2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI TELEVISI NASIONAL DITENGAH KRISIS GLOBAL

Oktober   2008


Latar belakang

Krisis global yang terjadi pada September tahun ini, juga berdampak pada industri elektronik nasional sehingga menyebabkan beberapa produsen terpaksa memangkas produksinya sekitar 5% - 10% sejak September 2008. Hal ini disebabkan penyerapan pasar domestik melemah akibat daya beli masyarakat menurun.

Saat ini perkembangan teknologi industri televisi yang terus berkembang pesat mendorong permintaan meningkat. Industri televisi mengalami banyak perkembangan dari yang menggunakan teknologi tabung sinar katoda (CRT) yang berlayar cembung hingga kehadiran TV yang berlayar datar, dan kini muncul TV Plasma Display Panel (PDP) dan Liquid Crystal Display (LCD).

Pasar LCD di Indonesia mengalami pertumbuhan yang besar, karena tren dunia saat ini mengarah ke produk digital.  TV konvensional yang menggunakan tabung atau dikenal sebagai CRT mulai ditinggalkan pasar dunia. Trend televisi di Eropa, Jepang, Amerika Serikat, dan Australia yang  menjadi tujuan ekspor televisi menunjukkan adanya penurunan permintaan CRT.  Saat ini pasar televisi mulai bergeser ke era Plasma dan LCD.

Awal 2000an merupakan era baru bagi industri TV. Para produsen televisi mulai memproduksi dan memasarkan pesawat televisi dengan teknologi terbaru yang dikenal dengan Plasma dan LCD. Kehadiran dua varian terbaru pesawat tv ini semakin menggairahkan pasar televisi dan terbukti mampu mendorong pertumbuhan industri televisi di dalam negeri. 

Pada 2007 penjualan TV meningkat 12,5% yaitu naik menjadi 4.600.000 unit dari sebelumnya 4.000.000 unit. Peningkatan penjualan ini didorong oleh sejumlah produsen yang meluncurkan varian-varian baru untuk produk LCD serta memberikan diskon besar-besaran terutama menjelang tutup tahun. Varian baru LCD yang menyerbu pasar diantaranya Scarlet dari LG, Aquos dari Sharp dan lain-lain.

Meningkatnya pasar LCD di Indonesia, mendorong para produsen menjadikan Indonesia sebagai basis bagi produksi LCD mereka. Sejak 2005 PT. LG Electronics Indonesia memiliki fasilitas produksi LCD berkapasitas 50.000 unit per bulan.

Sebelumnya pasar TV domestik didominasi oleh produsen dengan principal asal dari Jepang seperti Sharp, Toshiba, Sony dan lainnya. Namun dalam beberapa tahun belakangan ini, LG Electronic Indonesia (LGEIN) dan Samsung Electronics Indonesia dengan principal dari Korea telah berkembang sangat pesat dan telah mampu menyalip dominasi teknologi Jepang.
Sementara itu, pemerintah pada awal Oktober 2008 mengeluarkan tiga insentif pajak dalam rangka meningkatkan pertumbuhan industri elektronik di Indonesia. Yang terdiri dari penghapusan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk produk elektronik tertentu, bea masuk ditanggung pemerintah (BM DTP) atas impor barang dan bahan untuk pembuatan komponen elektronik, serta pembebasan pajak penghasilan untuk penanaman modal di bidang usaha tertentu dan di daerah tertentu sebesar 30% selama 3 tahun.


Deskripsi produk

Cathode Ray Tube (CRT) merupakan teknologi TV  yang menggunakan teknologi tabung sinar katoda yang berlayar cembung dan berbobot cukup berat. CRT menggunakan tabung untuk menembakkan elektron-elektron yang akan melakukan scanning pada layar dan membuat fosfor pada layar CRT bercahaya dan membentuk gambar.

Liquid Crystal Display (LCD)

LCD Display dibuat dari gabungan thin-film trasnistor (TFTs) yang kecil.  Direspon dengan arus listrik, Liquid(cairan) didalam melewatkan atau menahan cahaya putih yang dihasilkan oleh backlight.  LCD menghasilkan warna melalui proses menutup dan membuka.  Mereka akan menahan panjang  spektrun warna tertentu dari warna putih dan akan melewatkan warna yang benar/sesuai.  Dan intensitas dari cahaya yang dilewatkan untuk melalui liquid crystal matrix ini yang membuat LCD TV menghasilkan dan  kaya akan warna-warna garadasi.

