INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Desember 2011
FOKUS
OUTLOOK EKONOMI INDONESIA 2012
Latar belakang
Memasuki tahun 2012, ekonomi Indonesia dibayangi oleh tekanan harga minyak mentah dunia yang terus meningkat dan lesunya pasar ekspor terutama untuk tujuan ke negara Eropa yang masih lesu perekonomiannya.
Sementara itu di sektor keuangan, dunia masih diselimuti ancaman menyebarnya dampak negatif krisis keuangan di Eropa terutama di Yunani, Spanyol, Italia dan negara lainnya yang masih belum mendapatkan jalan keluar yang tuntas. Lambatnya pemulihan krisis keuangan di Eropah ditenggarai oleh beberapa negara anggota G-20 karena kurang seriusnya negara di kawasan Zona Euro itu mengambil langkah yang tegas dan sungguh-sungguh. Sehingga himbauan agar negara anggota G-20 di luar Uni Eropa membantu mengatasi krisis finansial di Eropa kurang mendapat response yang positif.
Namun demikian, perkembangan ekonomi dunia bukan tanpa perbaikan, beberapa indikator ekonomi negara maju seperti Amerika Serikat menunjukkan ekonomi negara tersebut sedang menuju kearah pemulihan, yang ditandai meningkatnya sektor manufaktur di negara tersebut dan juga berkurangnya angka pengangguran.
Cina dan India walaupun pertumbuhan ekonominya sedikit lebih rendah namun terus melaju dengan pertumbuhan yang masih cukup tinggi. Demikian juga pasar di negara Asia masih menunjukkan pertumbuhan yang baik sehingga masih berpotensi menjadi negara tujuan ekspor Indonesia untuk berbagai komoditas.
Indonesia yang selama krisis finansial global mampu bertahan, kini akan mengahadapi tantangan. Selama ini Indonesia mengandalkan pasar domestik yang besar dan ekspor komoditas primer yang harganya tinggi dipasar dunia. Memasuki tahun 2012 harga konoditas cenderung menurun karena lemahnya permintaan dunia dan pasar domestik kini terancam diserbu oleh produk impor yang lebih deras baik dari Cina maupun dari negara Asia lain yang juga makin sulit mencari pasar bagi produknya.
Dengan harga minyak bumi yang terus meningkat karena ketegangan yang tinggi di kawasan teluk terutama karena adanya ancaman embargo impor minyak oleh Eropa terhadap Iran yang dibalas dengan embargo ekspor minyak oleh Iran, maka diperkirakan ahun 2012 harga minyak bumi akan berada terus datas US$ 100 per barel yang pada gilirannya menyebabkan ekpnomi Indonesia akan memikul beban subsidi yang berat.
Ekonomi Indonesia pada tahun 2011 masih mengalami pertumbuhan yang positif yang ditandai dengan semakin bergairahnya kegiatan perdagangan internasional untuk berbagai komoditi termasuk produk manufaktur yang sempat lesu ketika krisis fianansial global tengah berlangsung. Pada tahun 2011 ekspor meningkat dan mencapai rekor baru yaitu nilainya mencapai US dollar 203 milyar atau meningkat 29,05% dibanding tahun 2011. Pulihnya pasar ekspor setelah didera kelesuan akibat krisis finansial global tahun 2009 memberikan dorongan positif kepada perkembangan ekonomi nasional termasuk bergairahnya kembali sektor riil, termasuk sektor manufaktur yang sebelumnya mengalami kelesuan.
Pertumbuhan yang pesat dialami oleh industri otomotif baik kendaraan roda empat maupun sepeda motor. Tahun 2011 penjualan mobil kembali mencapai rekor baru yaitu mencapai 890 ribu unit dan sepeda motor juga telah melampaui 8,04 juta unit. Menurut Gaikindo, pada tahun 2012 pertumbuhan otomotif akan tetap meningkat meski targetnya tidak besar mengingat adanya krisis di Eropa. Tahun 2012 ditargetkan penjualan roda empat sebanyak 920 ribu unit.
Demikian juga untuk pasar elektronik, walaupun impor mulai membanjiri pasar lokal, namun industri elektonik nasional masih mampu meningkatkan penjualannya.
