2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Mei 2011

GAS SEBAGAI ALTERNATIF PRODUKSI LISTRIK YANG LEBIH EFISIEN


Efisiensi pembangkitan listrik oleh PLN yang belum optimal menjadi salah satu masalah yang tidak hanya dihadapi oleh PT PLN selaku operator tetapi juga oleh negara yang menanggung subsidi semakin besar. Efisiensi yang masih rendah didorong oleh masih besarnya produksi listrik dengan menggunakan energi BBM yang relatif lebih mahal daripada dengan sumber energi lainnya.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memproduksi listrik dengan beberapa sumber energi diantaranya air, batu bara, panas bumi, gasifikasi batu bara, Bahan Bakar Minyak (BBM), biofuel, serta gas alam. Penggunaan beberapa sumber energi secara bersamaan ini terjadi karena pembangkit listrik milik PLN terdiri dari beberapa jenis seperti PLTA, PLTD, PLTGU, serta Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi.

Masing-masing sumber energi tersebut menghasilkan harga produksi listrik yang berbeda. Dalam perkembangannya, pembangkitan listrik menggunakan energi minyak (BBM) dirasakan semakin mahal sehingga menyulitkan efisiensi produksi listrik oleh PLN.

Padahal, BBM yang digunakan tersebut disubsidi oleh negara, sehingga otomatis membebani keuangan negara. Hal inilah yang kemudian membuat penggunaan energi yang lebih murah semakin mendesak. Selain itu, pemakaian BBM juga dipandang tidak memiliki tingkat keberlanjutan yang tinggi karena BBM merupakan energi yang tak terbarukan.

Oleh karena itu, pengembangan pembangkitan listrik diarahkan ke sumber energi yang saat ini lebih murah seperti batu bara. Dalam proyek pembangunan pembangkit 10.000 MW (Mega Watt) tahap pertama, PLN mengembangkan sejumlah pembangkit dengan sumber energi batu bara.

Dalam proyek pembangkit 10.000 MW tahap kedua, pembangkit yang dibangun mulai menggunakan sumber energi selain batu bara yakni gas, serta energi terbarukan yakni panas bumi dan air. Peran gas sebagai energi pembangkitan listrik di Indonesia cukup strategis karena lebih fleksibel daripada tenaga air maupun panas bumi.

Penggunaan gas memiliki potensi yang baik karena Indonesia merupakan salah satu produsen gas alam yang cukup besar. Tulisan ini akan membahas efisiensi produksi listrik oleh PLN dan pilihan-pilihan sumber energi untuk pembangkitan listrik di Indonesia.


Produksi listrik menggunakan BBM kurang efisien dibandingkan  Batu Bara dan Gas

Penggunaan BBM sebagai sumber energi yakni meliputi HSD dan MFO pembangkitan listrik oleh PT PLN terbukti tidak efisien dibandingkan dengan sumber energi lainnya seperti Batu Bara, Gas Alam, serta Gasifikasi Batu Bara.

Menurut data dari PLN, biaya produksi High Speed Diesel (HSD) tercatat paling tinggi yakni mencapai Rp1667.24 / KWh menurut estimasi realisasi tahun 2010 dan diperkirakan akan mencapai Rp 1727.57 /KWh 2011.

Energi BBM lainnya yakni MFO (Marine Fuel Oil) mencapai Rp1279.05 / KWh menurut estimasi realisasi tahun 2010 dan Rp1262.43 /KWh pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2011. Sementara itu IDO (minyak diesel) mencapai 1272.52 /KWh  menurut estimasi realisasi tahun 2010 dan Rp1267.03 /KWh pada Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2011. Kedua jenis BBM ini hanya sedikit lebih murah dari pembakitan dengan biofuel.

Selisih biaya produksi rata-rata dengan BBM dengan Batu Bara maupun Gas cukup tinggi yakni mencapai sekitar Rp1100/ KWh. Jika dibandingkan dengan energi Gasifikasi Batu Bara (GBB), maka selisihnya lebih tinggi lagi karena GBB merupakan energi gas yang paling murah.


Biaya produksi listrik dari BBM membebani PLN

Relatif kurang efisiennya penggunaan BBM, sementara porsinya cukup besar dalam produksi listrik nasional membuat porsi biaya BBM terhadap biaya energi total menjadi besar. Pangsa biaya BBM mencapai sekitar 60 persen dari biaya pembangkitan listrik total.

Pada tahun 2010 biaya penggunaan BBM untuk listrik mencapai Rp 53,6 triliun dengan pangsa mencapai 64,5 persen. Pada tahun 2011 terjadi penurunan porsi pembangkitan dari BBM yang membuat nilai biayanya turun. Biaya tercatat sebesar Rp 51.3 trilin atau 57,1  persen dari total.

Biaya BBM terbesar disumbangkan oleh HSD yakni mencapai Rp 42,5 triliun atau 51,1 persen pada tahun 2010 dan Rp 38,5 triliun atau 42,8 persen pada tahun 2011. Biaya produksi dari MFO pada tahun 2010 mencapai Rp11,1 triliun atau 13,4 persen dari total sedangkan di tahun 2011 nilainya meningkat menjadi Rp12,8 triliun atau 14,3 persen dari biaya total.

Sementara itu, meskipun pangsa produksinya besar yakni lebih dari 70 persen, namun porsi biaya pembangkitan dari energi non BBM lebih kecil. Tercatat porsi biaya dari non BBM pada tahun 2010 mencapai 35,5 persen dan pada tahun 2011 menjadi 42,9 persen. Kenaikan ini pun dipicu oleh peningkatan pangsa produksinya pada tahun tersebut.

Nilai biaya produksi dari energi non BBM pada tahun 2010 mencapai Rp29,5 triliun. Peningkatan nilai terjadi pada tahun 2011 menjadi Rp38,5 triliun seiring peningkatan produksi listrik dari energi non BBM.

Besarnya porsi biaya produksi listrik dari BBM ini membebani keuangan PLN karena produksi listrik dari BBM tidak sebanding. Tercatat produksi listrik dari BBM hanya sebesar 25 persen dari produksi total....


Lihat Daftar isi>>
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.