2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Maret 2010

FOKUS

SAATNYA INVESTASI DI SEKTOR MANUFAKTUR BANGKIT


Berbagai tantangan memasuki tahun 2010 dihadapi oleh sektor manufaktur, namun peluang pun juga mulai muncul di sektor ini setelah krisis finansial global mulai mereda dan pasar ekspor dunia tumbuh kembali.

Selama krisis finansial global tahun 2008-2009 sektor manufaktur di Indonesia merupakan sektor ekonomi yang  paling terkena dampak buruk dibanding sektor lainnya. Kenaikan harga komoditi primer yang menjadi  bahan baku sektor ini telah  menyebabkan biaya produksi meningkat. Demikian juga kenaikan harga minyak bumi telah mendorong kenaikan biaya operasi karena harga BBM untuk sektor industri tidak disubsidi.

Sementara itu pasar ekspor yang menjadi target utama pemasaran produk manufaktur juga mengalami kemersotan karena negara maju yang menjadi tujuan ekspor utama ekonominya sedang terkena dampak serius dari krisis finansial.

Maka industri yang berbasis bahan baku impor seperti besi baja mengalami pukulan telak. Selain sulit mendapatkan pasar ekspor juga pasar didalam negeri menghadapi persaingan yang ketat dengan produk impor yang diantaranya melakukan praktek dumping, seperti persaingan dengan produk baja dari Cina dan India. Padahal pasar dalam negeripun menciut karena sektor konstruksi dan properti pada tahun itu pun lesu.

Industri tekstil dan alas kaki yang selalu menjadi primadona ekspor juga menghadapi masalah yang berat. Sebelum krisis finansial global terjadi, sektor ini juga sudah kesulitan untuk meremajakan mesin-mesinnya yang sudah tua sehingga sulit  bersaing. Ketika pasar ekspor menyurut dan pasar lokal dibanjiri produk dari Cina maka harapan untuk bangkitnya kembali sektor industri tekstil dan alas kaki selam krisis finansial menjadi mustahil.

Namun ternyata tidak semua sektor manufaktur mengalami kemunduran yang parah selama krisis finansial 2008-2009. Ekonomi Indonesia yang bisa selamat terhindar dari dampak buruk krisis finansial salah satunya karena pengeluaran konsumsi masyarakat yang tetap tinggi. Hal ini juga membantu menyelamatkan sektor industri manufaktur yang berbasis barang konsumsi baik makanan maupun non makanan.

Industri consumer goods  di Indonesia termasuk yang terus tumbuh selama tahun  2009. Industri makanan dan minuman dalam lima tahun terakhir selalu tumbuh positif. Sektor industri lainnya yang mampu terus tumbuh  positif selama lima tahun terakir adalah industri kendaraan bermotor atau peralatan transportasi yaitu industri mobil dan sepeda motor. Walaupun mengalami flukstuasi namun selama lima tahun terakhir industri ini masih menunjukkan pertumbuhan yang positif. Untuk industri kimia maka industri pupuk dan ban juga termasuk industri yang dapat terus tumbuh positif.

Di luar sektor industri manufaktur maka pertumbuhan yang positif selama lima tahun terakhir dialami hampir oleh seluruh sektor diantarnya yang terbesar adalah  sektor angkutan dan komunikasi, utulity seperti listrik, gas dan air bersih, sekor keuangan, properti dan sektor konstruksi.


Sejalan dengan pertumbuhan yang positif dari sektor industri makanan dan barang konsumsi lainnya maka sektor ini telah banyak menarik minat investor untuk menanamkan modalnya terutama bagi penanam modal dalam negeri.

Berdasarkan nilai reaslisasi investasi pada tahun 2009, penanaman modal dalam negeri  terutama berminat menanamkan modalnya disektor industri farmasi dan industri makanan.

Penanam modal asing dalam tahun 2009 selain berminat dalam investasi disektor industri makanan dan farmasi juga banyak berminat menanamkan modalnya disektor trasportasi, gudang dan komunilkasi. Walaupun menurut daftar negatif investasi yang dikeluarkan tahun 2007 yang lalu sektor ini tidak mengijinkan lagi pihak asing untuk memiliki saham mayoritas (diatas 50%) seperti sebelumnya, namun karena pertumbuhan sektor ini termasuk pesat maka banyak pemodal asing yang tetap tertarik.

Industri jasa logistik dan pergudangan misalnya, merupakan industri yang pertumbuhannya pesat sejalan dengan pertumbuhan sektor perdagangan dan industri yang membutuhkan bantuan jasa pergudangan dan logistik. Selain itu semakin banyaknya perusahaan menengah dan besar yang menggunakan jasa out sourcing untuk logistik maka industri jasa ini mengalami pertumbuhan yang pesat di Indonesia. Demikian juga sektor telekomunikasi yang masih terus tumbuh walaupun tidak sepesat tahun sebelumnya.


Peluang investasi sektor manufaktur tahun 2010

Dengan pulihnya eonomi dunia dan ekonomi Indonesia yang tetap stabil dan tingkat pertumbuhannya yang relatif tinggi, maka kini investasi mulai bergeser kembali ke sektor manufaktur. Tingginya permintaan dalam negeri dan mulai terbukanya pasar ekspor menuntut kenaikan kapasitas produksi yang lebih tinggi untuk memenuhi permintaan tersebut.

Industri farmasi dan makanan yang banyak dikonsumsi didalam negeri tetap menjadi sektor industri manufaktur yang menarik pada tahun 2010. Demikian juga sektor industri otomotif dengan permintaan yang kembali meningkat didalam negeri sejalan dengan rendahnya suku bunga kredit yang menjadi andalan pembiayaan pembelian otomotif. Selama tahun 2009 industri otomotif banyak  yang melakukan ekspansi usahanya padahal pada waktu itu permintaan ekspor sedang turun. Diperkirakan pada tahun 2010 ketika permintaan otomotif untuk ekspor meningkat maka akan banyak lagi investasi untuk perluasan maupun investasi baru di sektor otomotif. Dengan pasar lokal yang cukup besar maka Indonesia akan menjadi tempat investasi yang menarik bagi sektor otomotif.

Namun demikian hambatan untuk investasi juga masih belum sepenuhnay teratasi. Masalah keterbatasan infrastruktur  trasnportasi darat dan laut menjadi hambatan untuk ekspansi usaha sektor industri manufaktur di Indonesia. Untuk listrik secara berangsur Pemerintah telah membangun infrastruktur kelistrikan sehingga diharapkan mulai tahun 2012 masalah kelisrikan sebagian besar telah bisa teratasi.

Diluar masalah infrastruktur, dalam beberapa bulan terakhir ini ada beberapa peristiwa yang cukup mengganggu bagi inevstor asing yaitu terjadinya kerusuhan dibeberapa pusat bisnis yaitu kerusuhan di Tanjung Priok dan di P. Batam. Kerusuhan di Tanjung Priok yang berlokasi didekat terminal Peti kemas telah mengganggu kelancaran kegiatan eskpor impor di pelabuhan sehingga banyak pihak mengkhawatirkan jika kerusuhan seperti itu berulang dan membesar skalanya kegiatan ekspor impor di pelabuhan Tanjung Priok akan terganggu yang pada gilirannya merugikan baik pihak eksportir maupun importir.

Demikian juga kerusuhan di P Batam karena masalah sosial antara pekerja lokal dan asing bisa menimbulkan rasa tidak aman bagi tenaga kerja asing. Jika hal itu tidak diatasi dikhawatirkan iklim investasi di Batam khususnya dan Indonesia umumnya akan memburuk.

Indonesia yang berhasil keluar dari krisis finansial dengan baik sebenarnya mempunyai modal lebih baik dibandingkan negara tetangga lainnya untuk menarik investor lebih banyak. Ketika pasar lokal yang terbukti mampu tumbuh dengan sehat bagi pasar produk manufaktur ketika terjadi krisis finansial global, maka dengan membaiknya pasar ekspor seharusnya Indonesia   bisa menjadi tempat investasi yang menarik bagi investor domestik dan asing.

MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.