2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.

BERITA RINGKAS PERUSAHAAN
November  2008

MASPION BANGUN TERMINAL ELPIJI. Grup Maspion membangun terminal penimbunan elpiji (LPG) berkapasitas 10.000 ton di Gresik untuk mendukung program konversi minyak tanah ke bahan bakar gas dengan nilai investasi US$26,7 juta. Dalam rangka proyek ini, Maspion menggandeng PT Pertamina (persero) dengan membentuk anak perusahaan PT Maspion Energy Mitratama (MEM) dan proyek terminal elpiji tersebut direncanakan selesai Mei 2009. Kepala Tim Monitoring Konversi Minyak Tanah Pertamina Nasullah Achsan mengatakan terminal elpiji tersebut diharapkan dapat menampung elpiji untuk kebutuhan sejumlah stasiun pengisian bulk elpiji (SPBE) pada sejumlah kabupaten di Jawa Timur. Fasilitas terminal LPG itu berdiri di areal seluas 5,6 ha dan berlokasi di Kawasan Industri Maspion (KIM) di pantai utara Kabupaten Gresik, Jawa Timur, kawasan industri tersebut dilengkapi dengan jetty/dermaga tempat sandar kapal LPG. Sementara itu, Direktur MEM Seto Yusuf Widia mengatakan terminal LPG tersebut dirancang  memiliki empat unit tangki timbun yang berkapasitas 2.500 ton per unit dan pengerjaan proyek itu telah mencapai 57%.

MANDAN STEEL INVESTASI US$40 JUTA UNTUK RISET. PT Mandan Steel, perusahaan baja asal China berhasil mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kadar Fe (ferro) bijih besi di daerah pertambangan Kalimantan Selatan. Teknologi tersebut dikembangkan  Mandan Steel melalui sebuah riset yang memakan biaya sebesar US$40 juta. Riset tersebut merupakan proses praproduksi untuk mendukung mega proyek perseroan senilai US$1 miliar berupa pembangunan pabrik baja berlapis nikel dengan total kapasitas 1 juta ton. Mandan Steel adalah perusahaan afiliasi dari China Nickel Resources Holding Co dan investasi sebesar US$1 miliar tersebut akan dikucurkan perseroan secara bertahap selama 5 tahun. Sementara itu, menurut Dirjen Industri Logam Mesin Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan penurunan harga baja dunia yang telah menembus US$730 per ton ternyata tidak menghambat pembangunan pabrik baja di Kalimantan Selatan yang dilakukan oleh tiga perusahaan termasuk Mandan Steel. Dua perusahaan lainnya adalah PT Meratus Jaya Steel (perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel dan PT Aneka Tambang Tbk) dan PT Semeru Surya Steel (Gunung Garuda Group). Pembangunan pabrik baja ini dijadwalkan akan terealisasi pada awal tahun atau selambat-lambatnya pada 2010.

AKUISISI MNA, JASA MARGA PAKAI DANA PENAWARAN UMUM. Akibat berlarutnya krisis financial membuat opsi pembiayaan melalui pasar modal dan perbankan menjadi kurang menguntungkan sehingga PT Jasa Marga menggunakan sebagian dana hasil penawaran umum perdana (initial public offering/IPO), untuk membiayai akuisisi saham mayoritas PT Marga Nujyasumo Agung (MNA). Direktur Keuangan Jasa Marga Reynaldi Hermansjah mengatakan peningkatan porsi kepemilikan di perusahaan pengelolaan jalan tol ruas Surabaya - Mojokerto tersebut dipastikan akan mempengaruhi potensi pendapatan PT Jasa Marga ke depan. Disamping itu akuisisi tersebut dilakukan bersama dengan PT Wijaya Karya Tbk dan kedua belah pihak masih membicarakan porsi saham masing-masing. Sementara itu, dalam rapat umum pemegang saham (RUPS) pertengahan tahun lalu, PT Wika mengumumkan telah menyiapkan dana Rp60 miiar untuk mengakuisisi MNA, sedangkan PT Jasa Marga menyatakan akan menyediakan dana sebesar RP40 miliar untuk untuk akuisi MNA tersebut. PT Marga Nujyasumo Agung (MNA) merupakan perusahaan yang sedang mengerjakan proyek tol Surabaya - Mojokerto dengan panjang jalan tol 36,5 km dan investasi Rp3,3 triliun dan memperoleh kredit dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), dan PT Bank Bukopin Tbk sebesar Rp1,52 triliun. Dan MNA semula dimiliki Moeladi yang memiliki porsi saham 36,5%, PT Dressa Cipta 20%, PT Jasa Marga 16%, PT Kaliurang Daya Cipta 15%, dan PT Induco Matra 12,5%.

MEDCO GARAP INDUSTRI BERBASIS TEBU. Grup Medco konglomerat nasional di bidang energi, semakin serius menggarap perkebunan tebu di Papua setelah memperoleh tawaran pembukaan lahan seluas 300,000 ha dari pemerintah daerah yang membutuhkan investasi senilai US$3 miliar. Setidaknya dalam jangka pendek satu tahun kedepan, Medco akan merealisasikan riset pertanian senilai Rp1 miliar untuk pengembangan tebu di kawasan timur Indonesia bekerja sama dengan Brasil. Sementara itu, lahan yang ada saat ini sekitar 25 ha di Papua Selatan, yaitu Merauke, Boven Digul, Asmat dan Mappi yang sudah dikelola sementara dengan ditanami aneka komoditas antara lain jagung dan padi. Namun pihak perseroan tetap memfokuskan pengembangan industri tebu terintegrasi karena itu pihak Medco berupaya mengejar riset tebu untuk merealisasikan proyek tersebut. Medco juga berinvestasi sekitar US$264 juta di Lampung untuk membangun pabrik etanol, biodiesel dan biogas dengan cara mengembangkan eksplorasi sumber panas bumi dan pabrik bioetanol senilai US$40 juta dengan kapasitas produksi 60 juta liter etanol per tahun di bangun di Kota Bumi, Lampung Utara yang saat ini pembangunannya sudah mencapai 25 %.

PAMA BANGUN PABRIK BAN TRUK BERAT. PT Pamapersada Nusantara (Pama), perusahaan kontraktor pertambngan membangun pabrik ban truk berat (heavy truck) dengan nilai investasi Rp60 miliar mengingat kebutuhan di sector pertambangan cukup besar. Pabrik yang dibangun tersebut akan memproduksi ban dari hasil rekayasa ban bekas (tyre retread) sehingga biaya produksinya lebih murah. Pabrik ban tersebut akan mengadopsi teknologi dingin "procuring system" dan untuk mengaplikasikan teknologi ini, perusahaan akan menggandeng Rusler perusahaan asal Jerman yang unggul dalam teknologi tyre retread sebagai mitra kerja. Direktur Utama PT Pamapersada Nusantara Sudiarso Prasetio menjelaskan pabrik ini memiliki peran strategis dalam mencegah terhentinya kegiatan operasional akibat kekurangan pasokan ban karena selama ini kebutuhan Pama terdahadap ban masih diimpor. Rencananya untuk tahap awal, kegiatan produksi akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan. Namun, perusahaan akan berupaya melakukan ekspansi dalam kurun waktu 3 tahun ke depan untuk memenuhi kebutuhan perusahaan lain, termasuk ekspor.

MAYORA DAPAT KOMITMEN PINJAMAN Rp200 MILIAR. PT Mayora Indah Tbk memperoleh komitmen pinjaman sebesar Rp200 miliar dari PT Bank Mandiri Tbk yang akan digunakan untuk pembangunan pabrik. Direktur Keuangan Mayora Indah Hermawan Lesmana mengatakan pinjaman tersebut akan dipakai untuk membeli peralatan permesinan dan penyelesaian pembangunan pabrik yang diperkirakan selesai pada Maret - April tahun depan. Sebelumnya perseroan membutuhkan dana sebesar Rp500 miliar untuk menyelesaikan proyek pembangunan pabrik tersebut dan pada awalnya manajemen berencana menerbitkan obligasi untuk memenuhi pendanaannya. Namun, karena tingginya kupon yang diminta, maka manajemen memutuskan penerbitan obligasi hanya Rp300 miliar, sehingga sisanya yang Rp200 miliar dipenuhi dari pinjaman ke bank Mandiri. Sementara itu, penjualan perseroan hingga kuartal III/2008 naik 35% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sedangkan laba bersih tumbuh hingga 2%.

AKUISISI DRAYTON, UTANG INDOFOOD MEMBENGKAK. PT Indofood Sukses Makmur Tbk memproyeksikan kewajiban perseroan meningkat hampir 16% menjadi Rp24,72 triliun setelah mengakuisisi 100% saham Drayton Pte, Ltd melalui Pastilla Investment Ltd. Dalam prospectus ringkas mengenai rencana transaksi tersebut, manajemen Indofood memproyeksikan jumlah kewajiban perseroan akan meningkat 15,98% menjadi Rp24,72 triliun setelah mengakuisisi Drayton dari sebelum akuisisi sebesar Rp21,31 triliun. Peningkatan kewajiban tersebut terjadi akibat adanya pengalihan pinjaman tanpa bunga senilai U$100,50 juta yang diperoleh Drayton dari Pastilla. Sedangkan Drayton adalah perusahaan asal Singapura yang secara efektif melalui anak usahanya PT Pinnacle Permata Makmur dan PT Sukses Artha Jaya memiliki 68,75% saham PT Indolakto, produsen produk susu dan mentega. Sebelumnya, Sekretaris perusahaan Indofood Werianty Setiawan mengatakan akuisisi itu merupakan strategi diversifikasi industri makanan Indofood ke lini bisnis dairy, mengingat posisi Indolakto sebagai produsen dairy yang telah dikenal luas di Indonesia. Sehingga perseroan akan dapat langsung memasuki industri dairy dengan pangsa pasar dominan di Indonesia. Rencana akuisisi ini akan dibiayai dari dana internal

DELHAIZE TETAP GANDENG SALIM GROUP. Delhaize Group menegaskan akan terus bermitra dengan Salim Group untuk melakukan ekspansi gerai supermarket Super Indo di Indonesia. Delhaize peritel asal Belgia menyakini pentingnya mengajak perusahaan dalam negeri untuk mengetahui kondisi pasar setempat, meskipun aturan di Indonesia membolehkan modal 100% asing di format supermarket dengan luas took diatas 1.200 m2, Delhaize tetap akan menggandeng Salim Group. Saat ini saham di PT Lion Super Indo yang mengoperasikan super market Super Indo dimiliki Delhaize Group sebesar 60%, sedangkan Salim Group memiliki 40%. Delhaize masuk ke Indonesia dengan menggandeng salim group  sejak 1997 yang saat terdapat 61 gerai Super Indo yang berada di Jabodetabek, Bandung, Sukabumi, Yogyakarta, Palembang, Surabaya, Cilegon dan Cikampek. Dan pada tahun 2009 ditargetkan ada penambahan delapan gerai.

ARPENI INCAR KONTRAK US$215 JUTA. PT Arpeni Pratama Ocean Line Tbk mengincar kontrak jasa angkutan senilai US$215 juta atau setara dengan Rp2,15 triliun pada awal tahun depan, menyusul rencana perseroan meredam laju investasi berupa pembelian kapal terkait dengan melambatnya perekonomian dunia. Pada Desember 2008, perseroan juga akan segera memfinalisasi pinjaman dari sebuah bank investasi asing senilai US$40 juta dari total belanja modal tahun depan sebesar US$50 juta. Kontrak yang diincar Arpeni tersebut berupa tender pengangkutan migas dengan kapal floating storage offloading (fasilitas produksi dan penyimpanan terapung) milik perseroan selama 4 tahun senilai US$65 juta, selanjutnya tender pengangkutan migas senilai US$150 juta selama lima hingga tujuh tahun mendatang. Selain itu, Arpeni juga menunda beberapa rencana ekspansi seperti pembelian kapal, tetapi untuk pembelian dua kapal panamax yang sudah dipesan tetap dilanjutkan. Direktur Utama Oentoro Surya mengatakan, pembelian kapal Panamax pertama akan diterima perseroan pada akhir 2009 dan panamax kedua dengan kapasitas 76.000 DWT (dead weight tonnage) pada 2010. Masing-masing kapal Panamax tersebut senilai US$48 juta dan sudah dibayar perseroan.

AME INVESTASI US$1,92 JUTA. PT Arrtu Mega Energie (AME), perusahaan perkebunan sawit akan investasi sebesar US$1,92 juta di proyek gasifikasi batu bara (coal gasification) dengan produksi 1,2 juta ton dymethil ether (DME) per tahun. Dalam proyek ini, AME akan menggandeng Lurgi perusahaan ternama asal Jerman, untuk mendukung teknologi proses gasifikasi batu bara yang mengubah batu bara menjadi bahan bakar cair. Selain itu, perusahaan yang selama ini menjadi partner lokal Louis Dreyfus Commmodities, perusahaan Jerman yang bergerak di sector perkebunan sawit akan menjalin kerja sama dengan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) untuk jaminan pasok batu bara dan PT Pertamina (Persero) sebagai pembeli produk (off taker). Presiden Direktur PT Arrtu Mega Energi Christoforus Richard mengatakan, perusahaannya tertarik untuk mengembangkan proyek gasifikasi dengan produk akhir DME, produk pengganti liquefied petroleum gas (LPG) dan bahan bakar diesel. Dan proyek gasifikasi ini dilatarbelakangi dengan adanya kebijakan pemerintah mengenai konversi bahan bakar minyak (BBM) yakni minyak tanah ke LPG, seiring dengan kenaikan harga minyak mentah dunia.


 
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT
HOME            Head Line            Fokus           Daftar Isi          Berlangganan