2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Februari 2011

INDUSTRI PERTAMBANGAN LOGAM DI INDONESIA

Latar Belakang

Komoditi mineral logam di Indonesia cenderung  mengalami penurunan kinerjanya setahun terakhir ini karena timbulnya beberapa kondisi yang kurang mendukung sektor industri ini. Beberapa pertambangan mineral logam sedang mengalami fase penurunan produksi karena proses perluasan lahan, selain itu kadar bijih mineral yang rendah serta curah hujan yang tinggi juga menghambat produktivitas pada sebagian besar pertambangan mineral logam sehingga produksi merosot pada tahun 2010 lalu.

Kebutuhan pada beberapa komoditi mineral logam dunia memang meningkat, tetapi penurunan permintaan juga diperkirakan akan terjadi pada beberapa komoditi, salah satunya nikel, karena dampak tsunami di Jepang pada 11 maret 2011 lalu. Seberapa besar dampak bencana gempa dan tsunami di Jepang terhadap aktivitas pertambangan di Indonesia, memang butuh waktu untuk mengetahui angka pastinya.

Direktur Eksekutif Indonesia Mining Association (IMA) Priyo Pribadi Soemarno mengatakan, selama ini pasokan nikel dari Indonesia ke Jepang sangat besar. sekitar 55%dari kebutuhan Jepang. Tetapi banyak pabrik di Jepang yang berhenti beroperasi karena mengalami kerusakan sejak terjadi gempa yang diikuti tsunami.

Kondisi ini memaksa para pengusaha pertambangan di Indonesia mencari pasar baru sebagai pengganti pasar Jepang. Karena Jepang pasti masih dalam tahap recovery dan diperkirakan kebutuhan nikel baru pulih sekitar 2 tahun kedepan.

Berbeda dengan nikel, tembaga diperkirakan akan meningkat kebutuhannya, karena permintaan ekspor dunia selain Jepang cukup tinggi, hanya produksinya menurut Direktur Jenderal (Dirjen) Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian ESDM, Bambang Setiawan, pada 2011 akan terjadi penurunan sebesar 36% atau sebesar 644.098 ton. Penurunan ini juga masih akan terjadi pada 2012, karena salah satu perusahaan produsen tembaga nasional PT Newmont Nusa Tenggara (NNT), baru mendapatkan perluasan untuk penambahan lahan untuk kegiatan penambangannya.

Presiden Direktur PTNNT, Martiono Hadianto, menjelaskan bahwa produksi tembaga PTNNT akan terus mengalami penurunan sampai 2012. Penurunan tersebut lanjutnya, karena baru dimulainya perluasan tambang batu hijau fase 6 dan 7, sehingga produksi pada saat perluasaan tambang tersebut belum optimal karena masih membuka lapisan dengan kandungan mineral yang rendah.

Timah juga mengalami penurunan produksi pada tahun 2010, baik untuk konsentrat  maupun logam timah. Tidak tercapainya produksi timah sebagian besar disebabkan karena faktor cuaca ekstrim yang terus terjadi di wilayah Indonesia, tetapi tidak tercapainya target produksi timah disaat harga timah dunia sedang meningkat tajam, sempat menimbulkan kecurigaan adanya aktivitas penyelundupan, karena  disaat harga dunia yang sedang meningkat pesat, seharusnya produsen  timah gencar menambah produksinya.

Sektor pertambangan tetap akan menjadi primadona sumber devisa negara Indonesia, dengan melihat potensi sumber daya mineral yang masih luas untuk digarap baik oleh perusahaan lokal maupun asing.

Tetapi di tengah tingginya kontribusi sektor pertambangan terhadap penerimaan negara, beberapa masalah masih menghambat perkembangan industri pertambangan, seperti tumpang tindih lahan tambang dengan hak penguasaan hutan (HPH) /hutan tanaman industri (HTI) /perkebunan dan hutan konservasi, peralihan sistem kontrak karya (KK) ke izin usaha pertambangan (IUP) dan keinginan pemerintah daerah menerbitkan kuasa pertambangan (KP).

Cadangan Mineral Indonesia

Meskipun dikenal sebagai negara yang kaya dengan potensi sumber daya alam mineral, tetapi potensi cadangan mineral logam Indonesia relatif tidak begitu besar lagi, karena eksploitasi secara besar-besaran telah mengurangi potensi ini secara signifikan.

Sebagian besar cadangan mineral logam di Indonesia umumnya diperkirakan masih tinggal 24 tahun hingga 33 tahun saja,  kecuali bijih besi yang masih cukup panjang umur cadangannya.