LCD tidak menggunakan tabung melainkan kristal cair (Liquid Crystal), juga  tidak memerlukan tembakan elektron melainkan hanya membutuhkan aliran listrik. Itu sebabnya LCD menjadi lebih langsing dibandingkan CRT.  Selain tipis, TV LCD dapat menampilkan gambar dengan lebih bagus dan mata juga tidak cepat lelah dibandingkan dengan CRT.

Plasma Display

Plasma display adalah  self emitting display.  Layar Plasma TV dibuat dari individual pixel cell yang dimana memperbolehkan pulsa listrik untuk menstimulasi natural gas - biasanya xenon dan neon- yang membuat menjadi menyala.  Cahaya ini meng iluminasi  keseimbangan yang sesuai antara fosfor warna  merah, hijau atau biru pada setiap selnya untuk menghasilkan urutan warna yang sesuai dari cahaya.

Plasma yang berbasis gas memiliki keunggulan dalam ukuran layarnya yang bisa sangat besar hingga mencapai 64 inci. Bahkan kini sudah dikembangkan hingga ukuran layer lebih dari 100 inci.  Namun teknologi Plasma memiliki kelemahan sebab  teknologi ini tak bisa dipakai dalam TV dengan ukuran yang lebih kecil yang banyak dipakai di kalangan rumah tangga.

Produsen dan Kapasitas Produksi

Menyusul pesatnya perkembangan teknologi pada industri TV, mendorong pertumbuhan kapasitas produksi yang cukup tinggi. Para produsen berlomba meningkatkan kapasitasnya guna memenuhi permintaan pasar yang semakin tinggi seiring dengan kemajuan teknologi. Sebagian besar produsen ini tidak hanya memproduksi televisi, melainkan juga produk elektronik lainnya seperti peralatan listrik dan peralatan rumah tangga.

Pada 2002 kapasitas produksi televisi tercatat masih sekitar 3.358 ribu unit per tahun. Namun pada 2007 kapasitas melonjak hingga mencapai sekitar 12.727 ribu unit per tahun, atau meningkat sebesar 279%.

Peningkatan yang cukup tinggi tersebut merupakan kontribusi dari sejumlah produsen besar seperti Samsung, LG, Panasonic dan lainnya terus menambah kapasitasnya dalam periode tiga tahun terakhir. Terutama setelah teknologi TV Plasma dan kemudian diikuti oleh LCD yang berbasis digital diluncurkan ke pasar. Teknologi digital tersebut sangat menarik minat konsumen sehingga permintaan terhadap produk tersebut cukup tinggi.

Peningkatan pangsa pasar TV yang dipicu oleh pergeseran selera pasar dari TV konvensional type CRT menjadi LCD, harga yang semakin terjangkau dan kompetitif, dan varian yang semakin beragam. Hal ini mendorong sejumlah produsen besar menambah kapasitas produksinya untuk memenuhi permintaan pasar.

Ekspansi yang cukup besar dilakukan oleh PT. Sharp Electronics Indonesia yang menambah kapasitasnya menjadi 1.7 juta unit per tahun dari sebelumnya hanya 180 ribu unit saja. Demikian juga dengan PT. Toshiba Consumer Product Indonesia saat ini memiliki kapasitas produksi sebesar 1, 5 juta unit per tahun, padahal enam tahun lalu hanya 70 ribu unit.  

Sebelumnya industri televisi di dalam negeri didominasi oleh vendor asal Jepang, namun belakangan raksasa-raksasa elektronik asal Korea Selatan mulai menggerogoti keperkasaan Jepang. Di Indonesia, vendor asal Korea seperti Samsung dan LG mulai mampu melakukan penetrasi pasar.  Hal ini terlihat dari ekspansi yang dilakukan keduanya. PT. Samsung Electronics Indonesia mendongkrak kapasitasnya menjadi 1.340 ribu unit per tahun dari sebelumnya hanya 400 ribu unit per tahun. Sedangkan PT. LG Electronics Indonesia dari 1 juta unit per tahun menambah kapasitas produksinya menjadi 1.150 ribu unit per tahun.

