2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI PALM OIL DI INDONESIA
November 2009


Halaman Sebelumnya>>

 Pemain utama perkebunan kelapa sawit nasional

Perkebunan kelapa sawit semenjak tahun 1990 telah bergeser kepemiliknnya dari semula sebagian besar dimiliki oleh perkebunan milik negara kemudian setelah terjadi investasi besar-besaran dari perkebunan swasta maka kini perkebunan swasta mendominasi perkebunan kelapa sawit. Mulai tahun 1997 dan terutama setelah krisis moneter terjadi lagi perubahan dalam kepemilikan kebun kelapa sawit dengan masuknya investor Malaysia bauk dengan membuka kebun baru maupun dengan mengakuisisi perkebunan yang ada.

Akibatnya terjadi pergeseran kepemilikan dari kebun sawit karena banyaknya kebun sawit swasta yang besar menghadapi masalah keuangan karena besarnya hutang yang mereka tanggung. Saat ini grup-grup perusahaan yang memeiliki kebun sawit telah berubah, dan muncul perkebunan yang dimiliki oleh beberapa pemilik dengan porsi saham yang tesebar, baik saham yang dimiliki oleh publik maupun oleh private company. Berikut ini beberapa perusahaan  nasional yang memiliki luas kebun yang cukup besar.

PT Astra Agro Lestari
PT Astra Agro Lestari (AAL) adalah anak perusahaan dari Astra Group yang menjadi holding company  bagi divisi agrobisnis Astra Group. AAL saat ini mengelola  29 kebun kelapa sawit seluas 201.412 ha. Sebagian besar kebun kelapa sawitnya berlokasi di Sumatera seluas 102.021 ha, Kalimantan 62.545 ha dan Sulawesi 36.846 ha. 

Dari luas tersebut 91% atau 183.319 ha adalah tanaman produktif dengan rata-rata umurnya sekitar 11 tahun. Sisanya  seluas 18.093 ha adalah tanaman muda yang belum menghasilkan. Sejak tahun 2004 PT AAL lebih memfokuskan usahanya kebidang kelapa sawit dengan mendivestasikan usahanya dibidang non palm oil. 

Pada 2008 produksi CPOnya mencapai 981.538 ton, sedangkan pada tahun 2009 (Januari-November) meningkat menjadi 994.024 ton.  Sementara penjualan hingga pertengahan 2009 meningkat dari 479.909 ton pada periode yang sama tahun 2008 menjadi 494.018 ton atau mengalami pertumbuhan 3,6%. Selama periode tersebut, penjualan di pasar lokal mencapai 89,8% dari total penjualan atau sebesar 443.604 ton, sedangkan untuk pasar ekspor adalah sebesar 10,2% atau 50.414 ton. Pada 2009 ini, AAL telah mulai membangun 1 PKS baru di Kalimantan Tengah, dengan kapasitas olah 45 ton TBS per jam. 

Hingga saat ini AAL telah mengoperasikan 20 PKS, denga kapasitas oleh 940 ton TBS per jam. 1 PKS baru  lagi siap beroperasi  pada Desember 2009, dengan kapasitas olah 45 ton TBS per jam. Sehingga, sampai akhir tahun 2009 nanti, total kapasitas produksi AAL mencapai 985 ton TBS per jam.

Sedangkan pabrik pengepresan Kernel  (Kernel Crushing Plant), AAL memiliki 5 unit, dengan kapasitas 600 ton kernel per hari. Total kapasitas kernel akan segera bertambah, dengan selesainya 1 unit Kernel Crushing Plant di Jambi. Dengan penambahan 100 ton kernel per hari, maka total kapasitas Kernel Crushing Plant, menjadi 700 ton kernel per hari.

Untuk meningkatkan produksi pada 2010, AAL akan membangun 2 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) masing-masing berkapasitas 45 ton Tandan Buah Segar (TBS) per jam dan 30 ton TBS di Kalimatan Selatan dan Kalimantan Timur. Untuk ekspansi tersebut AAL menganggarkan belanja modal (capital espenditure/capex) sebesar Rp 1,4 triliun pada 2010.

PT Asian Agri 
PT Asian Agri (PT. AA) sebagai holding company dari divisi agribisnis Raja Garuda Mas Group memiliki perkebunan kelapa sawit yang tersebar  di wilayah Sumatera.

PT AA merupakan induk dari Grup Asian Agri yang terdiri dari AA Plantation I di wilayah Sumatera Utara. Grup Asian Agri kemudian melebarkan sayapnya ke Riau dan Jambi, sehingga mempunyai kebun inti dan plasma.

Saat ini Asian Agri memiliki 28 kebun kelapa sawit dan mengoperasikan 19 pabrik kelapa sawit di Sumatra Utara, Riau dan Jambi. Pabrik-pabrik itu mempunyai kapasitas untuk memproduksi CPO 1 juta metrik ton per tahun.  Semnatra itu, luas kebun kelapa sawit Asian Agri bertambah dari 3 juta hektar (2000) menjadi 3,7 juta hektar (2006). Selama kurun waktu itu, produksi kelapa sawit naik dari 5,1 juta ton menjadi 10,9 juta ton.

Grup Asian Agri melalui anak perusahaannya PT. Asianagro Agungjaya membangun pabrik biodiesel yang berlokasi di Dumai, Riau dengan menyerap investasi sebesar Rp 350 miliar. Pabrik ini mulai beroperasi pada 2008,  mengolah CPO menjadi biodiesel dengan kapasitas produksi awal sekitar 200.000 ton per tahun dan akan dinaikkan bertahap hingga kapasitas penuh 400.000 ton. 

Selain membangun pabrik biodiesel di Dumai, Asian Agri juga akan membangun satu unit pabrik biodiesel di Marunda, Jakarta dengan kapasitas 200.000 ton per tahun.  Pabrik tersebut mampu memproduksi biodiesel dengan tingkat kemurnian 100% sehingga dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif tanpa campuran minyak bumi.  Untuk menjamin pasokan bahan baku CPO, Asian Agri diketahui mengandalkan produksi kebun sendiri.

PT SMART 
PT SMART Tbk  adalah perusahaan  palm oil yang terintegrasi mulai dari kebun kelapa sawit, pabrik pemrosesan CPO dan pabrik pembuatan minyak goreng serta produk hilir olahan dari CPO lainnya. Perusahaan ini adalah anak perusahaan dari Sinar Mas Group  dibidang agrobisnis yang menguasai kebun kelapa sawit seluas 102.556 ha pada tahun 2005 yang berlokasi di Sumatera dan Kalimantan. Kebanyakan kebun kelapa sawit milik SMART Smart dalam masa produktifnya yaitu seluas 91.480 ha, sisanya tanaman yang masih muda dan belum produktif.

Untuk mengolah hasil kebun kelapa sawitnya, SMART memiliki  12 pabrik pengolahan kelapa sawit dengan kapasitas produksi 2,9 juta ton CPO per tahun dan 2 pabrik pengolahan inti kelapa sawit dengan kapasitas produksi 200.000 ton palm kernel oil per tahun. Pada tahun 2005 baru mulai dioperasikan 3 pabrik penghasil CPO di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan dengan kapasias produksi 450.000 ton CPO per tahun. Selain itu PT Smart memiliki pabrik penyulingan minyak kelapa sawit yang menghasilkan minyak goreng dengan kapasitas produksi 840.000 ton per tahun.

Saat ini SMART meniliki area tertanam 129.796 hektar dan area menghasilan 118.064 hektar di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Itu berarti meningkat dari 126.295 hektar untuk area tertanam dan 106.536 hektar untuk tanaman menghasilkan pada 2007.

Produksi CPO PT SMART selama 3 bulan pertama 2009 mencapai 121.697 ton atau turun 13,4% dibandingan 140.495 ton pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan produksi minyak sawit SMART disebabkan oleh produksi buah sawit yang berkurang 12,11% menjadi 474.073 ton dari sebelumnya yang mencapai 539.400 ton. Produksi kernel perseroan selama periode tersebut juga turun 14,1% menjadi 26.789 ton dari 31.181 ton.

PT Bakrie Sumatera Plantation
Bakrie & Brothers  Group pada tahun 2005, melalui anak perusahaannya yaitu PT. Bakrie & Brothers Tbk  meningkatkan  lagi kepemilikan  sahamnya di  PT. Bakrie Sumatera Plantation sebesar 28% yang sebelumnya telah diakuisisi sebesar 28.41%. Akuisisi tersebut dilakukan  guna memacu pertumbuhan usaha.

Selain itu PT. Bakrie Sumatera Plantations juga melakukan akuisisi kebun karet dan fasilitasnya PT. Huma Indah Mekar di Lampung serta  kebun sawit dan fasilitasnya PT. Agro Mitra Madani di Jambi dengan nilai akuisisi seluruhnya sebesar Rp. 140 milliar. Disisi lain PT. Bakrie Sumatera Plantations juga telah melepas aset yang dinilai tidak produktif,seperti kebun sawit milik PT. Patriot Andalas di Kalimantan Barat.

Pada tahun 2004 PT Bakrie Sumatera Plantation  (BSP) mengelola  32.712 ha kebun kelapa sawit.  Selain dikelola langsung oleh BSP, maka kebun kelapa sawitnya dikelola dibawah 3 anak perusahaannya yaitu PT Bakrie Pesaman Plantaion, PT Agrowiyana dan PT Patriot Andalas. Namun kini kebun seluas 2.090 ha PT Patriot Andalas sudah dilepas kepamilikannya.

Bakrie & Brothers Group telah merencanakan ekspansi besar-besaran di sektor agribisnis melalui perluasan lahan perkebunan  kelapa sawit dan karet  menjadi 50.000 hektar dan setelah itu akan masuk ke industri hilirnya yaitu minyak goreng. BSP akan bekerjasama dengan International Finance Corporation (IFC), anak usaha Bank Dunia, untuk membangun perkebunan kelapa sawit di Afrika Barat dengan  investasi US$ 200 juta, yang mulai direalisasikan mulai 2010.  

BSP juga akan melakukan ekspansi ke Kamboja dengan membuka lahan perkebunan seluas 10 ribu hektare dengan investasi US$ 30 juta atau sekitar Rp300 miliar. Sekitar 20% atau sekitar US$ 6 juta dari investasi berasal dari dari kas internal perseroan, dan sisanya berasal dari pinjaman luar negeri atau investor asing

PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum)
PT. Lonsum memiliki perkebunan kelapa sawit dengan luas areal 41.870 hektar di Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Seluas  27.359 hektar perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara merupakan kebun produktif dengan prasarana yang sudah tertata rapi. Sisanya seluas 9.277 hektar sebagian besar merupakan perkebunan kelapa sawit yang baru mulai matang dalam berbagai tahap pengembangan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur.

Setelah proses restrukturisasi di tahun 2004, Lonsum kembali menggiatkan usaha perkebunan di Sumatera Utara sementara melanjutkan kegiatan pengelolaan yang sempat tersendat di Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur. Perusahaan telah merehabilitasi sekitar 14.000 ha perkebunan inti dan tengah berupaya mengelola 15.000 ha perkebunan sawit di Sumatera Selatan. Untuk mengolah hasil kebunnya Lonsum memiliki 10 pabrik CPO dengan kapasitas produksi 220 ton TBS per jam.

Pada tahun 2004, Robert Kuok  Hock-Nien  pengusaha dari Malaysia membeli sebagian besar saham PT Pan London Sumatera  Plantation, perusahaan yang kini menguasai 20,94% saham PT PP London Sumatera Tbk. (Lonsum).  Kuok mengakuisisi saham Pan London Sumatera Plantation milik Andre Pribadi, adik  dari pemilik Grup Napan, Henry Pribadi. 

Pada 2007 Lonsum diakuisi oleh Grup Indofood melalui PT. Indo Agri Resources Ltd dengan nilai sekitar Rp 8,4 triliun. Dana untuk akuisisi didukung oleh  ING, Standard Chartered Bank, Sumitomo Mitsui Banking, dan Bank Cen-tral Asia. Bank-bank tersebut memberi pinjaman yang besaran¬nya sekitar IS$ 20-25 juta. 

Seperti diketahui, dua keluarga pengusaha besar, keluarga Salim pemilik PT Indosiar Karya Media Tbk dan keluarga Sariaatmaja, dikabarkan melakukan tukar guling lahan perkebunan sawit dan stasiun televise Indosiar. Keluarga Salim membeli lahan sawit PT Lonsum.  Sementara keluarga Sariaatmaja, yang memiliki stasiun televisi SCTV dan O Channel, mengambil alih stasiun TV milik keluarga Salim yakni Indosiar.

PT. Indo Agri sendisi merupakan perkebunan yang terintegrasi dan pengolah minyak goreng, margarin, dan shortenings dengan merek terkemuka.  IndoAgri sebelumnya memiliki lahan perkebunan kelapa sawit 224.083 ha, di antaranya sekitar 74.878 ha telah ditanami.  Dengan akuisisi ini, total lahan perkebunan meningkat menjadi sekitar 387.483 hektar, dan total lahan yang telah ditanami menjadi sekitar 138.081 hektar. Secara keseluruhan, luas lahan yang telah ditanami sekitar 165.000 hektar, termasuk karet dan tanaman lain.

