LAPORAN MARKET INTELLIGENCE :
April 2009
PERKEMBANGAN INDUSTRI BENIH TANAMAN PANGAN
Pendahuluan
Produksi padi selama 2008 naik 4,76 persen menjadi 60,28 juta ton dibanding produksi 2007 yang tercatat 57,16 juta ton gabah kering giling (GKG). Sebelumnya, menurut BPS produksi padi tahun 2007 juga telah meningkat 4,96 persen dibanding produksi tahun 2006 yang mencapai 55,4 juta ton.
Kenaikan produksi padi dalam empat tahun terakhir tidak lepas dari makin banyaknya penggunaan benih padi bersertifikat oleh petani. Hal ini terlihat dari kenaikan produksi benih padi bersetifikat yang cukup tinggi dalam empat tahun terakhir yaitu dari 117 ribu ton tahun 2005 menjadi 177 ribu ton tahun 2008.
Volume produksi benih padi bersertifikat ini kurang lebih separuh dari kebutuhan benih padi nasional yang mencapai 360 ribu ton per tahun pada lahan padi nasional seluas 12,66 juta hektar.
Tingginya permintaan ini telah mendorong investasi disektor pembenihan padi seperti terlihat dengan makin banyaknya perusahaan swasta baik nasional maupun asing yang menanamkan modalnya di sektor pembenihan baik dengan melakukan pendirian perusahaan pembenihan baru maupun dengan melakukan perluasan kapasitas produksinya. PT Sang Hyang Seri (SHS), BUMN di bidang pembenihan misalnya telah membangun fasilitas produksi baru dengan kapasitas produksi 10.000 ton benih per tahun.
Minat investasi juga datang dari perusahaan swasta asing diantaranya PT BISI Internasional yang berafiliasi dengan grup Charoen Pokhpand, PT DuPont Indonesia (Pioneer), PT. Syngenta Indonesia dan PT Bayer Indonesia.
Di samping benih padi unggul, benih jagung unggul juga berkembang pesat dengan makin banyaknya penggunaan benih jagung hibrida oleh petani. Bahkan benih jagung hibrida penggunaannya lebih besar dibanding benih jagung konvensional. Padahal penggunaan benih hibrida pada padi masih relatif kecil kurang dari 5%.dari total kebutuhan benih unggul
Benih padi dan jagung hibrida sebagian besar diproduksi oleh beberapa pemain termasuk pemain swasta yang berafiliasi dengan perusahaan pertanian multinasional seperti PT. Bisi Internasional, PT. Dupont Indonesia dan PT Bayer Indonesia. Selain oleh perusahaan pembenihan swasta, benih padi hibrida juga diproduksi oleh BUMN dibidang pembenihan yakni PT. Sang Hyang Seri.
Regulasi mengenai perbenihan juga mendukung pengembangan industri benih di dalam negeri karena menurut peraturan yang berlaku, importir benih sudah harus bisa memproduksi sendiri benih apabila sudah mengimpor selama dua tahun.
Dengan besarnya permintaan akan benih unggul bersertifikat maka peluang bisnis di sektor pembenihan semakin terbuka. Apalagi kini Pemerintah juga sudah mulai memperkenalkan penggunaan benih hibrida kepada petani. Sementara itu, pengembangan benih hibrida ini memerlukan teknologi dan investasi yang besar sehingga diperkirakan hanya perusahaan besar dibidang pembenihan yang akan mampu mengembangkan benih sendiri dan tidak hanya sekedar Importir.
Benih padi
Benih padi adalah bahan tanaman (planting material) yang dihasilkan dari perkembangbiakan tanaman padi secara generatif yang digunakan untuk produksi benih atau produksi tanaman.
Menurut hirarkinya benih unggul padi dibedakan menjadi empat kelas yakni benih penjenis (breeder seeds/ BS), benih dasar (foundation seeds/ FS), benih pokok (stock seeds /SS), serta benih sebar (extension seeds/ ES). Benih unggul ini diproduksi oleh instansi atau badan yang ditetapkan atau ditunjuk oleh Badan Benih Nasional dan mempunyai sertifikat
Benih yang dipakai oleh petani adalah kelas benih sebar yakni merupakan keturunan dari benih penjenis atau benih dasar atau pokok yang dipelihara sedemikian rupa sehingga identitas dan kemurniannya terjaga serta memenuhi standar mutu yang ditetapkan
Benih Penjenis adalah benih yang menjadi sumber benih dasar. Sementara itu benih dasar adalah merupakan keturunan pertama dari benih penjenis. Benih Pokok adalah benih keturunan dari benih penjenis atau benih dasar
Jenis-jenis benih tersebut diberi label berbeda-beda. BS dilabeli kuning, FS dilabeli putih, SS dilabeli ungu, ES dilabeli biru. Terdapat satu lagi padi bersertifikat yakni label merah jambu yang merupakan keturunan pertama dari ES, namun setelah tahun 2007 benih dengan label ini sudah tidak diproduksi lagi karena produktivitas yang rendah.
Produsen utama benih
Benih unggul konvesional bersertifikat terutama dihasilkan oleh badan pembenihan milik negara dan perusahaan BUMN dibidang pembenihan yaitu PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani. Selain itu juga banyak perusahaan pembenihan swasta dalam skala lebih kecil yang telah mendapatkan sertifikasi dari Departemen Pertanian.
Sedangkan pembenihan bibit padi dan jagung hibrida umumnya dilakukan oleh perusahaan swasta skala lebih besar. Jumlah produsen bibit padi dan jagung hibrida di Indonesia saat ini mulai banyak yakni mencapai 18 produsen padahal pada tahun 2005 baru ada 2 perusahaan. Sebagian besar dari produsen ini adalah perusahaan swasta sementara terdapat 2 produsen yang merupakan Badan Usaha Milik Negara BUMN yakni PT Sang Hyang Seri (SHS) dan PT Pertani.
Produsen benih swasta umumnya memproduksi padi dan jagung jenis hibrida. Sedangkan produsen BUMN memproduksi benih unggul padi dan jagung unggul baik benih konvensional maupun hibrida juga menghasilkan benih tanaman sereal lainnya seperti kedelai, kacang hijau serta kacang tanah.
Sejak tahun 2006, industri benih tanaman pangan di Indonesia mulai berkembang pesat ditandai dengan berdirinya beberapa perusahaan swasta nasional maupun asing yang memproduksi benih padi dan jagung hibrida dengan volume yang cukup berarti.
Beberapa produsen tersebut antara lain PT. Dupont Indonesia. PT. Triusaha Sari Tani, Bayer Indonesia, PT. Karya Niaga Beras Mandiri, PT. Sumber Alam Sutera, serta SHS. Beberapa produsen ini adalah produsen berafiliasi dengan perusahaan global seperti DuPont (Pioneer), Monsanto, Bayer,dll.
PT Sang Hyang Seri (SHS)
PT. Sang Hyang Seri (Persero) berdiri pada tahun 1971 Melalui Peraturan Pemerintah No.22 Tahun 1971 dengan status PERUM (Perusahaan Umum) di Sukamandi Subang, Provinsi Jawa Barat. Pada than 1995 statusnya berubah menjadi perusahaan persero.
SHS merupakan BUMN yang memproduksi benih padi, jagung, kacang-kacangan dan sayuran. Kapasitas produksi benih SHS sekitar 25.000 ton per tahun diantaranya fasilats baru berkapasitas 10.000 ton per tahun dengan sistem IRSPP (Integrated Rice Seed Processing Plant). Fasilitas produksi ini merupakan fasilitas terintergrasi dengan laboratorium basah dan kering yang terletak di Sukamandi, Subang, Jawa Barat yang mulai dipergunakan pada tahun 2008.
SHS memproduksi benih padi unggul (konvensional) kelas SS maupun ES dengan jumlah varietas sebanyak 25 buah. Beberapa varietas baru yang diproduksi SHS adalah Fatmawati dan Gilirang. SHS juga melakukan pemurnian dan penjualan benih padi varietas lokal unggulan. Selain memproduksi benih padi unggul konvensional, SHS juga memproduksi benih padi hibrida yakni varietas Makro dan Rokan.
PT Sang Hyang Seri atau SHS, telah menjalin kerja sama dengan perusahaan perbenihan multinasional yaitu Shenzhen Boshi BioScience (BOSHIMA) Co. Ltd. (China) dan Devgen (India) untuk memproduksi benih padi hibrida. Hal ini untuk menghilangkan ketergantungan Indonesia pada benih impor. Dari kerja sama ini, PT SHS akan mendapat pembagian keuntungan menyangkut hak cipta, yaitu mendapat royalti 50 persen dari setiap penjualan benih.
Di sisi lain, produksi benih dilakukan di Indonesia dan indukan benih tidak dibawa keluar dari Indonesia sehingga tidak mengorbankan ketahanan pangan bangsa. Untuk mendukung kerja sama itu, pada Oktober 2008 dibangun semacam Pusat Benih Hibrida Indonesia-China di Karawang.
Sementara itu untuk benih jagung SHS memproduksi jenis komposit terdiri dari h 2 varietas jagung bersari bebas dan 2 varietas jenis hibrida hasil kerja sama dengan mitra luar negeri. Disamping itu dihasilkan juga 2 varietas hibrida dan 5 varietas jagung manis bekerja sama dengan mitra dalam negeri.
SHS juga memproduksi benih tanaman pangan lainnya yakni kacang-kacangan meliputi benih kedelai dengan 5 varietas kelas benih ES/NS dan memproduksi serta memasarkan benih kacang hijau dan kacang tanah.
PT Bisi Internasional Tbk.
PT. Benih Inti Suburintani Internasional (BISI) didirikan pada tahun 1983 oleh Charoen Pokphand Group dan saat ini telah menjadi perusahaan terbuka. Bisnis Bisi meliputi produksi benih, pestisida, dan distribusi pupuk. Sebagian besar sahamnya dikuasai oleh keluarga Jiaravanon sementara sisanya sebesar 23 persen dimiliki oleh Midsummer Limited.
Fasilitas produksi benih Bisi terletak di Kediri, Jawa Timur. Bisi memiliki tiga anak perusahaan yakni (1) PT Tanindo Intertraco yang bisnisnya adalah distribusi dan pemasaran benih padi hibrida, jagung hibrida, benih sayuran, serta produk pertanian lainnya. (2) PT Multi Sarana Indotani yang memproduksi pestisida dan (3) PT Tanindo Subur Prima yang mendistribusikan dan memasarkan benih sayuran yang khusus diimpor dari Chia Thai Seed Co Ltd.
Bisi merupakan salah satu produsen benih yang ekspansif. Sebelumnya pada tahun 2008 perusahaan ini telah meningkatkan kapasitas produksi benih jagung hibrida dengan membangun dua pabrik berkapasitas total 40.000 ton per tahun senilai Rp. 276 miliar. Peningkatan tersebut menjadikan kapasitas produksi jagung hibrida dari Bisi menjadi 60.000 ton per tahun.
Pada tahun 2009 Bisi juga merencanakan expansi fasilitas pembenihan di Kediri namun rencana pembangunan fasilitas pengolahan benih pertanian berkapasitas 40.000 ton per tahun tersebut ditunda karena kondisi perekonomian global yang kurang mendukung.
PT. DuPont Indonesia (Pioneer)
PT DuPont Indonesia mulai beroperasi di Indonesia pada tahun 1988. PT DuPont Indonesia adalah anak perusahaan dari Pioneer Hi-Bred International, Inc., di Des Moines, Iowa, yang didirikan tahun 1926 dan sekarang telah menjadi perusahaan yang paling unggul dalam bidang genetik pertanian diseluruh dunia, dan telah beroperasi di 70 negara.
Perusahaan ini telah memasarkan benih jagung hibrida di Indonesia sejak tahun 1988 dengan merek Pioneer. Total jumlah varietas jagung hibrida yang sudah dilepas oleh Dupont di Indonesia sebanyak 23 jenis meskipun yang kini masih diproduksi dan dipasarkan tinggal 6 jenis saja yakni varietas P7, P11, P12, P13, P21, dan P23.
Sejak tahun 2007, DuPont melepas benih padi hibrida yakni Padi Pioner 1 (PP1) dan PP2. pengembangan benih padi hibrida ini dilakukan oleh DUPont.
PT. DuPont Indonesia telah melakukan kerjasama yang bersifat sinergi dengan BB Padi (Balai Besar Penelitian Tanaman Padi) dengan mendapatkan lisensi, yaitu hak untuk memproduksi dan menjual benih padi hibrida MARO. Benih padi hibrida MARO adalah benih padi hibrida yang dikembangkan oleh para peneliti Indonesia di BB Padi
PT. Bayer Indonesia, CropScience Business Group.
Produksi padi bersertifikat capai 181 ribu ton