang sebesar Rp 5,2 triliun.

Sementara pada 2008, BEI mencatatkan 18 emiten baru atau turun 25,0% dibandingkan 2007 sebanyak 24 emiten. Meskipun jumlahnya merosot, namun dari segi nilai IPO justru mengalami kenaikan 29,6% dengan total dana senilai Rp 24,39 triliun dibandingkan 2007 sebanyak Rp 17,18 triliun.

Adapun jumlah penawaran umum terbatas (rights issue), pada 2008 sama dengan 2007 sebanyak 25 emiten. Dengan dana yang dihimpun naik 46,8% menjadi Rp 56,07 triliun dibandingkan sebelumnya Rp 29,8 triliun.

Beberapa perusahaan yang siap go public merupakan emiten yang ditunggu-tunggu investor pasar modal, sebab memiliki prospek cukup baik dalam jangka panjang seperti sektor transportasi (Garuda Indonesia), sektor konstruksi (Waskita Karya) dan sektor perkebunan (PT. Perkebunan Nusantara III, IV dan VII).

Sementara itu, ada dua calon emiten yang masuk bursa pada Januari 2009 yaitu PT Bumi Citra Permai dan PT Sumber Alfaria Trijaya. Selain itu, menyusul PT Metropolitan Kencana, PT Inovisi Infracom, PT Katarina Utama, PT Bank Jabar, PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), dan PT Batavia Prosperindo Finance juga akan go public.

Para calon emiten  tersebut akan menggelar  IPO pada Juni 2009 karena mereka menggunakan laporan tahun buku 2008, sehingga harus listing semester kedua. Sedangkan IPO Bank Tabungan Negara dan Garuda Indonesia ditargetkan pada kuartal keempat tahun 2009 ini.

Pemerintah selaku pemegang saham BUMN, sudah mendapatkan izin Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk menjual saham BUMN lewat IPO. Pemerintah akan menjual rata-rata 30% saham BUMN ke publik. BUMN yang gagal IPO tahun 2008 lalu kemarin akan melanjutkan rencananya di 2009....

Lihat Daftar Isi>>
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN - Mei 2009


FOKUS:
RESESI DUNIA MASIH BERLANGSUNG

PROFIL INDUSTRI:
INDUSTRI PASAR MODAL NASIONAL BERGELUT DI TENGAH KRISIS GLOBAL                        
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.