2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI HULU MINYAK BUMI DI INDONESIA

Juli 2009

Halaman Berikutnya>>

Latar belakang

Industri minyak bumi dunia dalam empat tahun terakhir berkembang terutama didorong oleh kenaikan harga minyak mentah yang naik dan bertahan tinggi hingga puncaknya mencapai US$130 per barrel.

Namun, tingginya harga tersebut tidak sepenuhnya menguntungkan Indonesia karena tingkat produksi yang justru cenderung turun.

Perkembangan industri minyak bumi khususnya sektor hulu dalam beberapa tahun terakhir terkait dengan beberapa isu antara lain tingkat produksi yang cenderung turun dan tidak mampu mencapai target lifting.

Kondisi ini terjadi akibat sudah tuanya sumur-sumur minyak yang saat ini dieksploitasi. Beberapa perusahaan seperti Chevron pada tahun 2008 mengalami penurunan produksi yakni pada sumur minyak di Riau. Medco EP juga diperkirakan penurunan produksi minyak mentahnya pada tahun 2009.

Target lifting minyak bumi pada APBN 2009 ditetapkan sebesar 950.000 barrel per hari. Dalam dua bulan awal tahun 2009 target ini berhasil dilampaui terutama didorong oleh kenaikan lifting pada sumur minyak yang dioperasikan melalui sistem KKKS yakni masing-masing di sumur Petrochina Jabung, serta Pertamina EP dan BP Tangguh.

Prospek industri hulu minyak bumi sangat tergantung dari apakah dapat ditemukan cadangan minyak baru yang potensinya cukup besar seperti di Cepu, Jawa Timur.

Cadangan minyak bumi turun

Cadangan minyak bumi Indonesia dalam satu dekade terakhir terus menunjukkan tren yang menurun. Setelah sempat naik pada tahun 2006 sebesar 2,8 persen menjadi 4370 juta barrel dalam dua tahun terakhir hingga tahun 2008 cadangan minyak bumi Indonesia kembali menurun.

Pada tahun 2007 cadangan turun sebesar 8,5 persen menjadi 4000 juta barrel. Cadangan ini kembali turun pada tahun 2008 yakni sebesar 7,5 persen menjadi 3700 barrel.

Sumber-sumber yang masih sebagai potensi cadangan menjadi harapan bagi prospek industri minyak bumi di Indonesia. Hingga tahun 2008 potensi cadangan minyak bumi Indonesia mencapai 4.471,72 juta stok barrel.

Cadangan di Sumatera Tengah terbesar

Cadangan minyak bumi terbesar terletak di Sumatera Tengah yakni mencapai 4163,75. Cadangan terbesar kedua terletak di Provinsi Jawa Timur tepatnya di daerah Cepu.

Terdapat beberapa lokasi yang cadangan minyaknya di atas 500 juta stok barrel yakni Sumatera Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan, dan Jawa Barat.

Di luar cadangan minyak yang telah terbukti sebesar 3,7 juta stok barrel pada tahun 2008, terdapat potensi cadangan yang cukup besar yakni mencapai sekitar 4,5 juta stok barrel. Cadangan minyak pada lokasi-lokasi tersebut menjadi tulang punggung produksi minyak mentah nasional.

Dengan mulai menurunnya produksi pada beberapa sumur-sumur minyak yang cukup besar maka pada tahun-tahun mendatang prospek industri hulu minyak bumi di Indonesia sangat tergantung dengan penemuan sumber minyak baru yang cukup besar.

Kegiatan ekspolorasi turun pada tahun 2008

Survei seismik sebagai bagian dari kegiatan eksplorasi menjadi salah satu langkah penting dalam penemuan cadangan baru minyak bumi. Survey seismic dibedakan menjadi dua yakni survey 2 dimensi dan survey 3 dimensi.

Pada tahun 2008, survek seismik 2 dimensi mencakup luas 452 km yang semuanya merupakan survei di daratan. Luasan ini turun jauh dibandingkan tahun 2007 yang mencapai 30.335,67 km persegi yang terdiri dari survey daratan seluas 23.522,17 km persegi dan survey di laut seluas 6.833,5 km persegi.

Sementara itu, survey 3 dimensi juga menunjukkan tren yang sama yakni menurun. Pada tahun 2008 luasan survey mencapai 240 km persegi yang semuanya merupakan survey daratan. Luasan ini jauh dibawah tahun 2007 yang mencapai 12.774,5 km persegi.

Beberapa survei seismik pada tahun 2009 antara lain survei seismik-2D untuk mengetahui potensi kandungan gas dan minyak lepas pantai Blok East Muriah-Laut Jawa akan dilakukan bulan Juli 2009. Rencananya, kegiatan ini akan menghabiskan waktu kurang dari dua bulan.

Wilayah yang akan di survei seluas 4.999,97 kilometer persegi berada di lepas pantai laut Jawa atau berbatasan langsung dengan Pulau Bawean.

Produksi minyak mentah cenderung turun

Dalam beberapa tahun terakhir, produksi minyak mentah Indonesia terus tertekan. Tingkat produksi minyak mentah (lifting) pada tahun 2008 meningkat 3 persen menjadi 358,718,699 barrel dari tahun sebelumnya sebesar 348,357,604 barrel. 

Meskipun naik, namun secara umum tren pada satu dekade terakhir terus menurun. Kondisi sumur minyak yang sudah tua yang produktivitasnya turun menjadi sebabnya.
Menurut BP Migas, 85 persen sumur minyak di Indonesia sudah tua dan mengalami penurunan produksi rata-rata 15 persen dalam setahun. Menurunnya produksi pada sumur-sumur tersebut kurang diikuti dengan penemuan dan eksploitasi sumur baru yang cadangannya besar dan bisa diandalkan sebagai salah satu sumber produksi utama. Dalam jangka panjang penemuan sumur-sumur baru ini menjadi kunci dalam peningkatan produksi minyak mentah di Indonesia.

Sementara itu, upaya peningkatan produksi dalam jangka pendek adalah dengan penggunaan metode dan teknologi yang lebih baik pada sumur-sumur minyak yang sudah ada seperti teknologi steamflood.

Teknologi steamflood dilakukan melalui penginjeksian panas pada suatu sumur injeksi dan kemudian minyak akan dihasilkan pada sumur produksi. Proses steamflood dapat dilakukan pada suatu sumur minyak (reservoir) dengan kriteria tertentu. 

Salah satu reservoir yang dapat dinjeksikan steam adalah reservoir dengan air di bawahnya atau lebih sering disebut Reservoir Bottom Water. 

Dengan menerapkan teknologi tersebut terbukti mampu meningkatkan produksi hingga lebih dari tiga kali lipat dibandingkan dengan hanya primary recovery. Teknologi ini juga dapat memperpanjang usia produksi lapangan.

Teknologi ini diantaranya diteraplan di Lapangan North Duri Area 12 yang dikelola PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) di Riau.

Proyek Steamflood dilokasi tersebut menggunakan gas yang berasal dari Conoco Philips. Pemerintah telah meminta Conoco Philips agar memprioritaskan produksi gasnya untuk mendukung proyek ini.
Teknologi lain yang digunakan adalah infill drilling enhanced oil recovery (EOR) yang bisa menambah produksi hingga 290 barel per hari dari seluruh sumur minyak secara total.
BP Migas yang membawahi operasi industri hulu minyak juga mendorong produksi minyak mentah dengan percepatan proyek percontohan water flood di Pertamina E&P yang telah dilakukan di lapangan Kenali Asam dan Bunyu.

Setelah kedua lapangan ini, cara serupa akan diterapkan pada di lapangan Nglobo, Talangan Jimar, Tanjung, dan Rantau.

Strategi yang ditempuh pemerintah dalam meningkatkan produksi adalah mendorong kontraktor kontrak kerja sama meningkatkan kegiatannya di lapangan yang terabaikan, serta mendorong kontraktor melakukan evaluasi percepatan peningkatan produksi dari sumur tua dan sumur-sumur yang sudah ditinggalkan.

Lifting fluktuatif

Lifting minyak merupakan indikator rata-rata yang produksi minyak mentah setahun yang digunakan sebagai acuan dalam penerimaan pendapatan dari sektor migas dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara di Indonesia. Pada tahun 2009, lifting minyak bumi ditargetkan mencapai 950.000 barrel per hari.

Target lifting ini dalam beberapa bulan awal tahun 2009 terlewati, namun juga tidak tercapai. Pada bulan Februari, Maret, dan April target mampu dilewati Sementara pada bulan Januari, Mei, Juni, dan Juli target ini tidak mampu dicapai.

Secara rata-rata hingga 7 bulan pertama tahun 2009, produksi minyak mentah mencapai 925,13 barrel per hari atau masih di bawah target yang ditetapkan sebesar 950.000 barrel per hari.