Produksi

Dalam periode lima tahun terakhir, produksi televisi di dalam negeri diperkirakan mengalami pertumbuhan rata-rata sekitar 6,3% per tahun dengan tingkat produksi mencapai 5 juta hingga 6 juta unit per tahun.

Menyusul  krisis global yang  menyebabkan daya serap pasar berkurang akibat daya beli melemah, produksi televisi diperkirakan akan menurun sekitar 5% pada 2008.  Beberapa produsen sementara mengurangi produksinya sekitar 5% -10%, menyusul daya serap pasar rendah akibat daya beli melemah. Misalnya di wilayah Sumatera, saat ini daya beli masyarakat setempat yang kebanyakan petani menurun akibat anjloknya harga komoditas primer di pasar dunia seperti kelapa sawit, karet dan lainnya.  

PT. Panasonic Indonesia, PT. Panggung Elektronik dan PT. Sharp mengurangi produksinya termasuk televisi sebesar 5% sejak September 2008 dan akan berlanjut hingga akhir tahun. PT. Toshiba juga akan mengurangi 10% produksinya.

Sedangkan penurunan produksi terbesar dilakukan oleh PT. LG Electronics Indonesia (LGEIN) yang memotong hingga 20% untuk produksi televisi dan kulkas. Disamping itu, LGEIN juga akan merumahkan sekitar 20% karyawannya.

Dengan adanya pengurangan produksi maka otomatis target penjualan yang sudah disusun sebelumnya akan terpangkas.  

Tabel
Perkembangan produksi TV, 2003-2007

Tahun        Produksi
       (000 unit)        Pertumbuhan
                       (%)
2003        5.214                ---
2004        5.475                5,0
2005        5.748                5,0
2006        6.150                7,0
2007        6.642                8,0
Rata-rata pertumbuhan        6,3

Sumber : ICN diolah

Indonesia sebagai basis produksi LCD

Melihat pasar LCD di Indonesia yang cukup menggairahkan serta permintaan yang terus meningkat, sejumlah produsen menjadikan Indonesia sebagai basis produksi LCD.

Pusat produksi LG Electronics di Cibitung, Bekasi dijadikan sebagai basis produksi televisi LCD untuk pasar kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah. Perusahaan asal Korea Selatan itu memproduksi TV di Indonesia sejak 1999 dan pada 2005 mulai memproduksi TV LCD dalam bentuk rakitan untuk pasar lokal.

Kapasitas produksi LCDnya mencapai 50.000 unit per bulan yang tidak hanya ditujukan untuk pasar domestik, namun juga pasar ekspor. Sekitar 80% dari produksi LCD ini diekspor terutama ke Asia Pasifik dan sisanya ke Timur Tengah dan Australia.

Sampai saat ini, panel untuk TV LCD masih diimpor dari Korea Selatan, sementara komponen lainnya sudah berasal dari dalam negeri. Sekitar 60% dari total komponen televisi ini masih diimpor.

Pusat produksi TV LCD milik LG juga terdapat di sejumlah negara yaitu Meksiko, China, Brasil dan Korea Selatan.

Panasonic Gobel Indonesia sejak Januari 2007 telah memproduksi dalam bentuk rakitan tv LCD di Indonesia. Saat ini kapasitas produksi LCD dan Plasma masih sekitar 50.000 per bulan. Yaitu masing-masing terdiri dari TV plasma 20.00 unit dan TV LCD 30.000 unit. 

Untuk panel LCDnya masih dipasok dani impor dari Jepang.  Ukuran LCD yang diproduksi Panasonic di Indonesia masih tipe yang kecil yaitu ukuran 26 dan 32 inci yang memang permintaannya paling besar diantara ukuran tv LCD lainnya.

Rencananya Panasonic akan terus mengembangkan produksi LCDnya dan akan  membangun industri tv LCD di Indonesia.

Toshiba Consumer Product Indonesia sudah sejak 2004 memproduksi LCD  namun jumlahnya masih kecil, yaitu baru sekitar 50 ribu unit dengan ukuran yang kecil, 14 dan 20 inci. Baru pada 2005 Toshiba mulai produksi TV Plasma dan LCD dengan ukuran layar lebih besar yaitu 27, 32, 37 dan 42 inci. Kemudian pada 2006 Toshiba meluncurkan Plasma denga ukuran lebih besar lagi yaitu 47 inci.

Produksi TV plasma dan LCD tersebut sebagian besar masih diekspor ke mancanegara, hanya sekitar 10%-20% yang dipasok ke dalam negeri. Sedangkan  komponen lokal yang dipakai dalam kedua TV tersebut relatif masih kecil yaitu sekitar 10%, sementara 90%  komponen lainnya masih diimpor dari Jepang dan Taiwan.

Selain itu, sejumlah produsen elektronik lainnya yang sudah berada di Indonesia, seperti PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) dan PT Samsung  Electronics Indonesia, juga sudah memproduksi tv LCD di Indonesia dalam bentuk rakitan, dengan panel yang masih diimpor.

Namun kini pasar televisi  tidak lagi hanya didominasi oleh teknologi Jepang dan Korea, sebab kompetitor baru siap meramaikan pasar ini,  yaitu PT. Changhong Elektroniik Utama yang dimiliki oleh Sichuan Changhong Electronics Co, LTD yang dikenal sebagai brand nomor satu untuk televisi di Chna.  Setelah sukses menjadi pemimpin pasar televisi di China, Changhong kini melebarkan sayapnya ke Indonesia dengan memperkuat pabrik lini televisi-nya untuk pasar Indonesia.

Pasar TV Changhong masih sangat kecil. Sebelumnya Changhong dikenal sebagai produsen AC di Indonesia, yang memiliki market share AC sekitar 15% atau nomor dua di Indonesia. Karena itulah, Changhong Indonesia berupaya menguatkan brand awareness bahwa Changhong juga mampu memproduksi televisi bahkan yang termutakhir sekalipun.

Changhong tak kalah canggih dibandingkan merek lain yang non-Cina. Di luar Indonesia, Changhong termasuk empat besar pabrikan yang memproduksi panel televisi plasma, bersama Panasonic, LG dan Samsung.

Langkah Changhong dalam menggenjot penjualan televisi dilakukan dengan meluncurkan sejumlah produk baru yang membidik pasar khusus yakni, high end. Untuk kelas ini, Changhong menawarkan line up plasma TV dan LCD TV. Salah satu yang saat ini diandalkan adalah LCD TV tipe LT3219P. berukuran 32 inchi dan 37 inchi. Kelebihan lain juga terletak di fitur-fiturnya yang menawan, diantaranya. keberadaan slot untuk USB (USB 1.0, USB 1.1, USB 2.0) dan kartu memori (CF, MD, SM, MS, SD, MMC) di panel belakangnya. Bukan hanya itu saja, ketersediaan input HDMI untuk tampilan gambar yang high definition sudah dimiliki. Adalagi yang menarik dari LCD TV yang satu ini, yakni keberadaan fitur PIP (picture in picture) yang di sajikan dalam empat mode pilihan. Rasanya LCD TV ini benar-benar sudah mewakili apa yang Anda inginkan dari sebuah display layar datar.

Table - 5
Beberapa produsen yang memproduksi LCD dan kapasitas

Nama perusahaan        Kapasitas LCD
                       (unit per tahun)
LG Electronics Indonesia                        600.000
Panasonic Gobel Indonesia                        600.000
Toshiba Consumer Product Indonesia        200.000
Samsung Electronics Indonesia                800.000

Sumber : ICN diolah

Pemain utama

Awalnya yang memproduksi LCD dan Plasma hanya produsen  asal Jepang yaitu Toshiba, Sharp, Sony, Sanyo dan Hitachi. Kemudian belakangan produsen asal Korea Selatan seperti Samsung dan LG mampu menyaingi produk Jepang.
PT Sharp Electronics Indonesia (SEID)

Bisnis Sharp di Indonesia diawali pada 1970, ketika itu PT Yasonta memasarkan produk TV Sharp pertama kali di Indonesia yang kemudian ditunjuk Sharp Corporation di Osaka (Jepang) menjadi perwakilan dan perakit tunggal TV Sharp hitam putih di Indonesia pada 1971 yang kemudian memproduksi TV berwarna pertama pada 1975.