Dengan membaiknya ekonomi dunia, selama tahun 2011 ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi dari perkiraan semula yaitu mencapai 6,5%. Namun tahun 2011 bukan tanpa tantangan bagi ekonomi Indonesia. Gejolak dunia akibat belum selesainya krisis finansial di Eropa yang telah menyebabkan beberapa negara Eropa diturunkan rating utangnya oleh lembaga pemeringkat utang dunia, menyebabkan masih bergejolaknya ekonomi dunia.
Namun Indonesia masih diuntungkan oleh menguatnya Rupiah, karena arus modal asing yang menyerbu negara emerging market di Asia setelah negara maju terutama Eropa menurun ekonominya. Pada tahun 2011 Indonesia kembali mendapat rating investment grade dari dua lembaga pemeringkat dunia yaitu Fitch dan Moody's setelah lebih 14 tahun rating Indonesia turun dibawah investment grade sebagai dampak krisis moneter tahun 1998 yang lalu.
Dengan kondisi ini Indonesia semenjak dua tahun terakhir telah menjadi tujuan investasi yang menarik baik bagi investasi porto folio maupun foreign direct investment.
Faktor lain yang masih menghadang pertumbuhan ekonomi adalah masalah keterbatasan infrastruktur yang belum bisa terpecahkan seperti kondisi jalan raya, transportai laut dan pasokan listrik, hal ini diperkirakan bisa menghambat laju investasi yang diharapkan akan menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi ditahun 2012.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan terhadang oleh menurunya beberapa harga komoditi andalan seperti karet, kokoa dan hasil perkebunan lainnya apabila ekonomi negara Eropa dan tujuan ekspor utama lainnya belum bisa membaik tahun 2012.
Walaupun kondisi ekonomi global masih belum menentu pada tahun 2012 namun Pemerintah dan Bank Indonesia menunjukkan optimisme dengan menargetkan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. Pemerintah, seperti yang disampaikan Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo, menargetkan pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 - 6,9 %.
Sementara itu, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun sebesar 6,5 persen atau lebih kecil jika dibandingkan dengan asumsi RAPBN 2012 sebesar 6,7 persen. Proyeksi Bank Indonesia yang lebih rendah karena diasumsikan pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan turun dari 4,5 persen menjadi 4,0 persen.
Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2012 hanya sebesar 6,3 persen, lebih rendah dari proyeksi untuk 2011 sebesar 6,4 persen. Salah satu faktor yang mempengaruhi perlambatan pertumbuhan ini adalah kemorosotan ekonomi global,
IMF meproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya sebesar 3,3 % tahun 2012 karena amsih adanya ancaman resesi dari zona Euro.
Overview Perekonomian Indonesia Tahun 2011
Ditengah ekonomi dunia yang melesu akibat dilanda krisis finansial, Indonesia dalam tiga tahun terakhir masih bisa mempertahankan pertumbuhan ekonominya. Pada tahun 2009 pada saat puncak krisis finansial global, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 4.5% hanya berada dibawah Cina dan India. Pada tahun 2010, ekonomi Indonesia tumbuh pesat dan mampu meningkat sebesar 6,1%. Dengan ekspor yang meningkat dan pasar domestik yang masih kuat, ekonomi Indonesia pada tahun 2011 mampu tumbuh sebesar 6,5% ( GDP year on year)
Besarnya pasar domestik ditambah kehati-hatian yang diterapkan oleh Pemerintah dan perbankan Indonesia dalam mengelola sistim keuangan berhasil menyelamatkan Indonesia dari krisis kedua kalinya yang terjadi dalam 10 tahun terakhir.
Dengan meningkatnya permintaan dan daya beli masyarakat pada tahun 2010 inflasi meningkat menjadi 6,96% dari 2,78 % tahun 2009 karena meningkatnya berbagai harga bahan pangan. Namun tahun 2011, meskipun pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, inflasi lebih terkendali dan menurun kembali menjadi hanya 3,79%.
Rendahnya tingkat inflasi pada tahun 2009 lebih banyak dipengaruhi oleh rendahnya permintaan karena kelesuan ekonomi dunia yang berimbas ke dalam negeri. Sementara pada tahun 2011, pada saat ekonomi tumbuh lebih tinggi ternyata inflasi bisa lebih rendah karena pengendalian pasok dan distribusi bahan pangan yang lebih baik serta pengendalian harga BBM yang tidak meningkat selama tahun 2011. Sementara itu dari sisi moneter BI mampu mengendalikan inflasi lewat pengendalian suku bunga dan nilai tukar mata uang yang lebih stabil pada tahun 2011.
Pada tahun 2009 ketika krisis finansial dunia masih berkecamuk, ekspor Indonesia mengalami penurunan yang cukup besar yaitu hampir 15% dari US$ 138 milyar menjadi US$ 116 milyar. Namun semenjak akhir tahun 2009 pasar ekspor mulai membaik dan memasuki tahun 2010 ekspor Indoneisa telah kembali tumbuh sehingga mencapai US$ 157.8 milyar. Pada tahun 2011 ekspor mencapai rekor baru dengan melamau US$ 200 milyar atau tepatnya US$ 203,6 milyar.
Peningkatran ekspor ini dibarengi dengan peningkatan impor bahkan pertumbuhan impor relatif lebih tinggi dari ekspor. Sampai akhir tahun 2011 impor telah mencapai US$ 177,3 milyar atau meningkat 31 % dibanding tahun 2010.
Kenaikan impor selain mengindikasikan meningkatnya kembali sektor industri manufaktur karena sebagian besar impor adalah bahan baku untuk industri, akan tetapi impor yang tinggi juga terjadi karena konsumsi masyarakat yang meningkat sejalan denganpeningkatan daya beli masyarakat. Sementara itu dari faktor eksternal impor meningkat karena mulai berlakunya pasar bebas antara Indonesia dan China yang menyebabkan banyaknya impor dari Cina yang relatif harganya lebih murah.
Kepercayaan dunia terhadap ekonomi Indonesia juga ditunjukkan oleh derasnya modal asing masuk ke Indonesia. Salah satu indikator adalah masih naiknya indeks bursa saham indonesia, walaupun peningkatan IHSG selama tahun 2011 tidak sebesar tahun 2010 yang telah meningkat dari 2,534 tahun 2009 menjadi 3704 sampai akhir 2010. Pada tahun 2011 IHSG meningkat menjadi 3808.
Sementara itu nilai tukar Rupiah cukup stabil selama tahun 2011. Ketika terjadi gejolak pada tahun 2010 yang telah melemahkan US dolar, maka pada tahun 2010 Rupiah menguat menjadi Rp 8991 per US$. Namun pada tahun 2011 Rupiah kembali sabil di level Rp 9000 yaitu Rp 9068 pada akhir tahun, suatu tingkat nilai tukar yang dianggap aman baik bagi konsumen Indonesia maupun bagi eksportir.
Besarnya arus modal asing juga ditunjukkan oleh meningkatnya cadangan devisa Indonesia yang bisa mencapai rekor yaitu sebesar US$ 110,1 milyar pada akhir tahun 2011. Pada tahun 2009 cadangan devisa Indonesia baru mencapai US$ 96,2 milyar.
Berbagai lembaga pemeringkat hutang dunia juga meningkatkan peringkat Indonesia. Pada akhir tahun 2011 Indonesia memperoleh investment grade, karena beberapa lembaga pemeringkat hutang dunia saat ini seperti Fitch yang telah meningkatkan peringkat utang luar negeri Indonesia menjadi BBB-, atau peringkat investment grade, demikian juga Moody's yang telah menaikan peringkat utang Indonesia menjadi Baa3 atau level terendah dari investment grade. Diperkirakan pada tahun 2012 lembaga pemeringkat lainnya juga akan segera meningkatkan peringkat Indonesia sehingga mencapai investment grade.
Sektor Industri Manufaktur tahun 2011 mulai bangkit kembali
Industri manufaktur mulai bangkit pada tahun 2011 ditandai dengan pertumbuhan yang cukup tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2011 industri manufaktur tumbuh sebesar 6,2% padahal selama lebih dari 6 tahun pertumbuhan sektor ini selalu dibawah 5%, yang terendah tahun 2009 yang hanya tumbuh 2,1 persen.
