2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
September 2011

INDUSTRI SHAMPOO PERTUMBUHANNYA LAMBAT


Industri shampoo di Indonesia berkembang  seiring dengan pertumbuhan populasi penduduk yang mencapai 238 juta jiwa pada 2010 dan menyusul perbaikan ekonomi di dalam negeri.  Pertumbuhan industri shampoo cukup baik, hal ini ditunjukkan oleh produksi yang terus meningkat walaupun tidak begitu tinggi peningkatannya. Produksi shampoo nasional berfluktuasi tercatat sebesar 31 ribu ton pada 2005, kemudian meningkat menjadi 33 ribu ton pada 2009. Namun di sisi lain, dalam periode 2005-2009 kapasitas produksi industri shampoo di dalam negeri stagnan yaitu 32 ribu ton per tahun.  

Saat ini industri shampoo di dalam negeri, dikuasai oleh dua pemain besar yaitu PT. Unilever Indonesia Tbk dengan produk andalannya Sunsilk dan PT. Procter & Gamble yang memasarkan produk Pantene. Kedua produsen besar ini juga dikenal sebagai produsen consumer goods lain seperti produk personal care, skin care, home toiletries dan sebagainya.  

Produk shampoo dibutuhkan oleh hampir semua orang dari seluruh lapisan masyarakat. Shampoo merupakan salah satu kategori produk toiletries  dengan tingkat persaingan yang ketat. Dimana produsen besar terus berlomba-lomba melakukan promosi produknya melalui perang iklan televisi yang semakin gencar. Setiap hari siaran televisi dipenuhi oleh iklan shampoo Sunslik, Clear dan Pantene yang memasang bintang iklan dari kalangan selebritis papan atas.     

Kapasitas produksi stagnan

Secara umum, pada periode 2005-2009 kapasitas produksi industri shampoo nasional stagnan yaitu 32 ribu ton per tahun. Hal ini disebabkan karena belum adanya peningkatan kapasitas dari para produsen dan belum ada investasi baru yang masuk kedalam industri ini.

Produksi meningkat rata-rata 2,0% per tahun

Produksi shampoo tidak begitu banyak mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dalam periode 2005-2009 produksi shampoo hanya mengalami pertumbuhan rata-rata 2,0% per tahun. Jika pada 2005 masih tercatat sebesar 31 ribu ton, maka pada 2009 meningkat mencapai 33 ribu ton. Angka produksi lebih tinggi dibandingkan  dengan kapasitas produksinya. Hal ini menunjukkan belum adanya investasi basu maupun perluasan di industri ini karena pertumbuhnnya relatif rendah.

Dengan melihat pertumbuhan produksi dan meningkatnya kebutuhan terhadap shampoo dalam beberapa tahun teakhir, diperkirakan produksi meningkat menjadi masing-masing sekitar 34,4  ribu dan 35  ribu pada 2010 dan 2011.

Secara umum produksi shampoo dibedakan menjadi dua kategori yaitu shampoo biasa  dan shampoo perawatan. Dari segi volume, produksi shampoo biasa mendominasi pasar dubandingkan dengan shampoo perawatan yang menggunakan bahan baku herbal.

Tingkat utilisasi meningkat        

Sejak 2007 industri shampoo nasional full utilized capacity,  hal ini untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang cukup besar. Pada tahun itu dengan produksi sebesar 33,7 ribu ton, tingkat utilisasi industri shampoo mencapai sekitar 105,4%. Tingkat utilisasi industri shampoo terus meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi dari tahun ke tahun. Pada 2008 dengan produksi sebesar 33,1  ribu ton maka utilisasi sebesar 103,3% dan pada 2009 dengan produksi 33,7 ribu ton memiliki utilisasi 105,4%.

Pemain besar

PT. Unilever Indonesia Tbk
Perusahaan ini mulai beroperasi di Indonesia pada 1933 dikenal sebagai produsen sabun mandi dengan merek Lux.  PT. Unilever Indonesia Tbk merupakan pelopor produsen shampoo di Indonesia dengan memproduksi shampoo merek Sunslik sejak 1952. Pabrik pertamanya berlokasi di Surabaya, Jawa Timur, pada awal produksinya Unilever menggunakan kemasan botol kaca. Kemudian pada 1970 Unilever meluncurkan produk shampoo Sunslik menggunakan kemasan botol plastik, agar lebih praktis dan tidak mudah pecah.

Perkembangan shampoo Sunsilk cukup pesat, pada 1975 dipasarkan varian Sunsilk Hitam, jenis ini menjadi produk andalan  Sunsilk. Kemudian pada 1999 Sunslik diperkaya dengan varian baru lain yaitu Fruitamin.  

Setelah Sunsilk berhasil menguasai pasar shampoo, Unilever kemudian memproduksi shampoo dengan merek Lifebouy, Clear dan Dove. Sunsilk ditujukan untuk perawatan kecantikan rambut,  Clear untuk kesehatan rambut,  Lifebouy untuk segmen keluarga, sedangkan Dove juga  untuk kecantikan rambut namun untuk segmen premium. Dove fokus untuk  perawatan rambut rusak, sementara Sunsilk lebih kepada pasar match beauty dan menawarkan lebih banyak varian untuk kecantikan rambut. Mulai dari rambut  hitam panjang, diwarnai, kering, rontok, dan sebagainya.

Saat ini Unilever mengoperasikan 6 unit pabrik di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat dan 2 unit pabrik di Kawasan Industri Rungkut, Surabaya, Jawa Timur. Unilever memiliki 32 brand utama yang meliputi produk personal care, household cleaner, makanan dan sebagainya. Untuk menangani distribusi produk, Unilever memiliki 700 cabang dan memiliki sekitar 370 distributor independen yang memasarkan semua produk Unilever ke seluruh wilayah Indonesia.  
 

PT. Procter  & Gamble Indonesia
Procter & Gamble Co (P & G) merupakan perusahaan multinasional yang berdiri pada 1837 yang berpusat di USA, bergerak dalam bidang industri personal car, health care dan household cleaner. P & G memiliki sekitar 54 merek yang dipasarkan ke seluruh dunia. Sementara itu PT. Procter & Gamble Indonesia (PT. P & G Indonesia) berdiri pada 1989, perusahaan ini menangani distribusi sebagian produk P & G untuk pemasaran di seluruh Indonesia yaitu alat cukur (merek Gillette),  perawatan wajah (Olay), pasta dan sikat gigi (Oral B), pelembut pakaian (Downy), battere dan senter (Duracell) dan popok sekali pakai (Pampers).  

Di Indonesia P & G memasarkan shampoo merek Pantene, Rejoice dan Head & Shoulders. Saat ini shampoo Pantene memiliki empat jenis varian yaitu anti dandruff, total care, hair fall, smooth & silky, baru-baru ini Pantene meluncurkan varian baru Nature Care.

Sejak 2004 produk P&G yang dijual di pasar Indonesia bukan diproduksi di dalam negeri. Produk yang dijual di regional ASEAN, merupakan shampoo yang diproduksi P & G di Thailand, Vietnam, Filipina dan Malaysia karena biaya produksinya yang lebih murah.

Khusus untuk pabrik P&G di Thailand menghasilkan skincare dan shampoo, Filipina menghasilkan homecare seperti deterjen dan pampers, Vietnam menghasilkan pampers, deterjen bubuk, dan Malaysia menghasilkan makanan ringan Pringles. P & G mentargetkan jumlah konsumen produk P&G di seluruh dunia mencapai 5 miliar jiwa pada 2015. Saat ini, konsumen produk P&G sudah mencapai 4 miliar jiwa.

Pada 2011 PT P & G Home Products Indonesia melakukan investasi sebesar US$ 100 juta untuk membagun pabrik pertamanya  di Indonesia. Pembangunan pabrik popok sekali pakai ini akan dilakukan dalam jangka waktu 3 tahun mendatang. Pabrik ini  akan menjadi pabrik pertama di Indonesia yang menerima sertifikasi LEED (Leadership in Energy & Environmental Design), yaitu sistem sertifikasi internasional yang diberikan oleh Green Building Council Amerika Serikat kepada bangunan yang memenuhi sejumlah kriteria ramah lingkungan.

Pabrik baru ini berlokasi di Karawang, Jawa Barat akan dilengkapi dengan fasilitas modern untuk memproduksi popok bayi merek Pampers. Produk tersebut nantinya akan menyuplai produk P&G di pasar kawasan ASEAN.

Sementara itu, PT. P & G Indonesia merencanakan akan bekerjasama dengan PTPN III untuk masuk ke sektor industri oleokimia di Klaster Industri Sei Mangke,  Sumatra Utara. Hal ini guna memenuhi kebutuhan pasokan bagi P & G  untuk mendapatkan pasokan fatty alcohol hingga 200.000 ton per tahun dalam 10 tahun ke depan. Sebab P & G   memerlukan jaminan pasokan berupa fatty acid dan vegetable oil dari Indonesia untuk mendukung rantai distribusi global P & G.      

Saat ini kapasitas produksi fatty alcohol nasional mencapai 320.000 ton dari tiga produsen,  yakni PT Ecogreen Oleochemicals,  PT Musim Mas,  dan PT Bakrie Sumatera Plantations. Kapasitas produksi nasional akan meningkat menjadi 784.000 ton menyusul akan beroperasinya Wilmar Group yang berkapasitas 464.000 ton per tahun di Gresik,  Jawa Timur.     

PT. Lion Wings
PT. Lionindo Jaya berdiri pada 1981, merupakan joint venture antara Grup Wings dari Surabaya dengan Lion Corporation dari Jepang.  Lion Corporation merupakan produsen consumer products yang terkenal di  Jepang, memproduksi pasta gigi, sikat gigi, kosmetik, sabun, shampoo, detergent, detergent pencuci piring, pembersih alat-alat kebutuhan rumah tangga, hingga makanan dan obat-obatan. Lion Corporation Jepang memiliki jaringan anak perusahaan pangsa pasar yang baik, terutama di Jepang dan Asia Tenggara seperti Malaysiadi Asia Tenggara seperti Singa Selatan Sdn. Bhd di Malaysia, Lion Corporation Thailand dan(Lion Corporation Singapore Pte. Ltd.). Lion Corporation Singapore Pte. Ltd).

Pada 2004 PT Lionindojaya berganti nama menjadi PT Lion Wings, menyusul mayoritas saham dikuasai oleh Grup Wings. PT Lionindo Jaya memproduksi dan memasarkan bermacam produk-produk consumer yaitu pasta gigi, sikat gigi, pembersih rumah dan sebagainya. Wings telah menembus pasar ekspor ke lebih dari 55 negara di seluruh dunia.

PT. Lion Wings memproduksi sabun csikat gigi, diharapkan perusahaan dapat menekan biaya produksi barang jadi.- Sabun Cuci Piring : Mama Lime, Mama Lemon, Mama Apple duci piring (merk Mama Lime, Mama Lemon, Mama Apple, Oxy), Oxy - Perawatan mulut : pasta gigi Ciptadent, sikat gigi Ciptadent, pasta gipasta gigi (Ciptadent), pasta gigi perokok (Zact, Dentor Systema), sikat gigi (Ciptadent), pasta gigi bayi (Kodomo), lotion anti nyamuk (Lavenda), baby product (Kodomo), sikat gigi dan pasta gigi (Ciptadent dan Systema), wewangian (Fresh & Fresh). Lion Wings juga memproduksi shampoo dengan merek Emeron, Botanical, Zinc, dan Kodomo.

PT. Lion Wings mendapat pasokan bahan baku dari beberapa sister company yaitu Beberapa pemasok yang tergabuafiliasi bisnis PT Lion Wings seperti PT Unipack Indosyste, PT Unipack Indosystems (pemasok label sachet shampo) dan PT Mitra Indotra Abadi (pemasok kotak pasta gigisachet shampoo), PT Mitra Indotra Abadi (pemasok kotak pasta gigi). Dengan

Grup Wings menguasai industri oleochemical mulai dari hulu hingga hilir. Bersama dengan Grup Djarum dan Grup Lutan Luas, Grup Wings mengambil alih PT. Ecogreen Oleochemical (Pt. EO)  dari Grup Salim. PT. EO merupakan produsen oleochemical termasuk natural fatty alcohol terbesar di dunia berkapasitas 110.000 metrik ton/tahun. PT. EO memasok kebutuhan bahan baku bagi anak usaha dalam Grup Wings. Oleochemical merupakan bahan baku industri perawatan tubuh, sabun dan deterjen, makanan, plastik, farmasi, dan berbagai industri lain.

PT. Gondowangi Tradisional Kosmetika
Perusahaan ini didirikan oleh Mr. Liem Sudarno pada 2000 di Jakarta. Sebelumnya Mr. Liem Soedarno merupakan eksportir rumput laut ke Perancis pada 1970 yang digunakan sebagai bahan baku kosmetika. Pada 1972 Mr. Liem Sudarno memproduksi sendiri kosmetikan yang menggunakan bahan dasar rumput laut.

PT. Gondowangi Tradisional Kosmetika (PT. GTK) memproduksi produk perawatan rambut berbasis bahan-bahan alami tanpa bahan kimia. PT. GTK memasarkan shampoo dengan merek Natur. Saat ini Natur sudah menembus pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Malaysia, Singapore, Hong Kong, Australia, Korea dan lainnya. Disamping memproduksi shampoo Natur, PT. GTK juga memproduksi skin care merek Natur White dan produk perawatan wajah merek Miyagi yang terdiri dari whitening day cream, whitening night cream dan lightening plus moisturizing soap. ...

Lihat Daftar Isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan