INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Juni 2009
FOKUS
TANTANGAN DALAM MEMPERTAHANKAN SWASEMBADA PANGAN
Di era globalisasi saat ini ada tiga industri yang memiliki posisi strategis dan paling terjaga prospeknya di masa mendatang, yaitu industri makanan (food), bahan bakar (energy), dan keuangan (finance). Ketiga bidang inilah yang menguasai hajat hidup manusia sedunia.
Meskipun krisis ekonomi datang bertubi-tubi industri makanan bisa tetap bertahan karena kebutuhan manusia terhadap bahan makanan tidak pernah menyurut. Kenaikan harga pangan dunia, seperti beras dan jagung, selalu menimbulkan kegelisahan di masyarakat karena ketersediaan pangan sangat mempengaruhi stabilitas sosial dan politik di suatu negara. Pentingnya peranan industri makanan tersebut menyebabkan setiap Pemerintahan akan berusaha menjaga ketersediaan pangannya sekuat tenaga berapa besar pun biaya yang terpaksa harus dikeluarkan.
Ketahanan ekonomi Indonesia yang masih bisa bertahan tumbuh pada saat krisis finansial global memuncak pada tahun 2008, salah satunya karena pada saat itu Indonesia berhasil mencapai swasembada pangan untuk beberapa bahan pokok seperti beras dan jagung , disamping minyak goreng. Ketika harga bahan pangan ini melonjak di pasar dunia, Pemerintah mampu menjaga kestabilan harga karena pasokannya di didalam negeri tersedia . Dengan demikian ketika nilai tukar bergejolak, dan harga-harga komoditi melambung, pasar di dalam negeri cukup tenang dengan kenaikan harga yang moderat yang tidak mengganggu perekonomian secara menyeluruh.
Berbeda dengan krisis moneter tahun 1998, pada saat terjadi krisis moneter produksi beras sedang anjlok pada tahun 1997 karena kemarau yang panjang sehingga diperlukan impor dalam jumlah besar. Ketika nilai tukar rupiah anjlok maka kepanikan dimasyarakat muncul bahwa beras dan bahan makanan lain harganya akan meningkat dan susah diperoleh.
Saat ini, pada kenyataannya harga bahan makanan pokok seperti beras, gula, terigu, minyak goreng walaupun selalu berfluktuasi namun cenderung akan terus mengalami kenaikan dalam jangka menengah dan panjang karena semakin berkurangnya sumber daya alam pendukung produksi bahan makanan. Selain luas tanah yang semakin berkurang, juga tuntutan untuk melestarikan lingkungan hidup menyebabkan biaya untuk menghasilkan bahan pokok yang memenuhi persyaratan tersebut makin tinggi. Seperti harga CPO yang makin tinggi karena tuntutan negara importir dari negara ekonomi Eropah yang hanya mengijinkan CPO yang diproduksi dari lahan dan proses yang sustainable telah menyebabkan tambahan biaya untuk memenuhi persyaratan tersebut. Demikian juga harga pupuk yang makin mahal karena harga minyak dan gas sebagai bahan bakunya meningkat.Akibatnya biaya produksi petani makin tinggi.
Dengan kecenderungan harga tersebut maka makin menjadi mendesak perlunya swasembada pangan karena dampak negatif dari ketidak pastian harga bahan makanan dan ketersediaannya bisa mempengaruhi kinerja sektor ekonomi lainnya.
Tantangan dalam menjaga swasembada pangan
Dengan semakin tidak menentunya harga bahan makanan pokok di dunia kini hampir semua negara berusaha untuk bisa memenuhi sendiri kebutuhan bahan makanannya. Hal ini menyebabkan pasar bahan makanan pokok seperti beras, jagung, kedelai, dan gandum selalu berfluktuasi. Misalnya harga beras sangat ditentukan pelepasan beras ke pasar ekspor oleh India, Thailand, dan Vietnam. Dan oleh permintaan impor dari negara importir besar seperti Filipina dan Indonesia.
Ketika pasokan beras terbatas sehingga negara eksportir menahan berasnya, maka harga menjadi mahal dan pasar beras menyempit karena keterbatasan kemampuan pembeli. Demikian juga ketika permintaan dari negara pembeli utama menurun karena mampu dipenuhi oleh produksi dalam negaeri, maka harga beras turun dan pasar internasional akan menyempit karena sulit menemukan pasar baru.
