2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI BISKUIT DI INDONESIA TUMBUH 8,8% PADA 2008
Juni 2009

Latar belakang

Meskipun pasar Indonesia dihantam krisis global menjelang akhir 2008, namun industri makanan dan minuman termasuk industri biskuit di dalam negeri mampu bertahan. Disamping itu industri di dalam negeri juga mengalami tekanan akibat  
kenaikan harga bahan baku utama yaitu tepung terigu serta gula rafinasi.  Padahal sebelumnya, industri makanan dan minuman telah menghadapi kondisi sulit akibat pergerakan harga minyak mentah dunia yang terus naik dan mempengaruhi harga bahan baku dan kemasan plastik. Sehingga para produsen harus menaikkan harga jual produknya. 

Di saat krisis sekarang, justru industri makanan dan minuman ini mampu menjadi penyelamat ekonomi Indonesia. Sebab bisnisnya tetap berkembang dengan baik dan mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Pada tahun 2008 lalu menyusul kasus susu produksi China yang mengandung melamin berimbas pada banyak negara di Asia menutup pasarnya bagi produk susu dan biskuit buatan China. Sebab zat melamin dianggap sangat membahayakan bagi manusia. Hal yang sama terjadi di Malaysia,  Departemen Kesehatan Johor, Malaysia meminta kepada perusahaan biskuit Khong Guan di Malaysia menghentikan produksi 12 jenis biskuit yang sudah beredar. Hasil temuan dipasar Malaysia bahwa kandungan melamin pada produk-produk tersebut melewati batas. ditemukan pada biskuit Soda, Lemon Puff, Pof, Butter Cream, Baby Fish, Health Cracker, Cocoa Puff, Sandwich Oren, Family Crackers, Bentuk Binatang, dan Mini Puff. Menyusul kemudian PT. Khong Guan  Indonesia mengumumkan bahwa produk biskuit yang diproduksi di Indonesia bebas melamin, sebab tidak pernah mengambil bahan baku susu impor dari Cina.
  
Berkaitan dengan banyaknya pasar di Asia yang menutup pasarnya bagi produk China bermelamin,  produksi biskuit Indonesia meningkat sampai dengan 10% untuk memenuhi permintaan pasar Asia dan Eropa yang kemudian mengalihkan suplainya dari China ke negara produsen lain. Meski kasus melamin di China berpengaruh positif terhadap industri makanan dan minuman Indonesia, namun pemerintah memperketat pengamanan pasar dalam negeri agar tidak dibanjiri produk China yang ditolak pasar tujuan ekspornya.

Meningkatnya permintaan di pasar ekspor,  menyebabkan kinerja ekspor produk biskuit nasional meningkat menjadi 59,9 ribu ton senilai US$ 99,4 juta pada 2008 dari tahun sebelumnya 50,6 ribu ton senilai 136,8 juta. Semntara produksi biskuit nasional pada tahun lalu mencatat pertumbuhan 8,8.%, atau meningkat menjadi 248,1 ribu ton dibandingkan tahun sebelumnya 228,0 ribu ton.  Kenaikan produksi itu diakibatkan peningkatan permintaan akibat beberapa negara tujuan ekspor mengalihkan pasokan dari China ke Indonesia. 

Sementara itu, hingga kini industri biskuit di dalam negeri masih didominasi oleh produsen-produsen asing dengan merek global seperti Oreo, Tim Tam, Ritz dan lain-lain menandai mulainya perkembangan investasi biskuit dunia menuju pasar Indonesia. Dominasi asing terlihat dari pemain-pemain di bisnis makanan dan minuman yang sudah cukup dikenal selama ini, termsuk Khong Guan, Mo-Mo-Gi, PT Amott’s Indonesia, PT Kraft Food Indonesia, PT Kino Sentra Industrindo dan sebagainya. . Sedangkan pemain-pemain lokal seperti Group Orang Tua (GOT), Siantar Top,  GarudaFood , Mayora, Indofood dan lain-lain.  Pemain lokal tersebut cukup mampu berebut pasar biskuit.  

Belakangan ini dominasi asing juga dilkukan melalui  merger antara produsen dunia dengan produsen lokal seperti Arnott’s biscuit Co. Ltd dengan  PT Helios Food, juga Nabisco International dan PT Roda Mas, membuat persaingan semakin  ketat antara  produsen lokal dengan merek  yang kuat seperti Group Khong Guan, Mayora, Group Orang Tua dan lain-lain dengan produsen dunia tersebut.

Akuisisi juga terjadi pada produsen dunia sekelas Danone, Prancis, yang di akuisisi oleh produsen makanan Amerika Kraft Foods. Penawaran pembelian bisnis biskuit global Danone oleh Kraft Foods Inc. pada awal Juli tahun 2007 lalu menjadi bukti bahwa akuisisi adalah jalan pintas bagi pengembangan bisnis dibandingkan harus membangun bisnis tersebut dari awal.

Kondisi ini tidak lain terjadi karena persaingan sudah sangat ketat, dengan jumlah pemain yang semakin besar, baik ditingkat lokal maupun global,  membuat langkah akuisisi adalah cara yang lebih singkat dan lebih pasti, meskipun harus di bayar oleh investasi yang sangat besar.

Kapasitas produksi nasional terus meningkat

Pemanfaatan kapasitas produksi industri biskuit di indonesia saat ini sudah hampir optimal, dengan terus berkembangnya produksi biskuit saat ini, meskipun gejolak kenaikan harga bahan baku makanan terus terjadi.

Kapasitas produksi industri biskuit di Indonesia terus menunjukan peningkatan setiap tahunnya, yaitu mencapai 296.074 ton/tahun pada 2005, kemudian meningkat menjadi 299.035 ton/tahun pada 2006. Sampai dengan 2008 kapasitas terus bertambah hingga mencapai 314.106 ton per tahun. 

Sedangkan pada 2009 ini kapasitas produksi diperkirakan akan meningkat lagi menjadi 326.670 ton per tahun.  

Peningkatan kapasitas produksi yang terus bertambah setiap tahun tidak terlepas dari begitu banyaknya produsen dalam industri ini sehingga peningkatan terjadi karena adanya pengembangan kapasitas produksi dari produsen lama maupun beroperasinya pabrik-pabrik baru dalam industri biskuit dalam berbagai skala usaha.


Produsen  biskuit dan kapasitas produksi

Saat ini sebagian besar produsen utama biskuit di Indonesia seperti PT Khong Guan, PT Mayora Indah, PT Arnott’s Indonesia, PT Nabisco Foods dan lain-lain memproduksi jenis wafer, cookies dan crackers. 


Meskipun hanya sedikit produsen yang memproduksi biskuit dalam kemasan kaleng, tetapi pangsa pasar jenis ini cukup besar terutama pada saat menjelang hari raya Idul Fitri, Idul Adha serta  Natal dan tahun baru  karena kebutuhan jenis biskuit ini meningkat pesat


Lihat Daftar Isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN - Juni 2009


FOKUS: TANTANGAN DALAM MEMPERTAHANKAN SWASEMBADA PANGAN
  • Tantangan dalam menjaga swasembada pangan
  • Bahan pangan untuk Energi
  • Kesimpulan

INDUSTRI: INDUSTRI MIE INSTAN BERSAING KETAT
  • Latar belakang
  • Kapasitas produksi dan produsen
  • Produksi meningkat 7,7%
  • Suplai bahan baku terigu
  • Aspek pemasaran
  • Nilai pasar mie instan tembus Rp 14 triliun
  • Persaingan ketat
  • Iklan dan promosi mencapai Rp 200 miliar
  • Ekspansi oleh produsen besar
  • Ekspor
  • Impor naik
  • Konsumsi meningkat
  • Jaringan Distribusi
  • Harga naik
  • Kesimpulan dan prospek

INDUSTRI: INDUSTRI BISKUIT DI INDONESIA TUMBUH 8,8% PADA 2008
  • Latar belakang
  • Kapasitas produksi nasional terus meningkat
  • Produsen  biskuit dan kapasitas produksi
  • Produksi meningkat rata-rata 8,1%
  • Pemain utama industri biskuit di Indonesia
  • Aspek bahan baku
  • Dominasi asing
  • Ekspor meningkat
  • Impor naik
  • Konsumsi tumbuh 8,38.%per tahun
  • Aspek pemasaran
  • Distribusi
  • Kesimpulan dan prospek