Beberapa produsen catat penurunan produksi

Beberapa produsen mengalami penurunan tingkat produksi pada tahun ini. Selain Chevron yang mengalami penurunan produksi dari lapangan minyak di Riau, E&P Indonesia pada tahun 2009 diprediksi akan turun dari 33 ribu barel per hari pada 2008 menjadi 30 ribu barel per hari.

Penurunan ini disebabkan kondisi sumur minyak Medco juga mengalami penurunan kemampuan produksinya. Selain itu, Medco barusaja melakukan divestasi dua blok perseroan di Tuban dan Tarakan Kalimantan Timur.

Dua blok yang sudah didivestasi masing-masing adalah Blok Tuban kepada PT Pertamina dimana dan Blok PSC Simenggaris, Tarakan Kalimantan Timur kepada Salamander Energy (Simenggaris) Ltd.

Medco melepas 25 persen saham PT Medco E&P Tuban (participating interest/PI) kepada Pertamina, sementara itu di Blok PSC Simenggaris, perusahaan ini melepas 21 persen kepemilikannya.

Produksi minyak mentah Medco diperkirakan baru akan mulai pulih di sekitar tahun 2011 pada saat sebagian dari proyek kunci Medco sudah mulai beroperasi.

Tujuh proyek kunci tersebut antara lain Bioethanol di Lampung yang beroperasi 2008, Blok Singa di Lematang tahun 2009, Blok A di Aceh tahun
2011, Blok 47 di Libya tahun 2011, Blok Rimau tahun 2011, Blok Senoro di Toili akhir tahun 2012.

Chevron Pacific Indonesia produsen terbesar

Dalam empat tahun terakhir terjadi perubahan dalam peta produsen minyak mentah di Indonesia. Jika pada tahun 2006, perusahaan nasional BUMN Pertamina merupakan produsen kedua terbesar maka mulai tahun 2007 hingga kuartal I 2009 Pertamina berada di urutan ke 8  dan 9 produsen terbesar.

Secara umum, perusahaan asing seperti Chevron Pacific Indonesia (Chevron), ConocoPhillips (Conoco), China National Offshore Oil Company (CNOOC), dan Petrochina mendominasi sebagai produsen minyak mentah terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Satu-satunya perusahaan nasional yang tingkat produksinya cukup besar adalah Medco EP Indonesia (Medco) yang menempati urutan produsen terbesar keenam pada tahun 2006, dan urutan kelima pada tahun 2007 – kuartal I 2009.

Pertamina sendiri tingkat produksinya terus menurun dari sekitar 42 juta barrel pada tahun 2006 menjadi masing-masing 9,05 juta barrel dan 7,7 juta barrel pada tahun 2007 dan 2008.

Sementara itu, Chevron masih menjadi produsen minyak mentah terbesar di Indonesia meskipun dalam beberapa tahun terakhir volume produksinya turun. Pada tahun 2006 produksi Chevron mencapai 176 juta barrel. Tingkat produksi ini menurun 4,5 persen menjadi 168 juta barrel pada tahun 2007 atau 461,7 ribu barrel per hari dan kembali turun tahun 2008 sebesar 4,2 persen menjadi 161 juta barrel atau 441 ribu barrel per hari. Pada tahun 2009 hingga kuartal I produksi CPI pada 2009 mencapai 38,4 juta barrel.

Penurunan tingkat produksi ini terjadi karena produktivitas sumur-sumur yang dimiliki oleh Chevron juga menurun. Chevron memproduksi minyak mentah dari sumur-sumur di Sumatera Tengah.

Selain Chevron, produsen lain yang cukup besar adalah Total EP Indonesie (Total). Produksi Total berfluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2008 produksinya mencapai 35,1 juta barrel naik sebesar ….persen dari tahun 2007 yang sebesar 32,3 juta barrel.

Pada kuartal I 2009 produksi total mencapai 8,9 juta barrel atau produksi rata-rata harian sebesar 297,4 ribu barrel.



Halaman Berikutnya>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN - Juli 2009


FOKUS: RAPBN 2010 YANG MODERAT DAN BARU BERSIFAT SEMENTARA
  • Asumsi ekonomi makro dalam RAPBN
  • Belanja negara tahun 2010 sebesar Rp. 1009 trilyun
  • Hanya anggaran Departemen Pertahanan yang meningkat
  • Subsidi juga menurun
  • Kesimpulan

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI HULU MINYAK BUMI DI INDONESIA

INDUSTRI: PERSAINGAN INDUSTRI PELUMAS KIAN KETAT