2008-2009ã PT Data Consult. All rights reserved.
MARKET INTELLIGENCE REPORT ON

PROSPEK INDUSTRI SEMEN DI INDONESIA
Februari 2008


Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir kapasitas industri semen dalam negeri tidak mengalami peningkatan yang berarti. Kapasitas produksi tidak banyak beranjak dari level 47 juta ton per tahun. Sejak tahun 2005 beberapa perusahaan telah merencanakan untuk menambah kapasitasnya, namun rencana tersebut tidak banyak terealisasi karena tingkat utilitas dari kapasitas produksi masih sekitar 60 persen. Masih tingginya kapasitas yang menganggur disebabkan oleh pertumbuhan permintaan yang rendah akibat kenaikan BBM pada akhir 2005.

Setelah dampak kenaikan harga BBM pada akhir 2005 mereda, permintaan semen kembali tumbuh yang didorong oleh sektor properti dan proyek-proyek infrastruktur milik pemerintah. Beberapa pemain kembali merencanakan untuk menambah kapasitasnya.

Penambahan kapasitas ini perlu segera dilakukan untuk mengantisipasi permintaan yang diperkirakan akan terus meningkat seiring perekonomian yang tumbuh. Kebutuhan dalam negeri pada tahun 2007 diperkirakan mencapai sekitar 35 juta ton. 

Selain itu beberapa pabrik sudah berusia tua dan teknologinya semakin tertinggal sehingga tidak efisien lagi yang ditandai dengan penutupan unit-unit pada tahun 2006 di beberapa pabrik antara lain Semen Padang, Semen Gresik, Semen Tonasa, dan Holcim. Peningkatan kapasitas akan membuat produsen lebih efisien sehingga lebih bisa bersaing.

Sementara itu, pemain yang kapasitasnya kecil dan mesinnya kurang efisien akan semakin sulit untuk bersaing, apalagi dengan meningkatnya biaya  produksi dalam hal ini batubara sebagai sumber energi utama.

Pemain kecil seperti Semen Kupang, Semen Baturaja, dan Semen Bosowa tidak akan bisa memanfaatkan pertumbuhan permintaan secara optimal. Beberapa faktor lain seperti lokasi yang jauh dari pasar potensial dalam hal ini Jawa, Sumatera, dan Sulawesi dan jaringan transportasi yang terbatas akan semakin menekan pemain seperti Semen Kupang dan Semen Baturaja. 

Faktor sumber energi sangat penting dalam pengembangan industri ini. Di dunia industri semen saat ini tengah gencar memordernisasi pabriknya terutama ditujukan untuk menghemat konsumsi energi serta kemampuan unit untuk memakai energi sekunder.

Salah satu aktor kritikal yang diperkirakan akan mempengaruhi rencana penambahan kapasitas ini antara lain ketersediaan dan harga batubara mengingat pabrik semen sangat besar konsumsi bahan bakarnya dan hampir semuanya dipasok oleh energi dari batu bara. Beberapa pemain yang akan membangun pabrik baru meminta kepastian pasokan batu bara. Kepastian ini sangat penting karena harga batu bara dan permintaan di pasar internasional yang tinggi bisa menyebabkan pasokan kebutuhan industri nasional tersedot.

Selama tahun 2007 harga batu bara cenderung meningkat dan bertahan di kisaran US$ 50 per ton akibat meningkatnya kebutuhan dunia yang dodorong oleh lonjakan permintaan dunia seiring dengan kuatnya pertumbuhan ekonomi global. China, India, Korea Selatan dan Malaysia adalah beberapa negara yang mendongkrak kenaikan kebutuhan batu bara dunia.

Jenis semen yang diproduksi

Terdapat beberapa jenis semen yang diproduksi di Indonesia. Semen utama yang diproduksi adalah jenis OPC (Ordinary Portland Cement) atau Portland Cement Type I yang mencapai 80 persen dari produksi. Jenis semen lainnya yang banyak diproduksi adalah jenis komposit kemudian diikuti pozzolan. Jenis semen lainnya diproduksi namun terbatas jumlahnya.

Kapasitas produksi menurun

Dalam beberapa tahun terakhir kapasitas produksi semen di Indonesia tidak mengalami peningkatan. Peningkatan besar terjadi pada tahun 1997 dan 1998. pada tahun 1997 kapasitas klinker meningkat dari 24.995 ribu ton menjadi 30.945 ribu ton atau 23,8 persen sementara semen meningkat dari 27.330 ribu ton menjadi 33.620 ribu ton atau 23 persen.

Pada tahun 1998 kapasitas produksi kembali meningkat tajam untuk klinker dari 30.945 ribu ton menjadi 40.245 ribu ton atau sebesar 30 persen, sementara kapasitas produksi semen meningkat dari 33.620 ribu ton menjadi 45.070 ribu ton atau sebesar 34 persen. 

Sejak saat itu praktis kapasitas produksi pada industri ini tidak mengalami peningkatan karena permintaan dalam negeri yang sebelumnya diperkirakan terus meingkat justru anjlok akibat krisis ekonomi sejak tahun 1997 hingga menjelang tahun  2000. 

Selepas tahun 2000 hingga tahun 2005 memang permintaan dalam negeri mengalami peningkatan cukup tinggi yakni rata-rata sebesar 7,2 persen, namun pada tahun 2006 kembali tertekan oleh kenaikan harga BBM pada Oktober 2005 sebesar 150 persen sehingga pertumbuhan permintaan dalam negeri hanya 1,5 persen.

Masih lebarnya jarak antara kebutuhan dalam negeri dengan kapasitas yang ada membuat rencana penambahan kapasitas pada industri ini tidak jadi direalisasikan.

Kapasitas produksi semen Indonesia mengalami penurunan pada tahun 2005 dan 2006. penurunan tersebut disebabkan karena salah satu produsen yakni PT. Semen Andalas mengalami kerusakan pada pabriknya akibat tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2004.

Selain itu beberapa unit pabrik yang sudah tua dan tidak efisien dihentikan operasinya pada tahun 2006 antara lain PT. Semen Padang sebanyak 100.000 ton/ tahun klinker dan 200.000 ton/ tahun semen; PT. Semen Gresik sebesar 800.000 ton/ tahun klinker; PT. Semen Tonasa sebesar 60.000 ton/ tahun klinker; serta PT. Holcim Indonesia sebesar 1.000.000 ton/ tahun klinker dan 1.000.000 ton/ tahun semen. 

Dampak dari kenaikan harga BBM pada tahun 2005 ternyata hanya menekan permintaan dalam negeri pada tahun 2006 saja, pada tahun 2007 permintaan domestik kembali tumbuh dengan tingkat 7 hingga 8 persen. Tren ini diramalkan akan terus berlanjut sehingga dalam beberapa tahun mendatang kapasitas produksi semen tidak akan cukup lagi. 

Hal ini membuat beberapa pemain industri ini berencana meningkatkan kapasitas produksinya dalam beberapa tahun mendatang untuk memenuhi permintaan dalam negeri.

Produsen

PT. Semen Gresik, Tbk (PT. SG)
PT. SG memiliki 3 pabrik yang berlokasi di Tuban dan Gresik dengan kapasitas produksi  8,2 juta ton per tahun. PT. SG memiliki dua pelabuhan khusus semen di Tuban dan Gresik.

Pada 15 September 1995 PT. SG berkonsolidasi dengan PT. Semen Padang dan PT. Semen Tonasa. Kedua perusahaan ini menjadi anak perusahaan Semen Gresik Group (SGG) dengan kepemilikan saham 99,9 persen. Kapasitas produksi SGG saat ini mencapai 17,1 juta ton per tahun termasuk kapasitas PT. Semen Padang dan PT. Semen Tonasa. Pada tahun 2008 kapasitas ini akan ditingkatkan menjadi 17,7 juta ton per tahun melalui debottlenecking.

Dalam beberapa tahun ke depan, SGG berencana untuk melakukan ekspansi dengan membangun dua pabrik berkapasitas masing-masing 2,5 juta ton di Jawa dan Sulawesi. Ekspansi ini akan dilakukan hingga tahun 2012 sehingga kapasitasnya menjadi 23,9 juta ton. SGG juga berencana untuk membangun sendiri 10 pembangkit listrik bertenaga batubara dengan total daya mencapai 410 Megawatt (MW) yang akan dioperasikan pada tahun 2011 untuk mendukung rencana ekspansi ini.

Beberapa pembangkit yang akan dibangun antara lain di Tuban sebesar 2 x 65 Mega Watt (MW); di Indarung, Sumatera Barat sebesar 3 x 35 MW dan di Biringere, Pangkep Sulawesi Selatan sebesar 1 x 35 MW.

Pendanaan yang dibutuhkan untuk merealisasikan rencana ini mencapai sekitar US$ 315 juta. SGG akan menerbitkan obligasi global senilai US$ 300 juta-US$ 500 juta. Obligasi ini diperkirakan akan diterbitkan pada awal tahun 2008 ini.

SGG telah mengundang 10 bank investasi yakni Bahana Securities, Citigroup, Credit Suisse, Danareksa Sekuritas, Deutsche Bank, Lehman Brothers, Mandiri Sekuritas, Merrill Lynch, Standard Chartered Securities, dan UBS Securities. Dari 10 bank ini akan dipilih 2 bank  untuk mendampingi JP Morgan Securities yang ditunjuk untuk menjadi salah satu pengatur penjualan obligasi US$ tersebut. 

Operasi bisnis SGG cukup luas yakni di bidang produksi semen (PT. Semen Gresik Tbk, PT. Semen Padang, PT. Semen Tonasa); pengemasan semen (PT. Industri Kemasan Semen Gresik); kawasan industri (PT. Kawasan Industri Gresik); penambangan batu kapur (PT. United Tractors Semen Gresik); fabrikasi baja, kontraktor sipil (PT. Swadaya Graha); jasa pengangkutan umum dan perdagangan umum dan antar pulau, keagenan, distributor (PT. Varia Usaha); dan produsen asbes, bahan bangunan, dan cetakan (PT. Eternit Gresik).

Saham Cemex dijual ke Blue Valley Pte. Ltd.
Sengketa kepemilikan saham PT SG antara Pemerintah dan CEMEX kini sudah tuntas. Saham Cemex pada PT. SG sebesar 24,9 persen akhirnya dijual ke Grup Rajawali melalui kendaraan investasinya yakni Blue Valley Pte. Ltd. dengan nilai US$ 337 juta atau terdiskon 28 persen dari harga pasar tertinggi. 

Grup Rajawali dimiliki oleh pengusaha Peter Sondakh. Pembelian oleh Rajawali ini terlaksana setelah pemerintah memutuskan tidak membeli kembali saham PT. SG dari Cemex.

Sebelumnya, Cemex dan pemerintah terikat pada perjanjian jual beli bersyarat (conditional sale and purchase agreement/CSPA) yang ditandatangani pada 17 September 1998.

Dalam kesepakatan tersebut, Pemerintah berhak menjadi pihak pertama yang ditawari jika Cemex ingin menjual sahamnya, namun jika pemerintah menolak membelinya maka Cemex boleh menjualnya ke pihak lain. Seiring dengan penjualan ini maka perjanjian jual beli saham Semen Gresik antara pemerintah dengan Cemex tertanggal 16 September 1998 resmi berakhir. Selain itu,  Cemex juga mencabut tuntutannya di Badan Arbitrase Internasional.

Dari penjualan saham tersebut, Cemex mengantongi keuntungan US$ 0,9 per saham. Perusahaan se¬men itu membeli 24,9 persen saham Semen Gresik pada September 1998 dengan harga US$ 1,38 per saham. Saham PT. SG saat ini dimiliki Pemerintah RI sebesar 51 persen, sementara sisanya dimiliki oleh Blue Valley Hodings, Pte sebesar 24,9 persen; Deutsche Bank AG London sebesar 3,22 persen; serta publik sebesar 20,8 persen.

PT Holcim Indonesia Tbk (PT. HI)
PT. HI sebelumnya bernama PT. Semen Cibinong. Holcim membeli sebanyak 77,33 persen saham PT. Semen Cibinong pada tahun 2001. Perubahan nama PT. Semen Cibinong dilakukan sejak 1 Januari 2006. PT HI memiliki dua pabrik semen, yaitu di Narogong dan Cilacap. 

Holcim adalah perusahaan dari Swiss yang merupakan pemain global dalam industri semen. Holcim memiliki saham pada perusahaan-perusahaan semen di 70 negara di dunia.

PT. HI berencana untuk menambah kapasitas produksinya dengan membangun pabrik baru di Tuban, Jawa Timur di areal seluas 1.075 hektare. Hingga tahun 2006, kapasitas produksi semen milik Holcim mencapai 8,7 juta ton per tahun.

Pembangunan pabrik baru ini akan dimulai pada tahun 2008, karena pembebasan tanah dan sosialisasi sudah dilaksanakan sejak tahun 2007 lalu. Hingga bulan Oktober 2007, lahan yang sudah dibebaskan telah mencapai 900 Ha. 

Dari jumlah itu yang sudah memperoleh hak pakai 318,5 hektar, dan hak guna bangunannya seluas 108,8 hektar dan hak pinjam pakai para petani seluas 469,8 hektar.

PT. Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk (PT. ITP)
PT. ITP didirikan oleh kelompok usaha Salim pada tahun 1985. Hingga tahun 2006 kapasitas produksi PT. ITP mencapai 18,8 juta ton per tahun untuk klinker dan 15,6 juta ton per tahun untuk semen. PT. ITP akan melakukan revamping untuk menambah kapasitas produksi semennya sebesar 4 juta ton pada tahun pada tahun 2009.

PT. ITP mengalami kesulitan keuangan pada saat krisis moneter. Perusahan ini lalu masuk dalam penanganan BPPN sebagai salah satu aset jaminan dari kelompok usaha Salim.

Pada tahun 2001 produsen semen asal Jerman, Heidelberg Cement Group membeli saham mayoritas yakni sebesar 65,14 persen melalui anak perusahaannya Kimmeridge Enterprise Pte. Ltd.

Pada tahun 2003 Kimmeridge Enterprise Pte. Ltd mentransfer saham PT. ITP ke HC Indocement GmbH. Pada bulan September 2006, HC Indocement GmbH dimerger dengan HeidelbergCement South-East Asia GmbH yang kemudian menjadi pemilik langsung dari PT. ITP.

Untuk meringankan beban hutangnya, PT. ITP mencari refinancing untuk menggantikan pembiayaan yang diperolehnya dalam skema Master Facilities Agreement (MFA) yang merupakan bagian dari program restrukturisasi hutang oleh BBPN.

PT. ITP mendapatkan fasilitas refinancing untuk menggantikan MFA pada bulan April 2006. Pembiayaan ini didapatkan dari sindikasi bank sebesar US $ 158 juta. Dana ini kemudian digabung dengan kas internal senilai US $ 40 juta untuk menggantikan pembiayaan MFA. 

PT. ITP bisa memperbaiki jangka waktu pinjaman dan mendapatkan suku bunga yang lebih rendah, selain kelonggaran persyaratan dibandingkan MFA. Dengan kemudahan ini PT. ITP bisa menggunakan kas-nya untuk mengurangi hutang. 


Pada tahun 2006 PT. ITP bisa mengurangi hutangnya sebesar Rp. 1,59 triliun dengan salah satu sumbernya adalah kas. Kas PT. ITP pada tahun 2006 sebesar 53 miliar jauh lebih kecil dari tahun 2005 yang mencapai Rp. 801 miliar.

PT. ITP juga mampu menurunkan rasio utang bersih terhadap ekuitas pada tahun 2006 menjadi 36,8 persen dari sebelumnya 54,4 persen. Sebagai perbandingan rasio utang bersih terhadap ekuitas PT. ITP pada tahun 2000 yakni pada saat skema MFA dimulai mencapai 832,5 persen.

Komposisi denominasi dari utang PT. ITP juga semakin besar dalam Rp yakni mencapai 74,1 persen sementara sisanya Yen Jepang sebesar 10,7 persen dan US$ sebesar 15,2 persen.

PT Semen Andalas Indonesia
Pabrik semen milik PT. SA terkena tsunami pada akhir tahun 2004 sehingga tidak bisa berproduksi sama sekali. Pada tahun 2007 pabrik ini mulai diperbaiki dan diharapkan bisa kembali berproduksi pada akhir tahun 2008 ini. Perbaikan ini dilakukan dengan membangun pabrik berkapasitas produksi 3,1 juta ton per tahun.

Selama tidak berproduksi, PT. SA mengimpor semen dari Malaysia yang diproduksi oleh pabrik milik Lafarge yang juga merupakan pemilih saham mayoritas PT. SA untuk dijual di dalam negeri.

PT Semen Bosowa Maros (PT. SBM)
Dibangun sejak tahun 1995 dan memulai operasinya pada bulan April 1999 dengan kapasitas produksi mencapai klinker 1,71 juta ton per tahun dan semen 1,8 juta ton per tahun. PT. SBM dimiliki oleh pengusaha Aksa Mahmud. 

Pada tahun 2007 PT. SBM menyelesaikan pembangunan packing plant di Samarinda, Kalimantan Timur. PT SBM merencanakan penambahan kapasitas produksi sebesar 1,4 juta ton pada 2009. Pemasaran semen produksi PT. BSM utamanya adalah di kawasan Indonesia Timur.

PT Semen Kupang (PT. SK)
PT. SK mulai beroperasi pada tahun 1984. Tahun 2006 kapasitas produksi klinker mencapai 300 ribu ton per tahun, sementara semen mencapai 570 ribu ton per tahun. PT. SK merupakan perusahaan yang 100 persen sahamnya dimiliki pemerintah.

Teknologi PT. SK sudah sangat tertinggal sehingga tidak bisa bersaing. Operasi pabrik PT. SK I yang berteknologi tungku tegak sudah lama dihentikan. Pabrik II kemudian didirikan untuk menggantikannya, namun dalam perkembangannya sejumlah suku cadang serta bahan pembakaran semen seperti batubara harus didatangkan dari Vietnam sehingga sangat tidak efisien.

Hal tersebut membuat PT. SK mengalami kesulitan keuangan dan berhenti beroperasi. Pada akhir tahun 2007 PT. SK dapat kembali beroperasi setelah mendapat suntikan dana dari APBN sebesar Rp. 50 miliar. Bantuan dana dari APBN itu digunakan sebagai modal kerja antara lain untuk pengadaan suku cadang pabrik Semen Kupang II dan pengadaan batubara dari Kalimantan.

Distribusi produk PT. SK adalah di pasar Indonesia Timur khususnya di Nusa Tenggara Timur. Kebutuhan semen di NTT pada tahun 2007 mencapi 360 ribu ton.

PT Semen Baturaja (PT. SB)
PT. SB adalah pabrik semen yang sahamnya 100 persen dimiliki oleh pemerintah RI. Pabriknya berlokasi di Baturaja, Palembang dan Panjang. Kapasitas produksi PT. SB hingga tahun 2006 mencapai 1,2 juta ton per tahun untuk klinker dan 1,25 juta ton per tahun untuk semen.

PT. SB memproduksi semen portland tipe I. Bahan baku utama diperoleh dari tambang sendiri di wilayah Baturaja. Wilayah PT. SB sangat terbatas karena skala dan jalur transportasinya yang terbatas. Pemasaran PT. SB meliputi Sumatera Bagian Selatan dan Banten.

Aspek energi

Industri semen memerlukan energi dalam jumlah yang sangat besar pada proses produksinya. Energi mencakup 40 hingga 50 persen dari komponen operasional sebuah pabrik semen. Energi ini sebagian besar digunakan untuk pemanasan, selain sebagai pembangkit energi listrik. 

Sebagian besar dari sumber energi ini dihasilkan dari batu bara. Konsumsi energi dari batubara pada industri semen terus meningkat sepanjang tahun. Pada tahun 2008, diperkirakan kebutuhan batubara untuk industri semen mencapai 6 juta ton.

Kebutuhan ini diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan rencana penambahan kapasitas produksi pada industri ini dalam beberapa tahun ke depan. Terdapat lima produsen semen yang berniat membangun pabrik baru dan modifikasi permesinan (revamping) tahun 2008 yakni dua anak perusahaan Semen Gresik Group--Semen Padang dan Tonasa-- (US$ 670 juta), Holcim (sekitar US$ 300 juta), perbaikan pabrik Semen Andalas tahap II, Indocement. Total investasi diperkirakan mencapai US$ 1,5 miliar - US$ 2 miliar.

SG juga membutuhkan batubara untuk 10 pembangkit tenaga listriknya dengan total daya mencapai 410 Megawatt (MW) yang akan dioperasikan pada tahun 2011. Pembangkit listrik ini dibangun untuk mendukung rencana peningkatan kapasitas hingga 2012. Pada tahun 2012 kapasitas produksi SGG akan ditingkatkan mencapai 23,9 juta ton.

Hingga saat ini SG baru mendapatkan jaminan pasokan batubara sebesar 30 persen untuk pembangkit listrik ini. Total kebutuhan batubara untuk pembangkit listrik tersebut sebanyak 4,4 juta ton per tahun. SG menargetkan tahun 2008 jaminan pasokan batu bara sudah mencapai 60-70 persen.

Potensi tambang batubara di Indonesia sangat besar sehingga secara teoritis industri semen di Indonesia tidak akan kekurangan bahan bakar dari batubara ini. Sebagai gambaran dari dari produksi batubara tahun 2007 sebesar 123 juta ton, sebanyak 101 juta ton diekspor, sementara konsumsi dalam negeri hanya sekitar 30 juta ton.

Namun, para pemain industri ini tidak mendapatkan jaminan pasokan batubara karena pemerintah tidak mengatur pemasaran batubara secara khusus. Beberapa waktu yang lalu, kalangan industri mengusulkan Domestic Market Obligation (DMO) batubara sebesar 30 persen dari produksi. 

Usulan ini muncul karena meningkatnya harga batubara di pasar internasional membuat para produsen batubara lebih tertarik untuk mengekspor. Namun, usulan ini tidak diterima pemerintah karena ketidakjelasan besaran kebutuhan industri. Selama ini kalangan industri mendapatkan batubara dari pasar spot dan bukan berupa kontrak jangka panjang sehingga mereka tidak bisa memastikan pasokan dalam waktu mendatang.

Kalangan industri lebih memilih membeli di pasar spot karena lebih murah. Umumnya produsen semen membeli dari perusahaan tambang kecil bahkan sebagian yang tak berizin. Sementara itu, pembelian di pasar spot dilakukan dengan metode pembayaran cash and carry.

Namun, di saat harga internasional naik, untuk mendapatan pasokan harus bersaing bahkan dengan produsen batubara yang ingin meningkatkan penjualan tetapi sudah tidak bisa meningkatkan produksinya lebih jauh sehingga membeli dari penambang kecil. Kalangan industri harus aktif bergerilya ke produsen tersebut dan memberikan uang muka agar pasokan tidak dijual kep pihak lain. 

Pemerintah sendiri menyarankan kalangan industri untuk mulai membuat kontrak pembelian dengan produsen untuk mengamankan pasokan. Sebelumnya pemerintah mengkaji penerapan DMO, namun tidak jadi diterapkan karena tidak ada mekanisme yang jelas untuk menentukan kebutuhan industri dalam negeri atas batubara.

Kesulitan ini salah satunya disebabkan oleh banyaknya produsen batubara illegal yang tingkat produksinya cukup besar. Pada tahun 2004 produksi batubara illegal diperkirakan mencapai 31 juta ton mendekati konsumsi dalam negeri yang sebesar 34 juta ton pada tahun tersebut. 

Dengan kondisi ini, kebijakan DMO diperkirakan sulit untuk diterapkan sehingga bahan bakar ini akan menjadi persoalan tersendiri dari industri semen di masa mendatang. Dengan tingkat persaingan yang terus meningkat dan kenaikan harga faktor produksi dalam hal ini batubara yang cukup signifikan diperkirakan industri semen tetap akan mencari batubara di pasar spot.

Produksi semen tahun 2007 meningkat kembali

Sejak tahun 2004 hingga tahun 2006 pertumbuhan produksi klinker dan semen di Indonesia tidak terlalu signifikan. Momentum kebangkitan industri ini sebenarnya telah terjadi pada tahun 2004 yang ditandai dengan pertumbuhan produksi semen sebesar 8,4 persen. Namun momentum ini kemudian hilang setelah tahun 2005. Hal ini disebabkan karena kenaikan harga BBM pada bulan Oktober 2005.

Pada tahun 2005 ketika kenaikan harga BBM baru dilakukan produksi semen masih meningkat meskipun dengan pertumbuhan yang lebih rendah dari 33.230 ton menjadi 33.917 ton atau sebesar 2,1 persen. Hal ini terjadi karena kenaikan harga BBM dilakukan pada akhir tahun 2005.

Pada tahun 2006, ketika dampak dari kenaikan harga BBM secara efektif lebih besar produksi semen melorot dari 33.917 ton menjadi 33.032 ton atau sebesar minus 2,6 persen. Sektor properti yang menjadi konsumen terbesar semen banyak menunda proyek pada tahun tersebut.

Tahun 2007, produksi semen kembali meningkat cukup tinggi mencapai 46 juta ton. Tingginya produksi ini didorong oleh permintaan yang meningkat terutama oleh sektor properti dan mulai berjalannya proyek-proyek infrastruktur pemerintah yang mulai dicanangkan pada tahun 2006. Sektor properti dinilai sangat cepat pulih dari dampak kenaikan harga BBM sebesar 150 persen pada akhir tahun 2005.

Pada tahun 2008 diperkirakan produksi semen masih akan tumbuh meskipun dengan tingkat yang lebih moderat karena tahun 2008 diperkirakan sektor properti akan lebih berhati-hati sebagai dampak dari gejala resesi yang melanda Amerika Serikat.

Penyerapan anggaran pemerintah yang masih rendah juga membuat proyek-proyek yang membutuhkan semen tersendat sehingga kurang mampu mendorong produksi semen nasional.

Produksi per perusahaan

Sebagian besar produsen pada tahun 2006 meningkatkan produksinya, namun produsen seperti PT. ITP dan PT. HI mengurangi produksinya pada tahun tersebut.

Pada tahun 2007 para produsen semen meningkatkan produksinya untuk mencukupi permintaan yang meningkat. Produksi SGG mencapai 16,7 juta ton atau 103% dari rencana di tahun 2007.

Sementara itu, produsen yang sempat berhenti beroperasi seperti PT. SK juga mulai beroperasi kembali pada tahun 2007. PT. SK mulai bulan Agustus 2007 mulai berproduksi lagi yang sempat berhenti beroperasi karena kesulitan keuangan. 

PT. SK mendapatkan bantuan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Pemerintah RI sebesar Rp. 50 miliar yang digunakan untuk biaya operasi. ........... Lihat Daftar Isi >>

HOME        PRODUCTS      ABOUT US       CONTACTS      
 
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT
HOME            Laporan Utama           Fokus            Daftar Isi          Berlangganan