Selama ini timbul kekhawatiran terjadinya deindustrialisasi di Indonesia karena terus menurunnya peran sektor industri manufaktur selepas krisis moneter tahun 1998 yang lalu. Semenjak itu investasi untuk sektor industri manufaktur sangat terbatas sehingga banyak mesin pabrik yang sudah tua seperti pada industri tekstil yang menyebabkan melemahnya daya saing Indonesia.
Krisis moneter yang telah banyak menyebabkan bankrutnya berbagai industri manufaktur karena beban hutang yang tinggi menyebabkan lambannya pemulihan sektor ini, hanya beberapa sektor industri manufaktur yang segera pulih dari krisis moneter seperti industri makanan dan minuman dan industri otomotif. Namun industri manufaktur lainnya seperti industri testil, baja, sepatu dll masih terseok-seok. Baru pada tahun 2011 investasi yang masuk ke industri manufaktur kembali meningkat sehingga sektor ini mulai bankit kembali.
Bila dibandingkan dengan tahun 2010 (y-on-y), PDB Indonesia tahun 2011 tumbuh sebesar 6,5 persen, dimana hampir semua sektor tumbuh positif dan yang tertinggi di Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 10,7 persen, sedangkan pertanian pertumbuhannya terkecil dibanding sektor pertambangan yaitu 1,4 persen. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran yang terkena dampak dari krisis finansial global tahun 2009, kini sudah bangkit lagi. Pertumbuhan sektor ini pada tahun 2009 hanya 1,1 persen, kemudian tumbuh pesat pada tahun 2010 menjadi 8,7 persen dan pada tahun 2011 tumbuh sebesar 9,2 persen.
Dengan tumbuhnya hampir semua sektor ekonomi dibanding tahun 2009, maka dapat disimpulkan pada tahun 2011 lalu Indonesia hampir tidak terkena dampak negatif dari krisis finansial yang masih melanda Eropa.
Ekspor tahun 2011 mencapai rekor
Setelah mengalami penurunan yang cukup besar pada tahun 2009 akibat krisis finansial global, ekspor Indonesia pada tahun 2010 telah pulih kembali bahkan mampu menciptakan rekor baru. Pada tahun 2011 ekspor terus meningkat dan mencapai rekor baru diatas US$ 200 milyar.
Secara kumulatif nilai ekspor Indonesia Januari-Desember 2011 mencapai US$ 203,6 miliar atau naik lebih dari 29,05 persen dibanding tahun 2010, sementara ekspor nonmigas mencapai US$ 162 miliar atau naik 24,88 persen.
Menurut sektor, ekspor hasil industri periode Januari-Desember 2011 naik sebesar 24,66 persen dibanding periode yang sama tahun 2010. Ekspor hasil pertanian naik tidak terlalu besar yaitu 3,34 persen. Sedangkan ekspor hasil tambang dan lainnya naik naik cukup tinggi sebesar 29,72 persen.
Selain ekspor, maka impor selama tahun 2011 juga mengalami peningkatan, Nilai impor Indonesia selama tahun 2010 mencapai US$ 135,6 miliar atau naik 40 persen dibanding periode yang sama tahun 2009 yang mencapai US$ 96,8 miliar. Pada tahun 2011 impor kembali meningkat menjadi US$ 177,3 milyar
Impor nonmigas selama Januari-Desember 2011 mencapai US$ 136,6 miliar atau naik 26,2 persen dibanding impor nonmigas periode yang sama tahun 2010 (US$ 108,24 miliar). Sedangkan impor migas selama Januari-Desember 2011 mencapai US$ 40,6 miliar atau naik 48,4 persen dibanding impor migas periode yang sama tahun sebelumnya (US$ 27,36 miliar).
Inflasi tahun 2011 kembali turun
Selama tahun 2009 ekonomi Indonesia relatif stabil seperti yang ditunjukkan oleh tingkat inflasi yang rendah yaitu hanya mencapai 2,78% atau merupakan inflasi terendah semenjak lebih dari sepuluh tahun terakhir. Namun pada tahun 2010 inflasi kembali meningkat mencapai 6,96% atau diatas target BI pada tahun 2010 yaitu 5% - 6%. Meningkatnya inflasi sebenarnya sejalan dengan meningkatnya permintaan yang didorong oleh kembali pulihnya perekonomian.
Pada tahun 2011 inflasi kembali turun yaitu hanya sebesar 3,79 %. Rendahnya inflasi pada tahun 2011 disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya stabilnya harga bahan pangan karena kecukupan pasok dan kelancaran sistim ditrisbusinya. Dengan tidak adanya cuaca ekstrim pada tahun 2011, maka produksi berbagai bahan pangan cukup lancar sehingga harga tidak terlalu berfluktuasi. Demikian juga upaya Pemerintah menstabilkan berbagai bahan pangan pokok seperti beras dan gula cukup berhasil dengan mengatur besarnya pasok baik dari dalam negeri maupun impor.
Sementara itu BI juga mampu mengendalikan suku bunga sehingga nilai tukar rupiah sehingga lebih stabil.
Tantangan ekonomi tahun 2012
Pemulihan ekonomi dunia masih berlangusng, tidak semuanya mulus, seperti krisis yang dihadapi oleh Zona Euro yang diperkirakan masih akan menjadi ancaman bagi pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun 2012. Pengambilan keputusan yang lambat oleh negara Zona Euro banyak dituduh menjadi lambatnya pemulihan ekonomi di kawasan tersebut yang berdampak kepada ekonomi dunia secara keseluruhan karena Zona tersebut secara kesatuan masih merupakan kawasan ekonomi terbesar di dunia.
Sementara itu Amerika Serikat juga belum menunjukkan tanda perbaikan ekonomi yang lebih signifikan. Menurut berbagai pengamat ekonomi dunia, perekonomian Amerika akan mendapat tekanan yang besar tahun 2012 karena masalah tingkat pengangguran yang masih tinggi dan masih rendahnya penciptaan lapangan kerja baru.
Karena berlarutnya pemulihan ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat yang masih belum tuntas sampai saat ini, maka pengaruhnya mulai berdampak kepada perekonomian di kawasan lain termasuk Cina dan India. Bank Dunia dan IMF meramalkan pertumbuhan ekonomi Cina dan India menurun. Menurut ramalan IMF pada tahun 2012 Cina hanya akan tumbuh sebesar 8.2 % dan India sebesar 7.0 %.
Sedangkan Indonesia menurut Bank Dunia pertumbuhan ekonominya masih cukup tinggi yaitu sebesar 6,3% hanya menurun sedikit dari ramalan semula Bank dunia yaitu sebesar 6,5%. Hal ini menunjukkan Indonesia lebih tahan terhadap krisis yang sedang berlangsung di dunia
Namun demikian tidak sedikit tantangan yang dihadapi pada tahun 2012 bagi Indonesia untuk bisa mempertahankan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tantangan yang dihadapi ekonomi Indonesia dapat bersumber dari faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal meliputi:
" Pemulihan ekonomi dunia yang masih rentan karena masih adanya ancaman gejolak ekonomi kembali terutama dari kawasan euro yang masih menghadapi krisis finansial yang diperkirakan pada tahun 2012 ini mulai merembet kenegara Uni Eropa lainnya seperti Belanda bukan hanya Yunani, Irandia, Portugal, Spanyol dan Italia yang masih berkutat menghadapi hutang negara yang besar yang segera jatuh tempo.
" Cina dan India mulai terimbas dampak krisis finansial Eropa karena makin sempitnya pasar ekspor untuk produk mereka sehingga diprediksi pertumbuhan ekonominya akan dibawah 10% pada tahun 2012. Akibatnya produk Cina diperkirakan akan menjadi ancaman bagi pasar domestik Indonesia yang akan menjadi sasaran pengalihan pasar Eropa maupun America yang masih lesu.
