2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
November 2010


INDUSTRI  PERBANKAN TERUS TUMBUH


Pendahuluan

Perbankan Indonesia dalam dua tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang cukup pesat baik dalam nilai aset, kredit maupun tingkat labanya. Perkembangan sektor ini tidak terlepas dari pertumbuhan sektor riil hingga 6% sehingga masih terus menyerap ekspansi kredit.

Kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia relatif cukup bersahabat bagi perbankan dengan mempertahankan BI Rate yang cukup kompetitif sepanjang tahun 2010 sehingga menyediakan potensi dana jangka pendek bagi perbankan melalui arus masuk modal dari luar negeri yang tengah marak. Namun Bank Indonesia juga cukup berhati-hati dalam mengelola modal asing jangka pendek yang masuk ke Indonesia yaitu dengan mengambil kebijakan  merubah SBI dengan tenor  1 bulan dan 3 bulan menjadi lebih panjang yaitu  diatas 6 bulan dan mengarahkan investasi asing ke surat berharga lainnya seperti Surat Berharga Negara (SBN) 1 tahun, sehingga bisa menahan lebih lama dana asing yang ditanamkan diperbankan Indonesia.

Kebijakan sektor perbankan yang lunak namun dibarengi dengan pengetatan kinerja oleh otoritas perbankan. Salah satu tujuan dari pengetatan tersebut adalah mendorong kredit di tengah pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Prinsip kehati-hatian didorong melalui beberapa regulasi terkait pengawasan dan kepatuhan bank.

Untuk mendorong perbankan mengucurkan kreditnya maka Bank Indonesia mengambil kebijakan maka Bank Indonesia mengambil kebijakan memberikan pinalti  Giro Wajib Minimum (GWM) bagi bank yang LDRnya kuarang dari 78 % atau lebih dari 100%.

Peran kredit konsumsi terus menguat terhadap total kredit yang diberikan bank umum dalam dua tahun terakhir. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit investasi mengalami fluktuasi dalam dua tahun terakhir. Kredit modal kerja melemah pada tahun 2009 dan kembali menguat pada tahun 2010, sedangkan kredit investasi menguat pada tahun 2009 dan melemah pada tahun 2010.

Pada tahun 2011 diperkirakan perbankan masih akan menikmati pertumbuhan yang cukup tinggi mengingat beberapa faktor di atas belum banyak berubah. Perbankan masih menikmati laba terutama dari pendapatan bunga dan fee based income.   Dengan kondisi perbankan Indonesia  yang baik maka tak heran investor lokal maupun asing sangat berminat untuk berinvestasi di perbankan Indonesia baik dengan melakukan akuisisi maupun dengan memperluas kegiatan usahanya di Indonesia bagi perbankan asing yang telah beroperasi di Indonesia.

Selama tahun 2008- 2010 akuisi bank masih cukup marak dilakukan baik oleh perbankan lokal m aupun asing. Misalnya HSBC dan Barclay PLC  yang  mengakusisi bank nasional yaitu Bank Ekonomi oleh HSBC dan Bank Akita oleh Barclay Capital PLC dalam upaya memperluas basis operasinya disektor kredit konsumsi. Masih banyaknya  bank yang diakuisisi maupun ekspansi usaha yang dilakukan bank menunjukkan menariknya sektor perbankan di Indonesia

Kondisi ekonomi makro stabil perbankan berkembang

Sepanjang tahun 2009 Otoritas moneter meneruskan kebijakan pelonggaran dengan menurunkan suku bunga BR (BI Rate). Suku bunga BI tercatat sejak bulan Februari 2009 secara bertahap telah turun hingga 175 basis poin  menjadi 6,5 persen pada bulan Agustus 2009.

Sepanjang tahun 2010 Otoritas moneter memang belum menurunkan lagi suku bunga ini, namun tetap menjaga pada posisi tersebut. Suku bunga ini dipandang cukup rendah dan mampu mendorong perbankan meningkatkan kreditnya.

Suku bunga ini relatif tinggi dibandingkan suku bunga di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang yang hampir mendekati nol. Selisih suku bunga ini cukup mampu mendorong arus dana jangka pendek dari negara-negara tersebut. Mengingat perekonomian di negara-negara tersebut masih belum terlepas dari kondisi depresif maka diperkirakan arus modal tersebut tidak akan keluar dalam waktu singkat.

Suku bunga yang relatif tinggi tersebut cukup menguntungkan perbankan karena memberi kesempatan lebih lebar untuk menetapkan selisih bunga. Selisih bunga kredit dan bunga simpanan ini menjadi sumber utama laba perbankan.


Kebijakan otoritas dorong kredit

Otoritas perbankan menginginkan agar perbankan nasional berfungsi secara lebih maksimal terutama dalam menyalurkan kredit kepada masyarakat. Selama ini perbankan sering dikritik sebagai lembaga keuangan yang banyak mencari pendapatan bunga dari instrumen yang tidak produktif dan mendorong perekonomian secara riil seperti Sertifikat Bank Indonesia.

Upaya otoritas untuk mendorong fungsi intermediasi perbankan namun tetap menjaga prinsip kehati-hatian dilakukan dengan memberikan penalti pada Giro Wajib Minimum (GWM) yang dikaitkan dengan Loan to Deposit Ratio (LDR). Pada bulan Oktober 2010, otoritas perbankan menetapkan penalti GWM kepada bank yang LDR-nya kurang dari 78 persen atau lebih dari 100%.  Bank-bank dengan LDR di luar kisaran tersebut akan dikenakan disinsentif dengan ketentuan sebagai berikut:

       Untuk bank yang memiliki LDR lebih rendah dari batas bawah target LDR dikenakan disinsentif berupa tambahan GWM sebesar 0,1 dari DPK rupiah untuk setiap 1% kekurangan LDR.
       Untuk bank yang memiliki LDR lebih tinggi dari batas atas target LDR dan memiliki CAR lebih kecil dari 14% dikenakan disinsentif berupa tambahan GWM sebesar 0,2 dari DPK rupiah untuk setiap 1% kelebihan LDR.
       Untuk bank yang memiliki LDR lebih dari batas atas target LDR namun memiliki CAR 14% atau lebih tidak dikenakan tambahan GWM.

Kebijakan lain yang cukup strategis adalah perpanjangan tenor SBI. Mulai bulan Juni 2010, Bank Indonesia (BI) hanya menggelar lelang Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sebulan sekali. Sebelumnya BI menggelar lelang SBI setiap seminggu sekali dan melakukan penyerapan ekses likuiditas rupiah dengan lebih mengutamakan kepada SBI 3 bulan dan SBI 6 bulan.

Pada Bulan November 2010 BI mulai menghapuskan penyerapan SBI jangka 3 bulan dengan mengoptimalkan lelang SBI jangka 6 bulan dan 9 bulan. Perpanjangan tenor ini dimaksudkan untuk mengarahkan arus modal asing investasi dalam jangka panjang dan  menahan likuiditas lebih lama sehingga perbankan nasional tidak terlalu terekspos dengan pergerakan dana asing jangka pendek.

Seperti diketahui, arus modal asing jangka pendek (hot money) mulai awal 2010 sangat deras. Dana asing di sertifikat Bank Indonesia (SBI) dalam kuartal pertama tahun 2010 melonjak cukup signifikan, yakni dari  Rp27,62 triliun menjadi Rp71,8 triliun per 9 April 2010. Posisi ini meningkat hampir empat kali lipat jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp15,27 triliun atau naik Rp56,53 triliun.

Dengan tingginya modal asing yang masuk maka dari total dana SBI per April 2010 sebesar Rp316,1 triliun, komposisi asing mencapai 22,5%. Komposisi asing ini mendekati posisi investor asing pada surat utang negara (SUN) mencapai 23% atau Rp.107,9 triliun.

