2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE


PERKEMBANGAN INDUSTRI POLYPROPYLENE (PP) RESIN DI INDONESIA

April 2010


Latar Belakang

Perkembangan industri Polypropylene (PP) tidak terlepas dari karakteristik industri petrokimia yang sangat tergantung pada minyak bumi yang dipakai sebagai bahan baku, yang harganya sangat fluktuatif tergantung kondisi pasar dunia. 

Ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting bagi pertumbuhan industri PP. Perkembangan kapasitas produksi PP di Indonesia masih stagnan pada 605.000 ton per tahun selama hampir 10 tahun terakhir. Hingga saat ini produsen PP hanya ada 3 perusahaan yaitu PT. Tri Polyta Indonesia, PT. Polytama Propindo dan PT. Pertamina. Untuk mengantisipasi rendahnya kapasitas, para produsen berencana meningkatkan kapasitas. PT. Polytama Propindo akan menambah kapasitas sebesar 160 ribu ton pada 2010 ini, sedangkan PT. Tri Polyta Indonesia akan menambah kapasitas 120 ribu ton yang akan direalisasikan awal 2011.

Sampai saat ini masih terjadi ketimpangan antara pasokan dan permintaan produk PP. Produksi PP tercatat sebesar 561.346 ton pada 2008 dan naik 6,9% menjadi 600.000 ton pada 2009. Pada 2009 lalu TPI  berhasil menggenjot volume penjualannya hingga naik 17%, dari 330,5 ribu ton di 2008 menjadi 385,7 ribu ton di 2009. Peningkatan ini menunjukkan pertumbuhan pasar PP domestik yang membaik pada tahun 2009, setelah mengalami keterpurukan pada tahun 2008 akibat krisis global.

Sedangkan konsumsi PP sekitar 800.000 ton per tahun.  Pertumbuhan konsumsi PP sebagai bahan baku industri plastik diperkirakan meningkat di masa mendatang seiring pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, untuk meningkatkan kapasitas produksi tersebut terdapat sejumlah kendala seperti ketersediaan bahan baku berupa propylene. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku sekitar 70% berasal dari lokal serta impor mencapai 30%. 

Selain ketersediaan bahan baku yang belum mencukupi, kemungkinan masuknya PP dari beberapa negara ASEAN seperti Thailand dan Malaysia menyusul berlakunya Asean Free Tade Agreement (AFTA) merupakan tantangan industri PP nasional. Dengan tingkat bea masuk 0% di kedua negara tersebut, maka tingkat persaingan akan semakin tinggi apalagi kedua negara tersebut saat ini mengalami kelebihan produksi.  Sementara itu di China, masih membutuhkan impor PP dalam jumlah besar setiap tahunnya, maka 100% industri hilir PP domestik diperkirakan mengalami kesulitan bahan baku. 

Sehingga Asosiasi Industri Plastik, Aromatik, dan Olefin Indonesia (INAplas) meminta pemerintah menunda pelaksanaan AFTA dari Januari 2010 menjadi 2015. INAplas juga meminta penundaan FTA ASEAN dengan negara lain seperti China, Korea, India, Jepang, Australia, dan Selandia Baru. Sebab akan menghambat laju pertumbuhan industri kimia hulu sampai hilir, yang dikhawatirkan akan banyak industri yang terpaksa mengurangi produksi atau menutup pabrik, karena kalah bersaing dengan produk impor yang bebas bea masuk.

Karakteristik Produk

Polypropylene (PP) resin adalah produk antara dalam industri petrokimia, yang merupakan turunan dari olefin centre melalui proses yang disebut propylene polimerization. Propylene berasal dari naphta atau gas alam yang melalui proses pemecahan atau cracking pada molekul-molekul hidrokarbonnya. PP digunakan sebagai bahan baku berbagai jenis produk plastik dengan berbagai karakteristik yang dibedakan menurut proses kristalisasi, kemurnian, kekakuan serta titik leburnya.

Luasnya rentang produk yang dapat dihasilkan dari PP ini sehingga memungkinkan untuk beberapa produknya menjadi substitusi dari produk polymer lainnya seperti polyethylene (PE) juga produk lain seperti kayu, serat alam dan logam tertentu. PP terbagi menjadi tiga tipe yaitu : Propylene homopolymer, Random copolymer (propylene-ethylene) dan Random polymer (propylene-ethylene-butene). 

PP copolymer terbentuk dari propylene dengan penambahan monomer lain dalam jumlah sedikit (1% - 7% ethylene) menjadi produk yang tahan benturan. PP jenis ini biasanya digunakan untuk produk tahan lama seperti peralatan listrik, peralatan rumah tangga dan bagian bodi mobil. Selain itu juga digunakan dalam aplikasi lain seperti cetakan, film dan laminasi.

Penambahan butene dalam PP dapat merubah karakteristik dari PP tersebut . Biasanya digunakan sebagai lapisan penahan panas pada PP film selama lapisan penahan panasnya mempunyai titik lebur yang lebih rendah dari PP film tipe homopolimer. PP juga dapat dirubah melalui proses compounding. Dalam proses ini dilakukan  penambahan sedikit additif dalam polymer yang telah dileburkan. Additif tersebut dapat berupa material sejenis karet, material pengisi (filler), material yang dapat meningkatkan daya tahan dan material untuk menstabilkan sinar ultra violet agar polymer tersebut tahan untuk penggunaan diluar (out-door use).

Kapasitas stagnan, produksi tumbuh 3,4% per tahun  

Dalam lima tahun terkahir periode 2005-2008 kapasitas produksi industri PP di dalam negeri masih stagnan hanya sebesar 605.000 ton per tahun. Belum ada peningkatan kapasitas disebabkan masih terbatasnya bahan baku berupa propylene.  

Sementara tingkat produksi mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 3,4% per tahun yaitu dari 525.915 ton pada 2005 meningkat menjadi 600.000 ton pada 2009.

PT. Tri Polyta Indonesia (TPI) mampu meningkatkan tingkat produksi PP menjadi 460.000 ton pada 2009 lalu, dibandingkan tahun sebelumnya hanya 360.000 ton. Untuk meningkatkan produksi tersebut, TPI menyiapkan belanja modal (capital expenditure/ capex) sebesar US$ 25 juta. Dana tersebut untuk membeli beberapa mesin baru untuk aktivitas produksi pabrik PP yang berlokasi di Cilegon, Banten. 

Produksi PP dari TPI bervariasi, sesuai kebutuhan domestik. Saat ini, TPI memasok PP untuk industri  karung plastik, karpet, dan barang-barang rumah tangga.
Tri Polyta Produsen terbesar

Saat ini terdapat  tiga produsen PP resin di Indonesia yaitu PT Tri Polyta Indonesia, PT Polytama Propindo dan PT Pertamina (Plaju).

PT Tri Polyta Indonesia
PT Tri Polyta Indonesia (TPI) yang mulai beroperasi tahun 1992 di Cilegon, Banten, merupakan produsen PP resin terbesar di Indonesia. Dengan menggunakan teknologi Gas UNIPOL yang dikembangkan oleh Union Carbide Corporation dan Shell Chemical company, TPI memulai operasi pada tahun 1992 dengan dua lajur produksinya yang mencapai kapasitas 200.000 ton per tahun.   

Pada tahun 1995, lajur produksi ketiga mulai beroperasi sehingga kapasitas produksinya meningkat menjadi 360.000 ton per tahun.

Pada awalnya pemegang saham TPI adalah PT Bima Kimia Citra (31,22%) yang merupakan group Bimantara, kemudian Prayogo Pangestu (8,51%), Commerzbank (SEA) Ltd.(7.08%), Henry Pribadi (6,73%), Ibrahim Risjad (5,31%), Wilson Pribadi (3,89%), Johny Djuhar (2,13%), Henry Halim (0,71%) dan publik (34,42%). Kemudian pada Juni tahun 2001 PT Bima Kimia Citra dan Henry Pribadi menjual sahamnya.

Pada Desember tahun 2003 pemegang saham TPI menjadi Prajogo Pangestu (46,46%), Commerszbank(SEA) Ltd. (7,08%), Ibrahim Risjad (5,31%), Wilson Pribadi (3,89%), Johny Djuhar (2,13%), Henry Halim (0,71%) dan publik              ( 34,42%).

Produk yang dihasilkan TPI adalah PP resin berupa Homopolimer, Random Copolimer dan Block Copolimer, dengan merek dagang nya adalah Trilene....


 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN -April 2010

FOKUS: EKSPOR BANGKIT KEMBALI

PROFIL INDUSTRI: PERTUMBUHAN INDUSTRI POLYETHYLENE BELUM OPTIMAL

INDUSTRI : PERKEMBANGAN INDUSTRI POLYPROPYLENE (PP) RESIN DI INDONESIA