2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Juli 2009

FOKUS

RAPBN 2010 YANG MODERAT DAN BARU BERSIFAT SEMENTARA


Di akhir masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudiyono (SBY) kembali menyusun APBN yang merupakan transisi karena  RAPBN ini akan dilaksanakan oleh Pemerintahan hasil Pemilihan Presiden 2009 yang akan mulai bekerja setelah Oktober 2009.  Maka tak heran jika APBN yang disusun terbilang moderat bahkan konservatif.  Salah satu yang menjadi sorotan adalah asumsi pertumbuhan ekonomi yang sebesar 5% tahun 2010 berarti hanya ditargetkan naik 0,5% dibanding tahun 2009 sebesar 4,5%.

Jika melihat keberhasilan Indonesia dalam menghindari dampak negatif krisis finansial global pada tahun 2008-2009, Pemerintah sepantasnya lebih optimis dalam menyusun target pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, karena diperkirakan pada tahun 2010 ekonomi dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Demikian juga kepercayaan dunia terhadap kestabilan ekonomi Indonesia juga telah ditunjukkan pada akhir semester I 2009 dengan terjadinya penguatan kembali IHSG dan kurs  rupiah terhadap mata uang US dollar. Maka jika melihat tanda-tanda tersebut sudah pantas bila Pemerintah mentargetkan pertumbuhan sampai 6% pada tahun 2010.

Namun nampaknya Pemerintah SBY tidak ingin tergesa-gesa dalam menyusun target pertumbuhan ekonomi yang  lebih ambisius. Perlu dukungan DPR yang lebih kuat jika Pemerintah mengajukan RAPBN yang ekspansif dan mengundang risiko yang lebih tinggi, padahal saat ini DPR periode 2004-2009 yang akan segera mengakhiri masa jabatannya dikuasai oleh partai lawan politik SBY yaitu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)  dibawah Megawati Sukarno Putri dan partai bekas anggota koalisi yaitu Partai Golkar yang kini posisinya telah berseberangan semenjak ketua umumnya sekaligus Wakil Presiden Yusuf Kalla menjadi penantang SBY dalam pemilihan presiden yang lalu. Dengan mengajukan RAPBN yang moderat dan realistis saat ini maka Pemerintah SBY tidak perlu mengeluarkan energi terlalu banyak dalam perdebatan di DPR untuk meloloskan RAPBN tersebut.

Sementara itu, dari hasil Pemilihan Umum anggota legislatif tahun 2009, partainya SBY yaitu Partai Demokrat berhasil menjadi pemenang dan dengan koalisi yang dibentuknya dengan beberapa partai tengah seperti PKS, PAN, PPP dan PKB mampu menghimpun jumlah kursi mayoritas di DPR periode 2009-2014. Apalagi jika partai lainnya juga mau bergabung dengan SBY, maka suara mayoritas sepenuhnya dikuasai oleh Pemerintah. Pada saat itulah SBY akan berani mengajukan perubahan RAPBN  yang lebih ekspansif  dan ambisius.  Juga kondisi ekonomi dunia telah lebih pasti apakah pemulihan memang telah benar terjadi. Dengan demikian revisi dari asumsi makro ekonomi menjadi lebih pasti.

Asumsi ekonomi makro dalam RAPBN

Selain pertumbuhan ekonomi, asumsi makro lainnya dalam RAPBN 2010 adalah tingkat inflasi 5 persen, nilai tukar rupiah terhadap dolar rata-rata  10.000/dollar AS,  dan suku bunga sertifikat bank indonesia (SBI) tiga bulan rata-rata 6,5 persen. Harga minyak mentah  Indonesia di pasar internasional diasumsikan sebesar 60 dollar AS per barrel serta lifting minyak mentah Indonesia diharapkan mencapai 965.000 barrel per hari.

Suku bunga SBI tanpaknya kini sudah bisa mencapai target tersebut bahkan masih ada peluang untuk turun. Demikian juga tingkat inflasi  sebesar 5% cukup realistis untuk menjadi acuan bagi perencanaan tahun 2010. Diantara asumsi makro tersebut maka yang paling sulit diramalkan adalah harga minyak bumi. Jika ekonomi dunia benar-benar pulih pada tahun 2010 maka diperkirakan harga minyak bisa diatas US$ 70 per barel.


Belanja negara tahun 2010 sebesar Rp. 1009 trilyun

Berdasarkan asumsi yang diambil dan prioritas yang ditetapkan Pemerintah maka anggaran belanja negara tahun 2010 ditargetkan mencapai Rp 1.009,5 triliun atau meningkat Rp 3,8 triliun dibandingkan RAPBN-P 2009. Ditargetkan dari pendapatan  dan hibah akan bisa diperoleh sebesar Rp. 911,5 trilyun berarti defisit anggaran di 2010 akan mencapai Rp 98 triliun atau 1,6% dari PDB.

Sebagian pendapatan diharapkan berasal dari pajak sebesar Rp. 729 trilyun dan pendapatan bukan pajak sebesar Rp. 181 trilyun. Pendapatan lainnya berasal dari hibah.

Sementara untuk menutupi defisit sebesar Rp. 98 trilyun, Pemerintah merencanakan untuk memperoleh dari pembiayaan dalam negeri terutama berupa penerbitan surat hutang seperti obligasi, SUN (Surat Utang Negara) dan surat utang lainnya sebesar Rp. 104 trilyun.

Jumlah pembiayaan dari luar negeri berupa pinjaman direncanakan sebesar Rp. 57.6 trilyun namun untuk cicilan  pembayaran luar negeri jumlahnya lebih besar lagi dari besarnya pinjaman luar negeri yaitu sebesar Rp. 58,8 trilyun dan ditambah penerusan pinjaman sebesar Rp. 8,6 trilyun, maka pembiayaan dari luar negeri secara total menjadi negatif Rp 9,9 trilyun.

Hanya anggaran Departemen Pertahanan yang meningkat

Pada RAPBN 2010 alokasi anggaran belanja pemerintah pusat tahun 2010 sebesar Rp699,7 triliun, anggaran belanja yang direncanakan untuk seluruh Kementerian Negara/Lembaga mencapai Rp327,6 triliun, atau hanya naik sebesar Rp10,6 triliun dibandingkan dengan perkiraan realisasinya di tahun 2009. 

Dari alokasi anggaran untuk tujuh Departemen yang mendapat jatah anggaran terbesar hanya anggaran untuk Departemen Pertahanan saja yang meningkat yaitu dari Rp 32,8 trilyun menjadi Rp. 40,7. Sementara untuk Departemen PU menurun dari Rp. 39 trilyun menjadi Rp. 34 trilyun/

Pada RAPBN 2010 ada 7 Kementerian/Lembaga yang mendapatkan jatah anggaran besar, seperti pada tabel berikut.

Di samping untuk belanja kementerian negara/lembaga, prioritas alokasi anggaran dalam tahun 2010 juga direncanakan untuk belanja pegawai, subsidi, pembayaran bunga utang, dan belanja barang. Dalam RAPBN tahun 2010, alokasi anggaran belanja pegawai direncanakan mencapai Rp161,7 triliun atau naik sekitar Rp28,0 triliun (21,0%) dari perkiraan realisasinya dalam tahun 2009.


Subsidi juga menurun

Sementara itu, alokasi anggaran untuk subsidi dalam tahun 2010 direncanakan mencapai Rp144,4 triliun. Jumlah ini adalah 14,3% dari total APBN kita. Dibandingkan RAPBNP 2009  jumlah subsidi ini menurun. Alokasi subsidi terbesar masih untuk energi yaitu sebesar Rp 99,4 trilyun terdiri dari subsidi BBM sebesar Rp. 59 trilyun dan subsidi listrik sebesar Rp. 40,4 trilyun.


Sementara subsidi untuk non energi turun cukup besar yaitu dari Rp. 57 trilyun pada tahun 2009 menjadi Rp. 44 trilyun. Diantaranya yang mengalami penurunan yang cukup besar adalah subsidi pupuk  dari Rp. 18 trilyun  menjadi Rp. 11 trilyun dan subsidi pajak dari Rp. 18 trilyun tahun 2009 menjadi Rp. 13 trilyun tahun 2010.



Kesimpulan

Dengan asumsi yang cukup realistis dan pertumbuhan ekonomi yang moderat, maka RAPBN 2010 ini tidak akan banyak mengundang perdebatan. Walaupun banyak pihak yang tidak puas karena kurang menggambarkan komitmen Pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, namun RAPBN ini diperkirakan tidak akan mengundang banyak polemik.

Tentu saja akibatnya  RAPBN 2010 ini tidak banyak memberikan sentimen positif kepada pasar yang menyadari bahwa Pemerintah hanya sekedar melakukan langkah aman dalam masa pemerintahan transisi.

RAPBN yang sebenarnya tentu akan ditunggu masyarakat setelah Pemerintahan hasil Pemilihan Presiden 2009 telah resmi menjalankan roda pemerintahan yang baru. Tentu saja masyarakat tidak berharap Pemerintahan yang mendapat legitimasi rakyat yang kuat bertindak ragu-ragu hanya sekedar mencari langkah aman yang tidak kontroversi.

Apabila resmi terpilih Presiden SBY seharusnya memiliki langkah berani yang bisa memberikan hasil nyata kepada perbaikan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Indonesia memiliki posisi yang menguntungkan saat ini ditengah krisis finansial yang telah menggerogoti ekonomi dunia.

Sebagai salah satu negara yang ekonominya terus tumbuh, Indonesia telah menerima kepercayaan pasar sehingga berbagai indikator ekonomi terus menunjukkan indikator positif seperti IHSG, kurs Rupiah dan inflasi yang rendah. Jika kondisi ini dikelola dengan baik Indonesia bisa berharap untuk segera mempercepat pertumbuhan ekonomi ketika ekonomi dunia mulai pulih. Negara pesaing kita di Asia Tenggara yang masih bergulat dengan pertumbuhan ekonomi yang negatif masih akan mengundang keraguan bagi investor untuk masuk saat ini. Apabila Indonesia bisa memanfaatkan   kepercayaan dunia saat ini, maka Indonesia bisa mencuri start untuk mendahului menggerakkan ekonominya.



Lihat Daftar Isi>>
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN - Juli 2009


FOKUS: RAPBN 2010 YANG MODERAT DAN BARU BERSIFAT SEMENTARA
  • Asumsi ekonomi makro dalam RAPBN
  • Belanja negara tahun 2010 sebesar Rp. 1009 trilyun
  • Hanya anggaran Departemen Pertahanan yang meningkat
  • Subsidi juga menurun
  • Kesimpulan

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI HULU MINYAK BUMI DI INDONESIA

INDUSTRI: PERSAINGAN INDUSTRI PELUMAS KIAN KETAT
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.