Pada 2005 PT Sharp Yasonta Indonesia yang merupakan perusahaan patungan PT Yasonta dan Sharp Corporation berganti nama menjadi PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) yang 93% sahamnya dikuasai Sharp Corporation dan sisanya 7% mitra lokal dari Indonesia.

Pada 2007 lalu Sharp telah mencapai produksi TV CRT  ke-10 juta unit dalam kurun waktu 37 tahun dan berencana akan terus memproduksi TV tabung sampai 10 tahun mendatang. SEID masih akan mempertahankan produksi TV CRT di Indonesia karena permintaannya masih cukup kuat di Indonesia, mengingat pendapatan per kapita masyarakat Indonesia belum terlalu besar.

Penjualan TV memberi kontribusi sekitar 40% bagi penjualan. Pada tahun 2008 SEID menargetkan penjualan sebesar Rp 3,8 triliun yang sekitar 40% atau Rp1,52 triliun berasal dari penjualan TV yang mengandalkan pasar dalam negeri.

Pada tahun 2008, SEID menargetkan mampu menguasai 30% pasar TV di Indonesia, sedangkan pada 2007 lalu sekitar 22%. Sampai akhir tahun 2008 ini SEID akan memproduksi 1,5 juta unit TV CRT. Kapasitas produksi TV CRT.SEID  mencapai sekitar 1,7 juta unit per tahun.

Sementara itu, pada tahun 2009 SEID menargetkan penguasaan pasar lebih tinggi yaitu 32%. Saat ini SEID memproduksi TV konvensional (CRT berlayar cembung), flat (CRT layar datar), dan slim flat (CRT layar datar yang ramping pada bagian belakang). Produksi TV konvensional sendiri masih dipertahankan, karena pasarnya masih ada, sehingga sekitar 30% produksi SEID merupakan TV konvensional.

PT. Toshiba Consumer Products Indonesia
PT. Toshiba Consumer Products Indonesia (TCPI) mulai hadir di Indonesia pada 1970an dengan memproduksi peralatan elektronik meliputi televisi, home appliance, computer system and business communication, dan copier, printer, fax, scanner dan e-solution.

Mulai memproduksi televisi di Indonesia sejak 1996, saat ini kapasitas produksi mencapai 1.700.000 unit per tahun. Selain di Indonesia , saat ini Toshiba memiliki basis produksi di Jepang, Amerika Serikat, Cina, Vietnam dan Inggris. Namun dibandingkan dengan  beberapa negara tersebut, dari segi volume produksi TV, pabriknya di Indonesia yang terbesar. Toshiba akan mrrelokasi semua pabrik TV-nya ke Indonesia yang diperkirakan akan selesai akhir 2008.

Hingga kini TCPI masih mengimpor panel LCD,  komponen lokal yang digunakan secara bertahap terus ditingkatkan.  TCPI setiap tahun terus memperkuat kandungan komponen lokal,  pada 2003 kandungan komponen lokal 34,5%, kemudian naik menjadi  menjadi 40,5 dari total nilai bahan baku televise pada 2004. Pada tahun 2004 total penjualan TCPI sekitar US$ 206 juta, diantaranya  sekitar US$ 170 juta berasal dari ekspor dan US$ 37 juta dari pasar domestik.
Selama ini sekitar 80% produksi Toshiba diekspor ke 40 negara di kawasan Asia kecuali Cina dan Korea, Oseania, Timur Tengah, Afrika, dan Rusia. Saat ini pangsa pasar Toshiba di pasar domestik sekitar 15%.

Pada 2007 lalu Toshiba telah mencapai produksi televisi 10 juta unit itu sejak beroperasi sekitar 1998. Toshiba juga menjadikan Indonesia sebagai basis produksi untuk ekspor di kawasan Asia Tenggara. Toshiba merupakan produsen TV dengan volume terbesar. Sedangkan kompetitornya seperti Sharp dan Panasonic hanya untuk mengisi pasar domestik. LG sebagian ekspor, tetapi tidak sebesar Toshiba.

Untuk meningkatkan pangsa di pasar LCD, principal Toshiba  dan Sharp di Jepang sepakat bekerjasama dalam bisnis semikonduktor dan LCD mereka.
Kerja sama ini bersifat timbal balik dan direalisasikan pada 2008.
Nantinya  Toshiba akan menggunakan modul LCD milik Sharp di semua televisi produksinya berukuran 32 inci dan yang lebih besar, sementara Sharp akan memakai chip komputer Toshiba pada televisinya untuk menghasilkan performa gambar yang lebih baik.

TCPI memiliki anak perusahaan bernama PT Toshiba Visual Media Network Indonesia (TVMNI) yang mulai beroperasi 2002. TVMNI dimiliki oleh Toshiba Singapore Pte Ltd dan PT Topjaya Sarana Utama.

TVMNI beroperasi sebagai distributor untuk menjual produk Toshiba untuk pasar Indonesia termasuk layanan purna jual khususnya produk-produk visual Toshiba yaitu televisi Plasma dan LCD.

PT. Samsung Electronics Indonesia
PT. Samsung Electronics Indonesia memproduksi bermacam peralatan elekstronik. Merk Samsung cukup dikenal di pasaran mulai dari LCD TV, Slimfit TV, Plasma TV, ponsel, monitor komputer, printer multifungsi, kulkas, mesin cuci, AC, pemutar DVD dan tape, audio video (hifi), MP3, home theater dan bluray.

Samsung memiliki kapasitas produksi televisi sebesar 1.340.000 unit per tahun. Pabriknya berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

Sepanjang tahun 2008, berbagai variasi produk telah diluncurkan Samsung. Seperti pada plasma TV, telah diluncurkan jenis TV berteknologi plasma dengan rasio kontras warna 1.000.000:1. Untuk jenis LCD, Samsung juga meluncurkan LCD dengan kecanggihan teknologi yang memiliki rasio kontras warna 70.000:1 berteknologi desain kristal.

PT. LG Electronics Indonesia
PT . LG Electronics Indonesia (LGEIN) memproduksi TV sejak 1999 di Cibitung, Jawa Barat. Kemudian pada 2005 mulai memproduksi LCD. LGEIN menjadikan Indonesia sebagai basis produksi televisi (TV) LCD untuk pasar kawasan Asia Pasifik dan Timur Tengah, di samping pasar domestik.
Saat ini kapasitas produksi LCD mencapai 50 ribu unit per bulan atau sekitar 600.000 unit per tahun. Sekitar 80% produksinya diekspor ke mancanegara, terutama Asia Pasifik, Timur Tengah dan Australia.

Sampai saat ini panel LCD untuk TV LCD masih diimpor dari Korea Selatan, meskipun komponen lainnya sudah berasal dari dalam negeri. Sekitar 60% dari total komponen TV LCD masih diimpor.  LG memiliki pusat produksi TV LCD di sejumlah negara, yaitu Meksiko, Indonesia, China, Korea Selatan, dan Brazil.

Tahun 2007 lalu LGEIN hanya memiliki pangsa sekitar 16%. Sementara itu, tahun ini pangsa LG ditargetkan akan naik menjadi 30% dari total pasar TV LCD di Indonesia.

Tahun 2008 ini LGEIN berkonsentrasi menggarap pasar LCD TV. Dengan produk yang baru diluncurkan seri Scarlet, target LG akan mendongkrak pangsa pasar. Untuk mencapai target tersebut LGEIN melakukan strategi dengan  road show di kota-kota besar mulai dari Jakarta berlanjut ke Bandung, Surabaya, Pekanbaru, Medan dan Makassar.


Investasi baru

Menurut data Deprin dalam periode 2005-2007 beberapa produsen melakukan ekspansi dengan menambah kapasitas produksinya. Pada 2005 Toshiba menambah kapasitas produksi televisi dengan menambah produksi TV LCD dan Plasma sebanyak 200 ribu unit per tahun.  Sehingga total kapasitasnya mencapai 2,2 juta unit per tahun. Tahap awal dilakukan perluasan pabrik dari 4 ribu m2 dengan investasi US$ 5 juta  dan selanjutnya 16 ribu m2 dengan investasi sekitar US$ 20 juta. Ini digunakan untuk menampung  relokasi pabrik TV Toshiba di beberapa negara ke Indonesia.

