2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI MIE INSTAN BERSAING KETAT

Juni 2009

Halaman Berikutnya>>

Latar belakang

Menyusul krisis keuangan global yang menghantam hampir semua sektor industri termasuk industri makanan, industri mie instan juga terkena imbasnya. Ditambah lagi pada 2008 lalu terjadi kenaikan harga bahan baku utama yaitu tepung terigu akibat penyesuaian terhadap kenaikan harga bahan bakar.  

Disamping itu kenaikan harga komoditas di pasar internasional mengakibatkan inflasi yang tinggi dan melemahnya daya beli masyarakat. Sehingga mempengaruhi  pertumbuhan industri makanan termasuk industri mie instan. Penurunan terjadi terutama pada segmen bawah karena kenaikan  harga jual mie instan seiring dengan kenaikan harga tepung terigu sebagai bahan baku utama. Akibatnya sebagian produsen dari mie instan segmen bawah untuk sementara tidak berproduksi, karena anjloknya permintaan konsumen dari kalangan ini.    

Sedangkan permintaan mie instant dari segmen menengah atas tidak mengalami perubahan. Sehingga industri mie instan segmen menengah atas tetap bersaing ketat. Namun demikian, persaingan di segmen menengah atas tersebut sekarang berlangsung secara  lebih sehat. Sebab tidak lagi terjadi perang harga secara terbuka antara dua produsen besar yaitu Grup Indofood dengan Grup Wings, seperti yang terjadi tiga tahun belakangan ini. Semua produsen mie instan segmen menengah atas tersebut serentak menaikkan harga jual produknya menyesuaikan dengan kenaikan biaya produksi yang tinggi.       

Ketatnya persaingan di dalam pasar  mie instan, menjadikan penguasaan pasar oleh Grup Indofood melalui PT. Indofood Sukses Makmur dengan merk Indomie berkurang menjadi sekitar 77% dari sebelumnya 90%. Hal ini terutama disebabkan munculnya pesaing terbesarnya yaitu PT. Prakarsa Alam Segar (Group Wingsfood) dengan produknya Mie Sedaap yang berhasil merebut sebagian pasar Indofood.  Wingsfood kini menguasai sekitar 12% pangsa pasar. 

Sejak lima tahun terakhir hingga saat ini praktis pasar mie instan hanya menjadi arena pertarungan antara Indomie (Grup Indofood) dengan Mie Sedaap (Grup Wings), keduanya menguasai sekitar 89% dari seluruh pasar mie instan di Indonesia. Sementara sejumlah pemain lainnya memperebutkan sisa pangsa pasar yang sangat kecil hanya 11%.

Meski terjadi krisis global, namun pada 2008 lalu produksi mie instan tetap mengalami pertumbuhan produksi sekitar 6,9% menjadi sekitar 1.544.072 ton dibandingkan 1.443.686 ton pada tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena imbas krisis global yang juga berdampak pada sektor industri makanan termasuk industri mie instan, dimana sebagian produsen mengurangi produksi karena permintaan berkurang.  

Industri mie instan memiliki nilai pasar yang cukup besar, pada 2008 lalu diperkirakan mampu menembus Rp 15 triliun. Disamping itu, potensi pasar masih cukup besar dengan populasi 225 juta jiwa pada 2008, konsumsi mie instan per kapita baru sekitar 63  bungkus per orang setiap tahun. Ini masih lebih kecil dibandingkan dengan Korea Selatan yang konsumsi mie instannya cukup tinggi yaitu 70 bungkus per orang per tahun.  

Besarnya pasar mie instan di dalam negeri menarik minat beberapa pemain diluar Grup Indofood dan Grup Wings, yang berhasil mengisi ceruk pasar yang ada seperti Mie Gaga, Mie 100 (Mie Cepek) yang mulai diproduksi oleh PT. JakaranaTama. 

Kapasitas produksi meningkat

Secara umum kapasitas produksi mie instan dalam periode lima tahun terkahir mengalami pertumbuhan rata-rata 18,6% per tahun. Kapasitas produksi mengalami peningkatan cukup tinggi yaitu mencapai 72,6% menjadi  1.691.588 ton pada 2005 dari sebelumnya hanya 979.628 ton. Hal ini dipicu oleh tingginya tingkat permintaan mie instan dibandingkan tahun sebelumnya yang relatif masih rendah. 

Kenaikan kapasitas yang cukup pesat tersebut didukung oleh adanya perluasan kapasitas dari beberapa pemain yang sudah memiliki pasar cukup baik seperti merek ABC, Mie Gaga, Salam Mi, Alhami dan terutama produk dari Grup Indofood (Indomie, Supermie dan Sarimi). Pada 2006 tidak terjadi penambahan, sebab kapasitas produksi yang ada masih mencukupi kebutuhan.

Pada 2007 kapasitas produksi hanya mengalami peningkatan sekitar 1,0% yaitu menjadi sekitar 1.708.504 ton per tahun. Terutama karena adanya perluasan dari produsen besar yaitu PT. Indofood Sukses Makmur. Sekitar Rp 400 miliar dari total belanja modal tahun 2007  digunakan untuk meningkatkan kapasitas produksi mie instant  sebanyak 1 miliar bungkus. Sampai akhir 2006 perseroan memiliki kapasitas produksi terpasang sebanyak 13,5 miliar dan akan ditingkatkan menjadi 14,5 miliar bungkus tahun 2007. 

Seiring dengan krisis global yang terjadi pertengahan 2008, beberapa produsen menghentikan produksinya terutama produksi untuk segmen bawah. Namun kondisi ini tidak mempengaruhi industri mie instan nasional. Sebab beberapa produsen besar mampu menambah kapasitas produksinya. Kapasitas produksi mie instan nasional meningkat relatif kecil hanya 0,9% menjadi sekitar 1.725.589 ton per tahun.
          
Pada 2009 ini seiring dengan mulai  membaiknya kondisi ekonomi, kapasitas produksi mie instan diperkirakan akan meningkat menjadi 1.880.892 ton per tahun, atau akan meningkat sekitar 8,9%. Hal ini didukung oleh Grup Indofood sebagai produsen mie instan terbesar yang merencanakan akan melakukan penawaran obligasi untuk membiayai ekspansi usahanya termasuk meningkatkan kapasitas produksi. 

Produsen dan kapasitas produksinya 

Saat ini produsen mie instan tercatat sekitar 20 perusahaan baik perusahaan berskala besar maupun kecil. Industri mie kering yang dikemas bersama bumbunya atau yang lebih populer dengan sebutan instant noodle, relatif cukup lama berdiri di Indonesia yaitu dimulai sekitar tahun 1969. Yang dianggap perintis di bidang industri ini adalah PT Supermie Indonesia yang beroperasi sejak tahun 1969. 

Grup Indofood
Pada tahun 1979 berdiri PT Sarimi Asli Jaya, sebagai divisi food dan consumer product dari pengembangan usaha Grup Salim di pengo¬lahan terigu. Perusahaan yang memproduksi mie instan merk Sarimi ini, pada awalnya tidak terlalu berhasil dalam pemasaran¬nya. 

Mie instan mulai berkembang pesat setelah Grup Salim, dengan anak perusahaannya PT Sanmaru Food Manufacturers Co. Ltd. melaku¬kan swap share dengan produsen mie instan merk Indomie yaitu Jangkar Sakti Grup, sehingga merek tersebut memasyarakat di pasar domes¬tik. Terlebih lagi setelah Grup Salim mengambil alih PT Supermi Indonesia tahun 1986 lalu, menjadikan mie instan produksi Grup Salim mendominasi pasar di dalam negeri.

Salah satu anak perusahaan Grup Salim yang berdiri tahun 1990, yaitu PT Panganjaya Inti Kusuma, pada awal Februari 1994 berubah nama menjadi PT Indofood Sukses Makmur (ISM). Perusahaan ini kemudian menjadi cikal bakal Group Indofood yaitu sub-group dari Salim Group yang menggabungkan  18 perusahaan dari devisi indus¬tri makanan olahan  group Salim maupun anak perusahaan ISM lain¬nya. Penggabungan (merger) tersebut melibatkan 6 perusahaan yang memproduksi mie instan yaitu PT Sanmaru, PT Pangan Jaya Abadi, PT Karyapangan Inti Sejati, PT Lambang Insan Makmur dan PT Sari¬mie Asli Jaya. Sejumlah mie instan produksi Indofood yang beredar di pasar dengan merk Indomie, Supermie, Sarimie dan Popmie. 

Pada 1994 ISM go public dengan menawarkan sebanyak 21 juta lembar saham senilai Rp 21 milyar kepada masyarakat, sehingga modal yang ditempatkan dan modal yang disetor perusahaan meningkat dari Rp 742 milyar menjadi Rp 763 milyar. Pemegang saham ISM saat ini terdiri dari Cab Holding Ltd (46,53%), lai-lain (9,6%) dan publik (43,78%)

Kapasitas produksi terpasang mencapai 15,0 miliar bungkus per tahun pada 2008, meningkat dari sebelumnya 14,5 miliar bungkus per tahun. Sedangkan tingkat utilisasi mencapai 80% pada 2008, ISM merupakan produsen mie instant terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara.

Saat ini pabrik ISM bertambah menjadi 16 unit dari sebelumnya 14 unit  pabrik mie instan yang tersebar di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Industri mie instan milik ISM didukung oleh pabrik bumbu yang semuanya berlokasi di Pulau Jawa, yaitu PT. Indosentra Pelangi.   

Selain itu, ISM juga memiliki dua pabrik pengolahan gandum di Jakarta dan Surabaya melalui PT. ISM Bogasari dan 1 pabrik kemasan karung tepung di Citereup. Pada 2007 ini, ISM akan menambah lagi dua unit mesin produksi untuk mencapai target penjualan mencapai 17 juta bungkus per minggu. Saat ini kapasitas produksi Indofood dengan delapan unit mesin produksi terpasang yakni 3.500 dos (isi 40 bungkus/dos) per mesin per shif. Sementara dalam sehari dibagi atas tiga shif. Sehingga, rata-rata menghasilkan sekitar 3.360.000 bungkus per hari. 

ISM merupakan produsen mie instan terbesar di Indonesia. Selama ini sekitar 2% produknya diekspor ke lebih dari 50 negara di seluruh dunia.

Nissin Mas
PT. Nissin Mas merupakan perusahaan PMA (Penanaman Modal Asing) didirikan oleh Roda Mas dan Nissin Food Product Co. Ltd, Jepang pada 1992 dengan kapasitas 16.000 ton per tahun dan menelan investasi US$ 10 juta. Nissin sebagai mitra dari Jepang, merupakan salah satu produsen mie instan terbesar di negara itu. 

PT. Nissin Mas melakukan terobosan baru dengan memproduksi mie instan dalam kemasan mangkok (bowl noodles) merek "Noo¬dles". Selain itu Noodles juga disajikan secara one touch cook¬ing, artinya konsumen tidak perlu membuka kantung bumbu, karena semuanya sudah dicampur menjadi satu. Untuk pasar cup noodle, Nissin Mas bersaing dengan produk ISM yaitu Pop Mie. 

Pada Juli 1996 ISM membentuk aliansi strategis dengan Nissin Food Product Co. Ltd, produsen mie instant terbesar di Jepang, serta Nissho Iwai Corporation, perusahaan dagang terkemuka di negara tersebut.  Ketiga perusahaan itu akan memperkuat modal PT Nissin Mas, dimana Indofood akan menyertakan sahamnya sebanyak 49% di PT Nissin Mas. Sehingga 51% sisa saham, masing-masing akan dimiliki oleh PT Nissin  (49%) dan Nissho Iwai (2%). 

PT ABC
PT ABC President, sebuah PMA sebelumnya dikenal memproduksi berbagai produk makanan dan minuman (saus, kecap dan sebagainya). Perusahaan ini merupa¬kan patungan dari PT Aneka Bina Cipta (62%), dengan mitra asing Nan Gai Investment Co. Ltd, Hongkong (35%) dan Yeuan Yeou Enterprises Co. Ltd, Taiwan (3%). 

Pada 1993 ABC President memproduksi mie instan dengan kapasitas produksi 48.000 ton per tahun. Untuk pasar menengah dipasarkan dengan merek ABC dan Presi¬den, sedangkan untuk segmen pasar kelas bawah dipasarkan dengan merk Top Rame. 

PT Jakarana Tama yang berlokasi di Bogor memproduksi mie instan merk Michiyo. Produk ini berhasil mengisi ceruk pasar di segmen kelas atas yang tidak diisi oleh Indomie. Namun ceruk pasar kelas atas ini kemudian diserbu oleh berbagai merek produk Indofood. 

Pemasarannya didukung oleh perusahaan distributor PT Wicaksana Overseas Internasional. Perusahaan cukup berhasil memasarkan Gaga 100. PT.Dellifood Sentosa Corporation memasarkan Miduo yang mensiasati ceruk pasar potensial, karena masih banyak konsumen yang tidak merasa cukup kenyang dengan mengkon¬sumsi mie instan kebanyakan yang volumenya berkisar 75 gram. 

PT Nestle yang dikenal sebagai produsen susu bubuk juga memasuki bisnis mie instant bekerja sama dengan PT Supmi Sakti. Produknya memakai merk Maggi Mi.  

PT Barokah Inkopontren yang berlokasi di Bekasi, Jawa Barat memasarkan Mie Instant merek Barokah sejak 1999, dengan investasi Rp 24,9 milyar untuk kapasitas 7.200 ton per tahun.

Grup Wings
Meningkatnya permintaan mie instan, sebagai konsumsi alternatif makanan pokok, telah mendorong investor baru di antaranya Group Wings. Group Wings yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur awalnya lebih dikenal sebagai produsen sabun cuci dengan merk Wings Biru. 

Pada awal 2003 melalui sub grup-nya Wingsfood langsung sukses menggebrak pasar mie instan melaui produknya Mie Sedaap. Wingsfood memiliki dua anak perusahaan yaitu PT. Karunia Alam Segar (KAS) dan PT. Prakarsa Alam Segar (PAS) dengan total kapasitas produksi sekitar 202 ribu ton per tahun. KAS yang berlokasi di Gresik (Jawa Timur) sebagai basis produksi untuk pemasaran wilayah Indonesia bagian Timur, sedangkan PAS yang berlokasi di Bekasi (Jawa Barat) untuk pemasaran wilayah barat. 

Strategi Wingsfood ini berhasil merebut sebagian pasar mie instan yang selama ini dikusai oleh Indofood. Semua distribusi produk Mie Sedaap milik Wingsfood ditangani oleh PT. Sayap Mas Utama.

PT Olagafood
PT Olagafood Industri Makanan dan Minuman didirikan pada 1997 di Medan, Sumatera Utara. Awalnya, perusahaan ini bergerak dalam produksi air kelapa muda kalengan untuk pasar ekspor terutama untuk pasar Taiwan. Pada 1998, perusahaan ini memulai produksi mie instan, yang dipasarkan dengan merk Alhami dengan 12 macam varian rasa. Produk Alhami dipasarkan dengan 2 macam pilihan produk, yaitu Alhami reguler dan Alhami 100.

Pada 2001, Olagafood melakukan ekspansi dengan memproduksi varian baru dan dipasarkan dengan merk Santremie. Selanjutnya Olagafood juga memproduksi mie instan khusus bagi vegetarian yang dipasarkan menggunakan merk Maitri. Sedangkan mie makanan ringan dipasarkan dengan merk Hola Hole dan Mikka. Serta produk mie instan varian terbaru dengan merk Alimi mulai diproduksi pada 2006. Olagafood melakukan diversifikasi produk dengan mulai produksi kecap kedelai, dengan tujuan untuk digunakan sendiri dalam produksi mie instant.  Olagafoodmemasarkan kecap kedelainya dengan merek Gurumasak. 

Olagafood telah meningkatkan kapasitas produksinya pada 2009 menjadi 57.600 ton per tahun dari sebelumnya hanya 36.000 ton per tahun. Peningkatan kapasitas tersebut untuk memenuhi kebutuhan pasar terutama di Sumatera Utara dan Nanggroe Aceh Darussalam. 

PT Tiga Pilar Sejahtera Food Tbk 
PT. Tiga Pilar Sejahtera (TPS)  didirikan pada 1992 oleh keluarga almarhum Tan Pia Sioe. Perusahaan ini bergerak dalam industri pengolahan mie. Awalnya pada 1959, almarhum Tan Pia Sioe mendirikan bisnis keluarga   yang memproduksi bihun jagung dengan nama Perusahaan Bihun Cap Cangak Ular di Sukoharjo, Jawa Tengah. 

Pada 2002, TPS mengakuisisi PT. Asia Inti Selera yang memproduksi mie instant yang sudh beroperasi sejak 1985. Produsen pengolahan mie ini memiliki pabrik yang terintegrasi yang tersebar di Sragen Jawa Tengah, Jakarta dan Lampung. TPS memproduksi berbagai macam produk yaitu Mie Telor, Mie Instant, Mie Snack, Bihun Beras, Bihun Instant, Bihun Jagung, Biscuit, Candy, Bumbu, dll.  



Produksi meningkat 7,7%


Halaman Berikutnya>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN - Juni 2009


FOKUS: TANTANGAN DALAM MEMPERTAHANKAN SWASEMBADA PANGAN
  • Tantangan dalam menjaga swasembada pangan
  • Bahan pangan untuk Energi
  • Kesimpulan

INDUSTRI: INDUSTRI MIE INSTAN BERSAING KETAT
  • Latar belakang
  • Kapasitas produksi dan produsen
  • Produksi meningkat 7,7%
  • Suplai bahan baku terigu
  • Aspek pemasaran
  • Nilai pasar mie instan tembus Rp 14 triliun
  • Persaingan ketat
  • Iklan dan promosi mencapai Rp 200 miliar
  • Ekspansi oleh produsen besar
  • Ekspor
  • Impor naik
  • Konsumsi meningkat
  • Jaringan Distribusi
  • Harga naik
  • Kesimpulan dan prospek

INDUSTRI: INDUSTRI BISKUIT DI INDONESIA TUMBUH 8,8% PADA 2008
  • Latar belakang
  • Kapasitas produksi nasional terus meningkat
  • Produsen  biskuit dan kapasitas produksi
  • Produksi meningkat rata-rata 8,1%
  • Pemain utama industri biskuit di Indonesia
  • Aspek bahan baku
  • Dominasi asing
  • Ekspor meningkat
  • Impor naik
  • Konsumsi tumbuh 8,38.%per tahun
  • Aspek pemasaran
  • Distribusi
  • Kesimpulan dan prospek

HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan