Copyright 2008 Data Consult. All rights reserved
INDUSTRI PAKAN TERNAK DI INDONESIA - MEI 2008

Industri pakan ternak di dalam negeri sangat berperan mendukung industri peternakan dalam menyediakan ketersediaan konsumsi daging dan produk turunannya bagi masyarakat sebagai tambahan sumber protein. Pakan memiliki kontribusi 70% dari total biaya produksi peternakan, sehingga tetap menjadi suatu bisnis yang cerah.

Secara umum industri pakan ternak nasional cukup memiliki peluang yang baik.  Dilihat dari tingkat produksi, industri pakan ternak mengalami pertumbuhan rata-rata 8,4% dalam periode lima tahun terakhir. Total produksi pakan ternak nasional merosot menjadi 7,7 juta ton pada 2007 dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 9,9 juta ton. Hal ini diakibat oleh maraknya kasus flu burung H51N pada 2007 lalu di sejumlah provinsi termasuk Jawa Barat, DKI, Banten, JawaTengah, Bali, Sumatera Utara, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan.  Baca Selengkapnya

INDUSTRI MULTI-FINANCE DI INDONESIA  -  Maret 2008

Dalam tiga tahun belakangan ini industri multifinance mengalami perkembangan yang berarti. Menurut Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) rata-rata pertumbuhan industri pembiayaan sekitar 15% per tahun. Hal ini didukung oleh kondisi ekonomi di dalam negeri yang mulai membaik. Turunnya suku bunga BI Rate pada level 8% pada 2007 lalu turut mendorong pertumbuhan multifinance, sebab pertumbuhan industri pembiayaan di Indonesia selama ini masih mengandalkan sewa guna usaha (leasing) dan pembiayaan konsumen (pembiayaan mobil dan sepeda motor) dengan kontribusi mencapai 95% dari total pembiayaan.

Pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha masih mendominasi industri tahun 2007 lalu. Hal ini membuat kalangan industri berupaya untuk menjaga angka kredit macet pada kedua jenis pembiayaan itu. Sewa guna usaha dan pembiayaan konsumen sebagai komponen kredit terbesar pada multifinance setiap tahun cukup stabil dengan angka kredit macet selalu di bawah 3%. Baca Selengkapnya

INDUSTRI ANGKUTAN LAUT DI INDONESIA   -  Agustus 2008

Meskipun dalam beberapa tahun terakhir ini secara bertahap telah terjadi perubahan penggunaan armada pelayaran asing ke pelayaran domestik untuk mengangkut berbagai komoditi di dalam negeri, tetapi industri pelayaran didalam negeri, seperti yang disampaikan Ketua Indonesia Ship Owners Association (INSA) Oentoro Suryo, masih sulit bersaing dengan pelayaran asing karena keterbatasan jumlah kapal serta kondisi kapal yang ada sebagian besar adalah kapal tua.

Penambahan jumlah kapal nasional sebagian merupakan pengalihan bendera kapal-kapal milik pelayaran nasional yang sebelumnya berbendera asing, sehingga penambahan kapal-kapal baru relatif sangat sedikit. Baca Selengkapnya



INDUSTRI SEMEN DI INDONESIA  -  Februari 2008

Dalam beberapa tahun terakhir kapasitas industri semen dalam negeri tidak mengalami peningkatan yang berarti. Kapasitas produksi tidak banyak beranjak dari level 47 juta ton per tahun. Sejak tahun 2005 beberapa perusahaan telah merencanakan untuk menambah kapasitasnya, namun rencana tersebut tidak banyak terealisasi karena tingkat utilitas dari kapasitas produksi masih sekitar 60 persen. Masih tingginya kapasitas yang menganggur disebabkan oleh pertumbuhan permintaan yang rendah akibat kenaikan BBM pada akhir 2005.

Setelah dampak kenaikan harga BBM pada akhir 2005 mereda, permintaan semen kembali tumbuh yang didorong oleh sektor properti dan proyek-proyek infrastruktur milik pemerintah. Beberapa pemain kembali merencanakan untuk menambah kapasitasnya. Penambahan kapasitas ini perlu segera dilakukan untuk mengantisipasi permintaan yang diperkirakan akan terus meningkat seiring perekonomian yang tumbuh. Kebutuhan dalam negeri pada tahun 2007 diperkirakan mencapai sekitar 35 juta ton. Baca Selengkapnya >>
INDUSTRI TENAGA LISTRIK DI INDONESIA    -  Juli 2008

Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi krisis dalam penyediaan  daya listrik di hampir semua wilayah termasuk di P. Jawa Bali yang merupakan pusat bisnis di Indonesia. Saat ini permintaan tenaga listrik masih terkonsentrasi di wilayah Jawa-Bali yang menyerap sekitar 77% kebutuhan listrik.

Dengan pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir  sekitar 5-6%, maka terjadi peningkatan permintaan listrik yang berkisar 7-8% per tahun. Padahal, produksi listrik hanya tumbuh sekitar 3% per tahun. Pembangunan pembangkit baru pun sejak 2006 belum menambah kapasitas listrik yang cukup berarti. Hal ini mengakibatkan  terjadinya krisis pasokan listrik, yang dalam jangka panjang akan dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Baca Selengkapnya


INDUSTRI BAJA LEMBARAN DI INDONESIA - Juni 2008

Saat ini kondisi pasar baja dunia bergairah yang dipicu oleh permintaan pasar yang besar terutama dari negara besar seperti China dan India yang memicu semakin tingginya harga baja di pasar dunia. Sementara itu, di dalam negeri  beberapa  industri baja hilir menghadapi tekanan akibat tingginya harga baja dunia tersebut

Secara umum kondisi industri baja di dalam negeri masih belum seimbang antara industri hulu dan hilir. Akibat keterbatasan industri baja hulu maka industri baja hilir dalam negeri masih sangat tergantung kepada bahan baku impor. Hal ini disebabkan tidak berkembangnya industri bahan baku baja lembaran yang kapasitas produksinya hampir tidak mengalami perubahan sejak 2004. Sebagai gambaran, berdasarkan data Depperin, selama 2006 total produksi baja hulu nasional (iron making) hanya tercatat 2,5 juta ton dibandingkan kebutuhan ideal yang mencapai 6 juta ton. Sementara itu, total kapasitas produksi baja hilir pada tahun yang sama mencapai 24,4 juta.  Baca Selengkapnya






INDUSTRI PENERBANGAN REGULER DI  INDONESIA   -  April 2008

Persaingan dalam industri penerbangan reguler di Indonesia saat ini semakin ketat, yang terlihat dari maraknya maskapai penerbangan menetapkan harga tiket yang sangat rendah, termasuk untuk rute-rute padat yang selalu ramai oleh penumpang, seperti Jakarta- Medan dan Jakarta Surabaya.

Persaingan terjadi karena banyaknya jumlah maskapai penerbangan reguler di Indonesia saat ini, yang mencapai 21 perusahaan. Selain itu terjadinya perang tarif oleh hampir semua maskapai penerbangan juga terjadi karena pemerintah hanya menetapkan batas atas untuk tarif penerbangannya, sehingga setiap perusahaan leluasa mengatur berapa tarif terendahnya. Baca Selengkapnya



PERKEMBANGAN INDUSTRI BIOFUEL DI INDONESIA  - JanuarI 2008

Saat ini pengembangan bahan bakar nabati untuk menggantikan bahan bakar fosil terus dilakukan. Biofuel akan menggantikan premium, solar, maupun kerosin atau minyak tanah. Pemerintah mentargetkan antara tahun 2009-2010 komposisi biofuel dan bahan bakar fosil mencapai 15 persen berbanding 85 persen. 

Kebutuhan nasional untuk bahan bakar nabati sedikitnya 18 miliar liter per tahun. Akan tetapi keterbatasan bahan baku menjadi kendala utama karena harus berbagi dengan berbagai industri lain.  

Kepala Tim Nasional Pengembangan Bahan Bakar Nabati Alhilal Hamdi juga menyatakan, keterbatasan salah satu bahan bakar utama  biofuel, yaitu etanol untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar menjadi kendala utama. Etanol yang tersedia, jadi rebutan dengan dengan industri lain. Etanol di Indonesia masih digunakan untuk industri alkohol atau industri lain seperti rokok dan plastik.  Baca Selengkapnya>>


INDUSTRI PUPUK DI INDONESIA - September 2008

Kebijakan masa lalu dalam sektor energi Indonesia yang berorientasi dalam penerimaan devisa, mengakibatkan sebagian besar produk energi termasuk gas berorientasi ekspor dan terikat kontrak jangka panjang. Hal ini mengakibatkan peningkatan kebutuhan gas didalam negeri oleh industri pupuk tidak dapat begitu saja dipenuhi oleh produksi gas dalam negeri. Kondisi ini terjadi pada PT Asean Aceh Fertilizer yang sudah dilikuidasi serta PT PIM yang sempat tidak produksi pada September 2005 dan baru beroperasi kembali pada tahun 2007.

Produsen pupuk di Indonesia tidak dapat begitu saja membeli gas sesuai harga pasar, karena harga jual pupuk telah ditetapkan oleh pemerintah melalui harga eceran tertinggi (HET). Industri pupuk yang hanya sanggup membeli gas sekitar 2US$ per MMBTU jelas tidak mampu bersaing dengan harga yang ditawarkan oleh PLN, PGN maupun untuk LNG. Keterbatasan pasokan gas ke pabrik PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) masih belum tuntas karena sulitnya mendapatkan pasokan gas sesuai kebutuhannya.              Baca Selengkapnya

LAPORAN MARKET INTELLIGENCE YANG DITERBITKAN OLEH INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER - Edisi Bahasa Indonesia


stat
elogic web design

INDUSTRI TELEVISI NASIONAL DITENGAH KRISIS GLOBAL- Oktober 2008

Krisis global yang terjadi pada September tahun ini, juga berdampak pada industri elektronik nasional sehingga menyebabkan beberapa produsen terpaksa memangkas produksinya sekitar 5% - 10% sejak September 2008. Hal ini disebabkan penyerapan pasar domestik melemah akibat daya beli masyarakat menurun.

Saat ini perkembangan teknologi industri televisi yang terus berkembang pesat mendorong permintaan meningkat. Industri televisi mengalami banyak perkembangan dari yang menggunakan teknologi tabung sinar katoda (CRT) yang berlayar cembung hingga kehadiran TV yang berlayar datar, dan kini muncul TV Plasma Display Panel (PDP) dan Liquid Crystal Display (LCD).

Pasar LCD di Indonesia mengalami pertumbuhan yang besar, karena tren dunia saat ini mengarah ke produk digital.  TV konvensional yang menggunakan tabung atau dikenal sebagai CRT mulai ditinggalkan pasar dunia. Trend televisi di Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan Australia yang  menjadi tujuan ekspor televisi menunjukkan adanya penurunan permintaan CRT.  Saat ini pasar televisi mulai bergeser ke era Plasma dan LCD.  Baca selengkapnya
INTERNET SERVICE PROVIDER (ISP)- November 2008

Jasa penyedia internet (internet Service provider/ISP) memasuki babak baru  dalam tiga tahun terakhir semenjak PT Telkomunikasi Indonesia Tbk (Telkom)  menawarkan layanan akses intrenet peta lebar (broadband internet) pada tahun 2006  dengan tarif yang relatif murah. Semenjak itu pelanggan internet pita lebar terus meningkat,

Sebelumnya pertumbuhan pemakai internet di Indonesia tidak begitu berkembang pesat karena layanan akses yang tersedia melalui dial up menggunakan jaringan telepon milik Telkom tidak memenuhi harapan pengguna internet karena kecepatannya yang rendah. Sementara akses internet berkecepatan tinggi yang ditawarkan saat itu tarifnya relatif mahal sehingga hanya pelanggan korporat yang mampu menggunakan jasa akses internet seperti itu.

Pengguna internet semakin meningkat dengan  munculnya penyedia akses broadband  internet berbasis  Hybrid Fiber Coaxial (HFC) yang ditawarkan oleh FirstMedia yang lebih murah walaupun jangkauannya masih terbatas di wilayah Jakarta dan beberapa kota besar.   Baca selengkapnya
OUTLOOK EKONOMI INDONESIA 2009 - Desember 2008

Melangkah menuju tahun 2009, ekonomi Indonesia tidak bisa berkelit dari dampak krisis finansial global. Sepanjang tahun 2008, terutama sampai triwulan ke III, ekonomi Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang baik, sehingga ketika pada tiga bulan terakhir tahun 2008 pertumbuhan ekonomi mulai melambat, maka secara keseluruan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 masih bisa mencapai 6,1 %. Keadaan ini lebih baik dibandingkan negara tetangga seperti Singapura yang  diperkirakan hanya tumbuh 2,2% tahun 2008 ini.

Selama tahun 2008, ketika krisis finansial global sudah mulai menimpa berbagai negara maju dan berkembang akibat kesulitan likuiditas dan naiknya harga komoditi primer. Indonesia selain menderita akibat naiknya harga minyak, namun juga mendapat berkah dari peningkatan harga berbagai komoditas ekspor utama, sehingga sampai triwulan III 2008 ekspor menjadi salah satu penunjang utama pertmbuhan ekonomi, disamping konsumsi dalam negeri.   Baca selengkapnya




PERKEMBANGAN INDUSTRI SEPEDA MOTOR DI INDONESIA - Januari 2009

Industri sepeda motor sebagai industri manufaktur tidak terlepas dari dampak resesi ekonomi global. Industri sepeda motor masih mengalami pertumbuhan cukup pesat hingga triwulan III tahun 2008. Pendorongnya adalah permintaan yang meningkat seiring daya beli masyarakat yang terdongkrak harga komoditi pertanian yang pada tahun 2008 cukup bagus.

Bagi masyarakat sepeda motor masih menjadi alat transportasi yang murah dan mudah baik di perkotaan maupun pedesaan. Hal ini tidak terlepas dari sistem transportasi massal yang belum begitu berkembang. Kondisi ini membuat investasi berupa peningkatan kapasitas pada pabrik yang sudah ada maupun pembangunan pabrik baru termasuk oleh pemain baru masih terjadi hingga tahun 2008. Baca Selengkapnya

PERKEMBANGAN BANK SYARIAH DI INDONESIA - Februari 2009

Pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia dilakukan dalam kerangka  Arsitektur Perbankan Indonesia (API), untuk menghadirkan alternatif jasa perbankan yang semakin lengkap kepada masyarakat. Secara bersama-sama, sistem perbankan syariah dan perbankan konvensional secara sinergis mendukung mobilisasi dana masyarakat secara lebih luas untuk meningkatkan kemampuan pembiayaan bagi sektor-sektor perekonomian nasional.

Pasar keuangan syariah merupakan elemen baru di Indonesia, namun dalam 10 tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Hal itu dapat dilihat dari tumbuhnya perbankan syariah, asuransi syariah, dan reksadana syariah. Perbankan syariah di Indonesia, dipelopori oleh Bank Muamalat Indonesia.
Meski pertumbuhan aset perbankan syariah mampu mencatatkan pertumbuhan yang cukup tinggi yaitu 35,6% dari 2007 yang sebesar Rp 36,5 triliun. Namun dengan total aset Rp 49,5 triliun pada 2008, pangsa pasar bank syariah baru mencapai 2,08% dari total asset perbankan konvensional   Baca Selengkapnya>>

PERKEMBANGAN INDUSTRI KABEL DI INDONESIA  - Maret 2009
Industri kabel pasca krisis moneter tahun 1998 sangat terpuruk. Sampai tahun 2004 pemanfaatan kapasitas produksi hanya sekitar 25- 30% dari kapasitas produksi terpasang. Baru dalam tiga tahun terakhir yaitu semenjak tahun 2006, industri kabel mulai bergairah lagi.  Dari kapasitas terpasang sebesar 445 ribu ton/tahun, produksi kabel tahun 2007 hampir mencapai 300 ribu ton atau sekitar 65 %  dari kapasitas produksi. Maraknya pembangunan proyek pembangkit listrik dan juga makin bergairahnya pasar ekspor mampu mendukung pulihnya industri kabel.

Mendesaknya kebutuhan akan penambahan daya listrik mendorong Pemerintah membangun proyek pembangkit listrik baru dengan bahan bakar batubara. Tahap pertama Pemerintah merencanakan pembangunan 10.000 MW pembangkit listrik bertenaga uap yang diharapkan selesai tahun 2010 dan rencananya akan dilanjutkan dengan tahap berikutnya juga sebesar 10.000 MW. Baca Selengkapnya>>
 
2011
* Industri Baja
* Hot Rolled Plate
2010
2009
2006
Berita Singkat Perusahaan
Desember 2011

September 2011

Agustus 2011

Juli  2011

Juni 2011

Mei 2011
April 2011

Maret 2011

Februari 2011

Januari 2011

September 2010
Agustus 2010

Juli 2010

Juni 2010

Mei 2010
Februari 2010

Januari 2010

Desember 2009

November 2009

Oktober 2009
September 2009
Agustus 2009

Juli 2009

Juni 2009


Mei 2009

April 2009

Maret 2009

Februari 2009

Januari 2009

Desember 2008

November 2008

Oktober 2008

September 2008


About Us
DATA CONSULT's experiences in collecting and presenting information and reports nearly over two decades provides both an extensive data base of industries, companies and general economic indicators as well as detailed knowledge of how to obtain the information.
Read More        
 
HOME        Business Journal         Business Report         Single-Client Study         Credit Status Report        CONTACTS      
INDUSTRI BENIH TANAMAN PANGAN DI INDONESIA - April 2009

Produksi padi selama 2008 naik 4,76 persen menjadi 60,28 juta ton dibanding produksi 2007. Kenaikan produksi padi dalam empat tahun terakhir tidak lepas dari makin banyaknya penggunaan benih padi bersertifikat oleh petani. Hal ini terlihat dari kenaikan produksi  yang cukup tinggi dalam empat tahun terakhir yaitu dari 117 ribu ton tahun 2005 menjadi 177 ribu ton tahun 2008. Volume produksi benih padi bersertifikat ini kurang lebih separuh dari kebutuhan benih padi nasional yang mencapai 360 ribu ton per tahun

Tingginya permintaan ini telah mendorong investasi disektor pembenihan padi seperti terlihat dengan makin banyaknya perusahaan swasta  yang menanamkan modalnya  di sektor pembenihan  PT Sang Hyang Seri (SHS), BUMN di bidang pembenihan misalnya telah membangun fasilitas produksi baru dengan kapasitas produksi 10.000 ton benih per tahun.  Minat investasi juga datang dari perusahaan swasta asing diantaranya  PT BISI Internasional yang berafiliasi dengan grup Charoen Pokhpand, PT DuPont Indonesia (Pioneer), PT. Syngenta Indonesia dan PT Bayer Indonesia.  Baca Selengkapnya>>


PASAR MODAL DI IMDONESIA -  Mei 2009

Krisis keuangan global yang masih berlangsung hingga kini, mengakibatkan kondisi pasar keuangan dunia menjadi terpuruk, termasuk pasar modal di Indonesia. Hingga saat ini  pasar modal Indonesia masih bergulat di tengah krisis global yang menyebabkan pertumbuhan pasar modal melambat dan penundaan Initial Public Offering (IPO) dari sejumlah perusahaan akibat kondisi pasar modal yang belum menentu.

Rontoknya indeks bursa di hampir seluruh dunia pada Oktober 2008 lalu turut menghempaskan Indeks Harga Saham gabungan (HSG) hingga level terendah, yang mengakibatkan BEI terpaksa disuspend sebab mengalami penurunan signifikan. Puncaknya terjadi pada 8 Oktober 2008, IHSG terkoreksi sebesar 10,38% hingga menyentuh level  1.451,669. Namun dibuka kembali pada 13 Oktober 2008. Suspensi tersebut untuk memberikan perlindungan kepada investor dan pasar. Kemudian pasar modal kembali bergerak naik,  namun hal tersebut hanya disebabkan oleh dana jangka pendek. 
Baca selengkapnya>>

INDUSTRI MIE INSTAN - Juni 2009

Kenaikan harga komoditas di pasar internasional mengakibatkan inflasi yang tinggi dan melemahnya daya beli masyarakat. Sehingga mempengaruhi  pertumbuhan industri makanan termasuk industri mie instan. Penurunan terjadi terutama pada segmen bawah karena kenaikan  harga jual mie instan seiring dengan kenaikan harga tepung terigu sebagai bahan baku utama. Akibatnya sebagian produsen dari mie instan segmen bawah untuk sementara tidak berproduksi, karena anjloknya permintaan konsumen dari kalangan ini.    

Sedangkan permintaan mie instant dari segmen menengah atas tidak mengalami perubahan. Sehingga industri mie instan segmen menengah atas tetap bersaing ketat. Namun demikian, persaingan di segmen menengah atas tersebut sekarang berlangsung secara  lebih sehat. Sebab tidak lagi terjadi perang harga secara terbuka antara dua produsen besar yaitu Grup Indofood dengan Grup Wings, seperti yang terjadi tiga tahun belakangan ini. Semua produsen mie instan segmen menengah atas tersebut serentak menaikkan harga jual produknya menyesuaikan dengan kenaikan biaya produksi yang tinggi.      Baca Selengkapnya




INDUSTRI HULU MINYAK BUMI - Juli 2009

Industri minyak bumi dunia dalam empat tahun terakhir berkembang terutama didorong oleh kenaikan harga minyak mentah yang naik dan bertahan tinggi hingga puncaknya mencapai US$130 per barrel. Namun, tingginya harga tersebut tidak sepenuhnya menguntungkan Indonesia karena tingkat produksi yang justru cenderung turun. Perkembangan industri minyak bumi khususnya sektor hulu dalam beberapa tahun terakhir terkait dengan beberapa isu antara lain tingkat produksi yang cenderung turun dan tidak mampu mencapai target lifting.

Kondisi ini terjadi akibat sudah tuanya sumur-sumur minyak yang saat ini dieksploitasi. Beberapa perusahaan seperti Chevron pada tahun 2008 mengalami penurunan produksi yakni pada sumur minyak di Riau. Medco EP juga diperkirakan penurunan produksi minyak mentahnya pada tahun 2009.

Target lifting minyak bumi pada APBN 2009 ditetapkan sebesar 950.000 barrel per hari. Dalam dua bulan awal tahun 2009 target ini berhasil dilampaui terutama didorong oleh kenaikan lifting pada sumur minyak yang dioperasikan melalui sistem KKKS yakni masing-masing di sumur Petrochina Jabung, serta Pertamina EP dan BP Tangguh. Baca Selanjutnya>>


Stainless Steel  Report


PETERNAKAN AYAM DI INDONESIA - Agustus 2009

Di tengah tekanan yang mendera berbagai sektor industri di dalam negeri, sektor peternakan unggas tetap mampu bertahan. Industri peternakan di Indonesia sepanjang 2008 lalu menunjukkan kinerja yang cukup bagus. Bahkan dalam tahun 2009 ketika krisis global yang belum berlalu ketika  terjadi penurunan daya beli yang kemudian mendorong substitusi pangan ke produk unggas, industri perunggasan masih mampu bertahan. Produk unggas yang tetap bertahan di tengah krisis adalah ayam dan telur, yang termasuk sebagai protein hewani yang harganya relatif murah dibandingkan dengan harga daging sapi.

Sementara itu, dari sisi produksi terlihat kecenderungan yang meningkat pada produksi DOC broiler (Daily Old Chick) atau dikenal sebagai ayam pedaging yaitu melonjak menjadi 1,2 juta ekor pada 2008 dari tahun sebelumnya hanya 1,1 juta ekor. Demikian juga dengan produksi DOC layer atau ayam petelur tercatat naik dari 64 juta ekor pada 2007 menjadi 68 juta ekor pada 2008.  Selanjutnya
INDUSTRI ALUMINIUM SHEET DAN FOIL DI INDONESIA - September 2009

Secara umum industri aluminium nasional khususnya industri aluminium sheet dan aluminium foil belum berkembang optimal, hal ini ditunjukkan meski produksinya terus meningkat, namun kapasitas produksinya tetap stagnan. Dilihat dari sisi produksinya, industri aluminium nasional terus meningkat dari tahun ke tahun. Produksi aluminium sheet  meningkat menjadi sebesar 61,9  ribu ton pada 2008 dibandingkan dengan 2004 masih 54,4 ribu  ton. Demikian halnya dengan produksi aluminium foil dari sebesar 13,2 ribu ton pada 2004, naik menjadi sebesar 13,6 ribu ton pada 2008. 

Namun di sisi lain sejak lima tahun lalu (2004-2008) kapasitas produksi industri aluminium sheet dan aluminium foil stagnan tidak mengalami penambahan kapasitas. Kapasitas produksi aluminium sheet tidak mengalami perubahan terap sebesar 116 ribu ton per tahun. Sedangkan industri aluminium foil tercatat memiliki kapasitas produksi sebesar 20 ribu ton per tahun.       

Menurut rencana pada 2009 ini produsen aluminium sheet dan aluminium foil terbesar yaitu PT. Alumindo Light Metal Industry Tbk akan meningkatkan kapasitas produksi aluminium sheet dan aluminium foil masing-masing menjadi 144.000 ton/tahun dan 20.000 ton/tahun dari sebelumnya masiny-masing 70.000 ton/tahun dan 15.600 ton/tahun. Selengkapnya>


INDUSTRI PEMINTALAN (SPINNING) DI INDONESIA - Oktober 2009

Meski industri spinning belum mencapai pertumbuhan optimal, namun dalam dua tahun terakhir ini mengalami perkembangan yang cukup berarti. Hal ini terlihat dari tingkat produksi yang mengalami peningkatan dari 1.872 ribu ton pada 2006 menjadi 2.199 ribu ton pada 2008. Sementara tingkat utilisasi industri spinning juga meningkat menjadi 80,9% pada 2008 dari sebelumnya 78,1% pada 2006. 

Namun di sisi lain, ekspor produk spinning nasional merosot terus dalam dua tahun belakangan ini. Volume ekspor produk spinning merosot terus menjadi hanya 679 ribu ton atau senilai US$ 1.720 juta pada 2008, dibandingkan dengan 870 ribu ton senilai US$ 1.785 juta pada 2006. Penurunan ekspor tersebut juga dipengaruhi oleh krisis global, yang menyebabkan sejumlah negara pengimpor terpaksa mengurangi permintaan terhadap tektil dan produk tekstil. Baca selengkapnya>>

PERKEMBANGAN INDUSTRI MINYAK SAWIT DI INDONESIA - November 2009
Sektor minyak kelapa sawit Indonesia mengalami perkembangan yang berarti, hal ini terlihat dari total luas areal perkebunan kelapa sawit yang terus bertambah yaitu menjadi 7,3 juta hektar pada 2009 dari 7,0 juta hektar pada 2008. Sedangkan produksi minyak sawit (crude palm oil/CPO) terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari 19,2 juta ton pada 2008 meningkat menjadi 19,4 juta ton pada 2009. Sementara total ekspornya juga meningkat, pada 2008 tercatat  sebesar 18,1 juta ton kemudian menjadi 14,9 juta ton sampai dengan September 2009.  

Sampai saat ini Indonesia masih menempati posisi teratas sebagai negara produsen minyak kelapa sawit (CPO) terbesar dunia, dengan produksi sebesar 19,4 juta ton pada 2009. Dari total produksi tersebut diperkirakan hanya sekitar 25% sekitar 4,8 juta ton yang dikonsumsi oleh pasar domestik. Sehingga  sebagai penghasil CPO terbesar di dunia, Indonesia terus mengembangkan pasar ekspor baru untuk memasarkan produksinya.  Baca selengkapnya>>


OUTLOOK EKONOMI INDONESIA 2010 - Desember 2009
Berbeda dengan kondisi di awal tahun 2009, diipenghujung tahun 2009 telah muncul berbagai optimisme mengenai ekonomi dunia umumnya dan ekonomi Indonesia khususnya. Berbagai indikator ekonomi makro telah mulai menunjukkan adanya perbaikan dari ekonomi di negara besar dunia seperti Amerika Serikat, Jepang dan Eropah. Demikian juga mulai terrlihat indikator pulihnya sektor manufaktur di Cina dan India yang menunjukkan pasar ekspor dunia mulai bangkit kembali.

Ekonomi dunia juga dimotori oleh Cina terus menggeliat. Satu-persatu negara maju mulai keluar dari resesi ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi yang mulai positif seperti Amerika Serikat dan beberapa negara besr di Eropah. Dengan demikan pasar ekspor mulai tumbuh kembali dan memberikan peluang bagi Indonesia untuk memicu kembali ekspornya. Demikian juga di Indonesia, ternyata selama tahun 2009 ekonomi bisa tumbuh lebih tinggi dari perkiraan semula. Diawal tahun banyak pihak meramalkan tahun 2009 ekonomi Indonesia hanya akan tumbuh sekitar 3% - 3,5%, namun kenyataannya sampai bulan November 2009 ekonomi Indonesia bisa tumbuh sampai 4,2%. Baca selanjutnya>>
PROSPEK DAN PELUANG INVESTASI DI SEKTOR INFRASTRUKTUR - Januari 2010
Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek penting dan vital untuk  mempercepat proses pembangunan nasional. Infrastruktur juga memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Ini mengingat gerak laju dan pertumbuhan ekonomi suatu negara tidak dapat pisahkan dari ketersediaan infrastruktur seperti sarana  transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan energi.  Infrastruktur transportasi berperan sebagai tulang punggung dalam proses produksi maupun dalam menunjang mobilisasi manusia dan distribusi komoditi ekonomi dan ekspor. Sarana dan prasarana lainnya seperti telekomunikasi, listrik, dan air juga merupakan elemen sangat penting dalam proses produksi dari sektor-sektor ekonomi seperti perdagangan, industri, dan pertanian. 

Pemerintah telah menargetkan pertumbuhan ekonomi tahun 2012 sebesar 7 persen.  Untuk mencapai target tersebut maka infrastruktur harus didorong  agar bisa menstimulasi iklim usaha dan tidak menimbulkan hambatan dalam distribusi barang. Seperti disampaikan oleh ketua Bappenas, diperkirakan   sekitar Rp 1,400 trilliun dibutuhkan untuk  investasi sektor  infrastruktur selama periode 2010-2014. Baca Selanjutnya>>



INDUSTRI GAS ALAM DI INDONESIA - Februari 2010
Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan gas alam  atau gas bumi semakin meningkat seiring semakin luasnya penggunaan gas alam sumber energi ini baik untuk industri maupun untuk rumah tangga dan sebagai bahan baku industri terutama untuk industri pupuk.

Konsumsi gas alam sebagai energi final adalah ketiga terbesar setelah BBM dan  batubara, lebih tinggi dari listrik dan LPG. Prosentasi (share) konsumsi gas alam mencapai 13,7 persen pada tahun 2008.Beberapa masalah terkait industri gas alam selain produksi adalah pasokan untuk kebutuhan dalam negeri yang terbatas. Akibat terbatasnya pasokan gas maka kelangsungan pengembangan industri pupuk sempat terganggu karena belum adanya jaminan pasokan gas. 

Baca Selanjutnya >>



INDUSTRI POLY ETHYLENE (PP) RESIN DI INDONESIA - April 2010
Krisis ekonomi global  sejak 2008, telah berdampak terhadap industri bahan baku plastik termasuk polyethylene (PE). Melemahnya pasar ekspor dan menurunnya pasar di dalam negeri menyebabkan  menumpuknya stok bahan baku plastik termasuk polyethylene (PE), karena tidak terserap oleh industri hilir (produsen plastik.  Hal ini menyebabkan produksi PE mengalami penurunan menjadi 425 ribu ton pada 2008, atau turun 11,3% dibanding tahun sebelumnya 479 ribu. Namun seiring dengan mulai membaiknya perekonomian dunia, produksi PE kembali naik terutama di kwartal terakhir tahun2009 lalu.   
Menurut Inaplas konsumsi bahan baku plastik awal 2009 mengalami penurunan sebesar 5%. Rata-rata konsumsi plastik sekitar 20 ribu ton per bulan. Menurunnya daya beli masyarakat  akibat lonjakan harga pangan yang sangat tinggi yang pada gilirannya  menurunkan konsumsi pangan yang menggunakan kemasan plastik. Besarnya permintaan terhadap PE bergantung kepada fluktuasi kebutuhan dari industri pemakai tutamanya yaitu industri plastik dan kemasan.  Saat ini kemasan plastik masih menjadi bahan kemasan utama bagi industri makanan dan minuman karena praktis dan relatif murah. Menurut Inaplas, potensi pasar plastik Indonesia sangat besar diperkirakan akan mencapai 4 juta ton pada 2015. Selanjutnya
INDUSTRI OTOMOTIF  DI INDONESIA - Maret 2010
Krisis finansial  global sejak  tahun 2008 yang masih terasa dampaknya hingga kini, telah mempengaruhi kinerja sektor otomotif di Indonesia terutama pada tahun 2009. Menurut laporan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tingkat produksi dan penjualan mobil 2009 mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Tingkat produksi merosot  menjadi hanya 464.815 unit pada 2009 dibandingkan tahun sebelumnya 600.628 unit atau mengalami penurunan sebesar 22,6%.

Sedangkan tingkat penjualan melemah 19,9% menjadi hanya 483.548 unit pada 2009. Meski jumlah ini mampu melampaui target yang ditetapkan Gaikindo sebesar 450.000 unit, namun penjualan tidak secerah tahun 2008 yang tercatat 603.774 unit sebagai penjualan tertinggi dalam lima tahun terakhir.  Penurunan penjualan ini disebabkan oleh melemahnya nilai Rupiah pada waktu itu, yang menyebabkan kenaikan harga mobil sehingga konsumen menunda untuk membeli mobil. Selanjutnya

AGRIBISNIS GULA TEBU DI INDONESIA - Mei 2010
Sejalan dengan pertumbuhan industri gula nasional, sektor perkebunan tebu sebagai pendukung utama industri gula juga tumbuh. Perkebunan tebu di Indonesia terus berkembang, hal ini ditunjukkan dengan luas area perkebunan yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Sampai dengan 2009 luas lahan perkebunan tebu di Indonesia 473 ribu ha atau naik 2,9% dibanding 460 ribu ha pada 2008. Peningkatan ini terjadi karena perluasan areal di beberapa wilayah. Untuk tahun 2008 perluasan areal tidak hanya di luar Jawa tetapi juga dilakukan di Jawa karena masih ada areal yang bisa dikembangkan.  

Selama ini perkebunan tebu masih lebih banyak terkonsentrasi di pulau Jawa. Namun saat ini sudah mulai dikembangkan ke luar Jawa mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan dan Gorontalo sedangkan di daerah Jawa yaitu, Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur. Sedangkan untuk pengembangan perkebunan tebu di Indonesia, akan dilanjutkan ke Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Riau, Merauke, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara. Selanjutnya>>




INDUSTRI ALAT BERAT DI INDONESIA - Juni 2010
Industri alat berat pada tahun 2010 telah mampu kembali bangkit setelah terpuruk tahun 2009 yang lalu sebagai imbas krisis finansial dunia yang menyebabkan banyaknya proyek konstruksi dan properti yang ditunda dan sulitnya memperoleh  pembiayaan untuk pembelian alat berat karena sektor keuangan saat itu sedang terkena imbas krisis finansial dunia sehingga kucuran kredit dari lembaga pembiayaan sulit didapat.

Industri alat berat sempat mengalami pukulan yang hebat akibat krisis finansial global pada tahun 2009. Produksi alat berat nasional menurun dari 5914 unit tahun 2008 menjadi hanya 1814 unit tahun 2009. Produsen utama alat berat di Indonesia yaitu Komatsu, Caterpillar dan Hitachi sempat mengalami penurunan penjualan. 

Padahal pada tahun 2008 industri alat berat mengalami pertumbuhan yang pesat dengan maraknya pertambangan batubara dan perluasan kebun kelapa sawit. Demikian juga sektor konstruksi dan properti tumbuh pesat sehingga permintaan terhadap berbagai alat berat sangat tinggi.  Selanjutnya>>
PASAR PERALATAN KANTOR DI INDONESIA - Juli 2010
Sejalan dengan pertumbuhan sektor keuangan dan perbankan di Indonesia maka industri penunjangnya juga mengalami pertumbuhan. Salah satunya adalah industri perabot logam tahan api seperti lemari besi (safes), safe deposit box, lemari kabinet tahan api dan pintu khasanah (vault door) yang banyak digunakan untuk operasional kantor bank dan kantor perusahaan multifinance.

Selain perbankan  dan industri keuangan bidang usaha yang menjadi  pemakai utama perabotan logam tahan api adalah perdaganagn emas, hypermarket, pompa bensin dan usaha perdaganagn eceran yang melibatkan transaksi berupa  uang cash yang besar yang membutuhkan lemari besi untuk kegiatan usahanya. Sektor retail ini juga tumbuh pesat seperti ditunjukkan dengan pesatnya penambahan gerai dari perusahaan ritel.

Tingginya permintaan terhadap produk perabotan logam tahan api  tersebut ditandai dengan makin banyaknya perusahaan lokal yang mulai memproduksi didalam negeri. Industri perabotan logam ini semenjak lima tahun terakhir mulai berkembang pesat baik industri skala besar seperti merk Chubbsafe maupun industri skala menengah. Selain Chubbsafe, produsen dan pemasok lemari besi yang besar diantaranya merk Mosler dan Solingen. Baca Selanjutnya>



INDUSTRI SEWA GUNA USAHA DI INDONESIA - Agustus 2010
Pertumbuhan bisnis pembiayaan di dalam negeri cukup pesat dalam tiga tahun terkahir ini, meski di tahun 2009 sedikit melambat dibanding tahun-tahun sebelumnya, hal ini terutama akibat dari imbas krisis ekonomi global yang terjadi akhir 2008. Menurut Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) pertumbuhan nilai pembiayaan industri multifinance sekitar 17,4% per tahun dalam periode lima tahun terkahir.

Pembiayaan konsumen dan sewa guna usaha masih mendominasi industri tahun 2009 lalu. Saat ini bisnis pembiayaan menjadi penopang utama penjualan otomotif dan penjualan alat berat. Sebab hampir 80% penjualan otomotif dibiayai secara kredit. Menurut APPI potensi penjualan kredit dari penjualan mobil dan motor baru diperkirakan bisa mencapai Rp 110 triliun untuk 2010 ini. Sementara untuk anjak piutang dan kartu kredit, nilai transaksinya relatif kecil karena belum banyak dikenal masyarakat. Selanjutnya>>
INDUSTRI SEMEN DI INDONESIA - September 2010
Menyusul perbaikan perekonomian dalam negeri pada tahun 2010 ini, membawa dampak positif bagi industri semen. Sebab ditengah pemulihan ekonomi, sejumlah proyek properti dan infrastruktur kembali berjalan. Secara umum  produk semen di dalam negeri dikonsumsi mayoritas oleh segmen  residensial, karena di Indonesia masih cenderung kalau ekonomi tumbuh, orang ingin memperbaiki rumahnya. 

Namun sebelumnya pada 2009 pertumbuhan industri semen agak melemah akibat krisis ekonomi global yang terjadi sejak akhir 2008 lalu. Hal ini terlihat dari produksi semen yang mengalami penurunan 3,6% menjadi 36,9 juta ton pada 2009 dibanding tahun sebelumnya 38,3 juta ton. Sementara itu, kapasitas produksi industri semen tercatat sebesar  47,9  juta ton per tahun pada 2009 atau meningkat 9,0% dari tahun sebelumnya hanya 44,0 juta ton per tahun. Namun kapasitas ini tidak beroperasi optimal akibat daya serap pasar yang melamah pada 2009 lalu.     Selanjutnya>>




OUTLOOK iNDUSTRI MANUFAKTUR 2011 - Desember 2010
Memasuki tahun 2011, sektor industri pengolaha2010 ekspor sektor manufaktur telah kembali pulih sehingga menggerakkan kembali sektor industri di dalam negeri. Pada tahun 2009, sektor industri manufaktur terpukul dengan adanya krisis finansial global yang menyebabkan ekonomi di negara maju melemah. Akibatnya pasar ekspor menyusut dan sebagian besar industri manufaktur yang berorientasi ekspor mulai dilanda kelesuan. 

Pada tahun 2009 ekspor  sektor industri pengolahan  non-migas turun sebesar  16,6% dibanding tahun sebelumnya. Memasuki tahun 2010, pasar ekspor mulai bangkit kembali demikian juga pasar domestik. Sehingga secara keseluruhan ekspor sektor industri manufaktur pada tahun 2010 mencapai US$ 98 milyar atau meningkat sebesar 33,5% dibanding ekspor tahun 2010. Nilai ini bahkan diatas nilai ekspor tertinggi yang pernah dicapai tahun 2008 yaitu sebesar UIS$ 88 milyar.

Keadaan ini telah mengundang optimisme bahwa tahun 2011 industri pengolahan akan bisa meningkat lebih baik lagi karena pasar ekspor dunia makin meningkat. Selanjutnya>>
PERTAMBANGAN BATUBARA DI INDONESIA - Oktober 2010
Semenjak harga minyak dunia meroket tahun 2008, konsumsi batubara dunia kembali meningkatkan sebagai sumber energi. Hal ini terlihat dengan meningkatnya perdagangan batubara dunia yang meningkat cukup besar semenjak tahun 2004 yang lalu.

Peningkatan pasar batubara dunia terjadi seiring dengan peningkatan permintaan terhadap kebutuhan energi di India dan Cina yang ekonominya berkembang pesat. Peningkatan permintaan terhadap batubara juga terjadi di negara-negara Asean karena upaya mereka mencari energi alternatif pengganti  minyak bumi yang harganya tetap tinggi akhir-akhir ini.

Dalam lima tahun terakhir perdagangan batubara meningkat pesat dari 755 juta ton tahun 2004 menjadi 941 juta ton tahun 2009. Konsumsi batubara sendiri diperkirakan mencapai 4.646 juta ton tahun 2004. Semakin pentingnya batubara sebagai sumber energi juga terlihat dari makin dominannya perdaganagn batubara jenis jenis batubara uap yang digunakan sebagai sumber energi untuk listrik atau untuk  boiler. Pada tahun 1995 perdagangan batubara dunia,  jenis batubara uap (steam) baru mencapai 297 juta ton, kemudian meningkat pesat sehingga mencapai 709 juta ton tahun 2009.    Selanjutnya>>
INDUSTRI PERBANKAN DI INDONESIA - November 2010
Perbankan Indonesia dalam dua tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup pesat baik dalam nilai aset, kredit maupun tingkat labanya. Perkembangan sektor ini tidak terlepas dari pertumbuhan sektor riil hingga 6% sehingga masih terus menyerap ekspansi kredit.

Kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia relatif cukup bersahabat bagi perbankan dengan mempertahankan BI Rate yang cukup kompetitif sepanjang tahun 2010 sehingga menyediakan potensi dana jangka pendek bagi perbankan melalui arus masuk modal dari luar negeri yang tengah marak. Namun Bank Indonesia juga cukup berhati-hati dalam mengelola modal asing jangka pendek yang masuk ke Indonesia yaitu dengan mengambil kebijakan  merubah SBI dengan tenor  1 bulan dan 3 bulan menjadi lebih panjang yaitu  diatas 6 bulan dan mengarahkan investasi asing ke surat berharga lainnya seperti Surat Berharga Negara (SBN) 1 tahun, sehingga bisa menahan lebih lama dana asing yang ditanamkan diperbankan Indonesia.Selanjutnya>>

INDUSTRI PULP DAN KERTAS DI INDONESIA - Januari 2011
Indonesia berpotensi untuk menjadi tiga besar dalam industri pulp dan kertas di dunia, antara lain karena produksi pulp dan kertas di Tanah Air diuntungkan oleh berbagai kondisi alam dan geografis di khatulistiwa. Saat ini Indonesia menempati peringkat 11 dunia untuk industri kertas dan peringkat sembilan dunia untuk industri pulp.

Persaingan global dalam bisnis pulp dan kertas sangat keras dan persyaratan lingkungan yang diterapkan juga semakin lama semakin ketat. Apalagi hemat energi dan ramah lingkungan sekarang telah menjadi tuntutan bisnis karena negara-negara tujuan ekspor dan para pembeli produk semakin menuntut adanya pulp dan kertas yang diproduksi dari sumber yang legal, yang dilengkapi dengan sertifikasi resmi mengenai legalitasnya.

Tahun 2011 ekspor kertas dari Indonesia masih akan diwarnai dengan tuduhan dumping, karena harga kertas Indonesia sangat kompetitif di beberapa negara tujuan ekspor. Setiap tahun selalu ada negara tujuan ekspor kertas Indonesia yang melakukan tuduhan dumping. Industri kertas dan pemerintah terus melakukan perlawanan antara lain melalui lembaga internasional seperti WTO.  Baca selanjutnya>>
PERTAMBANGAN MINERAL LOGAM DI INDONESIA - Februari 2011
Komoditi mineral logam di Indonesia cenderung  mengalami penurunan kinerjanya setahun terakhir ini karena timbulnya beberapa kondisi yang kurang mendukung sektor industri ini. Beberapa pertambangan mineral logam sedang mengalami fase penurunan produksi karena proses perluasan lahan, selain itu kadar bijih mineral yang rendah serta curah hujan yang tinggi juga menghambat produktivitas pada sebagian besar pertambangan mineral logam sehingga produksi merosot pada tahun 2010 lalu.

Kebutuhan pada beberapa komoditi mineral logam dunia memang meningkat, tetapi penurunan permintaan juga diperkirakan akan terjadi pada beberapa komoditi, salah satunya nikel, karena dampak tsunami di Jepang pada 11 maret 2011 lalu. Seberapa besar dampak bencana gempa dan tsunami di Jepang terhadap aktivitas pertambangan di Indonesia, memang butuh waktu untuk mengetahui angka pastinya.

Kondisi ini memaksa para pengusaha pertambangan di Indonesia mencari pasar baru sebagai pengganti pasar Jepang. Karena Jepang pasti masih dalam tahap recovery dan diperkirakan kebutuhan nikel baru pulih sekitar 2 tahun kedepan. Baca Selanjutnya>>


INDUSTRI TELEKOMUNIKASI SELULER DI INDONESIA - Maret 2011
Industri telepon seluler berkembang pesat di Indonesia sejak 15 tahun lalu, ini terlihat dari jumlah pelanggan telepon seluler yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia  tercatat menempati posisi keempat di Asia setelah Korea Selatan, China dan Jepang. 

Saat ini di Indonesia beroperasi 7 operator seluler dengan teknologi GSM (Global System for Mobile) dan lainnya ada 4 operator CDMA (Code Division Multiple Access). Menurut data Dirjen Postel, dalam periode 2006-2010 pertumbuhan rata-rata per tahun pengguna seluler di Indonesia adalah 31,9% per tahun. Hingga akhir 2010  jumlah pelanggan selular mencapai 211 juta, dimana operator GSM mendominasi 95% pasar selular, sisanya merupakan pasar CDMA  5%. Sedangkan skema pembayaran selular didominasi pra-bayar (94%) dan sisanya 6% pasca-bayar.

Telkomsel sebagai pemimpin pasar,  pelanggannya sudah mencapai 94 juta pada 2010 dengan pangsa pasar sekitar 44,5%. Baca Selanjutnya>>

PERKEMBANGAN INDUSTRI MOBIL DI INDONESIA - April 2011
Selama tahun 2010 pasar mobil bergairah kembali karena ekonomi dunia mulai pulih. Penjualan mobil tahun 2010  meningkat hingga mencapai 764.710 unit, atau meningkat sebesar 51,14% dari tahun 2009. Penjualan mobil pada tahun 2010 tersebut merupakan rekor baru yaitu sebesar. Rekor tertinggi penjualan mobil sebelummnya dicapai tahun 2008 yaitu mencapai 603.774 unit.

Sebelumnya akibat krisis finansial  global pada  tahun 2009, kinerja sektor otomotif di Indonesia sangat terpuruk. Menurut laporan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tingkat produksi dan penjualan mobil pada tahun 2009 mengalami penurunan yang cukup signifikan  dibanding tahun 2008 sebelumnya. Tingkat produksi merosot  menjadi hanya 464.816 unit pada 2009 dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 600.628 unit atau mengalami penurunan sebesar 22,6%. Sedangkan tingkat penjualan pada tahun 2009 melemah 19,9% menjadi hanya 483.548 unit pada 2009.

Penurunan penjualan ini disebabkan oleh melemahnya nilai Rupiah pada waktu itu, yang menyebabkan kenaikan harga mobil sehingga konsumen menunda untuk membeli mobil. Selanjutnya>>
INDUSTRI TENAGA LISTRIK DI INDONESIA - Mei 2011        
Secara umum sektor kelistrikan mengalami pertumbuhan yang cukup baik walaupun masih menghadapi kendala keterbatasan kemampuan pembangkit. , Dalam lima tahun terakhir produksi energi listrik  di Indonesia yang dihasilkan oleh   PT. PLN sebagai BUMN yang bertugas sebagai penyedia tenaga listrik terus meningkat. Produksi listrik tercatat sebesar 133.109,00 GWh pada 2006, kemudian terus meningkat hingga mencapai 160.786,21 GWh.pada 2010. 
 
Sementara itu, pertumbuhan kebutuhan listrik tiap tahun rata-rata mencapai 7%. Namun karena pemerintah terlambat mengantisipasi laju pertumbuhan ini, sistim ketenaga listrikan di sejumlah wilayah di Jawa dan luar Jawa sangat rentan terhadap pemadaman apabila terjadi gangguan dari operasi pembangkit karena keterbatasan kapasitas pembangkit. Upaya mengatasinya telah dilakukan melalui percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW dan mulai memberi hasil karena pada tahun 2011 makin berkurang frekwensi pemadaman terutama di P. Jawa.  Pada 2010 dijadwalkan penyelesaian  tambahan proyek pembangkit listrik dengan kapasitas 2.400 MW. Dengan demikian, total 4.300 MW kapasitas listrik pembangkit dari proyek 10.000 MW akan selesai pembangunannya per tahun 2010. Baca Selanjutnya>>


INDUSTRI RITEL MODERN DI INDONESIA - Juni 2011
Pada 2009 satu lagi ritel asing yaitu Grup Lotte dari Korea Selatan masuk ke Indonesia, dengan mengakuisisi Makro yang sebelumnya dimiliki oleh SHV Holding dari Belanda senilai US$ 223 juta. Setelah diakuisisi kini Makro berubah menjadi Lotte Mart. Grup Lotte manjalankan bisnis ritel sejak 1979, mengoperasikan lebih dari 90 gerai di berbagai negara diantaranya Cina, Rusia, Vietnam, dan India.

Peta persaingan ritel semakin ketat, setelah 40% saham Carrefour yang merupakan leader hypermarket diakuisisi oleh CT Corporation anak perusahaan Grup Para dengan nilai sekitar US$ 350 juta pada 2010. Grup Para milik Chairul Tanjung, seorang pengusaha lokal yang lebih dulu sudah menguasai bisnis televisi, perbankan, asuransi, pembiayaan dan sebagainya.     

Dalam lima tahun terakhir peningkatan omset ritel modern cukup pesat, hal ini juga didukung oleh pertumbuhan jumlah ritel yang pesat yaitu mencapai 18.152 gerai pada 2011, dibandingkan 10.365 gerai pada 2007. Selanjutnya>>

PERKEBUNAN DAN INDUSTRI PALM OIL DI INDONESIA - Juli 2011
Sektor industri minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia terus tumbuh pesat dari tahun ke tahun. Produksi CPO meningkat menjadi 21,0 juta pada 2010 dari tahun sebelumnya 19,4 juta ton. Pada 2011 ini produksi diperkirakan akan naik 4,7% menjadi sekitar 22,0 juta ton. Sementara itu, total ekspor juga meningkat, pada 2010 tercatat sekitar 15,65 juta ton, kemudian diperkirakan akan melonjak menjadi 18,0 juta ton pada 2011.  Sampai saat ini Indonesia masih menempati posisi teratas sebagai negara produsen CPO terbesar dunia, dengan produksi sebesar 21,8 juta ton pada 2010. Dari total produksi tersebut diperkirakan hanya sekitar 25% sekitar 5,45 juta ton yang dikonsumsi oleh pasar domestik. Sebagai penghasil CPO terbesar di dunia, Indonesia terus mengembangkan pasar ekspor baru untuk memasarkan produksinya dan memperbesar pasar yang sudah ada. Misalnya Pakistan, Bangladesh, dan Eropa Timur serta China. 
 
Peningkatan produksi CPO didukung oleh total luas areal perkebunan kelapa sawit yang terus bertambah yaitu menjadi 7,9 juta hektar pada 2011 dari 7,5 juta hektar pada 2010. Saat ini pemerintah menetapkan perbaikan infrastruktur di semua lahan CPO yang ada di Indonesia termasuk lima kluster dasar yang telah disiapkan oleh pemerintah yaitu Pantai Utara Jawa, Pantai Timur Sumatera, Kalimantan Timur, daerah Sulawesi dan Merauke. Baca Selanjutnya>>

INDUSTRI COLD STORAGE DI JAKARTA DAN SEKITARNYA - Agustus 2011 
Bisnis cold storage berperan penting sebagai penyedia fasilitas ruang penyimpanan dingin bagi produk yang membutuhkan penympanan pada suhu dingin tertentu untuk menjaga mutu produk tersebut.  Bisnis ini merupakan pendukung utama dari berbagai sektor industri termasuk industri pengolahan makanan, industri perikanan, retail jaringan, restaurant chain store, importer daging dan sebagainya. Fasilitas cold storage milik perusahaan logistik pada umumnya selain digunakan sendiri juga sebagian disewakan kepada pihak lain. 

Sejauh ini diperkirakan terdapat sekitar 40 perusahaan cold storage yang tersebar di Jakarta dan wilayah sekitarnya meliputi Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Sementara itu, diantaranya sebanyak 28 perusahaan memiliki total kapasitas sebesar 75.056 ton.  Permintaan terhadap fasilitas cold storage bisa diperkirakan berdasarkan konsumsi produk (daging, buah-buahan, sayuran, kentang beku, ikan, udang, dll) di wilayah Jakarta dan sekitarnya dan frekuensi rata-rata penyimpanan produk. Konsumsi produk (daging, buah-buahan, sayuran, kentang beku, ikan, udang, dll) di wilayah Jakarta dan sekitarnya pada 2009 diperkirakan rata-rata 441.000 ton/bulan. Selanjutnya>>

INDUSTRI PASTA GIGI DI iNDONESIA - September 2011
Indonesia merupakan salah satu negara yang berhasil meraih tingkat pertumbuhan ekonomi yang  cukup tinggi pada 2009 hingga 2011, ketika sejumlah negara maju banyak mengalami kontraksi, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5% pada 2009 hany a lebih rendah dibandingkan  tingkat pertumbuhan ekonomi di China dan India. Pada 2010, Indonesia mencatat pertumbuhan lebih tinggi yaitu mencapai 6,1% dan pertumbuhan ekonomi ini terus berlanjut pada 2011. 

Pasar domestik yang besar dan kebijakan kehati-hatian yang diterapkan oleh pemerintah dan industri perbankan menyelamatkan negara ini dari dampak krisis keuangan global. Peningkatan pada permintaan domestic dan daya beli masyarakat pada 2010 mendorong kenaikan inflasi, namun tetap dalam pengendalian. Inflasi tercatat 6,9% pada 2010 dan menjadi lebih rendah pada 2011. Kekuatan pertumbuah konsumsi domestic didukung oleh pertumbumbuhan kebutuhan barang-barang konsumer termasuk pasta gigi.  Baca Selanjutnya>>


OUTLOOK INDUSTRI MANUFAKTUR DI INDONESIA 2012 - Desember 2011
Tahun 2011 yang lalu ditandai oleh kebangkitan kembali sektor manufaktur, seperti terlihat dari kinerja ekspornya maupun juga kontribusinya dalam pertumbuhan ekonomi nasional yang meningkat. Industri manufaktur selama ini dibayangi oleh ancaman deindustrialisasi karena banyaknya pabrik tua yang sudah tidak kompetitif lagi dan kurangnya minat investasi. Selama-lama bertahun-tahun semenjak krisis monter yang terjadi pada tahun 1998 yang lalu industri manufaktur belum sepenuhnya bisa pulih kembali seperti terlihat dari pertumbuhan sektor ini yang rata-rata kurang dari 5% per tahun. Baru pada tahun 2011 sektor industri manufaktur mulai menunjukkan kebangkitan kembali seperti yang ditunjukkan oleh pertumbuhan PDB yang mencapai 6,2% dan pertumbuhan ekspor yang  mencapai 24,6%. Baca Selanjutnya>>