2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI METHANOL DI INDONESIA

Februari 2010


Methanol atau methyl alkohol adalah produk industri hulu petrokimia yang merupakan turunan dari gas alam. Senyawa kimia ini dibuat melalui reaksi sintesa katalis pada tekanan rendah yang melibatkan proses oksidasi parsial dari gas alam.

Metanol digunakan oleh berbagai industri seperti industri plywood, tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida dan lainnya. Metanol juga dipakai sebagai pelarut,  bahan  pendingin, bahan baku perekat dll.

Pada industri migas, metanol digunakan sebagai antifreeze dan sebagai gas hydrate inhibitor pada sumur gas alam dan pada pipa gas.
 
Methyl tertiary butyl eter (MTBE) adalah komponen pencampur  untuk mendpatkan oktan tinggi pada BBM.  Bahan ini dibuat dari reaksi antara isobuty-lene dengan metanol.

Salah satu turunan methanol yang kini dikembangkan untuk energi alternatif pengganti LPG (Liquified Petroleum Gas)  adalah Di methyl Ether (DME). Bahan bakar ini diperoleh  dari methanol yang berasal dari berbagai sumber seperti gas alam atau batubara . Di Indonesia kini sedang dikembangkan methanol yang diperoleh dari proses gasifikasi batubara muda (rendah kalori) untuk pembuatan DME.

Di Indonesia pemakaiaan terbanyak metanol adalah pada industri formaldehyde dan produk turunannya seperti urea formaldehyde, phenol formaldehyde, dan melamine formaldehyde (adhesive resin).  

Senyawa kimia ini berupa cairan tak berwarna dan mudah terbakar dengan nyala berwarna biru. Bahan ini sangat tidak stabil, larut didalam air dengan titik didih 64,5°C , titik bekunya - 97,8°C.produksi Pertamina Bunyu


Produsen Methanol

Sampai saat ini di Indonesia beroperasi dua kilang methanol yaitu Kilang Methanol Bunyu milik PERTAMINA dan kilang milik PT Kaltim Methanol Industry di Bontang Kalimantan Timur dengan total kapasitas produksi 990.000 ton per tahun.

Kilang Methanol Bunyu berlokasi di kecamatan Bunyu Kabupaten Bulungan dioperasikan tahun 1985 oleh Pertamina UP V Balikpapan, namun pada tahun 1997 dialihkan melalui Kontak Kerjasama Operasi (KSO) kepada PT. Medco Methanol Bunyu. Kilang ini memiliki kapasitas produksi rata-rata 1000 ton perhari atau 330.000 ton per tahun.

Table – 2
Producers of methanol and their production capacities, 2009
                                                                                                        Tons/Year
Perusahaan        Status        Kapasitas Produksi        Proses Teknologi        Mulai Beroperasi
Medco Methanol Bunyu, PT        BUMN           330,000        Lurgi S.A            1986     
Kaltim Methanol Industry, PT        PMDN        660,000        Lurgi S.A            1997
Total                990,000                
Sumber: Data Consult


Pada bulan Maret tahun 2009 yang lalu, kegiatan produksi Kilang Methanol Bunyu (KMB) yang dikelola anak perusahan PT Medco Energi Internasional tbk, PT Medco Methanol Bunyu dihentikan karena minimnya pasokan gas.
Sebelumnya produksi di kilang tersebut telah dihentikan sementara pada 1 Februari  2009 lalu karena semakin rendahnya pasokan gas,  namun sekarang sudah benar-benar berhenti produksinya. Pengoperasian KMB dihentikan karena dengan pasokan gas yang rendah sehingga aktivitas hanya mencapai 30 persen. Hal ini sangat berbahaya dan tidak efisien, optimalnya dibutuhkan pasokan gas sebesar 85%.

Untuk mengoperasikan KMB sesuai dengan kapasitas yang terpasang, dibutuhkan paling tidak pasokan gas sebesar 32 MMSCFD. Pada awal Kontrak Kerjasama Operasi (KSO) dengan PT. Pertamina, KMB mendapatkan pasokan gas dari Blok Tarakan PSC dan Blok Bunyu PSC yang dikelola oleh Pertamina. 
 
Kemudian, mengingat kedua lapangan tersebut merupakan lapangan yang produksinya sudah menurun, maka sulit bagi kedua lapangan tersebut untuk memasok gas sesuai dengan kebutuhan KMB. Bahkan sejak tahun 2008, pasokan gas yang diterima oleh KMB hanya berasal dari Blok Tarakan PSC yang sampai dengan akhir Januari 2009 hanya mampu memasok rata-rata 13 MMSCFD.

Dengan adanya penghentian kegiatan produksi KMB, diperkirakan akan memberikan dampak yang antara lain adalah memberlakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap 234 karyawan yang sudah bekerja sejak kilang tersebut dioperasikan oleh MMB. 

Selain itu, dampak lainnya adalah pada tahun 2009 MedcoEnergi tidak lagi membukukan pendapatan yang berasal dari penjualan Methanol, yang sampai dengan akhir tahun 2008 memberikan kontribusi sebesar US$ 38,8 juta terhadap pendapatan konsolidasi perseroan. 
 
Kemudian, perseroan juga tidak akan membukukan biaya pasokan gas dari Blok Tarakan PSC ke MMB yang telah dieliminasi dengan pendapatan yang berasal dari pasokan gas ke KMB dari Blok Tarakan PSC, yang sampai akhir tahun 2008 besarnya adalah US$3,9 juta.

PT. Kaltim Methanol Industri

PT. Kaltim Methanol Industri berlokasi di kota Bontang, di kawasan industri PT. Kaltim Industrial Estate , Kalimantan Timur.  Pabriknya dibangun tahun 1997 dan mulai berproduksi pada bulan Februari 1998.   Semenjak  tanggal 29 Juli 2000 pabrik telah   beroperasi secara komersial dengan kapasitas terpasang 660.000 MTPY yang menghasilkan pure methanol grade AA (purity min 99,85%).

 PT KMI menggunakan gas alam dari Badak Gas Field Cenetr sebagai bahan baku yang dipasok oleh perusahaan production sharing Pertamina, yaitu Total Fina Elf Indonesie, Vico Indonesia dan Chevron. Gas alam pertama kali di alirkan pada tanggal 23 Januari 1997 dan dilanjutkan dengan plant commissioning, kemudian start up pada tanggal 31 Maret 1997. 

PT. Kaltim Methanol Industri (KMI) didirikan pada tanggal 25 Januari 1991 sebagai perusahaan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Pada tanggal 9 Desember 1997 status ini berubah menjadi perusahaan penanaman modal asing (PMA) dengan Nissho Iwai Corporation sebagai pemegang saham mayoritas sebesar (85%), PT. Humpuss 10% dan Daicel Chemical Singapore Pte Ltd 5%. Dengan mergernya Nisso Iwai Corporation dengan Nichimen Corporation menjadi Sojitz Corporation pada tanggal 1 April 2004, maka kepemilikan saham dari Nisso Iwai Corporation berpindah kepada Sojitz Corporation.

Untuk melancarkan keagiatan pemuatan methanol ke kapal tersedia fasilitas pelabuhan khusus milik sendiri dengan kapasitas jetty  30.000 DWT, panjang dermaga 206 meter, kolam dermaga 11,50 meter LWS dan 2 buah loading arm dengan kapasitas masing-masing 1.300 MT/jam.

Teknologi yang digunakan adalah synthesa process technology dengan menggunakan tekanan rendah lisensi Lurgi – Jerman. 

Produksi tahun 2009 turun

Dalam lima tahun terakhir produksi methanol relatif stabil dan cenderung meningkat. Pada tahun 2004 produksi methanol mencapai 859 ribu ton dan meningkat menjadi 938 ribu ton tahun 2007 dengan demikian pemanfaatan kapasitas produksinya mencapai 80%.

Namun pada tahun 2008 produksi mulai menurun karena pasokan gas alam kepada pabrik methanol seperti yang dialami oleh kilang methnol  Bunyu menurun sehingga hanya sekitar 30%. Bahkan mulai Maret 2009 operasi pabriknya dihentikan. Dengan demikian pada tahun 2009 diperkirakan produksi methanol hanya mencapai 600 ribu ton

Pada bulan Agustus 2009 lalu  Pertamina tengah mengusahakan untuk menghidupkan lagi kilang Methanol Bunyu. Pertamina melalui konsorsium dari anak perusahaannya yaitu PT Pertamina Gas (Pertagas) dengan PT Medco Gas Indonesia akan membeli gas dari PT Pertamina Hulu Energi Simenggaris dan PT Medco EP Simenggaris. Gas tersebut  diproduksi dari lapangan South Sembakung di PSC Simenggaris, yang dioperasikan oleh JOB PHE-Medco E&P Simenggaris. Laju alir gas di lapangan tersebut sebesar 20 miliar British thermal unit per hari. 

Konsorsium PT Pertamina Gas dan PT Medco Gas Indonesia membeli gas bumi sebesar 72,69 miliar british thermal unit. Total nilai transaksi mencapai US$215 juta untuk jangka waktu 11 tahun mulai kuartal ke IV tahun 2011.

Gas akan disalurkan melalui pipa 10 inchi x 55 kilometer yang dibangun konsorsium pembeli dengan investasi sekitar US$ 25-US$ 30 juta. Dari aliran itu diharapkan dapat memproduksi methanol sekitar 230 ribu ton pertahun. Dengan demikian pada harga methanol US$230 per ton, proyeksi pendapatan kotor dari penjualan methanol selama masa kontrak mencapai lebih dari US$575 juta.

Konsumsi dalam negeri

Pemakai terbesar  methanol adalah industri formaldehyde, acetic acid, MTBE dan industri lain yang menggunakan methanol sebagai bahan baku. Untuk  Indonesia, 80% pembeli methanol adalah industri formaldehyde yang menghasilkan adhesives  untuk playwood dan industri wood processing lainnya.

Produksi dari PT. Kaltim Methanol Industri telah dipasarkan berbagai wilayah Indonesia maupun luar negeri. Untuk pemasaran luar negeri dilakukan oleh Sojitz Corporation sebesar 70% (480.000 MT) dan sisanya 30% (180.000 MT) untuk wilayah Indonesia oleh PT. Humpuss.

Adhesive resin terutama digunakan untuk bahan perekat pada industri panel kayu. Dengan menurunnya produksi panel kayu seperti kayu lapis dan particle board maka kebutuhan dalam negeri juga berfluktuasi.

Kini methanol akan dikembangkan sebagai energi alternatif yaitu dengan memproses menjadi Di Methyl Ether (DME). Pertamina rencananya akan menjadikan DME sebagai energi alternatif pengganti LPG.



Lihat Daftar Isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan