2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

PERKEMBANGAN INDUSTRI GAS ALAM DI INDONESIA

Februari 2010


Halaman Berikutnya>>


Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan gas alam  atau gas bumi semakin meningkat seiring semakin luasnya penggunaan gas alam sumber energi ini baik untuk industri maupun untuk rumah tangga dan sebagai bahan baku industri terutama untuk industri pupuk.

Konsumsi gas alam sebagai energi final adalah ketiga terbesar setelah BBM dan  batubara, lebih tinggi dari listrik dan LPG. Prosentasi (share) konsumsi gas alam mencapai 13,7 persen pada tahun 2008.

Beberapa masalah terkait industri gas alam selain produksi adalah pasokan untuk kebutuhan dalam negeri yang terbatas. Akibat terbatasnya pasokan gas maka kelangsungan pengembangan industri pupuk sempat terganggu karena belum adanya jaminan pasokan gas. 

Pembentukan harga yang tidak sepenuhnya memakai prinsip pasar di dalam negeri membuat sebagian produksi dijual ke pasar luar negeri. Kondisi ini membuat kepastian pasokan untuk industri kebutuhan dalam negeri belum stabil.

Pemerintah mencoba mengatasi hal ini dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan memprioritaskan alokasi gas dari lapangan baru yakni Lapangan Donggi – Senoro untuk kebutuhan domestik.

Dengan semakin besarnya desakan di dalam negeri untuk bisa memanfaakan semaksimal mungkin gas alam untuk kebutuhan dalam negeri maka berbagai kebijakan baru telah dikeluarkan mengenai pemanfaatan gas  alam. Beberapa regulasi baru pada sektor ini yang diperkirakan akan mempengaruhi bisnis gas alam di Indonesia khususnya menyangkut transmisi gas alam diantaranya pemindahan titik serah gas alam ke Singapura dari plant gate di Singapura ke well head di Indonesia yang mempengaruhi proses perhitungan biaya dan harga jual gas alam tersebut.

Komposisi gas bumi

Gas bumi terbuat dari gas hidrokarbon dengan komponen utama methane (C1). Gas bumi dapat ditemukan di bawah lapisan bumi, seringkali bersama dengan cadangan minyak.

Saat tiba di permukaan, gas ini dipisahkan dari minyak atau air yang mungkin ada dalam deposit tersebut. Proses ini memurnikan gas dengan membuang gas lain yang ada seperti propane dan butane, serta kandungan air.

Gas bumi berbeda dengan LPG (Liquified Petroleum Gas) dalam hal unsurnya. LPG utamanya dibuat dari Propane (C3). LPG didistribusikan melalui kapal, sementara gas bumi melalui pipa.

Energi yang dihasilkan oleh gas alam diukur dengan kalori. Kandungan energi ini tidak seragam karena dihasilkan dari beberapa sumur gas yang berbeda. Kalori gas alam di Indonesia paling rendah adalah 5991 Kkal /m3 sementara yang tertinggi mencapai 11127 Kkal /m3.

Gas alam yang didistribusikan di wilayah Banten, Karawang, Bogor, Jakarta memiliki kalori sebesar 7703 – 11127 Kkal /m3, sementara gas alam yang didistribusikan di wilayah Cirebon memiliki kalori terendah yakni 5991 Kkal /m3.

Cadangan gas bumi akan habis dalam 59 tahun

Potensi gas bumi yang dimiliki Indonesia berdasarkan status tahun 2008 mencapai 170 TSCF dan produksi per tahun mencapai 2,87 TSCF, dengan komposisi tersebut Indonesia memiliki reserve to production (R/P) mencapai 59 tahun.

Cadangan gas ini diperkirakan belum akan bertambah kecuali ditemukan cadangan potensial baru. Cadangan besar terakhir yang ditemukan adalah cadangan di lapangan Tangguh. Tidak adanya cadangan potensial ini mempengaruhi aktivitas pengeboran pengembangan dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam tiga tahun terakhir, aktivitas pengeboran untuk pengembangan lapangan gas alam di Indonesia relatif nihil. Pengeboran pengembangan mencapai 22.626 kaki pada tahun 2007.

Lapangan-lapangan penghasil gas alam di Indonesia

Donggi – Senoro
Lapangan Donggi-Senoro terletak di Sulawesi Tengah yang dioperasikan oleh dua KKKS yaitu PT Pertamina EP dan JOB Pertamina-Medco E&P Tomori. Lapangan Donggi merupakan pengembangan lapangan terintegrasi pada area Matindok yang terdiri dari lapangan Donggi, lapangan Matindok, lapangan Maleoraja dan lapangan Minahaki. Sedangkan lapangan Senoro merupakan pengembangan dari lapangan gas Senoro dan lapangan minyak Tiaka.

Cadangan terbukti di Blok Matindok dan Senoro ini sebanyak 2,3 triliun kaki kubik (Tcf). Produksi gas dari lapangan Donggi Senoro di Sulawesi Tengah bisa bertambah 50 juta kaki kubik per hari (million metric standard cubicfeet per day/MMSCFD) seiring dengan ditemukannya cadangan baru. 

Di lapangan Senoro terdapat tambahan potensi sebesar 0,6 triliun kaki kubik (iniiun cubic feet/ TCF) dan Matindok 0,76 TCF. Dengan demikian, dari kedua lapangan itu bisa diproduksi sebesar 455 mmscfd per hari selama 15 tahun. Investasi yang dibenamkan untuk fasilitas hulu di ladang Senoro diprediksikan sekitar US$ 800 juta dan investasi untuk fasilitas hulu Matindok sebesar US$ 790 juta.

Peruntukan produksi dari lapangan ini telah diputuskan oleh pemetintah untuk kebutuhan dalam negeri. Sebelumnya, konsorsium menilai skema 70 MMSCFD (juta standar kaki kubik per hari) untuk domestik dan 335 MMSCFD untuk ekspor merupakan yang paling ekonomis. 

Gas ini diperkirakan akan dibeli oleh 3 perusahaan nasional PT Pupuk Sriwijaya (Pusri), PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan PT Panca Amara Utama (PAU). Ketiga perusahaan itu butuh pasokan gas sekitar 211 juta MSCFD.

Lapangan  Tangguh

Produksi gas alam cenderung tetap

Produksi gas alam Indonesia dalam beberapa tahun terakhir cenderung tetap. Tingkat produksi rata-rata adalah sekitar 2,9 miliar TSCF (trillion standard cubic feet) . 

Produksi gas dihasilkan dari produksi Pertamina, Pertamina Joint Operation Body (JOB), Pertamina Technical Assistance Contract (TAC) dan Pertamina Joint Operation Body - Production Sharing Contract (JOB-PSC), serta Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) / Production Sharing Contract (PSC).

Tingkat produksi gas sebagian besar dihasilkan dari Kontrak Kerja Sama (KKS) / Production Sharing Contract (PSC) yakni sekitar 2,5 TSCF, diikuti oleh produksi Pertamina sekitar 300 MSCF.

Produksi oleh Pertamina JOB dan Pertamina TAC tidak terlalu signifikan yakni masing-masing sekitar 18 juta MSCF dan 30 MSCF pada tahun 2006 hingga 2008.

Produksi gas alam melalui KKKS rata-rata mencapai sekitar 88 persen dari produksi total sementara produksi oleh Pertamina sekitar 10 persen. Produksi oleh Pertamina JOB dan Pertamina TAC rata-rata masing-masing sekitar 0,7 persen.

Pemanfaatan gas alam

Gas alam sebagai dipakai pada beberapa sektor. Penggunaan gas alam di Indonesia antara lain untuk penggunaan pada sumur gas sendiri untuk keperluan produksi, industri pupuk, pengilangan, LPG (Liquified Petroleum Gas), kondensat, LNG (Liquified Natural Gas), dll.

Sebagian besar gas alam yang diproduksi di Indonesia diproses menjadi LNG yakni rata-rata sekitar 1,3 TSCF per tahunnya., sementara untuk pasar dalam negeri (lokal) rata-rata sekitar 320 juta MSCF per tahunnya.


Total E&P Indonesie produsen KKKS / PSC terbesar 

Halaman selanjutnya>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan