2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Januari 2011


 PROFIL INDUSTRI PULP DAN KERTAS


Pendahuluan

Indonesia berpotensi untuk menjadi tiga besar dalam industri pulp dan kertas di dunia, antara lain karena produksi pulp dan kertas di Tanah Air diuntungkan oleh berbagai kondisi alam dan geografis di khatulistiwa. Saat ini Indonesia menempati peringkat 11 dunia untuk industri kertas dan peringkat sembilan dunia untuk industri pulp.

Indonesia diuntungkan karena letak geografis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa yang rata-rata memiliki pepohonan yang tumbuh tiga kali lebih cepat dibandingkan di negara-negara yang berada di daerah dingin, sehingga tersedia hutan yang luas sebagai sumber bahan baku, selain itu Indonesia juga berada di tengah-tengah Asia yang sedang berkembang menjadi raksasa ekonomi baru yang menjadi pasar terbesar pulp dan kertas dunia di masa depan.

Persaingan global dalam bisnis pulp dan kertas sangat keras dan persyaratan lingkungan yang diterapkan juga semakin lama semakin ketat. Apalagi hemat energi dan ramah lingkungan sekarang telah menjadi tuntutan bisnis karena negara-negara tujuan ekspor dan para pembeli produk semakin menuntut adanya pulp dan kertas yang diproduksi dari sumber yang legal, yang dilengkapi dengan sertifikasi resmi mengenai legalitasnya.

Tahun 2011 ekspor kertas dari Indonesia masih akan diwarnai dengan tuduhan dumping, karena harga kertas Indonesia sangat kompetitif di beberapa negara tujuan ekspor. Setiap tahun selalu ada negara tujuan ekspor kertas Indonesia yang melakukan tuduhan dumping. Industri kertas dan pemerintah terus melakukan perlawanan antara lain melalui lembaga internasional seperti WTO.

Perlawanan juga dilakukan langsung terhadap negara-negara penuduh, karena apabila negara tujuan ekspor berhasil mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap suatu jenis kertas, dikhawatirkan tuduhan dumping akan berkembang kepada jenis-jenis kertas dan komoditi ekspor Indonesia lainnya. Hal ini disampaikan oleh Ketua Presidium APKI (Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia), Ir.H.M. Mansur .

Indonesia telah menjadi bulan-bulanan tuduhan dumping dari negara-negara tujuan ekspor kertas. Meskipun sebagian besar tuduhan tersebut dapat dipatahkan, tetapi untuk menghadapi tuduhan tersebut memakan tenaga, waktu dan biaya. Industri kertas Indonesia juga sering harus menghadapi pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) dan Countervailing Duty (CVD), dimana negara-negara pesaing tidak mau mencabutnya, seperti yang terjadi terhadap ekspor kertas tulis-cetak ke Korea Selatan dan kertas koran ke Malaysia. Kedua negara tersebut tetap mengenakan BMAD meskipun sudah melewati batas waktu 5 tahun yang ditetapkan WTO.

APKI meminta dukungan Kementerian Perdagangan agar mencermati banyaknya perjanjian perdagangan antara negara di dunia seperti PTA (Preferential Trade Agreement) dan FTA (Free Trade Agreement), apakah berpotensi memberikan dampak negatif atau positif terhadap neraca perdagangan Indonesia.

Misalnya PTA Pakistan-China, ternyata Pakistan memberikan penurunan bea-masuk terhadap kertas dari China. Tetapi karena belum ada PTA Pakistan - Indonesia, kertas Indonesia ke Pakistan tetap dikenakan bea-masuk normal. Nilai ekspor kertas Indonesia ke Pakistan dalam beberapa tahun ini sekitar USD55 juta/tahun. Sementara itu dengan PTA Pakistan-China, maka Pakistan mengenakan bea-masuk terhadap kertas packaging China sebesar 17%, sedang untuk kertas packaging ex Indonesia dikenakan bea masuk normal sebesar 40%. Dengan ditandatanganinya PTA Pakistan-China dapat diperkirakan pembeli kertas Pakistan akan lebih memilih mengimpor kertas dari China, dibandingkan  dari Indonesia.

Struktur Industri Pulp dan Kertas

a.        Profil industri pulp & kertas

Menurut APKI saat ini tercatat sekitar 80 perusahaan pulp & kertas di Indonesia yang masih beroperasi, yang terbagi atas 10 pabrik terpadu pulp & kertas, 67 pabrik kertas dan 3 pabrik pulp. Menurut catatatan, pabrik dengan kapasitas besar  pada umumnya merupakan pabrik baru dan modern yang jumlahnya tidak banyak, sedangkan pabrik dengan kapasitas kecil adalah pabrik-pabrik lama.

Pada tahun 2009 Industri pulp nasional memiliki total kapasitas terpasang sebesar 7.902.100 ton per tahun, yang terdiri dari pabrik terpadu (pulp & kertas) sebesar 5.232.000 ton per tahun atau 81,2% dan pabrik pulp saja sebesar 1.215.000 ton per tahun atau 18.8%

Jika dilihat dari status perusahaan, maka dari 80 perusahaan pulp & kertas tersebut, perusahaan dengan status PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) merupakan yang terbanyak, disusul oleh perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) dan BUMN (Badan Usaha Milik Negara). Perusahaan PMDN  tercatat sebanyak 64 perusahaan, dari jumlah tersebut kapasitas industri pulp sebesar 2.797.100 ton (43,4%) dan industri kertas 4.913.380 ton (47,1%).

Meski dari jumlah unitnya perusahaan PMA hanya 13 unit, lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan PMDN, namun khususnya di industri pulp total kapasitas PMA lebih besar yaitu 3.410.000 ton (52,9%) dibanding PMDN yang 2.797.100 ton. Untuk industri kertas kapasitasnya tercatat 4.800.300 ton (49,4%). 

Sedangkan perusahaan BUMN hanya ada 3 perusahaan saja yaitu PT, Perusahaan Kertas Leces, PT. Kertas Padalarang dan PT. Kertas Kraft Aceh. Kapasitas ke tiga BUMN ini sangat lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan PMDn maupun PMA, yaitu masing-masing pulp 240.000 ton (3,7%) dan kertas 337.900 ton (3,5%).

b.        Peta penyebaran lokasi

Dari segi penyebaran lokasi industri, terlihat bahwa saat ini sektor industri kertas  terkonsentrasi di wilayah Jawa, hal ini dapat dipahami karena Jawa merupakan pusat ekonomi dan bisnis. Di Jawa terutama Jawa Barat dan Jawa Timur tedapat 64 perusahaan, yang terdiri dari industri pulp dengan total kapasitas 340.000 ton (5,3%) dan industri kertas dengan total kapasitas 8.550.440 ton (85,2%). Di Jawa, kapasitas industri kertas lebih besar dibanding pulp, karena pabrik-pabrik kertas besar berlokasi di Jawa seperti PT. Indah Kiat (Serang dan Banten), PT. Tjiwi Kimia (Sidoarjo).  

Sebaliknya Sumatera adalah pusat industri pulp, dari 14 perusahaan yang ada, total kapasitas industri pulp-nya mencapai 5.552.000 ton sedangkan total kapasitas industri kertas nya hanya 1.491.140 ton. Salah satu perusahaan pulp yang besar yaitu PT. Riau Andalan Pulp & Paper yang berlokasi di Riau.
Dengan adanya peraturan pemerintah mengenai larangan membangun industri pulp di Jawa dengan pertimbangan penduduk sangat padat, maka wilayah Sumatera, Kalimantan dan Papua yang memiliki lahan cukup luas memiliki potensi besar untuk pengembangan  industri pulp & kertas di masa mendatang. Hal ini mengingat pabrik pulp adalah pabrik berskala besar dan mempunyai potensi untuk mencemari lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik atau jika terjadi kerusakan pabrik. 

c.        Perkembangan kapasitas industri pulp dan Kertas berjalan lambat

Kapasitas industri pulp dan kertas di Indonesia terus berkembang, meskipun relatif kecil perkembangan setiap tahunnya, Ketersediaan bahan baku kayu merupakan faktor utama lambatnya perkembangan industri ini, karena kewajiban mengolah konsesi lahan yang berikan pemerintah pada industri Pulp dan Kertas untuk dikonversikan menjadi Hutan Tanaman Industri (HTI) sebagai sumber bahan baku utama Pulp membutuhkan waktu yang relatif panjang.

Pada tahun 2005 kapasitas industri pulp mencapai 6.447.100 ton, kemudian meningkat menjadi 6.697.100 ton  pada tahun 2006. Pada tahun 2007 tidak ada penambahan kapasitas produksi, tetapi tahun 2008 terdapat peningkatan yang cukup besar, yaitu mencapai 17,99%, sehingga pada tahun 2008 kapasitas produksi industri pulp mencapai 7.902.100 ton,
namun peningkatan kapasitas tersebut terjadi karena PT. Indah Kiat Pulp & Paper (PT. IKPP - Riau), PT. Riau Andalan Pulp & Paper (PT. RAPP) dan PT. Lontar Papyrus (Jambi) melakukan debottlenecking sehingga terjadi penambahan kapasitas nasional terpasang sebesar 1,4 juta ton yaitu menjadi 7,9 juta ton/tahun dari semula sebesar 6,5 juta ton/tahun. demikian pula pada tahun 2009 kapasitas produksinya tidak meningkat, tetap sebesar 7.902.100 ton.

Perkembangan kapasitas produksi industri kertas juga tidak berbeda jauh dengan perkembangan industri pulp, karena dari tahun 2005 hingga 2007 peningkatannya masih dibawah 2% per tahunnya. Peningkatan kapasitas produksi industri kertas juga meningkat cukup pesat pada tahun 2008,  karena terkait debottlenecking oleh PT IKKP, PT RAPP dan PT Lontar Papyrus, sehingga kapasitas produksinya meningkat sebesar 17,56%, dari 10.359.481 ton pada tahun 2007  menjadi  12.178.650 ton pada tahun 2008.

d.        Kapasitas Produksi kertas budaya terbesar

Produk kertas terbagi atas kertas budaya (tulis, cetak, Koran dan sebagainya), kertas industri (liner, kraft, board dan lainya) serta kertas khusus (tissue,sigaret, kertas uang dan sebagainya).

Berdasarkan data APKI, pada 2008 jenis kertas budaya merupakan produk yang memiliki kapasitas produksi paling besar. Dari total kapasitas produksi kertas nasional sebesar 12,178 juta ton, maka kapasitas produksi jenis kertas budaya mencapai 4,184 juta ton atau sebesar 42,0%.

Pemain Utama Industri Pulp dan Kertas
a.        RAPP Produsen Pulp Terbesar

PT. Riau Andalan Pulp & Paper merupakan produsen pulp & kertas terpadu yang memiliki kapasitas produksi terbesar yaitu 2.000.000 ton per tahun.  Pabrik pulp milik Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) yang berada di bawah bendera Grup Raja Garuda Mas, yang berlokasi di Riau ini tercatat juga sebagai produsen pulp terbesar di Asia.

Posisi kedua sebagai produsen pulp besar ditempati oleh anak perusahaan Grup Sinar Mas yaitu PT. Indah Kiat Pulp & Paper (IKPP).  IKPP merupakan produsen pulp & kertas terpadu, kini memiliki 3 unit pabrik dengan total kapasitas sebesar 1.820.000 ton per tahun.  Tahun 2009 lalu produksi IKPP masing-masing untuk pulp 1,866 juta ton, kertas 618 ribu ton dan kertas kemasan 1,268 juta ton.

Selain IKPP, anak perusahaan Grup Sinar Mas lainnya yang juga merupakan produsen pulp besar  adalah PT. Lontar Papyrus Pulp & Paper Industry (LPPI). Perusahaan yang berlokasi di Jambi ini memiliki kapasitas  produksi sebesar 665.000 ton per tahun. Realisasi produksi LPPI pada 2009 tercatat masing-masing pulp 608,7 ribu ton dan tissue 51,2 ribu ton yang dipasarkan untuk pasar local dan ekspor.

b.        Indah kiat produsen kertas terbesar

PT. Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (IKPP) dari Grup Sinar Mas menempati urutan teratas dengan kapasitas terpasang 2.111.000 ton per tahun. IKPP memiliki 3 unit pabrik yang terdiri dari pabrik Tangerang dengan kapasitas 106.000 ton/tahun, pabrik Bengkalis 700.000 ton/tahun dan Serang 1.305.000 ton/tahun. Dengan kapasitas tersebut, IKPP tercatat sebagai produsen kertas terbesar di Asia.  

Setelah IKPP, produsen kertas besar lainnya adalah PT. Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk juga merupakan anak perusahaan Grup Sinar Mas. Tjiwi Kimia memiliki total kapasitas terpasang 1.044.000 ton.

Berdasarkan laporan tahunan Tjiwi Kimia pada 2009, perusahaan ini telah meningkatkan kapasitas produksi menjadi 1.412.000 ton per tahun, yang terdiri dari kertas 1.014.000 ton, kertas kemasan 78.000 ton dan hasil-hasil produksi kertas (stationery) 320.000 ton per tahun. Pabrik perusahaan ini berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur ini memproduksi kertas berbagai macam kertas dan stationery termasuk buku tulis, memo, amplop, kertas komputer, kertas kado, shopping bag dan sebagainya.  

Di luar Grup Sinar Mas, PT. Kiani Kertas tercatat sebagai produsen kertas cukup besar yaitu 525.000 ton per tahun. Perusahaan ini semakin mengukuhkan posisinya sebagai produsen kertas papan atas dengan akan meningkatkan kapasitasnya menjadi 1.125.000 ton per tahun.

sSebelumnya diberitakan bahwa Kinai telah diakuisisi dengan nilai US$ 220 juta oleh United Fiber System (UFS) dari Singapore. Tetapi menurut ketua APKI proses pembelian Kiani oleh UFS tersebut batal karena adanya ketidak sesuaian dengan pemegang saham Kiani. 

Aspek Produksi

Produksi pulp dan kertas

Perkembangan produksi pulp dan kertas Indonesia beberapa tahun terakhir sebelum tahun 2008 pada umumnya masih menunjukan angka positif dengan utilitas kapasitas produksinya yang mencapai 80%. Meskipun pertumbuhannya relatif lambat hanya sekitar 7% per tahunnya tetapi kinerja industri  cukup positif.

Tetapi akibat krisis keuangan global pada tahun 2008, mengakibatkan turunnya permintaan pulp dan kertas dunia, dan dampak dari krisis keuangan tersebut, berpengaruh terhadap  Industri pulp Indonesia yang  juga sedang mengalami penurunan produksi pada tahun 2008 akibat krisis bahan baku kayu yang menerpa industri ini.

Pelarangan produksi dua pabrik pulp terbesar di Indonesia PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk dan PT Riau Andalan Pulp & Paper akibat proses hukum tuduhan illegal logging masih belum selesai. Penafsiran yang berbeda antara Departemen Kehutanan dan pihak kepolisian terhadap Inpres No 4/2005 tentang Pemberantasan Penebangan Secara Ilegal di Kawasan Hutan dan Peredarannya di Seluruh Indonesia, telah membuat anjloknya produksi pulp dan kertas nasional.

Pada tahun 2005 produksi pulp mencapai 5.467.540 ton, kemudian meningkat menjadi 6.231.174 ton pada tahun 2006 dan sedikit meningkat pada tahun berikutnya menjadi 6.282.330 ton.

Pada tahun 2008 produksi pulp turun menjadi 5.910.416 ton dan kembali meningkat pada tahun 2009 sebesar  6.525.099 ton, sejalan dengan mulai  membaiknya kondisi ekonomi dunia, terutama di Asia, serta kembali normalnya pasokan bahan baku pulp pada dua prosusen pulp terbesar di Indonesia PT Riau Andalan Pulp & Paper dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk.....

a.        Produksi kertas

Produksi kertas Indonesia dalam lima tahun terakhir berkembang relatif lambat, meningkat rata-rata sebesar 3,40% pertahunnya, meskipun sempat mengalami penurunaan sebesar hampir  5% pada tahun 2008.

Pada tahun 2005 produksi kertas mencapai 8.207.620 ton, dan meningkat sebesar 5,24% menjadi 8.637.615 ton pada tahun 2006. Pada tahun 2007 hampir tidak terjadi peningkatan produksi kertas, dengan produksi sebesar 8.680.972 ton.

Pada tahun 2008 terjadi penurunan produksi sebesar 4,94% dengan produksi sebesar 8.251.972 ton.  Penurunan ini akibat dari anjloknya produksi pulp karena krisis bahan baku kayu yang terjadi pada PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk dan PT Riau Andalan Pulp & paper.

Produksi kertas meningkat sebesar 12,80% pada tahun 2009 menjadi 9.308.225 ton, sejalan dengan selesainya persoalan pasokan bahan baku kayu pada awal 2009, dengan diizinkannya kembali dua perusahaan tersebut mendapatkan bahan baku kayu dari konsesi nya di Riau....


Lihat Daftar isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN -Januari 2011

FOKUS: SAATNYA EKSPOR NON MIGAS MENJADI TUMPUAN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PROFIL INDUSTRI: PROFIL INDUSTRI PULP DAN KERTAS        

INDUSTRI KEHUTANAN MEMBUTUHKAN MOMENTUM INVESTASI

HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan