2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
September 2010

INDUSTRI SEMEN MULAI EKSPANSI 


Latar Belakang

Menyusul perbaikan perekonomian dalam negeri pada tahun 2010 ini, membawa dampak positif bagi industri semen. Sebab ditengah pemulihan ekonomi, sejumlah proyek properti dan infrastruktur kembali berjalan. Secara umum  produk semen di dalam negeri dikonsumsi mayoritas oleh segmen  residensial, karena di Indonesia masih cenderung kalau ekonomi tumbuh, orang ingin memperbaiki rumahnya. 

Namun sebelumnya pada 2009 pertumbuhan industri semen agak melemah akibat krisis ekonomi global yang terjadi sejak akhir 2008 lalu. Hal ini terlihat dari produksi semen yang mengalami penurunan 3,6% menjadi 36,9 juta ton pada 2009 dibanding tahun sebelumnya 38,3 juta ton. Sementara itu, kapasitas produksi industri semen tercatat sebesar  47,9  juta ton per tahun pada 2009 atau meningkat 9,0% dari tahun sebelumnya hanya 44,0 juta ton per tahun. Namun kapasitas ini tidak beroperasi optimal akibat daya serap pasar yang melamah pada 2009 lalu.     

Mengingat besarnya kebutuhan di dalam negeri dan tingkat utilisasi yang mendekati full capacity, tahun ini sejumlah industri semen melakukan ekspansi. PT Semen Andalas di Aceh mulai September 2010 sudah beroperasi lagi, setelah berhenti operasi jkarena mengalami kerusakan kerusakan akibat tsunami pada 2004.  Dengan demikian pada 2010 kapasitas produksi semen diperkirakan akan bertambah menjadi sekitar 50,8 juta ton per tahun. 

Penambahan kapasitas industri semen dilakukan untuk mengantisipasi permintaan yang diperkirakan akan terus meningkat seiring perekonomian yang tumbuh. Selain itu beberapa pabrik sudah berusia tua dan teknologinya semakin tertinggal sehingga tidak efisien lagi. Peningkatan kapasitas akan membuat produsen lebih efisien sehingga lebih bisa bersaing. Sementara itu, pemain yang kapasitasnya kecil dan mesinnya kurang efisien akan semakin sulit untuk bersaing, apalagi dengan meningkatnya biaya  produksi dalam hal ini batubara sebagai sumber energi utama. 

Pemain kecil seperti Semen Kupang, Semen Baturaja, dan Semen Bosowa tidak akan bisa memanfaatkan pertumbuhan permintaan secara optimal. Beberapa faktor lain seperti lokasi yang jauh dari pasar potensial dalam hal ini Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dan jaringan transportasi yang terbatas akan semakin menekan pemain seperti Semen Kupang dan Semen Baturaja. 

Faktor sumber energi sangat penting dalam pengembangan industri ini. Di dunia industri semen saat ini tengah gencar memordernisasi pabriknya terutama ditujukan untuk menghemat konsumsi energi serta kemampuan unit untuk memakai energi sekunder.

Salah satu faktor kritikal yang diperkirakan akan mempengaruhi rencana penambahan kapasitas ini antara lain ketersediaan dan harga batubara mengingat pabrik semen sangat besar konsumsi bahan bakarnya dan hampir semuanya dipasok oleh energi dari batu bara. Beberapa pemain yang akan membangun pabrik baru meminta kepastian pasokan batu bara. Kepastian ini sangat penting karena harga batu bara dan permintaan di pasar internasional yang tinggi bisa menyebabkan pasokan kebutuhan industri nasional tersedot.

Jenis semen yang diproduksi

Terdapat beberapa jenis semen yang diproduksi di Indonesia. Semen utama yang diproduksi adalah jenis OPC (Ordinary Portland Cement) atau Portland Cement Type I yang mencapai 80 persen dari produksi. Jenis semen lainnya yang banyak diproduksi adalah jenis komposit kemudian diikuti pozzolan. Jenis semen lainnya diproduksi namun terbatas jumlahnya.


Kapasitas produksi tumbuh 9,0%

Dalam beberapa tahun terakhir kapasitas produksi semen di Indonesia tidak mengalami perubahan. Peningkatan terjadi pada tahun 2002  kapasitas klinker meningkat dari 43.780 ribu ton menjadi 44.425 ribu ton atau naik 1,5%,  sementara semen meningkat menjadi 47.490 ribu ton dari 47.140 ribu atau mengalami kenaikan  0,7%.

Namun kapasitas produksi semen Indonesia mengalami penurunan pada tahun 2005 dan 2006. penurunan tersebut disebabkan karena salah satu produsen yakni PT. Semen Andalas mengalami kerusakan akibat tsunami yang melanda Aceh pada akhir tahun 2004. Selain itu juga beberapa unit pabrik yang sudah tua dan tidak efisien dihentikan operasinya diantaranya  PT. Semen Padang sebanyak 100.000 ton/ tahun klinker dan 200.000 ton/ tahun semen; PT. Semen Gresik sebesar 800.000 ton/ tahun klinker; PT. Semen Tonasa sebesar 60.000 ton/ tahun klinker; serta PT. Holcim Indonesia sebesar 1.000.000 ton/ tahun klinker dan 1.000.000 ton/ tahun semen. 

Menurut ASI, hingga 2008 kapasitas produksi semen stagnan sebesar 44.890 ribu ton per tahun, sebab belum ada produsen yang melakukan perluasan. Kemudian pada 2009 secara keseluruhan total kapasitas terpasang industri semen nasional naik sekitar 9% menjadi 47,9 juta ton per tahun.

Sementara itu tingkat utilisasi tercatat 76%. Berdasarkan kapasitas produksinya, pabrik semen swasta saat ini mempunyai kapasitas produksi yang lebih besar dibanding BUMN, yaitu mencapai 60% dari total kapasitas produksi nasional, sisanya sebesar 40% milik BUMN. 

Pada 2010 kapasitas produksi semen diperkirakan akan bertambah sekitar 2,9 juta ton menjadi 50,8 juta ton per tahun. Penambahan ini terjadi karena lima produsen hingga akhir 2010 ini, akan menyelesaikan penambahan kapasitas produksi dan investasi baru dengan total nilai sekitar US$ 645,6 juta. Proyek tersebt diantaranya mulai beroperasinya pabrik penggilingan (cement mill) baru milik Indocement berlokasi di Cirebon dan berkapasitas 1,5 juta ton, dan rekonstruksi pabrik Semen Andalas berkapasitas 1,6 juta ton yang hancur karena bencana tsunami Aceh.

Produsen

PT. Semen Gresik, Tbk (PT. SG)
PT. SG memiliki 3 pabrik yang berlokasi di Tuban dan Gresik dengan kapasitas produksi 8,5 juta ton per tahun. PT. SG memiliki dua pelabuhan khusus semen di Tuban dan Gresik, 1 unit pengantongan semen di Ciwandan, Banten  dan 11 unit gudang penyangga yang tersebar di Jawa dan Bali.

Pada 15 September 1995 PT. SG berkonsolidasi dengan PT. Semen Padang (SP) dan PT. Semen Tonasa (ST). Kedua perusahaan ini menjadi anak perusahaan Semen Gresik Group (SGG) dengan kepemilikan saham 99,9 persen. 

Lokasi SP yang berlokasi di Padang, Sumatra Barat sangat strategis untuk mendistribusikan semen di wilayah Sumatra. Sehingga SP menjadi pemasok kebutuhan semen terbesar di wilayah Sumatra dan sebagian Jawa. SP juga telah melakukan ekspor ke negara Asia. Untuk mendukung pemasarannya, SP mengoperasikan 6 unit pengantongan semen meliputi Padang, Medan, Banda Aceh, Batam, Jakarta dan Banten.  SP juga memiliki 14 gudang penyangga serta   
memiliki pelabuhan khusus semen di Palbuhan Teluk Bayur, Sumatra Barat dan di pelabuhan Ciwandan, Banten.

Jenis semen yang diproduksi SP yaitu Ordinary Portland Cement (OPC), Portland Pozzoloan Cement (PPC), Portland Composite Cement (PCC) , Oilwell Cement (OC) dan Super Masonry Cement (SMC). 

Pada 2009 lalu produksi SP mencapai 5,4 juta ton atau turun 8,1% dari sebelumnya 5,8 juta ton. Kondisi ini disebabkan terjadinya bencana alam gempa bumi di Padang pada 2009. 

Sedangkan ST yang berlokasi di Pangkep, Sulawesi Selatan memiliki 3 unit pabrik dengan memprodusi jenis OPC dan PPC. ST merupakan pemasok terbesar wilayah Indonesia Timur yang meliputi Sulawesi, Kalimantan dan Nusa Tenggara. Sampai saat ini ST telah memiliki 8 pengantongan semen di Makassar , Bitung, Samarinda, Palu, Banjarmasin, Ambon dan Bali serta 5 gudang penyangga. ST juga memiliki pelabuhan khusus semen di palbuhan Biringkassi.     

Saat ini total kapasitas produksi SGG mencapai 19,0 juta ton per tahun termasuk kapasitas PT. Semen Gresik (9 juta ton) , PT. Semen Padang (5,9 juta ton) dan PT. Semen Tonasa (4,1 juta ton). 

Dalam beberapa tahun ke depan, SGG berencana untuk melakukan ekspansi dengan membangun dua pabrik berkapasitas masing-masing 2,5 juta ton di Jawa dan Sulawesi. Ekspansi ini akan dilakukan hingga tahun 2012 sehingga kapasitasnya menjadi 23,9 juta ton. Semula SGG merencanakan akan membangun 10 PLTU berbahan bakar batubara memiliki total daya mencapai 410 Megawatt (MW) dengan total investasi US$ 573 yang akan dioperasikan pada tahun 2011. Pembangkit tersebut akan dibangun di Tuban sebesar 2 x 65 Mega Watt (MW); di Indarung, Sumatera Barat (3 x 35 MW), Tonasa, Sulawesi (1x35 MW), pabrik baru di Jawa (2x32MW) dan pabrik baru di Sulawesi (2x35 MW). 

Namun mengingat kebutuhan dalam waktu dekat, maka yang dibangun hanya 2x35 MW dengan investasi US$ 114 juta di Sulawesi. Pada 2009 PT. Semen Tonasa mendapatkan pinjaman sebesar Rp 3,5 triliun dari sindikasi perbankan BUMN untuk membiayai pembangunan pembangkit tersebut. 

SG juga akan membangun 4 unit packing plant atau pabrik pengemasan semen senilai Rp 600 miliar yang berasal dari kas internal. Pembangunan pabrik pengemasan akan dibangun di Sorong (Papua), .Pontianak, (Kalimantan Barat), Kalimanatan Timur serta Banyuwangi (Jawa Timur) untuk memudahkan distribusi semen ke berbagai daerah.

Khusus untuk pabrik pengemasan di Papua  akan dikembangkan menjadi pabrik semen  jika pangsa pasar berkembang secara signifikan. Sepanjang 2010 SG mengalokasikan belanja modal sebesar USS402 juta. Dari jumlah tersebut sebesar US$264 juta akan digunakan untuk membangun pabrik baru. Sementara itu selama 2008-2014 perseroan mengalokasikan belanja modal sebesar USS 1,26 miliar.

Operasi bisnis SGG cukup luas yakni di bidang produksi semen (PT. Semen Gresik Tbk, PT. Semen Padang, PT. Semen Tonasa); pengemasan semen (PT. Industri Kemasan Semen Gresik); kawasan industri (PT. Kawasan Industri Gresik); penambangan batu kapur (PT. United Tractors Semen Gresik); fabrikasi baja, kontraktor sipil (PT. Swadaya Graha); jasa pengangkutan umum dan perdagangan umum dan antar pulau, keagenan, distributor (PT. Varia Usaha); dan produsen asbes, bahan bangunan, dan cetakan (PT. Eternit Gresik).

Saat ini saham PT. SG dimiliki Pemerintah RI sebesar 51,01 persen, sementara sisanya dimiliki oleh Blue Valley Hodings, Pte sebesar 24,90 persen dan publik sebesar 24,09 persen.

PT Holcim Indonesia Tbk 
PT. Holcim Indonesia Tbk (HI)  sebelumnya bernama PT. Semen Cibinong. Holcim membeli sebanyak 77,33 persen saham PT. Semen Cibinong pada tahun 2001. Perubahan nama PT. Semen Cibinong dilakukan sejak 1 Januari 2006. HI memiliki dua pabrik semen, yaitu di Narogong dan Cilacap. per tahun.

Holcim adalah perusahaan dari Swiss yang merupakan pemain global dalam industri semen. Holcim memiliki saham pada perusahaan-perusahaan semen di 70 negara di dunia.

Hingga tahun 2009, kapasitas produksi Holcim mencapai 8,3 juta ton. Sementara itu produksinya tercatat 7,2 juta ton, diantaranya sekitar 64% dipasarkan untuk pasar domestik dan sisanya 36% untuk tujuan ekspor. 

Pada Oktober 2010 HI mulai membangun konstruksi pabrik baru yang berlokasi di Tuban, Jawa Timur setelah sebelumnya pada 2009 pembangunan tertunda akibat dampak krisis ekonomi global. Pabrik baru  memiliki kapasitas produksi 1,7 juta ton per tahun dengan investasi sekitar US$ 450 juta.  

PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk (PT. ITP)
PT. ITP didirikan oleh kelompok usaha Salim pada tahun 1985. Namun sejak 2001 produsen semen asal Jerman, Heidelberg Cement Group membeli saham mayoritas yakni sebesar 65,14 persen melalui anak perusahaannya Kimmeridge Enterprise Pte. Ltd. Pada tahun 2003 Kimmeridge Enterprise Pte. Ltd mentransfer saham PT. ITP ke HC Indocement GmbH. Pada bulan September 2006, HC Indocement GmbH dimerger dengan Heidelberg Cement South-East Asia GmbH yang kemudian menjadi pemilik langsung dari PT. ITP.  

ITP mengoperasikan 9 pabrik di Citeureup, Bogor yang tercatat sebagai pabrik semen kedua terbesar di dunia. Kemudian 2 pabrik di Palimanan, Cirebon, Jawa Barat dan 1 pabrik di Tarjun, Kotabaru, Kalimantan Selatan. ITP memproduksi semen jenis PCC, OPC, OWC dan Semen Putih. ITP merupakan satu-satunya produsen semen putih di dalam negeri. 

Sampai dengan akhir 2009, kapasitas produksi klinker 15,6 juta ton per tahun  dan semen 17,1 juta ton per tahun. Dengan beroperasinya penggilingan semen yang baru di Palimanan pada awal 2010, maka kapasitas produksinya bertambah menjadi 18,6 juta ton per tahun.  
  
Pada 2007 ITP mengakuisisi PT. Gunung Tua Mandiri di Bogor, produsen agregat berkapasitas 1,5 juta ton per tahun dan cadangan 20 juta ton. Kemudian pada 2009, anak perusahaan ITP yaitu PT. Mandiri Sejahtera Sentra mengakuisisi perusahaan tambang agregat di Purwakarta, Jawa Barat. Perusahaan agregat ini memiliki kapasitas 0,5 juta ton per tahun dan cadangan 95 juta ton. 

Pada 2009 ITP juga mengakuisisi PT. Bahana Indonor , sebuah perusahaan pelayaran yang memiliki 2 unit kapal yaitu MV Tiga Roda kapal pengangkut semen berkapasitas 10.000 DWT dan MV Quantum One, sebuah terminal terapung berkapasitas 8.000 ton untuk pemuatan semen kantong maupun curah.   

Sementara itu, Heidelberg Cement AG mengalihkan seluruh sahamnya di ITP kepada Birchwood Omnia Ltd pada 2008. Dengan demikian saat ini pemegang saham IPT terdiri dari Birchwood Omnia Ltd (51%), PT. Mekar Perkasa (13,03%) dan public (35,97%).

PT Semen Andalas Indonesia
Pabrik semen milik PT. SA terkena tsunami pada akhir tahun 2004 sehingga tidak bisa berproduksi sama sekali. Pada tahun 2007 pabrik ini mulai diperbaiki dan diharapkan bisa kembali berproduksi pada akhir tahun 2008 ini. Perbaikan ini dilakukan dengan membangun pabrik berkapasitas produksi 3,1 juta ton per tahun.

Selama tidak berproduksi, PT. SA mengimpor semen dari Malaysia yang diproduksi oleh pabrik milik Lafarge yang juga merupakan pemilih saham mayoritas PT. SA untuk dijual di dalam negeri. Pada 2010 ini PT. SA mulai mengoperasikan lagi pabriknya setelah behenti beroperasi akibat tsunami yan gmelanda Aceh pada 2004 silam. 

PT Semen Bosowa Maros (PT. SBM)
Dibangun sejak tahun 1995 dan memulai operasinya pada bulan April 1999. PT. SBM dimiliki oleh pengusaha Aksa Mahmud. 

Pada tahun 2007 PT. SBM menyelesaikan pembangunan packing plant di Samarinda, Kalimantan Timur. 

Samapai dengan 2009 kapasitas produksi klinker naik menjadi sebesar 1,8 juta ton per tahun dari sebelumnya 1,71 juta ton per tahun. Sedangakan kapasitas produksi semen naik menjadi 3,0 juta ton per tahun dari sebelumnya 1,8 juta ton per tahun. 

Pemasaran semen produksi PT. BSM utamanya adalah di kawasan Indonesia Timur.

PT Semen Kupang (PT. SK)
PT. SK merupakan BUMN semen yang mulai beroperasi pada tahun 1984 di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tahun 2009 kapasitas produksi klinker mencapai 300 ribu ton per tahun, sementara semen mencapai 570 ribu ton per tahun. PT. SK merupakan perusahaan yang 100 persen sahamnya dimiliki pemerintah.

Teknologi PT. SK sudah sangat tertinggal sehingga tidak bisa bersaing. Operasi pabrik PT. SK I yang berteknologi tungku tegak sudah lama dihentikan. Pabrik II kemudian didirikan untuk menggantikannya, namun dalam perkembangannya sejumlah suku cadang serta bahan pembakaran semen seperti batubara harus didatangkan dari Vietnam sehingga sangat tidak efisien.

Hal tersebut membuat PT. SK mengalami kesulitan keuangan dan berhenti beroperasi. Pada akhir tahun 2007 PT. SK dapat kembali beroperasi setelah mendapat suntikan dana dari APBN sebesar Rp. 50 miliar. Bantuan dana dari APBN itu digunakan sebagai modal kerja antara lain untuk pengadaan suku cadang pabrik Semen Kupang II dan pengadaan batubara dari Kalimantan.

Distribusi produk PT. SK adalah di pasar Indonesia Timur khususnya di Nusa Tenggara Timur. Kebutuhan semen di NTT pada tahun 2007 mencapi 360 ribu ton.
PT Semen Baturaja (PT. SB)
PT. SB adalah pabrik semen yang sahamnya 100 persen dimiliki oleh pemerintah RI. PT SB yang berlokasi di Kota Baturaja, Sumatra Selatan memiliki tiga pabrik pengantongan yaitu di Ogan Komering Ulu (OKU), Tarahan (Lampung), dan Kertapati, Palembang. 

Kapasitas produksi PT. SB hingga tahun 2009 mencapai 1,2 juta ton per tahun untuk klinker dan 1,2 juta ton per tahun untuk semen.

PT. SB memproduksi semen portland tipe I dengan merk Semen Tiga Gajah. Bahan baku utama diperoleh dari tambang sendiri di wilayah Baturaja. Wilayah PT. SB sangat terbatas karena skala dan jalur transportasinya yang terbatas. Pemasaran PT. SB meliputi Sumatera Bagian Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu. dan Banten.

SB berencana akan melepas 30% saham melalui penawaran publik perdana (initial public offering/ IPO) dengan target perolehan dana sebesar Rp1 triliun pada 2013. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun pabrik semen  baru di Sumatra Selatan dengan kapasitas  produksi sebesar 1,5 juta ton per tahun. Pembangunan pabrik baru tersebut bertujuan mempertahankan pangsa pasar yang pada 2013 diharapkan dapat menguasai 29%. Total investasi yang dibutuhkan sekitar Rp 2,35 triliun yang berasal dari pinjaman Rpl,3 triliun dan dana internal Rp50 miliar. 

Selain akan membangun pabrik baru, SB  juga akan membangun pabrik semen mill  berkapasitas 300.000 ton per tahun dengan investasi Rp 325 miliar. Pabrik ini ddibangun  pada wilayah pabrik Baturaja yang sudah ada diperkirakan akan beroperasi pada 2011. 

Produksi semen 2009 mencapai 36,9 juta ton 

Produksi semen nasional terus meningkat tercatat sebesar 38,3 juta ton sampai dengan 2008 dibanding tahun sebelumnya 35,0 juta ton atau terjadi kenaikan naik 9,3%. Peningkatan produksi semen tersebut didukung oleh pertumbuhan proyek infrastruktur dan property.  

Namun pada 2009 produksi turun sekitar 3,6% menjadi 36,9 juta ton. Kondisi ini disebabkan krisis likuiditas global yang terjadi sejak akhir 2008, yang mengakibatkan banyak proyek yang seharusnya menyerap semen menjadi terhenti. Likuiditas yang seret membuat perbankan berpikir ulang mendanai sejumlah proyek. Sehingga proyek yang biasanya dibiayai perbankan sekarang sulit akses dana ke perbankan, sehingga proyek terhenti.

Disamping itu krisis global mengakibatkan permintaan di pasar ekspor juga turun, sehingga mempengaruhi produksi semen di dalam negeri. Selama ini semen asal Indonesia diekspor ke Srilanka, Maroko, Madagaskar dan Timur Tergah. Namun di pasar Timur Tengah, semen asal Indones harus bersaing dengan Thailand.

Pada 2010 produksi semen diperkirakan akan meningkat menjadi 38.6 juta ton. Peningkatan produksi tersebut dipacu oleh kondisi perekonomian yang mulai membaik sehingga mendorong pertumbuhan proyek-proyek infratsruktur dan property. Disamping itu adanya penambahan kapasitas produksi oleh ITP sejak awal 2010 juga menambah tingkat produksi.



Lihat Daftar isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN -September 2010

FOKUS: PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR MASIH TERUS JADI HAMBATAN

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI SEMEN MULAI EKSPANSI

INDUSTRI : INDUSTRI KACA LEMBARAN