2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

PERKEMBANGAN INDUSTRI POLYETHYLENE (PE) RESIN DI INDONESIA

MEI 2007


Latar belakang

Sejak 10 tahun terakhir masalah yang dihadapi industri hulu polyethylene (PE) di Indonesia masih seputar terbatasnya bahan baku dasar yaitu nafta. Nafta digunakan untuk memproduksi produk hulu petrokimia yakni ethylene yang selanjutnya digunakan sebagai bahan baku utama dalam industri PE. Masalah ini juga dibahas dalam laporan Joint Forum on Investment Competitiveness/SME WG Petrochemical Indonesia Jepang pada Maret 2007. Kondisi industri hulu petrokimia di Indonesia tertinggal dibandingkan Thailand, Malaysia, dan Singapura. Mitsubishi Chemical Jepang pada 2006 memposisikan Indonesia di peringkat 34 dalam industri petrokimia dunia.

Pasar PE resin di regional Asean masih cukup potensial terutama setelah diberlakukannya AFTA. Total permintaan mencapai 4 juta ton per tahun sedangkan ekspor sebesar 2,5 juta ton. Pertumbuhan untuk produk itu setiap tahunnya mencapai 6% sampai 8% per tahun. Meskipun potensi pasar di Asean cukup besar, namun belakangan ini kehadiran pemain-pemain baru asal Timur Tengah yang masuk ke pasar Asean dapat menjadi ancaman.

Di sisi lain, industri olefin dan aromatik, yang menjadi basis industri petrokimia di dalam negeri mengalami hambatan untuk berkembang, sebab jumlah pengusaha lokal yang tertarik untuk menanamkan modalnya di industri ini sangat sedikit. Hal ini disebabkan besarnya total investasi yang dibutuhkan, yaitu sekitar US$ 1,5 - US$ 3 miliar, sehingga perlu dukungan modal besar dari investor asing.

Disamping masalah minimnya investasi, industri PE resin terhambat pasokan bahan baku ethylene lokal yang terbatas dan tingginya harga impor seiring kenaikan harga minyak dunia yang mencapai US$ 70 per barel, mengakibatkan utilisasi industri PE rata-rata hanya 60% pada 2006.  Padahal menurut pihak Asosiasi Industri Plastik dan Olefin Indonesia (Inaplas) industri petrokimia harus berproduksi sekitar 80% agar tidak merugi.

Perkembangan terakhir berkaitan dengan industri PE nasional menyangkut pengakuisisian PT. Peni (produsen PE) oleh Titan Petrochem Sdn Bhd dari Malaysia pada 2006 lalu dengan nilai akuisisi sebesar US$ 78 juta. Akuisisi ini menjadikan Titan Group sebagai penghasil PE terbesar di Asia Tenggara. Selain Indonesia, Titan Group merencanakan akan mengakuisisi industri yang sama di negara lain, seperti Vietnam dan Filipina.  Titan Group merupakan produsen olefin dan polioefin terintegrasi pertama dan terbesar di Malaysia dan produsen poliolefina kedua terbesar di Asia Tenggara.


Melalui akuisisi Peni, Titan Group bermaksud menguasai pasar Indonesia yang sangat potensial sebab kebutuhan akan produk berbahan dasar plastik yang terus meningkat. Setelah diakuisisi, Titan akan segera membangun pabrik ethylene yang berasal dari tetes tebu, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakunya sendiri.

Kehadiran Titan sebagai pemain baru di industri PE di Indonesia menyelamatkan PENI, sebab sejak beberapa tahun terakhir kinerja PENI terpuruk dengan tingkat utilisasi hanya 30% dan dalam kondisi merugi. Selain itu, kehadiran Titan juga  berdampak positif bagi produsen sektor hilir.  Hadirnya Titan Group di Indonesia secara langsung akan mengubah peta industri ini karena ketergantungan impor PE resin oleh produsen lokal yang mencapai sekitar 244 ribu  ton pada 2006 akan berkurang dengan sendirinya.

Issu lain adalah akuisisi Chandra Asri Petrochemical Centre (CAPC) oleh Temasek Holdings, perusahaan investasi dari Singapore senilai US$ 700 juta pada 2006. Di Indonesia, Temasek sudah lebih dulu masuk ke bisnis telekomunikasi dan perbankan melalui kepemilikan saham pada PT. Indosat Tbk,  PT. Telkom Tbk, Bank Danamon Tbk dan Bank BII Tbk.

Dalam waktu dekat CAPC akan menambah investasi sekitar US$ 30 juta, guna meningkatkan kapasitas produksi ethylene menjadi 590 ribu ton dari sebelumnya 520 ribu ton per tahun.  Disamping itu,  CAPC juga telah mengakuisisi PT. Styrindo Mono Indonesia produsen ethylene benzene, sehingga pabrik itu sekarang terintegrasi dengan CAPC sebagai pemasok bahan bakunya.

Ekspansi yang dilakukan oleh dua produsen PE yaitu CAPC dan Titan terutama untuk mengurangi keterbatasan pasok PE dalam negeri, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor. Selama ini, Indonesia mengimpor PE dalam jumlah besar karena konsumsi di dalam negeri cukup besar, pada 2006 kebutuhan sekitar 682 ribu ton sedangkan produksinya hanya 470 ribu ton.

Hampir semua industri pengguna akhir petrokimia di dalam negeri masih menggunakan lebih dari setengah bahan baku impor. Sebagai contoh untuk ethylene, dari kebutuhan domestik 1,3 juta ton yang bisa dipenuhi dari dalam negeri baru 520 ribu ton sehingga sisanya harus impor.

Volume impor PE resin berkisar 244 ribu - 267 ribu ton dalam dua tahun terakhir. Ini untuk memenuhi permintaan di dalam negeri mengingat kebutuhan yang tinggi untuk industri hilir, seperti industri kantong plastik, elektronik, otomotif, dan industri lainnya.

Ekspansi ini menunjukkan bahwa industri PE resin di dalam negeri masih prospektif. Selain itu ekspansi CAPC dan TPNI akan menjadi pendorong masuknya investasi industri kimia hulu. Mengingat hingga saat ini investasi di industri ini masih minim, karena kendala modal yang sangat besar. Sehingga peran pemerintah diperlukan dalam hal regulasi dan insentif untuk menarik minat investor asing masuk ke industri PE resin. 

Produsen dan kapasitas

Di Indonesia hanya ada dua produsen PE resin yaitu PT. Chandra Asri Petrochemical Centre (CAPC) dan PT. Titan Petrokimia Nusantara Interindo (TPNI). CAPC merupakan produsen petrokimia hulu yang terintegrasi dengan hilirnya yaitu menghasilkan ethylene dan propylene. Produksi hulunya menghasilkan bahan baku plastic jenis high density polyethylene (HDPE). Sedangkan TPNI memproduksi HDPE dan low density polyethylene (LDPE).

CAPC memiliki total kapasitas produksi sebesar 300.000 ton yang terdiri dari LLDPE 200.000 ton dan HDPE 100.000 ton per tahun.

Sedangkan TPNI memiliki total kapasitas produksi sebesar 450.000 ton yang terdiri dari LLDPE dan HDPE masing-masing 225.000 ton per tahun.

Produksi PE meningkat
Produksi PE di dalam negeri terus meningkat dalam lima tahun terakhir dalam periode 2002-2006.  Pada 2002 volume produksi mencapai tercatat 430.000 ton dan terus tumbuh hingga mencapai  470.000 ton pada 2006, atau tumbuh rata-rata 3,0% per tahun.

Meningkatnya produksi PE nasional dipicu oleh meningkatnya kebutuhan oleh industri pemakai terutama industri plastik dan kemasan. Produk kemasan plastik cenderung meningkat terus seiring dengan semakin besarnya konsumsi masyarakat. Saat ini industri makanan dan minuman banyak menggunakan kemasan plastik sebagai pembungkus karena praktis dan relatif murah. Menurut Inaplas, potensi pasar plastik Indonesia sangat besar yaitu sekitar 2,6 juta ton pada 2006 dan diperkirakan akan mencapai 4 juta ton pada 2015.

Produksi PE domestik sebesar 470 ribu ton pada 2006 sementara total permintaan mencapai 662 ribu ton. Untuk menutup kekurangannya, Indonesia mengimpor PE terutama dari Singapura, Korea Selatan dan Timur Tengah.  ......... Lihat Daftar Isi >>



 
LAPORAN BULANAN
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
TOPIK TERKAIT

ICN - Mei 2007

FOKUS:

MOMENTUM UNTUK MENARIK DANA ASING KE SEKTOR RIIL

PROFIL INDUSTRI:

INDUSTRI POLYETHYLENE (PE) RESIN        
  • Latar belakang
  • Karakteristik dan klasifikasi produk
  • Produsen dan kapasitas
  • Kebutuhan bahan baku ethylene sebagian besar masih impor
  • Proyeksi kapasitas produksi dan produksi
  • Impor
  • Ekspor
  • Konsumsi
  • Investasi minim
  • Pangsa pasar dan persaingan
  • Kebijakan pemerintah
  • Harga PE
  • Kesimpulan dan Prospek

PERKEMBANGAN INDUSTRI POLYPROPYLENE (PP) RESIN DI INDONESIA        
  • Latar belakang
  • Klasifikasi dank ode tariff polypropylene
  • Struktur industri
  • Meskipun perlahan, produksi terus meningkat
  • Suplai bahan baku propylene
  • Pengembangan kapasitas produksi terganjal harga minyak
  • Impor PP resin terus meningkat
  • Singapura pemasok utama PP resin ke Indonesia
  • Ekspor PP resin Indonesia        
  • Proyeksi konsumsi PP resin        
  • Delta P US$ 105 pada tahun 2006
  • Pemasaran dan distribusi produk PP
  • Prospek dan Kesimpulan

PERKEMBANGAN INDUSTRI PVC RESIN DI INDONESIA
  • Current issue
  • Gambaran produk
  • Kapasitas produksi dan produsen
  • Impor
  • Ekspor
  • Tahun 2006 Turki tujuan ekspor terbesar
  • Konsumsi
  • Konsumsi menurut industri penggunannya
  • Proyeksi konsumsi dan produksi
  • Persaingan
  • Prospek dan kesimpulan

HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan