2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Juli 2011


INDUSTRI PALM OIL DI INDONESIA


Latar belakang

Sektor industri minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) Indonesia terus tumbuh pesat dari tahun ke tahun. Produksi CPO meningkat menjadi 21,0 juta pada 2010 dari tahun sebelumnya 19,4 juta ton. Pada 2011 ini produksi diperkirakan akan naik 4,7% menjadi sekitar 22,0 juta ton. Sementara itu, total ekspor juga meningkat, pada 2010 tercatat sekitar 15,65 juta ton, kemudian diperkirakan akan melonjak menjadi 18,0 juta ton pada 2011.  Sampai saat ini Indonesia masih menempati posisi teratas sebagai negara produsen CPO terbesar dunia, dengan produksi sebesar 21,8 juta ton pada 2010. Dari total produksi tersebut diperkirakan hanya sekitar 25% sekitar 5,45 juta ton yang dikonsumsi oleh pasar domestik. Sebagai penghasil CPO terbesar di dunia, Indonesia terus mengembangkan pasar ekspor baru untuk memasarkan produksinya dan memperbesar pasar yang sudah ada. Misalnya Pakistan, Bangladesh, dan Eropa Timur serta China. 
 
Peningkatan produksi CPO didukung oleh total luas areal perkebunan kelapa sawit yang terus bertambah yaitu menjadi 7,9 juta hektar pada 2011 dari 7,5 juta hektar pada 2010. Saat ini pemerintah menetapkan perbaikan infrastruktur di semua lahan CPO yang ada di Indonesia termasuk lima kluster dasar yang telah disiapkan oleh pemerintah yaitu Pantai Utara Jawa, Pantai Timur Sumatera, Kalimantan Timur, daerah Sulawesi dan Merauke. 

Pada 2011 Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) per mengundurkan diri dari keanggotaan Roundtable Sustainable Palm Oil (RSPO). Selanjutnya Gapki mendukung Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang wajib diikuti di Indonesia yang akan diterapkan pada 2012.  

Di sisi lain industri CPO nasional menghadapi kendala terutama  infrastruktur termasuk akses jalan dan konektivitasnya dengan pengangkutan di pelabuhan untuk mendukung industri pengolahan CPO. Untuk mengatasi hal tersebut,  pemerintah telah menetapkan perbaikan infrastruktur termasuk perbaikan infrastruktur di semua lahan CPO di Indonesia. Masalah lain yang dihadapi adalah tidak selaras dengan pertumbuhan industri turunannya. Pertumbuhan industri CPO dan produk CPO selama ini hanya diikuti pertumbuhan industri hulu. Seperti, industri fatty acid, fatty alcohol, glycerine, methyl esther. Sampai saat ini CPO belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan industri hilir. Produk industri hilir hasil olahan CPO yang pengembangannya masih minim seperti surfactant, farmasi, kosmetik, dan produk kimia dasar organik. Padahal dengan mengembangkan industri hilir, maka nilai mata rantai dan nilai tambah produk CPO akan semakin tinggi. Apalagi, produk turunan CPO mempunyai hubungan dengan sektor usaha dan kebutuhan masyarakat di bidang pangan. Misalnya, pupuk, pestisida, bahan aditif makanan, pengawet makanan, penyedap makanan, kemasan plastik.


Struktur Industri

Perkebunan kelapa sawit menurut status kepemilikan 
Dalam 10 tahun terakhir luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 8,1% per tahun dari hanya seluas 5.453 ribu ha pada 2005 meningkat menjadi 7.824 ribu ha pada 2010.

Perkembangan pesat perkebunan kelapa sawit dimulai pada akhir tahun 1980an, ketika perkebunan besar swasta (PBS) mulai masuk ke sektor perkebunan dan pengolahan minyak kelapa sawit dalam jumlah besar. Sebelumnya perkebunan kelapa sawit didominasi oleh perkebunan milik negara (PBN). 

Sejalan dengan harga Crude Palm Oil yang terus meningkat maka selain perkebunan swasta besar, maka petani kecil mulai menanam kelapa sawit. Semula kebun sawit milik rakyat dibangun dalam skema inti plasma dengan perkebunan besar baik swasta maupun milik negara sebagai inti, namun kemudian perkebunan rakyat (PR) semakin berkembang diluar skema inti plasma.

Saat ini PBS mendominasi luas areal perkebunan sawit di Indonesia. Pada tahun 2010 dari total areal perkebunan kelapa sawit nasional seluas 7.824 ribu ha, sekitar 3.893 ribu ha (49,75%) diusahakan oleh perkebunan besar swasta (PBS), sedangkan 3.314 ribu ha (42,35%) diusahakan oleh perkebunan rakyat (PR) dan selebihnya 616 ribu ha (7,9%) adalah milik PBN.


Pada periode 2005-2010, pertumbuhan luas areal perkebunan besar negara hanya relatf kecil yaitu meningkat rata-rata 10,3% per tahun. Sedangkan pertumbuhan terbesar terjadi pada perkebunan rakyat yang mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata 8,13% per tahun. Sementara  perkebunan besar swasta meningkat rata-rata sekitar 1,6% per tahun. 

Lahan sawit dikuasai asing 

Mengingat Indonesia sebagai produsen CPO terbesar dunia, menjadikan industri  perkebunan kelapa sawit terus berkembang. Dari total luas lahan area perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang mencapai 7,8 juta ha pada 2010, diantaranya sekitar 5,7 juta ha telah tertanam. Berdasarkan data Gapki dan Kementerian Kehutanan, total luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang berpotensi untuk digarap langsung saat ini mencakup 30 juta hektar. Wilayahnya tersebar di sejumlah daerah di Sumatera dan Kalimantan.

Saat ini persaingan memperoleh lahan untuk perkebunan kelapa sawit semakin ketat di tengah tren kenaikan kepemilikan konsesi oleh asing. Hingga kini, investor asing terutama dari Malaysia menguasai sekitar 2 juta ha konsesi perkebunan kelapa sawit. Menurut data Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), hingga 2010 investor Malaysia sudah mengakuisisi 230 perkebunan sawit di Indonesia. 

Sebagian besar merupakan kelompok-kelompok usaha perkebunan raksasa asing, seperti Golden Hope dan Syme Darbi dari Malaysia, Wilmar Group dari Singapura yang memiliki konsesi di Kalimantan dan Sumatera.

Investor asing masih mengincar konsesi lahan di Indonesia karena posisi yang strategis sebagai negara tropis dan masih memiliki sedikitnya 30 juta hektar kawasan hutan krisis yang berpotensi menjadi perkebunan kelapa sawit, karet, dan tebu.

Namun pada 2011 Kementerian Kehutanan telah mencabut izin prinsip pencadangan area hutan seluas 3 juta hektar untuk 251 investor perkebunan kelapa sawit yang tidak menunjukkan kemajuan pengelolaan. Pemerintah memutuskan mengalihkan hak penguasaan kawasan hutan tersebut kepada pengusaha nasional yang lebih serius bekerja. Kementerian BUMN juga mendukung rencana Kementrian Kehutanan untuk menghentikan sementara izin investasi di sektor perkebunan kelapa sawit dan karet oleh investor asing.

Penyebaran geografis

Menurut data Ditjen Perkebunan, areal perkebunan kelapa sawit tersebar di 17 provinsi meliputi wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Tahun 2010 wilayah Sumatera merupakan yang terbesar yaitu sebesar 5.892.707 ha atau 76,46% dari total areal perkebunan kelapa sawit nasional. Di wilayah ini provinsi Riau tercatat memiliki areal terbesar yaitu 1.815.313 ha dan selanjutnya diikuti provinsi Sumatera Utara seluas 1.142.395 ha.

Wilayah lainnya yang juga memiliki areal perkebunan kelapa sawit cukup besar adalah Kalimantan seluas 1.549.275 ha (19,80%). Dengan luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 791.667 ha, Kalimantan Tengah tercatat sebagai yang terbesar di Kalimantan, kemudian disusul oleh Kalimantan Barat seluas 532.034 ha. 

Sedangkan di P. Jawa wilayah luas perkebunan kelapa sawitnya sangat terbatas yaitu hanya 35.993 ha atau 0,46% dari total areal nasional. Lokasi perkebunan sawit di wilayah Jawa hanya terdapat provinsi Jawa Barat dan Banten. Kondisi alam di Jawa Barat yang dingin dan berbukit lebih cocok untuk jenis tanaman teh, sehingga lebih banyak terdapat perkebunan teh di wilayah ini yaitu mencapai 77,83% dari total perkebunan teh nasional.   

Pemain utama perkebunan kelapa sawit nasional

Perkebunan kelapa sawit semenjak tahun 1990 telah bergeser kepemiliknnya dari semula sebagian besar dimiliki oleh perkebunan milik negara kemudian setelah terjadi investasi besar-besaran dari perkebunan swasta maka kini perkebunan swasta mendominasi perkebunan kelapa sawit. Mulai tahun 1997 dan terutama setelah krisis moneter terjadi lagi perubahan dalam kepemilikan kebun kelapa sawit dengan masuknya investor Malaysia bauk dengan membuka kebun baru maupun dengan mengakuisisi perkebunan yang ada.

Akibatnya terjadi pergeseran kepemilikan dari kebun sawit karena banyaknya kebun sawit swasta yang besar menghadapi masalah keuangan karena besarnya hutang yang mereka tanggung. Saat ini grup-grup perusahaan yang memeiliki kebun sawit telah berubah, dan muncul perkebunan yang dimiliki oleh beberapa pemilik dengan porsi saham yang tesebar, baik saham yang dimiliki oleh publik maupun oleh private company. Berikut ini beberapa perusahaan  nasional yang memiliki luas kebun yang cukup besar.

PT Astra Agro Lestari
PT Astra Agro Lestari (AAL) adalah anak perusahaan dari Astra Group yang menjadi holding company bagi divisi agrobisnis Astra Group. Sejak tahun 2004 PT AAL lebih memfokuskan usaha ke bidang kelapa sawit dengan mendivestasikan usahanya dibidang non palm oil. 

Untuk memperluas lahan perkebunan sawitnya, AAL mengakuisisi 5.000-6.000 ha lahan tiap tahun. AAL juga gencar melakukan penanaman kembali sejak 2009. Saat ini rata-rata usia pohon 16 tahun. Saat ini AAL merupakan perkebunan swasta terbesar dengan kepemilikan lahan seluas 265.000 hektare  pada 2011. Dimana sekitar 77,3% sekitar 204.845 ha di antaranya sudah menghasilkan dan sisanya seluas 60.155 ha merupakan tanaman muda. 

Sepanjang 2010 produksi CPO AAL mencapai 1,1 juta ton, meningkat 2,8% dibandingkan tahun sebelumnya  1,08 juta ton. Produksi tersebut merupakan produksi TBS kebun inti sebesar 3,3 juta ton, kebun plasma 906 ribu ton dan dari pihak ke-3 sebesar 618,6 ribu ton.

Pada 2010 AAL  membangun tiga pabrik baru pengolahan CPO yaitu pabrik Kalimantan Timur berkapasitas 105 ton FBB/jam, pabrik Kalimantan Tengah 225 ton FBB/ jam dan Kalimantan Selatan berkapasitas 30 ton FBB/jam, serta memperluas satu pabrik di Riau yang telah ada dengan total investasi sebesar Rp 1,5 triliun dan . ditargetkan akan selesai pada 2012. 

Hingga kini AAL mengoperasikan 22 unit CPO mill dengan total produksi CPO sebesar 1.050 ton per jam. AAL juga memiliki satu pabrik refinery CPO di Sumatra Utara berkapasitas 300 ton per hari, 1 unit pabrik Kernel (Kernel Processing Unit) berkapasitas 700 ton  per hari, yang berlokasi di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Pada 2011 AAL akan membangun empat pabrik pengolahan CPO berkapasitas 5 ton per jam dengan nilai investasi USD56 juta. Pabrik tersebut 2 unit berlokasi di  Kalimantan Timur, 1 unit  di Kalimantan Selatan dan 1 unit di Sulawesi Tengah yang diperkikan akan beroperasi pada 2014. 

PT Asian Agri 
PT Asian Agri (PT. AA) sebagai holding company dari divisi agribisnis Raja Garuda Mas Group memiliki perkebunan kelapa sawit yang tersebar  di wilayah Sumatera.

PT AA merupakan induk dari Grup Asian Agri yang terdiri dari AA Plantation I di wilayah Sumatera Utara. Grup Asian Agri kemudian melebarkan sayapnya ke Riau dan Jambi, sehingga mempunyai kebun inti dan plasma.

Saat ini Asian Agri memiliki 28 kebun kelapa sawit dan mengoperasikan 19 pabrik kelapa sawit di Sumatra Utara, Riau dan Jambi. Pabrik-pabrik itu mempunyai kapasitas untuk memproduksi CPO 1 juta metrik ton per tahun. 

Grup Asian Agri melalui anak perusahaannya PT. Asianagro Agungjaya membangun pabrik biodiesel yang berlokasi di Dumai, Riau dengan menyerap investasi sebesar Rp 350 miliar. Pabrik ini mulai beroperasi pada 2008,  mengolah CPO menjadi biodiesel dengan kapasitas produksi awal sekitar 200.000 ton per tahun dan akan dinaikkan bertahap hingga kapasitas penuh 400.000 ton. 

Selain membangun pabrik biodiesel di Dumai, Asian Agri juga akan membangun satu unit pabrik biodiesel di Marunda, Jakarta dengan kapasitas 200.000 ton per tahun. 

Pabrik tersebut mampu memproduksi biodiesel dengan tingkat kemurnian 100% sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif tanpa campuran minyak bumi.  Untuk menjamin pasokan bahan baku CPO, Asian Agri diketahui mengandalkan produksi kebun sendiri.

Asian Agri memiliki perkebunan kelapa sawit yang tersebar di provinsi Sumatra Utara, Jambi dan Riau dengan total luas lahan 160 ribu ha, yang terdiri dari 100 ribu ha lahan inti dan 60 ribu ha lahan plasma. Sedangkan total kapasitas produksi sekitar 240.ribu ton per bulan. 

PT SMART 
PT SMART Tbk  adalah perusahaan  palm oil yang terintegrasi mulai dari kebun kelapa sawit, pabrik pemrosesan CPO dan pabrik pembuatan minyak goreng serta produk hilir olahan dari CPO lainnya. Perusahaan ini adalah anak perusahaan dari Sinar Mas Group  dibidang agrobisnis yang menguasai kebun kelapa sawit seluas 102.556 ha pada tahun 2005 yang berlokasi di Sumatera dan Kalimantan. Kebanyakan kebun kelapa sawit milik SMART Smart dalam masa produktifnya yaitu seluas 91.480 ha, sisanya tanaman yang masih muda dan belum produktif.

Untuk mengolah hasil kebun kelapa sawitnya, SMART memiliki  12 pabrik pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas produksi 2,9 juta ton CPO per tahun dan 2 pabrik pengolahan inti kelapa sawit dengan kapasitas produksi 200.000 ton palm kernel oil per tahun. Pada tahun 2005 baru mulai dioperasikan 3 pabrik penghasil CPO di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan dengan kapasias produksi 450.000 ton CPO per tahun. Selain itu PT SMART memiliki pabrik penyulingan minyak kelapa sawit yang menghasilkan minyak goreng dengan kapasitas produksi 840.000 ton per tahun.

SMART sudah mengikuti ketentuan Indonesia Sustainable Palm Oil USPO) yang mulai diberlakukan pada perusahaan besar pada Maret 2011 dan ketentuan itu diberlakukan pada seluruh perusahaan perkebunan pada 2014.

SMART menganggarkan belanja modal sekitar Rp1,1 triliun pada 2011, yang akan digunakan untuk penanaman lahan baru, termasuk penanaman kembali sekitar 5 ribu hektar. Selain itu SMART juga sedang membangun pabrik untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi 1,5 juta ton per tahun.

Luas area perkebunan SMART 137.543 hektar pada 2011, termasuk plasma  126.553 hektar lahan menghasilkan dan 10.990 hektar lahan belum menghasilkan. Per Maret 2011, produksi buah sawit  mencapai 641.084 ton, termasuk produksi plasma. Sedangkan produksi CPO 162.087 ton dan inti sawit (PKO) sebesar 34.881 ton untuk inti sawit.

PT Bakrie Sumatera Plantation
Bakrie & Brothers  Group pada tahun 2005, melalui anak perusahaannya yaitu PT. Bakrie & Brothers Tbk  meningkatkan  lagi kepemilikan  sahamnya di  PT. Bakrie Sumatera Plantation sebesar 28% yang sebelumnya telah diakuisisi sebesar 28.41%. Akuisisi tersebut dilakukan untuk memacu pertumbuhan usaha.

Selain itu PT. Bakrie Sumatera Plantations juga melakukan akuisisi kebun karet dan fasilitasnya PT. Huma Indah Mekar di Lampung serta  kebun sawit dan fasilitasnya PT. Agro Mitra Madani di Jambi dengan nilai akuisisi seluruhnya sebesar Rp. 140 milliar. Disisi lain PT. Bakrie Sumatera Plantations juga telah melepas aset yang dinilai tidak produktif,seperti kebun sawit milik PT. Patriot Andalas di Kalimantan Barat.

BSP juga akan melakukan ekspansi ke Kamboja dengan membuka lahan perkebunan seluas 10 ribu hektare dengan investasi US$ 30 juta atau sekitar Rp300 miliar. Sekitar 20% atau sekitar US$ 6 juta dari investasi berasal dari dari kas internal perseroan, dan sisanya berasal dari pinjaman luar negeri atau investor asing

Salah satu usaha BSP yaitu menerbitkan obligasi tambahan senilai US$ 25 juta melalui anak perusahaannya BSP Finance BV. Obligasi yang diterbitkan tersebut mempunyai bunga 10,75% tingkat imbal hasil 11,48 persen, dan harga 98,18%.
  
Obligasi ini jatuh tempo pada 2011 dan dijamin oleh Bakrie Plantations dan empat anak perusahaannya yaitu PT Bakrie Pasaman Plantations, PT Agrowiyana, PT Agro Mitra Madani, PT Huma Indah Mekar, dan PT Air Muring. Arch Advisory Limited bertindak sebagai penasihat untuk transaksi ini.

Pada akhir 2010 BSP melalui anak perusahaannya PT. Flora Sawita Chemindo (PT. FSC) melakukan ekspor perdana produk turunan CPO terdiri dari 10 kontainer stearic acid dengan tujuan China, 3 kontainer stearic acid ke Siria, 1 kontainer stearic acid ke Iran, 2 kontainer glycerine ke India, dan 1 kontainer glycerine ke Taiwan.

Stearic acid merupakan bahan baku dan bahan penunjang industri karet dan ban, pelumas, sabun, detergen, industri elektronika, dan plastik. Sedangkan glycerine merupakan bahan penunjang pasta gigi, industri farmasi, industri rokok, kosmetik, sabun, dan bahan makanan. Pasar stearic acid paling banyak ke China, yakni sampai 40 persen dari produksi. 25 persen dijual ke Eropa, 25 persen lokal, dan sisanya ke berbagai negara.

Seperti diketahui pada 2010 BSP mengakuisisi Grup Domba Mas senilai Rp 2,06 triliun. Grup Domba Mas memiliki 3 anak perusahaan yaitu PT Flora Sawita Chemindo (FSC), PT Domas Agrointi Perkasa (DAP), dan PT Domas Sawitinti Perdana (DSP).  PT. FSC memiliki total kapasitas produksi 54 ribu ton fatty acid per tahun, yang terdiri dari 49 ribu ton stearic acid dan 5 ribu ton glycerine per tahun. Pabrik tersebut berlokasi di Tanjung Morawa, Medan, Sumatra Utara. PT. FSC mulai beroperasi pada 1998, namun pada 2007 sempat berhenti operasi. Setelah diakuisisi oleh BSP kemudian melakukan renovasi senilai US$ 2 juta, kemudian beroperasi kembali. Sedangkan Dap dan DSP memiliki total kapasitas produksi  fatty acid sekitar 50.000 ton per tahun dan fatty alcohol sekitar 132.000 ton per tahun.  

PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia bergerak di bidang pembenihan kelapa sawit berkapasitas 20 juta benih kelapa sawit per tahun dengan investasi US4 7 juta. Pembibitan ini akan berproduksi pada 1915. ASD-Bakrie akan menghasilkan varietas kelapa sawit baru yang bertahan hingga 10 tahun. Varietas ini dapat menghasilkan CPO sebanyak 8 sampai 10 ton. PT. ASD Bakrie merupakan patungan antara BSP dengan Agricultural Service and Development LLC dari Costa Rica 

Pada 2010 BSP mengembangkan perkebunan kelapa sawit di wilayah Sumatra seluas 10.000 ha dengan investasi US$ 25 juta, yang akan beroperasi pada 2013.

Saat ini BSP memiliki total area perkebunan kelapa sawit 150 ribu ha dan   perkebunan karet 117.118 ha pada 2011 tersebar di Sumatra Utara, Riau, Jambi, Sumatra Selatan dan Sumatra Barat. BSP akan menambah lahan kelapa sawit menjadi 200 ribu ha pada 2014. 

Sementara itu kapasitas produksi pengolahan kelapa sawit sebesar 2,3 juta ton TBS per tahun serta produksi CPO sebesar 174.417 ton pada 2010. 

PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum)
PT. Lonsum memiliki perkebunan kelapa sawit yang tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Setelah proses restrukturisasi di tahun 2004, Lonsum kembali menggiatkan usaha perkebunan di Sumatera Utara sementara melanjutkan kegiatan pengelolaan yang sempat tersendat di Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Perusahaan telah merehabilitasi sekitar 14.000 ha perkebunan inti dan tengah berupaya mengelola 15.000 ha perkebunan sawit di Sumatera Selatan. 

Pada tahun 2004, Robert Kuok  Hock-Nien  pengusaha dari Malaysia membeli sebagian besar saham PT Pan London Sumatera  Plantation, perusahaan yang kini menguasai 20,94% saham PT PP London Sumatera Tbk. (Lonsum).  Kuok mengakuisisi saham Pan London Sumatera Plantation milik Andre Pribadi, adik  dari pemilik Grup Napan, Henry Pribadi. 

Pada 2007 Lonsum diakuisi oleh Grup Indofood melalui PT. Indo Agri Resources Ltd dengan nilai sekitar Rp 8,4 triliun. Dana untuk akuisisi didukung oleh  ING, Standard Chartered Bank, Sumitomo Mitsui Banking, dan Bank Cen¬tral Asia. Bank-bank tersebut memberi pinjaman yang besaran¬nya sekitar IS$ 20-25 juta. 

Seperti diketahui, dua keluarga pengusaha besar, keluarga Salim pemilik PT Indosiar Karya Media Tbk dan keluarga Sariaatmaja, dikabarkan melakukan tukar guling lahan perkebunan sawit dan stasiun televisi Indosiar. Keluarga Salim membeli lahan sawit PT Lonsum.  Sementara keluarga Sariaatmaja, yang memiliki stasiun televisi SCTV dan O Channel, mengambil alih stasiun TV milik keluarga Salim yakni Indosiar.

PT. Indo Agri sendiri merupakan perkebunan yang terintegrasi dan pengolah minyak goreng, margarin, dan shortenings dengan merek terkemuka.  IndoAgri sebelumnya memiliki lahan perkebunan kelapa sawit 224.083 ha, di antaranya sekitar 74.878 ha telah ditanami.  Dengan akuisisi ini, total lahan perkebunan meningkat menjadi sekitar 387.483 hektar, dan total lahan yang telah ditanami menjadi sekitar 138.081 hektar. Secara keseluruhan, luas lahan yang telah ditanami sekitar 165.000 hektar, termasuk karet dan tanaman lain.

Lonsum memiliki sebanyak 38 perkebunan inti dan 14 perkebunan plasma di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi dengan total areal perkebunan seluas 99.386 ha pada 2011. Sekitar 79% ditanami kelapa sawit yang kini memiliki umur rata-rata 12 tahun, 18% tanaman karet dan sisanya tanaman murah lainnya. Diantaranya 38.000 ha area perkebunan kelapa sawit dengan produksi CPO sekitar 170.000 ton per tahun yang berlokasi di Sumatra Utara telah mendapatkan sertifikat RSPO. 

Lonsum mengoperasikan 11 pabrik, antara lain 4 pabrik di Sumatera Utara, 6 pabrik di Sumatera Selatan, dan 1 pabrik di Kalimantan Timur. Total kapasitas keselurahan pabrik tersebut mencapai 405 ton per jam. Masing-masing pabrik memiliki kapasitas yang berbeda antara 10 hingga 60 ton per jam. 

Pada 2011 Lonsum merencanakan akan menambah areal perkebunan seluas 3.000-4.000 ha dengan investasi sekitar Rp 400 miliar.  

PTP Nusantara IV
PT Perkebunan Nusantara IV (Persero), disingkat PTPN IV, adalah perkebunan milik negara yang dibentuk pada tahun 1996. Perusahaan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini merupakan penggabungan kebun-kebun di Wilayah Sumatera Utara dari eks PTP VI, PTP VII dan PTP VIII.

PTPN IV  merupakan perkebunan kelapa sawit terbesar milik negara. Selain unit usaha perkebunan, PTPN IV juga memiliki sejumlah 34 unit pabrik pengolahan hasil perkebunan diantaranya pabrik CPO 16 unit. PTPN IV memiliki kapasitas produksi CPO sebesar 365.081 ton per tahun, Palm Kernel Oil  34.100 ton per tahun dan lain-lain.  
 