Pada semester I 2009, PT. Lonsum telah menghasilkan 170 ribu ton CPO, sedangkan produksi CPO ditargetkan akan mencapai 380 ribu ton hingga akhir tahun.

Saat ini Lonsum memiliki 11 pabrik, antara lain 4 pabrik di Sumatera Utara, 6 pabrik di Sumatera Selatan, dan 1 pabrik di Kalimantan Timur. Total kapasitas keselurahan pabrik tersebut mencapai 405 ton per jam. Masing-masing pabrik memiliki kapasitas yang berbeda antara 10 hingga 60 ton per jam. 

PTP Nusantara IV
PT Perkebunan Nusantara IV (Persero), disingkat PTPN IV, adalah perkebunan milik negara yang dibentuk pada tahun 1996. Perusahaan yang berstatus sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini merupakan penggabungan kebun-kebun di Wilayah Sumatera Utara dari eks PTP VI, PTP VII dan PTP VIII.

PTPN IV mengusahakan komoditi kelapa sawit, kakao dan teh dengan areal konsesi seluas 153.872 hektar. Budidaya kelapa sawit diusahakan pada areal seluas 119.585,71 ha, kakao 7.796 ha dan teh seluas 7.963,77 ha. Selain penanaman komoditi pada areal sendiri ditambah perkebunan inti, PTPN IV juga mengelola areal Plasma milik petani seluas 9.158,56 ha untuk tanaman kelapa sawit seluas 8.996,56 ha dan tanaman teh 162 ha..

Selain unit usaha kebun PTPN IV juga memiliki sejumlah 34 unit pabrik pengolahan hasil perkebunan diantaranya pabrik CPO 16 unit, juga perusahaan negara ini memiliki fraksionasi yang menghasilkan turunan  kelapa sawit seperti RBD Olein, stearin dan fatty acid.

PTPN IV memiliki kapasitas produksi CPO sebesar 320 ribu ton per tahun dan Palm Kernel oil sebesar 31 ribu ton per tahun. Perusahaan ini merupakan perkebunan kelapa sawit terbesar milik negara.

Pada 2007 PTPN IV memperluas areal tanaman sawitnya dengan mengambil alih lahan sawit milik PT Andalas Agro Nusantara di Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Sumatera Utara seluas 20 ribu ha. Diantaranya 9.000 hektare akan diperuntukkan bagi pembukaan lahan plasma yang melibatkan petani di sekitar perkebunan. Dengan penambahan areal kebun, maka saat ini areal perkebunan sawit milik PTPN IV akan mencapai 135.978 ha.

Produksi CPO Meningkat 14,5% per tahun

Seiring dengan penambahan luas areal perkebunan serta berkembanganya industri kelapa sawit di berbagai wilayah seperti Sumatera dan Kalimantan serta membaiknya harga CPO dunia, mendorong produksi CPO nasional terus meningkat setiap tahun.  

Dalam periode 2005-2009 pertumbuhan produksi CPO mengalami rata-rata peningkatan sekitar 14,5.% per tahun.  Jika tahun 2005 produksi CPO nasional tercatat masih 11,9 juta ton, maka pada 2009 produksi CPO sudah melonjak  mencapai 19,4 juta ton. 

Kenaikan produksi CPO ini juga disebabkan meningkatnya volume ekspor terutama ke pasar Amerika Serikat dan kenaikan permintaan di pasar lokal terutama dari industri minyak goreng dan industri makanan lainnya. Selain itu, peningkatan produksi CPO juga didorong oleh semakin berkembangnya industri bio diesel, yang menggunakan CPO sebagai bahan baku utama, sejak beberapa tahun belakangan ini.  Halaman Sebelumnya>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN - November 2009

FOKUS: TANTANGAN PRESIDEN UNTUK MEREALISASIKAN PROGRAM 100 HARI PERTAMANYA

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI PALM OIL DI INDONESIA

INDUSTRI: INDUSTRI OLEOKIMIA INDONESIA MASIH MENARIK
  • Latar belakang
  • Gambaran produk        
  • Kapasitas Produksi oleokimia meningkat pesat tahun 2007 lalu
  • Bahan baku
  • Produksi
  • Utilisasi industry oleokinmia cenderung turun
  • Ekspor melemah
  • Impor menurun
  • Konsumsi oleokimia
  • Walau melemah Investasi terus jalan
  • Kesimpulan