Posisi SBI asing ini adalah yang tertinggi sepanjang penempatan ke instrumen itu dibuka untuk asing.

Semenjak BI menghapuskan SBI jangka waktu 3 bulan, maka Penyerapan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) jangka panjang mendominasi lelang instrumen moneter tersebut meskipun penawaran SBI jangka lebih pendek lebih besar dari sisi nilai.erdasarkan data lelang Biro Operasi Moneter Bank Indonesia per 8 Desember 2010, penyerapan SBI jangka 9 bulan mencapai Rp30 triliun, lebih besar dari penyerapan SBI jangka 6 bulan sebanyak Rp25 triliun dan SBI Syariah sebesar Rp636 miliar.

Total penyerapan lelang SBI sebesar Rp55,64 triliun dari pagu indikatif yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar Rp55,4 triliun. Padahal total penawaran yang masuk mencapai Rp86,23 triliun, dengan rincian SBI jangka 6 bulan Rp50,51 triliun, SBI jangka 9 bulan Rp35,11 triliun dan SBI Syariah jangka 6 bulan Rp636 milia

Perbankan ekspansi kantor cabang

Semenjak tahun 2008 mulai menunjukkan peningkatan aktivitas yang berarti seperti ditunjukkan dengan penambahan kantor bank untuk melayani ekspansi usahanya.  Ekspansi oleh perbankan terus berlanjut  hingga tahun 2010. Jumlah kantor bank selama tahun 2009 hingga 2010 bertambah sekitar 800 kantor. Ekspansi ini menandakan bahwa prospek perbankan masih sangat baik dan pasar masih terbuka luas.

Salah satu bank yang akan menambah kantor cabangnya adalah PT Bank Pan Indonesia (Panin) Tbk. Mereka menyiapkan dana sekitar Rp300 miliar hingga Rp400 miliar guna menambah 130 kantor cabang baru. Saat ini Panin memiliki kantor cabang mencapai 420 unit dan akan ditingkatkan menjadi 550 kantor cabang pada tahun depan.

Investasi 130 kantor cabang diperkirakan menelan dana Rp 300 miliar hingga Rp400 miliar. Dana itu juga dialokasikan untuk membuka gerai pembiayaan sektor mikro yang saat ini menjadi salah satu focus pertumbuhan kredit oleh bank papan atas lainnya. Strategi ini digunakan untuk memperkuat jaringan sehingga mampu mendorong pertumbuhan secara organik.

Pertumbuhan secara organik akan diarahkan untuk mendorong ekspansi pembiayaan usaha mikro, karena segmen tersebut sedang diincar bank-bank papan atas lainnya dan bank asing terkait dengan margin tinggi.

Menurut dia, saat ini perseroan masih membuka gerai layanan pembiayaan mikro pada 12 kantor cabang di Surabaya. Respons yang cukup positif terhadap gerai itu mendorong Panin melakukan ekspansi di wilayah lain.

Panin juga berencana membuka gerai di Sulawesi, Bali, Jateng, dan Sumatra, khususnya Riau.

Potensi pembiayaan mikro cukup menjanjikan. Pembiayaan mikro bank ini baru mencapai 2 persen dari total kredit dan akan digenjot hingga 5 persen. Dalam dua tahun pertama memasuki pasar kredit mikro portfolio segmen ini telah mencapai Rp500 miliar.

Aset terus tumbuh

Nilai aset perbankan Indonesia terus mengalami pertumbuhan rata-rata mencapai 9.1 persen pada periode 2005 - 2010. Pada tahun 2009, aset bank umum mencapai Rp. 2534 triliun atau meningkat sebesar 10 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini lebih tinggi daripada tahun 2008 yang hanya 6,3 persen.

Pada tahun 2010 pertumbuhan yang lebih tinggi dicapai pada tahun 2009 yakni mencapai 13 persen. Pada tahun tersebut aset total bank umum di Indonesia mencapai Rp. 2856 triliun.

Peningkatan aset salah sarunya didorong oleh peningkatan kredit oleh perbankan. Otoritas perbankan berupaya membuat kredit terus bertumbuh, sehingga fungsi intermediasi perbankan berjalan dengan baik. Otoritas menghindari situasi dimana perbankan terlalu banyak menumpuk dana pada instrumen yang tidak produktif bagi perekonomian seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) atau pinjaman antar bank.

Upaya mendorong kredit tersebut dilakukan dengan memberikan insentif pembebasan penalti pada Giro Wajib Minimum (GWM) untuk bank yang mampu mencapai angka Loan to Deposit Ratio (LDR) di atas 78 persen. Kondisi likuiditas yang cukup longgar dan besarnya arus modal asing ke tanah air relatif memudahkan perbankan dalam menjaring dana.

Sejumlah besar aset masih dikuasai oleh sedikit pemain. Hingga bulan November 2010 terdapat 12 bank dengan aset terbesar memiliki aset sebesar Rp. 1.849 triliun atau mencapai 65 persen dari total aset perbankan secara nasional.

Bank yang memiliki aset terbesar adalah Bank Mandiri yakni senilai Rp. 374 triliun, disusul oleh Bank Central Asia (BCA) sebesar Rp. 309 triliun. Bank Rakyat Indonesia (BRI) menempati posisi ketiga dengan total aset mencapai  Rp. 308 triliun  hingga Juli 2010. Posisi bank terbesar kedua kemungkinan ditempati oleh BRI mengingat nilai aset yang tercantum masih terus bertambah hingga November 2010.

Perubahan posisi lainnya alah masuknya CIMB Niaga dalam jajaran 5 besar aset.Aset bank ini mencapai Rp. 133 triliun. Sebelumnya pada tahun 2008 CIMB Niaga berada di posisi ke 7 di bawah Bank Danamon dan Panin.

Bank Permata juga menyalip aset Bank Internasional Indonesia (BII). Dengan aset mencapai 70,4 triliun bank ini kini berada di posisi 8 besar dari sisi asetnya.


Modal perbankan menguat

Modal merupakan salah satu indikator kekuatan sebuah bank. Pertumbuhan modal terus terjadi dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhan modal mencapai 19 persen dengan nilai sebesar Rp. 260.8 triliun. Pertumbuhan pada tahun 2010 hingga posisi bulan November tercatat sebesar 20 persen dengan nilain mencapai Rp. 314 triliun.
Pertumbuhan modal yang cukup tinggi ini didorong oleh tingginya laba perbankan. Sebagai catatan, pertumbuhan laba pada 10 bank dengan aset terbesar pada kuartal III tahun 2010 tumbuh hingga 41 persen. Laba yang tinggi memberi kesempatan bagi perbankan untuk menyisihkan laba untuk menambah modal.

Sejumlah pemain juga berencana menerbitkan obligasi dan juga melakukan right issue untuk memperkuat modal. Bank Mandiri akan menerbitkan 2,34 miliar saham baru dengan harga Rp4.000 hingga Rp6.150 per unit. Total dana yang akan dibidik sekitar Rp9,3 triliun hingga Rp. l4,4 triliun. Saham baru itu akan dicatatkan di bursa pada tahun 2011 mendatang

Bank Negara Indonesia (BNI) berencana mencatatkan saham hasil rights issue di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 10 Desember 2010. BNI akan mendapat pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 24 November 2010.

Sementara itu, penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) terkait pelaksanaan aksi korporasi tersebut dilaksanakan pada 25 November 2010.

BNI telah menunjuk PT Bahana Securities sebagai pembeli siaga (stand by buyer). Rights issue tersebut dilakukan untuk menjaga rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR).

Kementerian BUMN telah memutuskan untuk pembagian porsi saham yakni 55% untuk investor dalam negeri dan 45% untuk investor luar negeri. Namun, pembagian saham tersebut masih terbuka untuk penyesuaian terutama jika ada halangan dalam penyerapan saham.

Tingginya arus modal asing ke dalam negeri dipandang sebagai momentum yang tepat bagi bank untuk menambang modal. Biaya pencarian dana memang relatif lebih murah dalam kondisi ini karena berlimpahnya likuiditas.


Modal Bank Mandiri terbesar

Modal merupakan kekuatan sebuah bank sehingga bank dengan permodalan yang kuat otomatis mampu melakukan fungsinya sebegai lembaga intermediasi dengan lebih baik.

Penyebaran nilai modal perbankan tetap belum banyak berubah. Sedikit pemain memiliki memiliki pangsa yang sangat besar. Sebelas bank dengan modal terbesar menguasai 66 persen modal seluruh perbankan umum.

Bank Mandiri masih menjadi bank yang paling besar modalnya dengan Rp. 43,6 Triliun hingga bulan November 2010. BCA dengan modal mencapai Rp.   33,2 Triliun per November masih berada di posisi kedua, sedikit di atas BRI yang hingga Juli 2010 memeiliki modal sebesar Rp. 31,5 Triliun. Besar kemungkinan BRI mampu menjadi bank dengan modal terbesar kedua di Indonesia mengungguli BCA karena masih ada bveberapa bulan tersisa hingga November 2010.

Bank terbesar keempat adalah BNI yang memiliki modal sebesar Rp. 19,8   triliun. Modal BNI ini lebih tinggi dari tahun 2008 yang sebesar Rp. 14,9 triliun.

Rasio Kecukupan Modal (CAR)

Sebagai lembaga intermediasi tugas utama perbankan adalah menyalurkan kredit ke perekonomian. Kemampuan pemberian kredit sangat ditentukan oleh besarnya modal yang dimiliki perbankan.

Jika pertumbuhan kredit diawali dengan pertumbuhan modal. Secara organik pertumbuhan modal didapatkan dari laba ditahan dari hasil pendapatan bunga. Pertumbuhan modal juga bida terjadi secara anorganik yakni dengan suntikan modal dari saham.

Pertumbuhan kredit bank umum pada tahun 2010 cukup pesat. Pertumbuhan tercatat mencapai 19 persen, lebih tinggi dari tahun 2009 yang hanya 10 persen.

Tingkat pertumbuhan kredit pada tahun 2010 ini hampir sama dengan tingkat pertumbuhan modal di tahun yang sama yang mencapai 20 persen. Tingkat pertumbuhan kredit ini dianggap akan menekan rasio CAR di tahun-tahun mendatang.

Bank Indonesia memperkirakan jika kredit terus mengalami tren pertumbuhan seperti saat ini dan pertumbuhan modal perbankan hanya secara organik maka CAR perbankan pada tahun 2015 akan anjlok hingga 10 persen.

Hingga bulan November 2010 rasio CAR perbankan umum mencapai 18,3 persen. Rasio ini lebih tinggi dari tahun 2009 yang mencapai 17,4 persen. Rasio ini masih cukup aman untuk saat ini, namun otoritas meminta perbankan juga menempuh cara anorganik untuk meningkatkan modalnya.

Sejumlah bank papan atas berencana memperkuat modalnya secara anorganik melalui mekanisme right issue dan emisi obligasi. Aksi lain yang dilakukan adalah menerbitkan subdebt.


Lihat Daftar isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN -November 2010

FOKUS: ANCAMAN INFLASI DIAKHIR TAHUN 2010

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI PERBANKAN TUMBUH

KEUANGAN : BISNIS BANK SYARIAH RAIH PERTUMBUHAN 35,6% PER TAHUN