Pada 2007 PTPN IV memperluas areal tanaman sawitnya dengan mengambil alih lahan sawit milik PT Andalas Agro Nusantara di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara seluas 20 ribu ha. Diantaranya 9.000 hektare akan diperuntukkan bagi pembukaan lahan plasma yang melibatkan petani di sekitar perkebunan. Proses penanaman 20 ribu hektare areal itu sendiri diperkirakan rampung tahun 2011 dan diyakini produksinya cukup bagus mengingat bibit sawit yang berkualitas seperti dari Guthrie Malaysia. 

Hingga 2010 PTPN IV memilki total area perkebunan seluas 175.244 ha, yang terdiri dari perkebunan kepala sawit 135.198 ha dan perkebunan teh seluas 4.398 ha.  Untuk produksi kelapa sawit sudah mencapai 2,191 juta ton, dengan luas arel produksinya 23,28 ton per hektar. Sedangkan teh jadi sudah memproduksi hampir 9 ton, di mana luas areal produksi daun teh basah 10,60 ton per hektar. Sedangkan jumlah ekspor dan lokal kelapa sawit mencapai 804.389 juta kg sedangkan teh hanya 8,482 juta kg.

Pada 2011 PTPN IV menargetkan produksi CPO sekitar 700.000 ton atau meningkat hanya 1,55% dibandingkan dengan realisasi tahun lalu. 

Pada 2011 PTPN IV mengeluarkan belanja modal sekitar Rp 2,0 triliun untuk perluasan tanaman kelapa sawit dan teh sebesar Rp511,024 miliar, dan bangunan rumah, peralatan mesin, jalan dan saluran air, alat pertanian mencapai Rp464,678 miliar dan investasi lain-lain sekitar Rp100,477 miliar. 

Lahan Perkebunan Besar Swasta Terbesar 

Berdasarkan luas kepemilikan area perkebunan kelapa sawit, pada 2011 Perkebunan Besar Swasta (PBS) adalah yang terbesar. Hal ini merupakan kontribusi dari perusahaan besar seperti PT. Asian Agri dan anak perusahaannya yang menguasai 160.000 ha lahan perkebunan sawit di wilayah Sumatera.    

Selanjutnya tercatat PT. Astra Agro Lestari (AAL) yang memiliki area perkebunan seluas 265.000 ha. Perkebunan kelapa sawit milik AAL tersebar di wilayah Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. 

PT. SMART tercatat memiliki luas lahan perkebunan kelapa sawit sekitar 137.574 ha yang sebagian besar berlokasi di Sumatera dan Kalimantan. 

Sedangkan untuk Perkebunan Besar Negara (PBN), PTPN Nusantara IV 135.198 ha menempati posisi teratas dengan kepemilikan lahan perkebunan seluas  ha yang berlokasi di wilayah Sumatera Utara.  

Perkembangan Produksi

Produksi CPO Meningkat 5,7% per tahun
Seiring dengan penambahan luas areal perkebunan serta berkembanganya industri kelapa sawit di berbagai wilayah seperti Sumatera dan Kalimantan serta membaiknya harga CPO dunia, mendorong produksi CPO nasional terus meningkat setiap tahun.  

Dalam periode 2007-2011 pertumbuhan produksi CPO mengalami rata-rata peningkatan sekitar 5,7.% per tahun.  Jika tahun 2007 produksi CPO nasional tercatat masih 17,6 juta ton, maka pada 2011 produksi CPO diperkirakan mencapai 22,0 juta ton. 

Kenaikan produksi CPO ini juga disebabkan meningkatnya volume ekspor terutama ke pasar Amerika Serikat dan kenaikan permintaan di pasar lokal terutama dari industri minyak goreng dan industri makanan lainnya. Selain itu, peningkatan produksi CPO juga didorong oleh semakin berkembangnya industri bio diesel, yang menggunakan CPO sebagai bahan baku utama, sejak beberapa tahun belakangan ini.
 
Lihat Daftar isi>>
HOME            Laporan Utama            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN -Juli 2011

FOKUS: KETAHANAN PERBANKAN DI INDONESIA MENGHADAPI KRISIS FINANSIAL

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI PALM OIL DI INDONESIA

PERTANIAN :
PERKEBUNAN KELAPA:  POTENSI YANG BELUM OPTIMAL