2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Mei 2010

FOKUS

EKONOMI INDONESIA MASIH STABIL DITENGAH GONCANGAN KRISIS FINANSIAL

Ketika kekhawatiran imbas krisis keuangan di Eropa menyebar ke seluruh dunia, ekonomi Indonesia masih bisa berjalan dengan baik. Sampai triwulan I tahun 2010 pertumbuhan Produk Domestik Bruto atau GDP Indonesia   mencapai 5,7% (y on y) atau 1,9% dibandingkan triwulan IV 2009. Sektor pengangkutan dan telekomunikasi dan sektor Perdagangan menunjukkan pertumbuhan yang tinggi pada triwulan I 2010.

Sektor industri manufaktur jika dibandingkan antara triwulan I -2010 dengan perioda yang sama tahun 2009 menunjukkan pertumbuhan sebesar  3.0%, namun dibandikan  dengan triwulan IV  2009 masih menunjukkan penurunan sebesar - 1.0 %.

Pertumbuhan ekonomi  Indonesia yang cukup tinggi ditopang oleh tingginya konsumsi rumah tangga. Di dalam ekonomi Indonesia seperti yang digambarkan oleh GDP ( Gross Domestic Product) peranan pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga di Indonesia  selama TriwulanI-2010 mecapai 57,7% dari GDP. Sementara, konsumsi rumah tangga pad triwulan I-2010 masih tumbuh sebesar 2,9% dibanding perioda yang sama tahun 2009.

Pertumbuhan yang cukup menonjol pada triwulan I- 2010 adalah kenaikan ekspor dan impor. Kedua komponen GDP ini menunjukkan mulai bangkitnya kembali sektor manufaktur yang mengandalkan pasar ekspor.

Sesuai dengan data dari Bank Indonesia (BI), dari sisi transaksi berjalan, nilai ekspor yang meningkat lebih besar dari impor, membawa surplus pada neraca transaksi berjalan. Nilai ekspor dalam 4 bulan pertama tahun 2010 sudah mendekati sebelum krisis tahun 2008, walaupun pada April 2010 pertumbuhannya melambat.

Perlambatan ekspor pada April 2010 terutama terjadi pada ekspor dengan tujuan Eropa yang mengalami penurunan 23%. Komoditas ekspor utama ke Eropa yang mengalami penurunan signifikan ialah crude palm oil (CPO), terutama dipengaruhi kampanye isu lingkungan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM) asing di Eropa yang berdampak pada pemboikotan produk CPO dari Indonesia.

Dari sisi perkembangan transaksi modal dan finansial, arus modal portofolio terimbas sentimen negatif krisis utang Eropa. Dengan berbagai perkembangan tersebut, menurut BI posisi cadangan devisa per 31 Mei 2010 sebesar 74,6 miliar dolar AS atau setara dengan pembayaran 5,87 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Secara umum membaiknya ekonomi Indonesia sampai bulan Mei 2010 sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dunia. Ekonomi global sampai bulan Mei 2010 masih terus menunjukkan perbaikan meskipun ekonomi Eropa masih mengalami risiko dipasar keuangan akibat krisis utang Yunani. Hal tersebut tercermin pada perbaikan ekonomi di negara maju terutama AS dan Jepang serta pertumbuhan ekonomi emerging markets yang masih cukup tinggi. Di AS kondisi ekonomi yang membaik ditunjukkan oleh permintaan domestik yang menguat serta impor yang meningkat.

Sedangkan Jepang mulai mengalami perbaikan ekonomi karena mulai tumbuhnya ekspor negeri tersebut setelah mengalami tekanan selama krisis finansial berlangsung sampai tahun 2009 lalu.

Pertumbuhan ekonomi emerging markets masih dipelopori oleh perekonomian China, India dan Indonesia. Selama tahun 2009 ketiga negara tersebut ekonominya tumbuh masing 7,7% , 6,5% dan 4,5%.
Salah satu faktor pendorong pertumbuhan ekonomi di ketiga emerging market tersebut adalah besarnya konsumsi domestik. Konsumsi domestik Indonesia yang besar didukung oleh jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi masyarakat yang terus tumbuh. Sehingga ketika sektor lain menurun seperti ekspor dan impor pada tahun 2009 yang lalu, pertumbuhan ekonomi masih positif karena pertumbuhan konsumsi domestik yang cukup tinggi.

Tahun ini ekspor dan impor sudah mulai meningkat, bahkan sejak triwulan IV 2009. Sehingga pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan meningkat lebih pesat dibanding tahun yang lalu.

Inflasi mulai perlu diwaspadai

Sementara itu inflasi tahun ini juga masih cukup rendah yaitu pada bulan Mei hanya mencapai 0,29%, sehingga tingkat inflasi tahunan  pada tahun 2010 diperkirakan masih ada dibawah target inflasi dari Pemerintah yaitu sebesar 5.3%. Namun jika dibandingkan dengan tingkat inflasi tahun 2009, maka tingkat inflasi tahun 2010 ini patut diwaspadai.

Dari sisi harga, tekanan inflasi pada Mei 2010 masih terkendali. Inflasi terutama bersumber dari kelompok volatile food (beras dan aneka bumbu-bumbuan) karena gangguan di sisi pasokan dan distribusi. Sementara itu, tekanan inflasi pada kelompok inti (core inflation) dan administered prices tercatat masih cukup rendah. Hal itu disebabkan sampai bulan Mei 2010 tidak ada kebijakan strategis di bidang harga dari Pemerintah yang dapat mendorong tekanan inflasi dari kelompok administered prices.  Indeks harga konsumen (IHK) Mei mencatat inflasi sebesar 0,29% (mtm) atau 4,16% (yoy). Dengan perkembangan tersebut laju inflasi periode Januari sampai dengan Mei 2010 mencapai 1,44% (ytd).

