TOP GLOVE TANAM US$ 1 MILAR DI SEKTOR SARUNG KARET. Top Glove Corporation Bhd, perusahaan sarung tangan karet asal Malaysia, akan membangun pabrik sarung tangan karet skala besar di Sumatera Utara dengan kapasitas terpasang hingga 2 miliar pieces per tahun dan nilai investasi untuk membangun pabrik baru tersebut diperkirakan mencapai US$ 1 miliar. Menurut Ketua Umum Indonesian Rubber Glove Manufacturer Association (IRGMA) Ahmad Saifun mengatakan dengan investasi sebesar itu, Top Glove akan menambah sekitar 2.000 lini produksi, yang masing-masing lini bisa memproduksi sekitar 1 juta - 2 juta pieces sarung tangan karet per tahun. Ahmad Saifun mengatakan produsen sarung tangan karet merek Tp Glove ini akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi sarung tangan karet untuk tujuan ekspor. Selain itu, berdasarkan catatan IRGMA, dari total nilai ekspor karet dan barang dari karet senilai US$ 6,6 miliar per tahun, ekspor sarung tangan karet perusahaan dalam negeri hanya 30,3% dari total ekspor atau setara dengan US$ 2 miliar per tahun.
INTRACO SIAPKAN US$ 100 JUTA AKUISISI TAMBANG BATU BARA. PT Intraco Penta Tbk (INTA) menyiapkan dana senilai US$ 100 juta untuk mendukng rencana ekspansi ke bisnis pertambangan batu bara dengan mengakuisisi perusahaan pemegang kuasa pertambangan (KP). Direktur Intraco Fred L. Manibog mengatakan rencana akuisisi perusahaan tambang batu bara itu dilakukan untuk terus meningkatkan aset perseroan dan sumber pemasukan perusahaan penyedia jasa solusi penambangan tersebut. Selain itu, pada 30 Maret 2010 perseroan telah menuntaskan akuisisi Terra Factor Indonesia dan Columbia Chrome Indonesia senilai Rp 170 miliar melalui mekanisme debt equity swap (pengalihan utang menjadi saham). Menurut Fred L. Manibog, perseroan sedang melihat beberapa blok penambangan yang dijajaki terutama di daerah Kalimantan dan Sumatera dengan cadangan batu bara antara 60 juta ton dan 120 juta ton. Perseroan berharap proses tersebut bisa selesai pada tahun ini. Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut, perseroan akan memenuhinya dari kas internal.
PT BUMI RESOURCES TBK (BUMI) IPO-KAN ANAK USAHA US$ 1 MILIAR. BUMI RESOURCES dikabarkan menjadikan anak usahanya yang bergerak di sektor non-batu bara (non coal) menjadi perusahaan terbuka. Initial public offering (IPO) dengan nilai US$ 1 miliar direncanakan akan dilaksanakan pada akhir tahun ini. Anak usaha BUMI yang bergerak disektor non-batu bara tersebut adalah PT Bumi Resources Mineral (BRM), yang telah beroperasi di Indonesia dan Afrika. Perusahaan tambang ini memproduksi emas, copper, zinc serta iron ore di Indonesia dan Afrika. Credit Suisse dan JP Morgan disebut menjadi penasihat atas aksi perseroan tersebut. Laba bersih BUMI pada tahun 2009 mencapai US$ 190,45 juta, turun sebanyak 48,76 persen jika dibandingkan dengan realisasi laba pada 2008 yang sebesar US$ 371,69 juta. Laba bersih BUMI tersebut tergerus oleh amortisasi yang dipergunakannya untuk pengupasan lahan yang ditangguhkan selama beberapa tahun terakhir. Akan tetapi, biaya amortisasi tersebut masih diimbangi oleh keuntungan kurs, serta penjualan beberapa aset perseroan yang tidak produktif. Padahal, jika tidak adanya beban dari amortisasi tersebut laba bersihnya akan mencapai level US$ 448 juta.
TUGU RE INCAR UNDERWRITING NAIK 58%. PT Tugu Reasuransi membidik peningkatan hasil underwriting pada tahun ini sebesar Rp 57,38 miliar atau naik 58% dari realisasi 2009 yaitu Rp 36,32 miliar dengan melakukan sejumlah pembenahan dan evaluasi pemilahan risiko. Sepanjang 2009, perseroan mampu membukukan peningkatan hasil underwriting (hasil pertanggungan risiko) yang cukup signifikan yaitu 127% dari 2008 yang sebesar Rp 15,9 miliar. Presiden Direktur PT Tugu Reasuransi Moro W. Budhi mengatakan target itu akan dicapai melalui sejumlah strategi bisnis di antaranya peningkatan selektivitas risiko dan fokus ke pemenuhan kapasitas pertanggungan dalam negeri. Direktur Keuangan Tugu Reasuransi Drajat Irwan-syah mengatakan pada tahun lalu realisasi klaim naik sebesar 22% menjadi Rp l60,23 miliar dari tahun sebelumnya yaitu Rp l31 miliar. Kenaikan klaim itu, lanjutnya seiring dengan pertumbuhan premi yang cukup signifikan. Dia menambahkan jumlah ekuitas pada tahun lalu meningkat 10% menjadi Rp 92,56 miliar dari tahun sebelumnya yaitu Rp 84,19 miliar, sedangkan total aktiva mencapai Rp 303,17 miliar, naik 17% dari tahun sebelumnya yaitu Rp 260 miliar.
MEC INFRA INVESTASI USD 1 MILLIAR BANGUN JALUR KERETA API. MEC Infra akan menginvestasikan USD 1 miliar untuk membangun koridor jalur kereta api sepanjang 130 kilometer yang menghubungkan lokasi pertambangan di Muara Wahau ke wilayah perairan laut Bengalon. Pertambangan dan jalan kereta api MEC berperan sangat penting terhadap pembangunan beragam fasilitas komplek industri terpadu yang di dalamnya termasuk pembangkit tenaga listrik berbahan bakar batu bara dari tambang MEC, pabrik pengolahan smelter alumunium, pabrik pupuk, dan terminal bongkar muat batu bara kapasitas tinggi dengan total investasi senilai USD5 miliar. MEC telah merumuskan kemitraan strategis dengan para pemimpin industri untuk merealisasikan visi "Mines to Market,". Akuisisi lahan hampir selesai dilaksanakan dan pengerjaan proyek berjalan sesuai dengan jadwal. Dalam lima tahun ke depan investasi MEC saja akan menciptakan 5.000 pekerjaan baru di Kalimantan Timur. Lebih penting lagi, investasi ini akan mengubah Kalimantan Timur menjadi contoh bagi masa depan Indonesia dengan memberikan dasar yang kuat untuk pertumbuhan, membantu Indonesia.
CHAIRUL TANJUNG AKUISISI 40% SAHAM CARREFOUR INDONESIA. Chairul Tanjung melalui kelompok usahanya, Para Group mengakuisisi 40% saham PT Carrefour Indonesia senilai lebih dari Rp 3 triliun. Akuisisi itu dilakukan Trans Corp melalui PT Trans Ritel, sebuah anak perusahaan Trans Corp dibawah Para Group. Chairul Tanjung mengaku alasannya membeli Carrefour adalah masalah idealism, bahwa perusahaan lokal pun bisa menjadi perusahaan yang bisa bersinergi dengan perusahaan-perusahaan multi nasional seperti Carrefour. Selain itu sektor ritel pun menjadi sektor yang penting karena menyangkut 9 kebutuhan pokok masyarakat, dengan harga yang baik maka bisa menjadi pengontrol inflasi, Para Group juga akan membuka peluang dengan memberikan kesempatan dan pembinaan bagi pelaku petani, peternak, nelayan dan lain-lain dalam menggerakan ekonomi usaha kecil dan menengah. MoU pembelian saham Carrefour sudah diteken pada tanggal 12 Maret 2010 di Perancis. Pihak yang pertama kali menawarkan adalah pihak Carrefour. Setelah akuisisi oleh Trans Corp ini, maka komposisi pemegang saham PT Carrefour Indonesia adalah Trans Ritel (40%), Carrefour SA 39%, Carrefour Netherland BV 9,5%, dan Onesia BV 11,5%. Chairul yang kini menjadi komisaris utama Carrefour Indonesia itu juga berniat menyelesaikan masalah kasus monopoli yang diputuskan oleh KPPU beberapa waktu lalu. Chairul akan segera menemui KPPU yang kini sedang mengajukan kasasi ke MA setelah keputusannya dibatalkan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.