INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Februari 2011
PROYEK INVESTASI SMELTER MINERAL LOGAM DI INDONESIA
Dalam industri pertambangan mineral logam, smelter merupakan bagian dari proses produksi, Mineral yang ditambang dari alam biasanya masih tercampur dengan pengotor yakni material bawaan yang tidak dikehendaki. Material bawaan ini harus dibersihkan selain juga dimurnikan pada smelter. Smelter adalah fasilitas pengolahan hasil tambang yang berfungsi meningkatkan kandungan logam seperti timah, nikel, tembaga, emas, dan perak hingga mencapai tingkat yang memenuhi standar sebagai bahan baku produk akhir. Proses tersebut meliputi pembersihan mineral logam dari pengotor dan pemurnian.
Walaupun bagian dari proses produksi industri pertambangan, namun smelter tidak selalu terintegrasi atau dimiliki oleh pemegang konsesi pertambangan. Hal ini membuat sebagian hasil tambang diekspor dalam bentuk mentah dengan nilai tambah rendah, karena belum tersedianya smelter di dalam negeri.
Semenjak keluarnya Undang-undang (UU) Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba), maka kini seluruh perusahaan pertambangan mineral diwajibkan untuk memurnikan hasil tambangnya di dalam negeri yang pelasanaannya paling lambat tahun 2014 mendatang.
Lahirnya UU Nomor 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara ini telah mendorong meningkatnya investasi smelter, karena fasiltas smelter yang ada masih terbatas sehingga untuk memenuhi ketentuan dari UU Pertambangan yang baru tersebut maka harus dibangun smelter baru.
Peranan smelter dalam industri logam non ferro
Tembaga, aluminium, timah, dan nikel merupakan produk logam non ferro. Produk-produk ini dihasilkan dari tambang mineral yang terlebih dahulu diolah pada fasilitas smelter.
Smelter merupakan industri logam di sektor hulu. Jenis produk yang dihasilkan pada sektor ini adalah anoda tembaga, ingot aluminium, timah batangan, timah granule, ferronickel, serta nickel in matte.
Tidak semua proses pengolahan mineral tambang menjadi produk logam ada di di Indonesia. Indonesia belum memiliki smelter untuk mengolah bahan tambang khususnya aluminium yakni bauksit menjadi alumina.
Bahan tambang tersebut diekspor ke luar negeri, untuk kemudian diimpor kembali dalam bentuk alumina. Smelter aluminium di Indonesia yang dimiliki oleh PT Industri Asahan Aluminium (PT Inalum) hanya memproses alumina menjadi aluminium batangan.
Tembaga
Tembaga merupakan produk logam yang cukup luas penggunaannya. Produk dari smelter tembaga yakni berupa katoda tembaga yang merupakan produk di sektor hulu.
Katoda tembaga ini menjadi bahan baku bagi industri intermediate yakni rod; pelat tembaga; serta lembaran tembaga. Rod diolah menjadi kawat tembaga dan produk hilir seperti kabel, sementara pelat dan lembaran tembaga menjadi foil tembaga di sektor hilir.
Bahan baku tembaga adalah bijih tembaga berupa konsentrat yang harus diolah melalui sejumlah proses untuk menjadi produk di sektor hulu yakni katoda tembaga. Prosesnya meliputi pelelehan menjadi matte tembaga, pembersihan dari slag, serta pemurnian.
Konsentrat tembaga (Cu: 30%, S: 30%, Fe: 25%, Gangue minerals 15%) melalui pipa dimasukkan ke dalam smelting furnace. Di dalam tungku ini konsentrat dipasok dengan udara yang kaya oksigen dan dipanaskan sehingga menghasilkan matte tembaga leleh (Cu: 68%) dan slag.
Matte ini dipisahkan dari slag pada tungku kedua yakni slag cleaning furnace. Pemisahan dilakukan dengan cairan dengan menggunakan perbedaan berat antara slag dan matte. Matte ini kemudian dioksidasi pada tungku ketiga yakni converting furnace dan menghasilkan blister copper (Cu: 98.5%).
Blister copper ini kemudian diproses pada Anode furnaces untuk menghasilkan tembaga yang telah dimurnikan dan siap untuk dicetak menjadi copper strip oleh mesin Hazelett Twin Belt Caster. Selanjutnya copper strip dipotong menjadi lembaran dengan mesin hydraulic shearing machine buatan Mannesmann.
Aluminium
Aluminium adalah produk logam yang memiliki keunggulan tersendiri yakni ringan; kuat, serta tahan karat. Produk di sekto hulu dari aluminium adalah ingot aluminium.
Di sektor antara ingot aluminium ini bisa diolah menjadi sejumlah produk yakni rod; billet; strip, serta slab. Rod merupakan produk berupa kawat kasar yang akan diolah menjadi kawat aluminium dan kabel aluminium di industri selanjutnya.
Sementara itu, billet adalah produk batangan panjang yang menjadi bahan baku industri pipa aluminium dan aluminium ekstrusi yang dikenal dengan produk seperti profil list.
Produk-produk hilir berupa lembaran aluminium seperti strip; foil; serta tabung berasal dari slab aluminium. Slab sendiri adalah produk lembaran yang masih kasar dan tebal dan ini terlebih dahulu diolah menjadi produk di sektor antara menjadi lembaran aluminium.
Sementara itu, bijih bauksit harus melalui serangkaian pemrosesan untuk menjadi produk akhir di sektor hulu yakni ingot aluminium. Bauksit diolah terlebih menjadi produk yang dikenal dengan alumina atau karbon mentah aluminium, sebelum diproses lagi pada smelter aluminium.
Alumina direaksikan dengan gas HF dan menghasilkan kokas aluminium. Kokas ini kemudian diproses pada tungku reduksi dan dicampur dengan butt atau puntung anoda dan dipanaskan dulu. Material-material tersebut dicampur dengan pitch sebagai perekatnya.
Selanjutnya material tersebut dicetak di Shaking Machine menjadi blok karbon mentah. Blok tersebut kemudian dipanggang di Baking Furnace. Anoda yang sudah dipanggang kemudian diberi tangkai.
Anoda berfungsi sebagai elektroda pada proses pengolahan berikutnya melalui elektrolisis dengan bantuan tenaga listrik besar pada pot-pot di fasilitas reduksi. Tangkai berfungsi untuk memegang anoda ini selama diolah.
Anoda dapat dipakai selama kurang lebih 30 hari di dalam pot, dan setelah itu puntung anoda tersebut diganti dengan yang baru. Puntung tersebut dapat digunakan lagi setelah melalui proses pengolahan. Output dari fasilitas reduksi berupa aluminium cair yang siap dicetak menjadi bentuk batangan (ingot).....