" Kembalinya gejolak harga minyak bumi dan bahan pangan bisa mempengaruhi harga barang lainnya di dalam negeri baik sebagai kebutuhan konsumsi maupun sebagai bahan baku untuk produksi barang ekspor. Krisis di nuklir Iran yang mebawa Eropa mengembargo impor minyak dari Iran dan ancaman serangan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran akan membawa dampak terhadap harga minyak bumi yang akan makin tinggi.
Faktor internal
" Harga minyak bumi yang tinggi telah menyebabkan subsidi BBM yang melambung. Akibatnya Pemerintah terpaksa menaikan harga BBM untuk mengurangi jumlah subsidi. Diperkirakan Pemerintah akan menaikan BBM bulan April 2012 sebesar Rp. 1500 per liter menjadi Rp. 6000 per liter. Dengan kenaikan ini diperkirakan akan terjadi kenaikan inflasi menjadi sekitar 6,5 - 7,5 %. Jika kenaikan BBM ini disertai dengan penyediaan pasok berbagai bahan pangan dan kebutuhan lainnya dalam jumlah memadai dan dengan sistim distribusi yang lancar, maka diperkirakan dampak kenaikan BBM terhadap inflasi tidak akan terlalu besar. Namun jika masyarakat panik, maka dampak psikologis kenaikan BBM bisa memicu kenaikan barang yang tidak terkendali.
" Berbagai masalah internal masih menghantui pemulihan ekonomi Indonesia untuk bisa tumbuh lebih pesat lagi diantarnya adalah lambatnya pembangunan infrastruktur terutama listrik, jalan dan fasilitas transportasi lainnya menjadi hambatan bagi lancarnya perekonomian negara dan juga bagi masuknya investasi asing. Diakhir tahun 2011 Pemerintah telah meluncurkan Masterplan Percepatan Dan Perluasan pembangunan Ekonomi Indonesia 2011-2025 yang berisi rencana pembangunan proyek infrastruktur yang segera akan dibangun pada tahun 2012. Selama tahun 2012 Pemerintah telah mencadangkan dana untuk merealisasikan proyek infrastruktur yang selama ini terkatung-katung pembangunnya. Dengan keseriusan Pemerintah membangun infrastruktur diperkirakan akan banyak investor yang akan menanamkan modalnya di Indonesia.
" Masalah birokrasi dan regulasi yang masih belum tertib yang bisa mengundang ekonomi biaya tinggi bagi investasi
Prospek Ekonomi Indonesia 2012
Tahun 2012 akan menjadi tahun yang cukup sulit bagi Indonesia untuk bisa mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun Indonesia masih mempunyai peluang untuk bisa tumbuh menjadi salah satu perekonomian yang sehat karena berbagai faktor pendukung.
Beberapa faktor yang menunjang tumbuhnya ekonomi Indonesia pada tahun 2011 diataranya:
" Pengelolaan sistim keuangan negara yang cukup hati-hati dengan mempertahankan difisit pembayaran yang relatif rendah hanya sekitar 1,5% dari GDP dan managemen ekonomi makro yang aman.
" Sistim perbankan yang sehat dan menguntungkan. Semenjak Indonesia keluar dari krisis moneter 10 tahun yang lalu, BI menerapkan kontrol yang lebih ketat terhadap sistim perbankan Indonesia dan menerapkan prinsip kehati-hatian (prudent) yang tinggi sehingga ketika krisis finansial global terjadi dua tahun yang lalu sistim perbankan Indonesia relatif aman dan mampu menunjukkan kinerja yang positif. Hal ini merupakan modal yang baik bagi perekonomian Indonesia untuk bisa tumbuh lebih pesat ketika ekonomi dunia sudah pulih.
" Sumber daya alam yang masih cukup besar, sehingga ketika harga komoditas primer di dunia meningkat Indonesia bisa mengambil manfaat yang besar.
" Pasar domestik yang besar dan daya beli masyarakat yang terus tumbuh merupakan peluang yang besar untuk bisa berkembang tanpa terpengaruh secara ekstrim terhadap gejolak ekonomi dunia.
" GDP per kapita yang telah melampau US$ 3000 per kapita tahun 2010 merupakan modal yang besar untuk menggerakan ekonomi nasional. Karena berdasarkan pengalaman di negara lain, pada saat GDP perkapita melewati US$ 3000, ekonomi akan tumbuh makin pesat didorong oleh permintaan domestik yang makin besar.
Pemerintah, seperti yang disampaikan Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo, menargetkan pencapaian pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 - 6,9 %. Diperkirakan sumber - sumber pertumbuhan ekonomi yang mencapai level yang cukup tinggi adalah konsumsi masyarakat dan konsumsi pemerintah. Masing-masing diperkirakan tumbuh 4,8 - 5,2 % dan 6 - 6,4 %. Sementara itu, pada tahun 2012 investasi diperkirakan tumbuh double digit 10 - 10,4 %, dimana dana yang dibutuhkan berkisar sekitar Rp 2.800 triliun.
Ancaman terbesar perekonomian Indonesia pada tahun 2012 adalah kenaikan harga BBM. Harga minyak bumi dunia yang telah melampau US$ 100 per barel saat ini, telah menekan keuangan negara karena melonjaknya subsidi. Menurut Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, jika minyak terus naik sampai diatas US$ 120 per barel maka anggaran belanja akan habis tergerogoti oleh subsidi BBM.
Untuk menghindari itu Pemerintah akan menaikan harga BBM sebesar Rp 1500 per liter sehingga menjadi Rp. 6000 per liter. Tanpa penanganan yang baik maka dampak kenaikan harga BBM bisa menjadi bola liar yang bisa memperburuk ekonomi Indonesia.
Kondisi yang buruk sebagai dampak kenaikan BBM tersebut bisa dihindari jika Pemerintah mengambil langkah antisipasi seperti dengan memperlancar sistim distribusi dengan memperbaiki sistim transportasi terutama kondisi jalan yang buruk dan hambatan di pelabuhan. Menjaga pasokan bahan pangan dengan meningkatkan produksi dan menjaga stok nasional yang memadai.
Sementara itu Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 diperkirakan akan meningkat dan dapat mencapai kisaran 6,3% - 6,7%. Pada triwulan I-2012, pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan mencapai 6,5%, ditopang investasi dan konsumsi rumah tangga yang tetap kuat. Keyakinan konsumen yang kuat tersebut seiring dengan meningkatnya ekspektasi penghasilan serta membaiknya upah. Realisasi belanja Pemerintah diprakirakan tumbuh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sesuai pola historisnya.
Peningkatan peringkat utang Indonesia menjadi investment grade diharapkan akan semakin memperkuat investasi ke depan. Investasi diperkirakan meningkat, baik di sektor bangunan dan non bangunan, sejalan dengan kuatnya fundamental perekonomian dan optimisme para pelaku usaha, serta percepatan proyek infrastruktur. Secara keseluruhan tahun 2012, pertumbuhan ekonomi domestik diprakirakan pada kisaran 6,3%-6,7% dan akan terakselerasi ke kisaran 6,4%-6,8% pada 2013 seiring membaiknya ekonomi global.
Sementara itu, ekspor diprakirakan tetap tumbuh meskipun melambat sejalan dengan melemahnya ekonomi global. Hal ini seiring dengan diversifikasi pasar ke negara emerging markets yang kinerjanya masih baik. Di sisi harga, BI memperkirakan inflasi pada 2012 dan 2013 akan tetap dapat dikendalikan pada kisaran sasarannya, yaitu 4,5%±1%.
Menurut pandangan Data Consult, walaupun ekonomi dunia melemah dan pada pertengahan tahun 2011 harga berbagai komoditi primer melemah, namun diperkirakan harga komoditi utama Indonesia seperti minyak kelapa sawit (CPO), cocoa dan karet akan kembali meningkat harganya tahun 2012 dengan membaiknya ekonomi dunia dan keterbatasan pasok komoditi tersebut. Sementara itu sektor industri manufaktur juga telah bangkit kembali dan mampu mendiversifikasikan negara tujuan ekspornya sehingga pengaruh pelambatan ekonomi di negara maju tidak terlalu berarti.