Selain di Indonesia, saat ini Toshiba memiliki basis produksi di Jepang, Amerika Serikat, Cina, Vietnam dan Inggris. Namun, dari beberapa negara tersebut, dari segi volume produksi TV, Indonesia yang terbesar.

Pada 2007 Hitachi menambah kapasitas sebesar 396.000 unit per tahun dengan investai sekitar US$ 7,8 juta. Selain itu, Samsung juga terus melakukan ekspasni dengan menambah kapasitas produksi 360.000 unit per tahun dengan investasi sebesar Rp 1, 6 triliun.

Mulai April 2008 LGEIN menghentikan tiga lini produksi televisi layar cembung (CRT)  menyusul naiknya biaya produksi dan turunnya segmen pasar TV tersebut di dalam negeri. Naiknya harga bahan baku seperti plastik yang mencapai sekitar 70%, kaca, dan lain-lain menyebabkan biaya produksi meningkat. Pada saat yang bersamaan harga TV layar datar (flat) hampir menyamai harga TV konvensional (CRT). Meski hanya menjual 25.000 unit televisi layar cembung pada tahun lalu, konsumsi televisi layar cembung di pasar lokal terus merosot dan digantikan oleh model televisi layar datar. Penjualan televisi layar cembung LG pada 2007 merosot 60%, sebab biaya produksi tidak efisien dan bahan bakunya sulit didapat, sedangkan trennya sudah habis.

Fasilitas produksi ini akan dialihkan ke televisi layar datar di pabrik Cibitung, Bekasi. dengan menambah investasi untuk teknologi moulding (cetak) yang dibeli dari Jerman, seharga Rp8 miliar per lini produksi dengan kapasitas produksi 500.000 unit per lini produksi per tahun.

Dengan akan diberhentikannya produksi TV konvensional maka LGEIN hanya akan memasarkan sisa produksi TV konvensional yang ada. Biaya produksi CRT mahal, padahal dengan material plastik dan kaca yang sama bisa memproduksi TV flat dengan harga lebih tinggi.  Penghentian produksi TV konvensional tidak akan menurunkan produksi TV LGEIN, karena jalur produksi TV konvensional yang mencapai sekitar 30 ribu unit per bulan, langsung dialihkan untuk memproduksi TV flat.

Dengan dihentikannya produksi TV konvensional, LGEIN juga akan menghentikan produksi tabung gambar untuk TV konvensional (CRT) dan hal itu akan menyulitkan produsen TV domestik lainnya yang masih memproduksi dan memasarkan TV konvensional seperti PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) yang membeli CRT dari LGEIN.

Ekspor

Ekspor produk televisi Indonesia anjlok dari 23.858 ton menjadi hanya 490 ton pada 2007. Nilai ekspor juga merosot menjadi hanya US$ 2,677 dari sebelumnya 247.907.

Penurunan volume ekspor ini disebabkan oleh besarnya permintaan di pasar dalam negeri. Sementara itu, di pasar internasional semakin dibanjiri oleh produk China yang lebih murah.

LGIN memberikan kontribusi cukup besar bagi ekspor televise nasional, sekitar 80% dari produksinya diekspor ke mancanegara terutama Asia Pasifik, Timur Tengah dan Australia. Selain itu, Toshiba juga mengekspor produksinya ke kawasan Asia Tenggara sekitar 80%  dan hanya 20% yang masuk ke pasar dalam negeri.

Ekspor terbesar ke Singapore
Berdasarkan data 2007, ekspor televisi asal Indonesia paling banyak ditujukan ke Singapore sebesar 320 ton atau sekitar 65,3% dari total ekspor televisi. Sementara itu nilai ekspornya mencapai sebesar US$ 571 ribu.

Sebetulnya negara lain seperti Eropa dan Amerika Serikat  merupakan pasar yang potensial, namun ekspor kenegara-negara tersebut masih relatif kecil.  Dari beberapa produsen LCD seperti LG, Samsung dan Sony mampu meraih pasar terutama yang berukuran 32 inchi yang cukup stabil di Eropa sejak akhir 2007 lalu. Pasar di Amerika Serikat  juga semakin menguat dengan semakin besarnya penyerapan LCD  terutama yang berukuran 40 inchi cukup besar.  ..........................

 
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
MONTHLY REPORT
HOME            Head Line            Fokus            Daftar Isi          Berlangganan