Dengan demikian pasar beras cenderung mencapai keseimbangan diantara pemasok dan pembeli utama. Ketika terjadi krisis finansial tahun 2008 yang bersamaan dengan naiknya harga minyak dunia, maka harga beras melambung karena produsen beras utama seperti India menahan ekspor beras ditengah kekhawatiran pasok beras dunia yang menyusut. Pada saat harga beras naik mendekati angka US$ 1000 per ton dari normalnya sekitar US$ 400 per ton Indonesia beruntung tidak perlu impor beras karena saat itu Indonesia berhasil berswasembada. Filipina yang memerlukan impor beras sampai 2 juta ton saat ini mengalami kesulitan untuk melakukan pengadaan beras karena selain harga yang tinggi pasokannya pun sulit.
Namun pada saat itu juga tidak mudah bagi Indonesia untuk memanfaatkan harga beras yang tinggi dengan melakukan ekspor. Selain karena belum stabilnya persediaan beras di dalam negeri, juga karena produksi beras di negara eksportir seperti Vietnam dan India yang meningkat dan demikian juga produksi dari negara pemakai seperti Filipina yang sudah normal kembali. Akibatnya harga beras langsung turun dan pasar ekspor pun menyusut karena kekurangan pembeli.
Inilah tantangan yang dihadapi untuk mempertahankan swasembada beras, karena tidak mudah bagi Indonesia untuk menjadi eksportir beras dalam jumlah besar ketika produksi beras nasional berlebih. Hal ini disebabkan sebelumnya Indonesia adalah negara importir beras terbesar di dunia sehingga ketika Indonesia produksinya berlebih maka pembeli beras dipasar ekspor berkurang. Dengan demikian petani yang sudah didorong untuk meningkatkan produktivitasnya mulai kesulitan untuk memasarkan kelebihan produksinya. Jika keadaan ini berlanjut dengan merosotnya harga gabah di tingkat petani, maka pada gilirannya akan mengurangi minat petani menanam padi sehingga kelangsungan swasembada beras akan terancam.
Besarnya penduduk Indonesia menyebabkan ketersediaan bahan makanan dalam jumlah yang cukup menjadi sangat penting, karena ketika pasokan beras misalnya kekurangan hanya sekitar 5% saja berarti sekitar hampir 2 juta ton. Jumlah ini sangat besar karena pasar ekspor beras di dunia kurang dari 10 juta ton se tahun. Dengan demikian untuk meningkatkan ketahanan ekonomi maka swasembada beras menjadi sesuatu yang sangat krusial. Apabila Indonesia mampu terus mempertahankan swasembada pangan dalam jangka lama, maka barulah Indonesia bisa melangkah untuk menjadi negara eksportir beras. Tentu saja perlu strategi tersendiri apabila Indonesia akan menjadi eksportir beras, menyangkut jenis beras yang akan diekspor dan kebijakan mengenai subsidi kepada petani.
Demikian juga dengan produk tanaman pangan lainnya seperti kedelai, jagung dan gandum. Jagung sekarang sudah bisa mencapai swasembada dan Indonesia telah menjadi eksportir jagung. Kedepan tantangan untuk mempertahankan swasembada pangan akan makin berat karena dimasa depan akan semakin banyak produk pertanian yang akan bersaing penggunaannya selain untuk bahan pangan juga untuk energi.
Bahan pangan untuk Energi
Ketika krisis finansial global terjadi negara-negara di seluruh dunia mengalami panik akibat kelangkaan energi berbahan bakar fosil (minyak bumi). Harga minyak dunia telah mencapai titik tertinggi pada bulan Juli 2008 yaitu US$ 140 per barrel. Pada waktu itu bahkan ada yang meramalkan harga minyak akan menembus angka US$ 200 per barrel.
Ketika harga minyak bumi meningkat, penduduk dunia kemudian mulai mencari sumber energi alternatif yang bisa menyaingi bahan bakar fosil tersebut. Salah satu yang gencar dijajagi adalah biofuel yang berasal dari pengolahan minyak nabati seperti dari kelapa sawit, jagung, kedelai, tebu dll. Akan tetapi, tindakan itu akan membuahkan resiko terjadinya kelangkaan komoditas pangan atau kerusakan lingkungan, karena biofuel dihasilkan dari pengolahan getah jarak atau minyak kelapa sawit, atau singkong dan jagung yang menjadi bahan dasar ethanol. Akibatnya penggunaan minyak nabati untuk energi tersebut telah mengurangi pasok minyak nabati untuk keperluan konsumsi rumah tangga sehingga harganya meningkat. Kenaikan harga minyak bumi juga telah menyebabkan harga bahan pokok seperti beras, jagung, gandum meningkat, karena meningkatnya biaya produksi dan transportasi. Kebanyakan tanaman itu juga menggunakan pupuk yang bahan bakunya berasal dari minyak/gas bumi.
Pada satu sisi penggunaan bahan pangan menjadi sumber energi merupakan ancaman terhadap swasembada karena harga-harga akan meningkat sehingga Pemerintah perlu memberikan subsidi yang lebih besar agar harganya terjangkau oleh masyarakat. Namun di sisi lain ini akan menjadi peluang dalam pemasaran bahan pangan itu apabila terjadi peningkatan produksi yang melebihi kebutuhan konsumsi pangan dalam negeri.
Tantangan tersebut harus dihadapi karena benturan antara kebutuhan terhadap energi dan pangan bagi masyarakat dunia tidak akan terhindar lagi dengan semakin berkurangnya cadangan bahan bakar fosil dan tuntuan akan bahan bakar yang bersih.
Untuk itu diperlukan strategi lintas sektoral tidak hanya pada masing-masing departemen seperti departemen Pertanian, Pertambangan dan Energi, atau Departemen Perindustrian. Karena saat ini masing-masing mempunyai blue print masing-masing dalam pengembangan energi tersebut.
Misalnya dalam blue print pengelolaan energi 2010-2025 Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mentargetkan 5% kebutuhan BBM pada tahun 2016-2025 akan dipenuhi oleh sumber energi alternatif berupa biofuel yaitu terdiri dari bio diesel dan bio etanol dengan total kebutuhan sekitar 700 juta liter pada tahun 2016 dan meningkat menjadi 900 juta liter tahun 2025.
Tanpa perencanaan dan langkah yang sejalan dari Departemen Pertanian untuk mendukung ketersediaan bahan baku bagi industri pengolahan energi biofuel ini maka akan terjadi bentrokan kepentingan antara dua departemen tersebut. Produk pertanian sebagai bahan pangan menuntut harga yang murah agar terjangkau oleh masyarakat, sementara produk pertanian untuk energi menuntut harga produk pertanian yang cukup tinggi namun masih bersaing dengan minyak bumi agar bisa menarik investor untuk menanamkan modalnya di sektor ini.
Padahal Indonesia mempunyai potensi besar untuk menjadi pemasok biofuel dunia sementara kita juga sudah mampu untuk berswasembada pangan. Dengan harga produk pertanian yang bersaing maka akan lebih mudah menarik investor dan petani untuk mengembangkan baik pertanian tanaman pangan maupun pertanian untuk bahan energi.
Kesimpulan
Swasembada pangan 2008 yang dicapai Indonesia berkontribusi pada stabilitas pangan domestik. Kontribusi swasembada pada stabilitas pangan domestik itu makin terasa manfaatnya dalam kondisi krisis keuangan dan ekonomi yang melanda banyak negara. Ini sekaligus merefleksikan keberhasilan kebijakan ketahanan pangan pemerintah.
Sukses swasembada pangan tersebut sangat diapresiasi oleh banyak negara dan
juga diakui telah meningkatkan diplomasi dan posisi bargaining Indonesia dalam fora internasional di sektor pertanian.
Keberhasilan swasembada pangan memunculkan tantangan dan peluang baru. Pada satu sisi petani telah didorong untuk meningkatkan produksi tapi ketika produksi berlebih pasar tidak mampu menyerap. Misalnya seperti yang dihadapi oleh tanaman padi yang menghadapi kendala ekspor ketika Indonesia dan negara lainnya kelebihan produksi karena pasar ekspor beras yang sempit.
Sementara itu muncul peluang sekaligus tantangan baru yaitu penggunaan produk pertanian untuk energi yang bisa menyaingi penggunaan produk pertanian untuk bahan pangan. Dengan kebijakan yang tepat tantangan ini bisa menjadi peluang untuk mengembangkan pertanian tanaman pangan yang lebih bersaing walaupun konsekwensinya konsumen harus membayar bahan pangan itu lebih tinggi.