Dengan mengacu pada tren selama tahun 2011, diperkirakan ekspor masih bisa meningkat diatas 20% pada tahun 2012. Demikian juga impor akan meningkat lebih pesat karena sebagian bahan baku untuk barang ekspor berasal dari impor. Demikian juga investor asing akan makin banyak lagi masuk ke Indonesia mengingat Indonesia memiliki peluang ekonomi yang lebih baik dibandingkan negara berkembang lainnya.
Sementara itu daya beli masyarakat diperkirakan akan makin kuat. Dengan GDP per kapita yang telah mencapai US$ 3542,9 pada tahun 2011 padahal pada tahun 2010 GDP per kapita baru sebesar US$ 3010, maka pertumbuhan permintaan pasar domestik Indonesia akan makin kuat. Industri manufaktur yang selama ini berkembang lambat telah mulai menemukan mementumnya kembali dengan makin meningkatnya pasar dalam negeri seperti yang ditunjukkan oleh meningkatnya pasar otomotif, elektronik dan barang kebutuhan masyarakat lainnya.
Ancaman inflasi akibat kenaikan harga BBM yang direncanakan pada awal April 2012 akan bisa menjadi hambatan untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal itu bisa diatasi apabila Pemerintah bisa tetap menjaga pertumbuhan daya beli masyarakat dengan membuka proyek-proyek pembangunan yang lebih besar. Pada tahun 2012 Pemerintah bertekad mulai merealisasikan pembangunan infrastruktur seperti yang tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), diantaranya dengan akan dilaksanakannya pada tahun 2012 pembangunan 10 proyek infrastruktur yang besar termasuk jalan tol, bandara, pelabuhan, sarana air bersih dll.
Pemerintah mengantisipasi kebutuhan dana pembangunan Pemerintah dengan merencanakan menggalang dana dari pasar uang yaitu dengan melonggarkan defisit APBN menjadi sekitar 2% dari sebelumnya hanya sekitar 1.5%. Tingkat defisit ini masih aman karena masih dibawah 3% tingkat defisit yang dianggap sebagai batas aman. Dengan meningkatkan defisit ini maka Pemerintah dapat menambah pinjaman negara sampai Rp. 50 trilyun dari pasar uang yang sekarang kondisinya menguntungkan Indonesia. Dengan rating utang negara yang masuk kategori investment grade, kini tingkat return obligasi Pemeritah RI hanya sebesar 5,7% tingkat terendah yang bisa dicapai selama ini. Dengan cost of money yang rendah maka saatnya Pemerintah memanfaatkan dana dari pasar uang yang lebih besar.
Sementara itu dampak psikologis kenaikan BBM dapat diredam jika Pemerintah dapat menyalurkan dana kompensasi kepada masyarakat dengan lancar dan tepat sasaran.
Untuk itu Pemerintah harus bisa berkoordinasi dengan baik dengan Bank Indonesia untuk mengendalikan inflasi. Pada satu sisi BI harus biosa mempertahankan suku bunga BI yang cukup rendah agar perbankan dapat menyalurkan pinjaman berbubga rendah ke masyarakat untuk mendorong perputaran ekonomi lebih cepat, namun di sisi lain kenaikan harga BBM dan kemudah mendapatkan pinjaman berbunga rendah untuk sektor otomotif bisa mendorong inflasi lebih tinggi. Maka rencana BI mengawasi lebih ketatl penyaluran dana sektor otomotif dilakukan dalam rangka kehati-hatian terjadinya over heating ekonomi Indonesia tanpa BI harus meningkatkan suku bunga kembali pada tingkat yang tinggi.
Apabila Pemerintah dan BI dapat mengendalikan inflasi dengan baik maka dengan suku bunga yang relatif masih rendah dan nilai tukar Rupiah yang stabil dan kuat, maka pasar domestik masih bisa tumbuh sehingga PDB dari sektor domestik bisa meningkat lebih tinggi dibanding tahun 2011. Dengan demikian pada tahun 2012 ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh antara 6,5%-7%.
Kehati-hatian dan disiplin Pemerintah dan BI dalam mengelola makro ekonomi Indonesia akan sangat menentukan keberhasilan Indonesia dalam melalui kelesuan ekonomi dunia selama semester I 2012.