Sejalan dengan meningkatnya permintaan terhadap barang dan jasa tahun 2010, maka inflasi tahun ini cenderung lebih tinggi dibanding tahun 2009. Hal ini dinggap masih wajar karena relatif inflasi tahun 2010 per bulannya masih dibawah rata-rata inflasi perbulan dalam lima tahun terakhir kecuali tahun 2009 yang rendah sekali.

Namun dalam enam bulan mendatang akan banyak faktor pendorong inflasi yang bisa mendongkrak tingkat inflasi melebihi target Pemerintah. Pada bulan Agustus 2010, Indonesia akan memasuki bulan Ramadhan dan hari raya Iedul Fitri  dan disusul hari raya Natal pada bulan Desember. Biasanya perayaan hari besar tersebut akan mendorong naiknya harga berbagai macam kebutuhan pokok.

Diluar itu ada rencana Pemerintah untuk menaikan Tarif Dasar Listrik (TDL)  dan tarif toll yang akan segera berdampak kepada harang barnag  dan jasa lainnya.

Sementara itu  pergerakan harga berbagai komoditi primer terutama energi di dunia juga cenderung meningkat sehingga dorongan inflasi bukan hanya dari dalam negeri tapi juga dari luar negeri.

Waspadai aliran dana asing

Selain inflasi yang patut diwaspadai juga adalah aliran dana asing yang deras masuk ke pasar keuangan di Indonesia dan bisa secepatnya berbalik kembali. Hal ini terjadi selama bulan Mei 2010 ketika krisis keuangan yang terjadi di Yunani mencapai puncaknya.

Selama bulan Mei 2010 arus modal portofolio terimbas sentimen negatif krisis utang Eropa. Data BI menunjukkan, hingga akhir Mei lalu, dana asing yang keluar dari SBI mencapai Rp 40 triliun. Keluarnya dana asing secara besar-besaran itulah yang akhirnya mendorong pelemahan nilai tukar rupiah.

Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono kepada pers mengatakan, dana asing yang keluar itu merupakan separo dari total dana asing sebelumnya yang ditempatkan di SBI senilai Rp 80 triliun. Namun, pelemahan itu tidak menimbulkan gejolak yang besar. Artinya, BI cukup berhasil meredam dampak keluarnya SBI asing.

Dengan berbagai perkembangan tersebut, menurut BI, posisi cadangan devisa per 31 Mei 2010 sebesar 74,6 miliar dolar AS atau setara dengan pembayaran 5,87 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global akibat krisis utang di sejumlah negara  Eropa, menyebabkan meningkatnya tekanan pada nilai tukar di emerging Asia termasuk Indonesia. Hal tersebut mengakibatkan tertahannya tren penguatan rupiah yang telah berlangsung sejak awal tahun 2010. Selama bulan Mei, rupiah secara rata-rata melemah sebesar 1,52% ke level R p9.167 per dolar AS dari Rp 9.028 per dolar AS pada bulan sebelumnya.

Seiring dengan masih rentannya pasar keuangan di kawasan terhadap perkembangan berbagai sentimen negatif, rupiah ditutup melemah pada level Rp9.175 per dolar AS, atau terkoreksi sebesar 1,77% dari penutupan bulan sebelumnya. Namun demikian, jika dibandingkan dengan akhir 2009, perkembangan rupiah hingga akhir Mei 2010 tersebut secara rata-rata masih  menguat  2,53% atau menguat 2,72% secara point to point.

Ekonomi Indonesia masih stabil

Dengan berbagai perkembangan ekonomi terakhir baik di dalam negeri maupun di luar negeri, sampai saat ini ekonomi Indonesia relatif masih cukup stabil terhadap berbagai gejolak domestik maupun internasional.

Perbaikan kinerja ekspor telah mendorong perbaikan kinerja sektor industri manufaktur yang pada gilirannya meningkatkan daya beli masyarakat. Dengan jumlah penduduk yang besar dan tingkat konsumsi yang terus meningkat Indonesia menjadi semakin tahan terhadap gejolak krisis ekonomi.
Kekhawatiran dampak gejolak krisis ekonomi di Yunani akan menggoncangkan ekonomi nasional juga tidak terbukti. Walaupun dalam sebulan aliran dana asing yang keluar cukup tinggi, namun nilai tukar Rupiah masih cukup kuat dan stabil.

Dengan kondisi ini maka daya tarik ekonomi Indonesia akan semakin menarik sehingga akan membantu mendorong meningkatnya infestasi langsung asing (FDI) ke Indonesia. Diharapkan investasi tersebut akan mampu menggerakkan kembali sektor riil yang pernah sangat terpuruk ketika krisis ekonomi di Indonesia terjadi sepuluh tahun lalu.


MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN -Mei 2010

FOKUS: EKONOMI INDONESIA MASIH STABIL DITENGAH GONCANGAN KRISIS FINANSIAL

PROFIL INDUSTRI: PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TEBU MENUJU SWASEMBADA GULA

PERTANIAN: PERKEMBANGAN AGRIBISNIS KAKAO DI INDONESIA
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Web Page Maker, create your own web pages.