Cadangan emas Indonesia di Papua dikenal  sebagai salah satu yang terbesar di dunia, tetapi produksinya juga tidak kalah besar, karena produksi emas Indonesia cukup mendominasi perdagangan emas dunia, sehingga diperkirakan cadangan emas Indonesia saat ini hanya cukup untuk 33 tahun lagi. Demikian pula dengan cadangan tembaga Indonesia  yang mencapai 27,7 juta ton diperkirakan akan habis 27 tahun lagi.

Indonesia yang selama ini memasok sekitar 50% kebutuhan nikel jepang juga hanya mempunyai cadangan untuk sekitar 25 tahun lagi.

Indonesia juga mempunyai potensi pasir  besi yang cukup besar, hanya karena belum maksimalnya perkembangan pengolahan pasir  besi di Indonesia, sehingga cadangan bijih besi relatif  masih cukup panjang waktunya hingga mencapai sekitar 130 tahun lagi.
Cadangan emas Grasberg di Papua merupakan cadangan emas terbesar di Indonesia bahkan menjadi salah satu cadangan emas terbesar di dunia. Kandungan sumber dayanya mencapai 3.117 juta ton. Selain Grasberg yang juga cukup besar cadangannya adalah Cadangan Batu Hijau di Banda yang mencapai 525 juta ton. Beberapa cadangan lainnya berkisar 75 juta ton hingga 114 juta ton yang umumnya terkonsentrasi di wilayah Tengah Kalimantan dan Sulawesi Utara

Perusahaan Pertambangan Mineral Logam

Perusahaan pertambangan mineral logam di Indonesia terbagi menjadi  perusahaan yang sudah dalam tahapan produksi, konstruksi dan eksplorasi. Perusahaan pertambangan mineral logam yang sudah dalam tahap produksi sebagian besar adalah perusahaan besar yang sudah lama beraktivitas dalam industri pertambangan mineral di Indonesia. Perusahaan tersebut sebagian besar adalah perusahaan asing dan BUMN

Sementara itu perusahaan yang masih dalam tahapan konstruksi maupun eksplorasi  sebagian merupakan perusahaan baru, tetapi hampir semuanya beraktivitas dalam penambangan emas, yang tersebar di wilayah papua, Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera.


Pemain utama industri mineral logam

Beberapa industri penambangan mineral logam di Indonesia adalah pemain kelas dunia yang cukup mendominasi, baik karena besarnya cadangan mineral, maupun produksinya yang mendominasi pasokan  mineral logam dunia. Diantara produsen tersebut antara lain PT Freeport Indonesia, PT Timah Tbk, PT Antam Tbk dan  PT Inco Tbk

PT Freeport Indonesia

PT Freeport Indonesia (PTFI) merupakan perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc. PTFI menambang, memproses dan melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas dan perak. Beroperasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika Provinsi Papua, Indonesia. Kompleks tambang PTFI di Grasberg merupakan salah satu penghasil tembaga dan emas terbesar di dunia, dan mengandung cadangan tembaga yang dapat diambil yang terbesar di dunia, selain cadangan  emas terbesar di dunia.

Saat ini PTFI menerapkan dua teknik penambangan, yakni open-pit atau tambang terbuka yang menggunakan truk pengangkut dan sekop listrik besar di tambang Grasberg. serta teknik ambrukan atau block-caving pada tambang bawah tanah Deep Ore Zone (DOZ).

Tambang Terbuka Grasberg
Pada tambang terbuka Grasberg digunakan peralatan shovel dan truk besar untuk menambang bahan. Bahan tersebut termasuk klasifikasi bijih atau limbah, tergantung dari nilai ekonomis bahan tersebut. Alat shovel menggali bahan pada daerah-daerah berbeda di dalam tambang terbuka, dan memuat bahan ke atas truk angkut untuk dibawa keluar tambang terbuka.

Bijih ditempatkan ke dalam alat penghancur bijih dan diangkut ke pabrik pengolahan (mill) untuk diproses. Batuan limbah (overburden) dibuang dengan truk ke daerah-daerah penempatan yang telah ditentukan, atau ke dalam alat penghancur OHS pada jalan HEAT untuk ditempatkan di Wanagon Bawah di samping alat penimbun (stacker).

Tambang Bawah Tanah DOZ
Pada block cave DOZ, alat LHD (loader) meletakkan lumpur ke dalam ore pass yang menuju saluran pelongsor. Selanjutnya saluran tersebut memuat truk-truk angkut AD-55 pada tingkat angkutan untuk mengangkut bijih ke alat penghancur. Dari sana, bijih yang telah dihancurkan dikirim ke pabrik pemroses (mill) melalui ban berjalan (conveyor).

PT Timah (persero)Tbk

PT Timah Tbk yang 65% sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Indonesia dan 35% dimiliki  oleh publik, merupakan pemain utama industri  pertambangan timah di Indonesia dan salah satu pemasok terbesar timah dunia. PT Timah merupakan penghasil timah terbesar kedua di dunia dengan rata-rata kapasitas produksi 50.000 Mton per tahun atau menguasai sekitar 16% pangsa pasar timah dunia.

Pada tahun 2008, PT Timah Tbk telah melakukan verifikasi cadangan mineral timah yang dilaksanakan oleh Micromine, konsultan independen dari Australia. Hasil verifikasi tersebut memberikan data sumber daya mineral timah sebesar 1,06 juta ton yang berarti mencukupi untuk operasi penambangan lebih dari 10 tahun. Akan tetapi sebagian dari cadangan timah tersebut mengalami kerusakan akibat gangguan tambang liar dan wilayah operasi penambangan di darat maupun laut masih terancam oleh penambang liar maupun kolektor bijih timah.

Jenis produk yang diproduksi oleh PT Tambang Timah dibedakan atas kualitas dan bentuknya. Berdasarkan kualitas produk dapat dibedakan atas Banka Tin (kadar Sn 99,9%), Mentok Tin (kadar Sn 99,85%), Banka Low Lead (Banka LL) dan Banka Four Nine (kadar Sn 99,99%). Berdasarkan bentuk terdiri dari Banka Small Ingot, Banka Tin Shot, Banka Pyramid dan Banka Anoda

Selain itu PT Timah Tbk juga tengah mengembangkan produk hilir timah yang memiliki margin yang lebih signifikan. Salah satunya adalah pembangunan pabrik timah chemical yang berlokasi di Cilegon, Banten. Pabrik yang memiliki kapasitas produksi sebesar 10.000 ton per tahun ini nantinya akan terus dikembangkan lagi sehingga kapasitas produksinya dapat  terus ditingkatkan.

PT Antam Tbk

PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) merupakan perusahaan pertambangan yang sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Republik Indonesia 65%  dan Masyarakat 35%, Antam menambang dan mengolah berbagai jenis mineral logam yang sebagian besar adalah untuk kebutuhan ekspor.

Komoditas utama Antam adalah feronikel, bijih nikel kadar tinggi, bijih nikel kadar rendah, emas, perak, dan bauksit. Antam juga menyediakan jasa pengolahan dan pemurnian bagi pihak ketiga. Antam saat ini memiliki 4 unit bisnis utama yakni Unit Bisnis Pertambangan Nikel (UBPN) Sulawesi Tenggara, UBPN Maluku Utara, UBP Emas, serta UB Pemurnian dan Pengolahan Logam Mulia.

Antam secara resmi menutup UBP Bauksit yang berlokasi di Kijang, pulau Bintan, kemudian Antam membuka tambang bauksit Tayan yang berlokasi di Kalimantan Barat dan akan mengembangkan cadangan bauksit di wilayah tersebut menjadi Chemical Grade Alumina bersama-sama dengan Showa Denko K.K. dari Jepang di dalam proyek Chemsical Grade Alumina Tayan.

Komoditas nikel Antam yakni feronikel dan bijih nikel, dihasilkan dari tambang-tambang nikel di Sulawesi Tenggara dan Maluku Utara serta pabrik-pabrik feronikel di Sulawesi Tenggara. Antam mengoperasikan dua tambang nikel di Sulawesi Tenggara yakni di Pomalaa dan Tapunopaka, dua tambang nikel di Maluku Utara, yakni di Gee dan Buli, serta tiga pabrik pengolahan feronikel di Pomalaa, Sulawesi Tenggara.

Bijih nikel Antam yang diekspor memiliki karakteristik kadar nikel dengan kisaran 1,0% sampai dengan di atas 2,0%. Seluruh komoditas feronikel dan bijih nikel Antam adalah untuk konsumsi pasar ekspor. Komoditas feronikel diekspor ke Korea Selatan dan Eropa.  Bijih nikel kadar tinggi umumnya diekspor ke Jepang dan Eropa sedangkan bijih dengan kadar lebih rendah diekspor ke Jepang dan China.

Antam memiliki sembilan anak perusahaan dengan kepemilikan langsung dan mayoritas, satu anak perusahaan dengan kepemilikan mayoritas secara tidak langsung, dan dua cucu perusahaan. Kepemilikan mayoritas Antam yang bersifat langsung  diantaranya adalah:

PT Antam Resourcindo yang merupakan perusahaan eksplorasi dan operator tambang dengan kepemilikan 99,98%.

PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) yang merupakan perusahaan industri alumina dan jasa kontraktor pertambangan dan tengah mengembangkan proyek Chemical Grade Alumina Tayan dengan kepemilikan 80%. PT Cibaliung Sumberdaya (CSD) yang mengoperasikan tambang emas Cibaliung dengan kepemilikan saham Antam sebesar 99,15%.

PT Indonesia Coal Resources (ICR) yang bergerak dalam bidang usaha pertambangan batubara dan tengah mengoperasikan tambang batubara Sarolangun dengan kepemilikan Antam sebesar 99,98%, Asia Pacific Nickel Pty. Ltd. (APN), sebuah perusahaan investasi dengan kepemilkan 100%.

PT Mega Citra Utama dan PT Borneo Edo International yang keduanya merupakan perusahaan pemilik ijin usaha pertambangan di komoditas bauksit dengan kepemilikan Antam di masing-masing perusahaan tersebut sebesar 99,5%.

PT Abuki Jaya Stainless Indonesia yang merupakan perusahaan pengolahan baja nirkarat dengan kepemilikan 99,5% .

PT Dwimitra Enggang Khatulistiwa yang merupakan merupakan perusahaan pemilik ijin usaha pertambangan di komoditas bauksit dengan kepemilikan 100%. Antam juga memiliki secara tidak langsung 100%.

Pada tahun 2010 cadangan bijih dan sumber daya mineral nikel mengalami penurunan, Saprolite Nickel menurun 17% dan Limonite Nickel turun 20%, sementara itu Emas meningkat 4% dan Bauxite meningkat 6%.

Cadangan terbukti dan tersedia PT Antam mengalami peningkatan pada tahun 2010, Saprolite Nickel meningkat 8%, emas meningkat 19% dan bauxite meningkat 1%.

PT International Nickel Indonesia Tbk (PT INCO)

PT INCO memproduksi nikel dalam matte, yang merupakan produk antara, dari bijih lateritik pada fasilitas-fasilitas penambangan dan pengolahan terpadu di dekat Sorowako di pulau Sulawesi.

Seluruh produksi Ni- dalam Matte PT INCO dijual berdasarkan kontrak jangka panjang dalam denominasi dollar AS kepada Vale Canada dan Sumitomo Metal Mining Co.Ltd. Pemegang saham PT INCO adalah: Vale Canada Limited 58,73% Sumitomo Metal Mining Co.Ltd 20,09%, Publik 21,18%

Cadangan terbukti dan terduga Nikel PT INCO pada tahun 2010 sedikit mengalami penurunan dari tahun 2009. Pada tahun 2009 cadangan terbuktinya mencapai 82,3 juta ton dan turun menjadi 75,4 juta ton, demikian pula dengan cadangan terduga menurun menjadi 38,3 juta ton dari tahun 2009 yang mencapai 38,8 juta ton.

Penurunan cadangan PT INCO terjadi karena Deplesi tambang (berkurang 4,35 juta ton), Rancang ulang dan sterilisasi lubang tambang (berkurang 0,8 juta ton), Konversi cadangan mineral menjadi sumber daya mineral dan lain-lain. Cadangan Terbukti dan terduga PT INCO 2009-2010

Cuaca buruk hambat produksi mineral logam

Secara umum produksi pertambangan logam di Indonesia pada tahun 2010 cenderung mengalami penurunan, meskipun beberapa komoditi seperti Converter Matte, Ni + Co in Matte, juga Ni in Fe Ni relatif meningkat.

Produksi tembaga mengalami penurunan, dari  998.530 ton pada tahun 2009 menjadi 878.376 ton pada tahun 2010, demikian juga dengan emas, pada tahun 2009 produksinya mencapai 127.716 kg menurun menjadi 104.600 kg pada tahun 2010. Bauksit merupakan komoditi logam yang merosot jauh produksinya pada tahun 2010 menjadi 104.692 mt, dari tahun sebelumnya yang mencapai 783.097 mt. Hal ini disebabkan buruknya cuaca, karena curah hujan yang tinggi dan tidak menentu mengakibatkan terganggunya proses produksi penambangan bauksit.

Faktor kondisi cuaca yang buruk juga menyebabkan turunnya produksi  timah, padahal harga dunia pada tahun 2010 sedang mengalami peningkatan yang  cukup pesat. Akibat kondisi yang dinilai tidak wajar ini beberapa pihak mensinyalir banyaknya penyelundupan komoditi timah ke luar negeri, karena alasan tidak ekonomisnya penambangan saat kondisi cuaca buruk harusnya dapat  tertutupi oleh tingginya harga timah saat itu.

