2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT

INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Januari 2009

FOKUS

BAGAIMANA INDUSTRI MANUFAKTUR BISA MELEWATI KRISIS FINANSIAL GLOBAL?


Pasar lokal sebagai penyelamat

Hampir semua pihak sepakat, bahwa untuk bisa lolos dari krisis finansial global, industri manufaktur Indonesia harus bisa memanfaatkan pasar domestiknya yang besar. Berbeda dengan negara Asean lainnya seperti Malaysia dan Singapura yang sangat bergantung kepada pasar ekspor, maka bagi Indonesia peranan ekspor terhadap Produk Demestik Bruto tidak sebesar peranan dari sektor konsumsi.

Semenjak krisis moneter tahun 1998, pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat ditunjang oleh pertumbuhan sektor konsumsi terutama konsumsi rumah tangga atau swasta karena konsumsi Pemerintah juga lemah.

Demikian juga dari sisi investasi, sudah lama Indonesia tidak lagi bergantung sepenuhnya dari investor asing.  Indonesia bukan lagi menjadi tujuan utama investor asing, karena dianggap kurang kompetitif. Negara Asean seperti Thailand, Malaysia, Singapura dan Vietnam mulai menjadi tempat peralihan bagi modal asing di Indonesia. Baru semenjak tahun 2004, berbagai perbaikan iklim investasi telah mulai dilakukan sehingga  banyak investor asing yang kembali melirik Indonesia. Namun demikian, walaupun investor asing sudah mulai berdatangan kondisinya belum  seperti dinegara lain, sehingga Indonesia masih banyak mengandalkan investasi dari dalam negeri sendiri.

Ketika krisis finansial global terjadi, hampir semua negara yang mengandalkan pasar ekspor mulai kewalahan mencari pasar alternatif setelah pasar utama seperti Amerika Serikat, Jepang dan negara-negara Eropah mengalami krisis sehingga pasar dalam negeri menyurut. Malaysia dan Singapura yang pasar lokalnya kecil, segera menghadapi masalah dalam menyalurkan produk industri maupun perdagangan internasional, karena pasar ekspor makin sempit.

Indonesia masih bisa mengandalkan pasar dalam negeri selama daya beli masyarakat cukup kuat agar mampu menyerap produk lokal. Masalahnya semenjak krisis finansial inflasi terus meningkat sehingga mendorong meningkatnya suku bunga kredit yang pada gilirannya memperlemah daya beli masyarakat. Untuk berbagai produk yang penjualannya sangat bergantung pada tersedianya kredit konsumsi, maka naiknya suku bunga menjadi penghambat penjualan produk tersebut seperti yang dialami industri otomotif, sepeda motor, barang elektronik dll.

Sementara negara eksportir raksasa seperti Cina mulai mengincar pasar negara berkembang untuk menyalurkan produk hasil industrinya. Maka pasar Indonesia menjadi bagian dari incaran negara tetangga untuk bisa dimasuki lebih gencar lagi.

Kondisi ini menyebabkan industri lokal menghadapi ancaman dari berbagai medan.  Suku bunga kredit  yang tinggi telah mengurangi permintaan dalam negeri sementara dengan membanjirnya produk impor menyebabkan makin ketatnya persaingan didalam negeri sehingga makin mempersempit pasar yang ada.

Sementara itu suku bunga kredit yang tinggi juga menyebabkan industri manufaktur sulit memperoleh modal kerja. Akibatnya makin sulit industri ini untuk bertahan menghadapi persaingan.


Industri manufaktur sudah mulai melemah

Berapa industri yang tergantung kepada pasar ekspor sudah menunjukkan pelemahan karena semakin sulitnya pasar ekspor. Menurut Departemen Perindustrian selama tahun 2008 ada 9  sektor industri yang mengalami penurunan dibanding perioda yang sama tahun sebelumnya.

Beberapa diantarnya bahkan mengalami pertumbuhan negatif seperti industri tekstil, barang kulit dan alas kaki yang mengalami pertumbuhan negatif sebesar 2,5%, semen dan barang galian non logam turun sebesar 1,5%, dan barang kayu dan hasil hutan turun sebesar 0,1%. Industri lain masih tumbuh tetapi dibanding tahun sebelumnya pertumbuhannya sudah melemah.

Menurut Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ernovian G. Ismy yang dikutip Bisnis Indonesia,  realisasi produksi benang terpangkas sekitar 35% pada Januari 2009 dengan volume sekitar 75.833,45 ton, menjadi hanya 140.833,55 ton terhadap realiasi pada Januari 2008 yang sebesar 216.667 ton.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono menjelaskan pasar semen pada Januari dipastikan melemah terhadap Januari 2008 yang masih mencapai 3,1 juta ton. Kondisi ini terjadi terutama sebagai imbas dari pelemahan permintaan sektor properti dan infrastruktur.

Pembangunan proyek realestat yang semula masih bergairah pada Januari tahun lalu, paparnya, cenderung melambat pada Januari 2009. Keadaan ini dipengaruhi oleh kinerja sektor properti yang terkena imbas kenaikan suku bunga kredit menjadi sekitar 17%-19%.

Penyelamatan industri domestik

Untuk menyelamatkan industri dalam negeri Pemerintah telah mencanangkan berbagai macam insentif fiskal.  Diantaranya  Pemerintah memutuskan 31 sektor industri untuk mendapatkan stimulus fiskal berupa insentif perpajakan dalam bentuk Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BM DTP).

Stimulus fiskal untuk 31 sektor itu totalnya berjumlah  Rp 12,5 triliun. PPN DTP diberikan untuk 17 sektor industri dengan nilai  Rp 9,02 triliun, yang terdiri dari PPN DTP untuk impor sebesar Rp 2,827 triliun dan PPN DTP dalam negeri Rp 6,198 triliun. Sedangkan insentif BM DTP diberikan untuk empat belas sektor yang nilainya mencapai Rp 2,4 triliun.

Insentif ini diberikan kepada bahan-bahan baku untuk kegunaan sektor industri di berbagai industri. Untuk sektor-sektor yang mendapatkan insentif PPN DTP adalah:
1.        Bahan Baku Baja
2.        Mesin Peralatan untuk EPC Pembangunan PLTU 10.000 MW
3.        Mesin mini pembuat es untuk perikanan
4.        Mesin gudang pendingin untuk perikanan
5.        Kain untuk industri pakaian jadi
6.        Kulit, sol, komponen karet untuk industri alas kaki
7.        Bahan baku dan komponen kapal
8.        Bahan baku untuk industri karoseri
9.        Bahan baku perak untuk industri kerajinan
10.        Komponen dan bahan baku untuk Gerbong KA
11.        Bahan baku dan peralatan untuk produksi film
12.        Crum rubber
13.        Rotan untuk industri mebel
14.        Pakan ikan/udang
15.        Bahan bakar nabati non subsidi
16.        Minyak goreng
17.        Migas dan panas bumi.

Sementara untuk sektor-sektor yang mendapatkan Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BM DTP) adalah:
1.        Ballpoint
2.        Bahan baku dan komponen untuk industri alat berat
3.        Bahan baku dan komponen untuk pembuatan PLTU kapasitas kecil
4.        Bahan baku susu (skim milk powder dan full cream)
5.        Bahan penolong methyltin mercaptide
6.        Bahan baku dan komponen industri otomotif
7.        Komponen elektronika
8.        Telematika (fiber optic dan komponen telekomunikasi)
9.        Bahan baku dan komponen untuk kapal
10.        Bahan penolong industri sorbitol
11.        Bahan baku dan peralatan untuk produksi film
12.        Listrik
13.        Alat Kesehatan
14.        Pesawat Terbang.

Selain memberikan stimulus fiskal bagi industri dalam negeri, maka Pemerintah berupaya  meningkatkan daya beli masyarakat agar pasar dalam negeri mampu menyerap produksi industri nasional.  Untuk itu  pemerintah dan BI harus bisa melakukan beberapa langkah diantaranya menekan inflasi, dan  menurunkan suku bunga.

Sebenarnya terdapat beberapa faktor yang bisa mendukung peningkatan daya beli masyarakat. Dalam dua bulan terakhir beberapa inidikator menunjang terjadinya penguatan daya beli masyarakat yaitu turunnya harga BBM yang telah dilakukan tiga kali sehingga harga BBM jenis premium kini telah kembali keharga seperti sebelum kenaikan harga pada bulan Juli 2008 yang lalu.

Selain itu berbagai harga bahan pokok seperti minyak goreng, beras dll relatif stabil dan telah turun dibandinkan harga ketika harga beras dunia mencapai sekitar US$ 1000 per ton. Harga minyak goreng juga telah trun dan kembali keharga sebelum terjadi kenaikan yang drastis mengikuti kenaikan harga CPO dunia.

Dengan berbagai penurunan harga ini maka terjadi deflasi untuk dua bulan berturut-turut yaitu Desember 2008 dan Januari 2009 sehingga diperkirakan selama tahun 2009 inflasi bisa ditekan  sekitar 6% setahun. Hal ini akan membantu daya beli masyarakat yang melemah karena banyaknya PHK diberbagai sektor industri.

Inflasi yang semakin rendah telah mendorong BI untuk menurunkan suku bunganya. Dalam dua bulan berturut-turut BI telah menurunkan sukubunga BI rate dua kali dari 9,25% per tahun menjadi 8,75% dan kemudian diturunkan lagi menjadi 8,25% pertahun.

Pemerintah juga memberi insentif fiskal seperti pembabasan PPh untukbeberapa jenis industri yang tujuannya untuk meningkatkan penerimaan masyarakat terutama kelas pekerja yang selama ini PPHnya lansung dipotong oleh perusahaan.

Turunnya suku bunga BI rate diharapkan akan segera mendorong perbankan menurunkan suku bunga kreditnya sehingga masyarakat akan kembali melakukan transaksi pembelian untuk berbagai barang konsumsi yang selama ini banyak ditunjang oleh pinjaman dari perbankan atau dari lembaga keuangan lainnya.

Industri mobil, elektronik,  dan sepeda motor sangat berkepentingan dengan tersediaanya sumber pembiayaan yang bunganya terjangkau oleh masyarakat, karena selama ini sumber pembiayaan yang diperoleh.

Dengan meningkatnya daya beli dan didukung oleh stimulus fiskal dan suku bunga kredit yang bisa membantu melonggarkan keuangan perusahaan, maka dapat diharapkan industri manufaktur mempunyai bekal untuk menjalani krisis finansial global  yang diperkirakan masih akan berlangsung sampai tahun 2010.


Related Topics
HOME            Laporan Utama           Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.