2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
MARKET INTELLIGENCE REPORT ON

INDUSTRI KELISTRIKAN DI INDONESIA
Juli 2008

Latar belakang

Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi krisis dalam penyediaan  daya listrik di hampir semua wilayah termasuk di P. Jawa Bali yang merupakan pusat bisnis di Indonesia. Saat ini permintaan tenaga listrik masih terkonsentrasi di wilayah Jawa-Bali yang menyerap sekitar 77% kebutuhan listrik.

Dengan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir  sekitar 5-6%, maka terjadi peningkatan permintaan listrik yang berkisar 7-8% per tahun. Padahal, produksi listrik hanya tumbuh sekitar 3% per tahun. Pembangunan pembangkit baru pun sejak 2006 belum menambah kapasitas listrik yang cukup berarti. Hal ini mengakibatkan  terjadinya krisis pasokan listrik, yang dalam jangka panjang akan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Permintaan ini diperkirakan akan meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, dan peralihan penggunaan listrik non-PLN ke listrik PLN, karena kenaikan harga BBM sejak 2005.

Kerbatasan pasok listrik juga disebabkan umur pembangkit yang sudah tua sehingga tidak efisien, serta pasokan bahan bakar yang sering tersendat. Kondisi ini diperparah dengan adanya gangguan dari beberapa pembangkit listrik yang besar. Sepanjang 2007 terjadi penurunan produksi listrik dari beberapa pembangkit yaitu PLTU Tanjung Jati B akibat suplai batubara terganggu karena pengangkutannya mengalami gangguan cuaca.

Demikian juga gangguan terjadi pada PLTU Suralaya  karena gangguan Trafo Unit 5, PLTGU Cilegon mengalami gangguan akibat pasokan gas yang berkurang, PLTU Gresik akibat adanya pengalihan suplai gas ke PLN dialihkan ke industri. Selain itu juga terjadi penurunan pasokan dari listrik swasta (Independent Power Producer) akibat gangguan teknis yaitu dari PLTU Cilacap, PLTGU Cikarang, PLTP Drajat III, PLTP Dieng dan PLTA Jatiluhur.    

Dalam beberapa tahun terakhir ini banyak kendala yang menyebabkan proyek-proyek pembangkit terutama pembangkit berbahan bakar gas tertunda, karena ketidak pastian pasokan gas. Akibatnya pembangkit-pembangkit BBM yang sudah dikonversi ke gas, terpaksa terus beroperasi menggunakan BBM yang harganya semakin mahal. Untuk menekan biaya produksi PLN akibat tingginya harga minyak dunia, maka pemerintah melakukan program diversifikasi pembangkit-pembangkit BBM ke non BBM. 

Sejak dua tahun lalu untuk mengatasi krisis listrik tersebut, pemerintah mendorong percepatan crash program pembangunan pembangkit berbahan bakar batubara 10.000 MW. Tahap I sedang berjalan dan direncanakn akan selesai secara bertahap mulai 2009 hingga 2011.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Indonesia masih membutuhkan energi listrik 35.000 MW hingga 2015. Untuk mengantisipasi krisis listrik, PLN mendorong investasi pembangkit lsitrik terbarukan dan mendorong perusahaan listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) untuk segera merealisasikan proyek-proyek listriknya. 

Menyusul seriusnya krisis listrik yang semakin diperparah dengan melonjaknya harga minyak dunia yang membebani pembangkit listrik. Pemerintah merasa perlu mengeluarkan kebijakan pengaturan penggunaan listrik, termasuk mengatur jam operasional industri, pembatasan jam siaran televisi, serta himbauan penghematan listrik di kantor-kantor pemerintah mulai awal Juli 2008. Keterbatasan pasokan listrik, dapat diatasi diantaranya dengan beban puncak harus ditekan dengan penghematan.  

Pengelolaan sistem tenaga listrik di Indonesia 

Sesuai dengan UU no 15/1985 mengenai Ketenagalistrikan, sistem kelistrikan di Indonesia ditangani olh PLN sebagai BUMN listrik. Sistem kelistrikan  dibagi menjadi beberapa wilayah yang terinterkoneksi yaitu Sistem Jawa-Bali, Sumatera  Bagian Selatan (Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan sebagian Riau), Sumatera bagian Utara ( Sumatera Utara dan NAD). Selebihnya di Pulau-pulau lain belum ada sistim interkoneksi seperti di Jawa dan Bali.

Sistem Kelistrikan Jawa Bali
Sistem Jawa Bali adalam sistem kelistrikan terbesar di Indonesia yang menghubungkan berbagai pembangkit listrik dan pusat-puat beban di seluruh P. Jawa, P. Madura dan P. Bali. Sistem ini terdiri dari pembangkit listrik dengan total kapasitas 22.236 MW yang dihubungkan dengan saluran transmisi tengangan ekstra tinggi 500KV dan tegangan tinggi 150 KV dan 70 KV.

Jaringan transmisi tegangan ekstra tinggi 500 KV telah menghubungkan pembangkit diseluruh   wilayah P.  Jawa  melalui jaringan transmisi sepanjang pantai utara P, Jawa dan diperkuat dengan jaringan  transmisi di daerah Selatan.  Sistim interkoneksi Jawa Bali dikelola oleh PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban (PLNP3B) Jawa Bali.

Pembangkit di Jawa seluruhnya kini dibawah pengelolaan anak perusahaan PLN yang dibentuk khusus untuk menangani pembangkit yaitu PT Indonesia Power dan PT Pembangkit Jawa Bali (PT PJB)

PT. Indonesia Power mengelola 8 Unit Bisnis Pembangkitan, yaitu Suryalaya (3.400 MW), Priok (1.343,56 MW), Semarang (1.469,26 MW), Perak (561,83 MW), Bali (324,82 MW), Kamojang (360 MW), Mrica (819 MW), dan Saguling (797,36 MW).

Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya menangani 7 unit PLTU dengan bahan bakar batubara sebagai bahan bakar utamanya. Unit 1 s/d 4 masing-masing mempunyai kapasitas 400 MW dan unit 5 s/d 7 masing-masing 600 MW sehingga U.P.Pembangkitan Suralaya menangani PLTU batubara dengan kapasitas total 3400 MW.

PT Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa-Bali II  atau saat ini bernama PT. PJB berdiri pada 1995.   PJB memiliki 8 unit pembangkit dengan kapasitas terpasang 6.526 MW dan aset setara kurang lebih Rp 41,5 trilyun. Didukung 2.203 karyawan, PJB telah berkembang menjadi produsen energi listrik kelas dunia. Kapasitas, mutu, kehandalan dan layanan yang diberikan mampu memenuhi standar internasional. Yaitu Unit Pembangkit Gresik (2259 MW), Muara Karang (1208 MW), Paiton (800 MW),  Muara Tawar (920 MW), PLTA Cirata (1008 MW), PLTA Brantas (281 MW)

Sistem tenaga Listrik Sumatera sudah terpadu
Dengan diselesaikannnya Pembangunan Transmisi 150 kV antara Rantau Prapat-Kota Pinang-Bagan Batu sepanjang 102 km pada Juli 2007, maka  dengan demikian sistem kelistrikan Sumatera bagian Utara (Sumbagut) terhubung dengan Subsistem kelistrikan Sumatera bagian Selatan-Tengah (Sumbagselteng).

Sistem kelistrikan Sumbagselteng akan memasok daya listrik hingga mencapai 70 MW ke sistem kelistrikan Sumbagut. Sumbagselteng ada kelebihan sekitar 100 MW pada siang hari. Terhubungnya interkoneksi Sumbagut dan Sumbagselteng maka jaringan Saluran Tegangan Tinggi (SUTTI) 150 kV mulai dari Bandar Lampung hingga Banda Aceh sepanjang 3000 km kini telah terpadu. Hal ini menunjukkan sistem kelistrikan Pulau Sumatera menunjukan kondisi kelistrikan PLN di Sumatera mulai membaik.

Pengiriman energi melalui transmisi jaringan 150 kV mulai dari Kota Panjang Riau hingga Kota Pinang Rantau Prapat, sangat panjang mencapai 400 km. Pengiriman daya itu tidak mudah, ada pengaruh terhadap tegangan sehingga ketika sampai ke Sumbagut sekitar 70 MW.

Namun interkoneksi yang telah terpadu di Sumatera belum sepenuhnya menyelesaikan masalah defisit listrik yang terjadi di Sub Sistem Sumbagut. Hal itu dikarenakan pasokan energi dari pembangkit yang tersedia masih lebih kecil dari beban yang harus dipenuhi.

Sistem kelistrikan di Pulau lain
Saat ini sistem kelistrikan di pulau Kalimantan yang sudah terkoneksi yaitu Kalteng-Kalsel. Dalam proses yang sedang berjalan mengkoneksikan Kalsel dan Kaltim. Menurut rencana dalam jangka panjang akan ada koneksi Kalbar-Kalteng. Dengan sistem jaringan kelistrikan interkoneksi itu, jika satu daerah mengalami kendala dari unit pembangkit atau masuk dalam fase pemeliharaan pembangkit, maka suplai listrik dari propinsi lain dapat dilakukan.

Sistem kelistrikan di Kalimantan Barat dikategorikan tertinggal. Saat ini Pontianak sedang membangun jaringan berpola "loop" (melingkar) untuk kota Pontianak. Sehingga jika terjadi kendala dalam salah satu transmisi, maka dapat disuplai melalui lingkar lainnya. Demikian juga untuk wilayah Kalbar lain hingga kedepannya untuk rencana program sistem jaringan kelistrikan interkoneksi di Kalimantan.

Di Kalimantan Timur  terdapat beberapa sistem kelistrikan dan yang terbesar sistim Mahakam  yang melayani Samarinda, Balikpapan, dan Tenggarong, ibu kota Kutai Kartanegara.

Selain Sistem Mahakam, PLN memiliki jaringan listrik Bontang-Sangatta untuk Kalimantan Timur bagian utara, Sistem Melak dan Kota Bangun untuk kawasan sekitar Kutai Barat dan Kutai Kartanegara, serta Sistem Petung dan Tanah Grogot untuk melayani pelanggan di Kalimantan Timur bagian selatan. Namun, yang paling besar memang Sistem Mahakam dengan jumlah pelanggan sekitar 330.000 pelanggan dan daya listrik yang digunakan 171,5 MW. PLTGU Tanjung Batu merupakan satu dari enam pembangkit listrik dalam Sistem Mahakam dengan beban pelanggan 180 MW. Lima pembangkit lainnya menggunakan diesel yang berbahan bakar solar.

Kondisi Sistem Pembangkitan

Kapasitas terpasang PLN  di sistem Jawa Bali meningkat menjadi sebesar  22.236 MW pada 2007 dari sebelumnya 19.514 MW pada 2005.  Sampai dengan awal 2008 kapasitas terpasang sistem Jawa Bali sudah menjadi 22.296 MW. Tambahan daya pembangkit baru diantaranya sebesar 200 MW, yang berasal dari PLTU Tarahan di Lampung, PLTP Darajat dan PLTP Kamojang.  

Sementara itu pada sistem luar Jawa Bali, dengan adanya penambahan kapasitas di beberapa lokasi seperti Kalimantan menyebabkan kapasitas pembangkit dari 5.573 MW pada 2005 bertambah menjadi 8.284,28 MW  pada 2007. Pembangkit yang telah beroperasi 2007 diantaranya pada sistem Kalimantan misalnya PLTU Perusda 50 MW dan PLTG Menamas 20 MW.

Kondisi Sistem Transmisi

Dalam lima tahun terakhir panjang saluran transmisi 70 kV terus berkurang karena adanya upaya uprating menjadi 150 kV guna meningkatkan keandalan dan perbaikan kualitas pelayanan ke konsumen.

Sistem Penyaluran dan Distribusi di Luar Jawa Bali dalam kurun waktu lima tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup berarti terutama di sistem Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dengan selesainya beberapa proyek transmisi. Sedangkan sistem lainnya, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua belum memiliki saluran transmisi.

Pembangunan Gardu Induk meningkat 11,9% per tahun dimana kapasitas terpasang GI pada tahun 2003 sekitar 9.122 MVA meningkat menjadi 12.381 MVA pada tahun 2006.

Realisasi pertumbuhan sektor tenaga listrik 

Jumlah Pelanggan

Akibat krisis moneter semenjak tahun 1998, pertumbuhan jumlah pelanggan listrik mulai melambat. Sebelum tahun 1998 jumlah langganan pertahun meningkat lebih dari 10%. Setelah ditimpa krisis moneter, walaupun jumlah pelanggan masih terus meningkat tapi pertumbuhannya  hanya sekitar 3-4% per tahun, jauh dibawah periode sebelumnnya.

Realisasi jumlah pelanggan selama tahun 2003 - 2007 mengalami peningkatan dari 32,2 juta pelanggan menjadi 37,7 juta pelanggan atau bertambah rata-rata sebesar 4,0% tiap tahunnya.

Tabel - Perkembangan jumlah pelanggan per kelompok Pelanggan,2003 - 2007

Tahun        Rumah Tangga        Industri        Bisnis        Sosial        GD. Kantor        Penerangan        Jumlah        %
                                       PemerinTahan        Jln Umum                
2003        29,997,554        46,818        1,310,686        659,034        83,810        53,514        32,151,416        ---
2004        31,095,970        46,520        1,382,416        686,851        87,187        67,502        33,366,446        3.78
2005        32,174,922        56,475        1,455,797        716,194        89,533        76,432        34,559,353        3.58
2006        33,441,512        58,717        1,513,592        744,626        93,087        79,466        35,931,000        3.97
2007        35,069,525        61,570        1,587,152        780,814        97,611        83,328        37,680,000        4.86
Sumber: Statistik PLN, 2005

Rasio Elektrifikasi
Rasio Elektrifikasi yaitu jumlah rumah tangga yang sudah berlistrik dengan jumlah rumah tangga yang ada, sampai saat ini relatif masih rendah masih
rendah.

Namun demikian dari tahun ke tahun terjadi kenaikan yaitu dari 56,4% tahun 2003 menjadi 61,6% tahun 2007.  Rasio elektrifikasi di P. Jawa mencapai 68,9% sedangkan diluar Jawa dan Sumatera masih sekitar 56,5%.
   
Penjualan Tenaga Listrik  meningkat 6,4%  per tahun
Seiring dengan mulai membaiknya kondisi perekonomian di Indonesia,  menyebabkan pertumbuhan penjualan tenaga listrik PLN selama lima tahun terakhir (2003-2007) mengalami pertumbuhan relatif tinggi yaitu tumbuh rata-rata per tahun sebesar 6,4%. Untuk wilayah Jawa Bali tumbuh rata-rata per tahun sebesar 5,9%, sedangkan di Sumatera  tumbuh rata-rata per tahun sebesar 7,2%.

Batu bara menjadi primadona bahan bakar

Dengan terus melambungnya harga minyak dunia, dalam beberapa tahun terakhir, mendorong PLN mengalihkan pemakaian sumber energi pembangkit dari BBM ke non BBM seperti batubara, panas bumi, gas alam dan lainnya.

Pemakaian batubara terus meningkat dalam lima tahun belakangan ini, jika pada 2003 total pemakaian batu bara hanya 15,2 juta ton maka pada 2007 mengalami peningkatan hingga 100% atau mencapai 31,4 juta ton.

Namun ketergantungan pada BBM belum sepenuhnya dapat dilepaskan. Pemakaian BBM masih berfluktuasi, pada 2003 tercatat sebesar 7,6 juta kilo liter dan sempat naik menjadi 9,0 juta kilo liter pada 2006. Namun lemudian turun lagi menjadi hanya 5,1 juta kilo liter pada 2007 lalu. Menurunnya pemakaian BBM selain karena harganya yang kian melambung tinggi, juga berkat keberhasilan usaha PLN mengkonversi bahan bakar dari BBM ke non BBM terutama batubara. ...........................................



MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
 
HOME            Laporan Utama           Fokus           Daftar Isi          Berlangganan