Produksi emas berfluktuasi

Perkembangan produksi emas cenderung berfluktuasi, karena tidak stabilnya produksi setiap tahunnya. Pada tahun 2007 produksi emas meningkat cukup besar hingga mencapai 42,8%, tetapi pada tahun 2008 produksinya menurun sebesar 45,4%, dari 117.854 kg menjadi 64.390 kg. Peningkatan produksi yang pesat kembali meningkat sebesar 98,3% pada tahun 2009 dengan produksi sebesar 127.717 kg. Pada tahun 2010 produksi emas kembali menurun hingga produksinya hanya mencapai 104.600 kg.

PT Freeport Indonesia masih merupakan produsen emas terbesar, dengan produksi pada tahun 2010 mencapai 61.833 kg atau hampir 60% dari total produksi emas di Indonesia. PT Newmont Nusa Tenggara menempati posisi kedua sebagai produsen terbesar di Indonesia, hanya berbeda dengan PT Freeport Indonesia yang mengalami penurunan produksi pada tahun 2010, PT Newmont Nusa Tenggara justru mengalami peningkatan produksi, dari tahun 2009 yang hanya mencapai 17.406 kg meningkat menjadi 22.930 kg pada tahun 2010.

Meningkatnya produksi emas PT Newmont Nusa Tenggara tidak terlepas dari cuaca yang panas yang tidak biasa di lokasi pertambangan dasar Fase 5 yang memungkinkan dilakukannya penambangan tambahan dan penggilingan.yang menghasilkan emas dengan kadar tinggi.

PT Nusa Halmahera Minerals mengalami peningkatan produksi yang cukup pesat pada tahun 2010, dari 10.434 kg pada tahun 2009 meningkat menjadi 15.122 kg pada tahun 2010.

PT NNT  pacu produksi tembaga 2010 sebelum lakukan perluasan lahan
Produksi logam tembaga (copper metal), maupun konsentrat tembaga (copper concentrtate) mengalami penurunan pada tahun 2010. PT Freeport menyatakan bahwa penurunannya akibat rendahnya kadar bijih mineral dari pertambangan Grasberg di Papua. Produksi konsentrat tembaga PT Freeport Indonesia menurun dari 2.731.769 dmt pada tahun 2009  menjadi 2.575.006 dmt pada tahun 2010, demikian pula dengan produksi tembaga, pada tahun 2009 produksinya mencapai 774.661 ton kemudian menurun menjadi 632.325 ton pada tahun 2010.

Sementara itu produksi PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) pada tahun 2010 untuk cooper concentrate mengalami peningkatan, yaitu dari 752.355 dmt meningkat menjadi 891.765 dmt. Produksi logam tembaga mencapai  246.051 ton, meningkat sedikit dari tahun 2009 yang mencapai 223.869 ton.

Produksi PT NNT akan mulai menurun pada tahun 2011, karena dalam tahap perluasan lahan untuk pengembangan penambangan fase 6 dan 7. Penurunan produksi PT NNT diperkirakan akan terus berlangsung hingga tahun 2012.


Lihat Daftar isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
Topik Terkait

ICN -Februari2011

FOKUS: PERKEMBANGAN MAKRO EKONOMI INDONESIA SELAMA TRIWULAN I 2011 POSITIF

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI PERTAMBANGAN LOGAM DI INDONESIA
  • Latar Belakang
  • Cadangan Mineral Indonesia
  • Perusahaan Pertambangan Mineral Logam
  • Pemain utama industri mineral logam
  • Cuaca buruk hambat produksi mineral logam
  • Produksi emas berfluktuasi        
  • PT NNT  pacu produksi tembaga 2010 sebelum lakukan perluasan lahan        
  • Produksi timah menurun        
  • Produksi nikel stabil        
  • Peta pemain industri  mineral logam belum mengalami perubahan        
  • Wilayah Timur Indonesia masih dominasi produksi mineral logam        
  • Penjualan Domestik        
  • Ekspor Mineral Logam        
  • Ekspor emas terpengaruh merosotnya kinerja  PT Freeport
  • Ekspor  nikel 2011 dikhawatirkan akan menurun        
  • Ekspor timah menurun
  • Singapura Tujuan utama ekspor timah Indonesia 2011
  • Pemasaran
  • Pengelolaan limbah faktor penting kelangsungan operasional tambang        
  • Kebijakan Pertambangan di Indonesia masih menyisakan kendala        
  • Investasi baru dan pengembangan pertambangan PT Antam Tbk        
  • Prospek dan Kesimpulan


INDUSTRI : PROYEK INVESTASI SMELTER MINERAL LOGAM DI INDONESIA

HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan