2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE

INDUSTRI PALM OIL DI INDONESIA
November 2009


Halaman Berikutnya>>

Latar belakang

Sektor minyak kelapa sawit Indonesia mengalami perkembangan yang berarti, hal ini terlihat dari total luas areal perkebunan kelapa sawit yang terus bertambah yaitu menjadi 7,3 juta hektar pada 2009 dari 7,0 juta hektar pada 2008. Sedangkan produksi minyak sawit (crude palm oil/CPO) terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari 19,2 juta ton pada 2008 meningkat menjadi 19,4 juta ton pada 2009. Sementara total ekspornya juga meningkat, pada 2008 tercatat  sebesar 18,1 juta ton kemudian menjadi 14,9 juta ton sampai dengan September 2009.  

Sampai saat ini Indonesia masih menempati posisi teratas sebagai negara produsen minyak kelapa sawit (CPO) terbesar dunia, dengan produksi sebesar 19,4 juta ton pada 2009. Dari total produksi tersebut diperkirakan hanya sekitar 25% sekitar 4,8 juta ton yang dikonsumsi oleh pasar domestik. Sehingga  sebagai penghasil CPO terbesar di dunia, Indonesia terus mengembangkan pasar ekspor baru untuk memasarkan produksinya.   

Namun CPO Indonesia menghadapi tantangan berat di pasar ekspor terutama di pasar Uni Eropa (UE) yang sangat ketat. Saat ini di UE terdapat aturan EU Directive mengenai ketentuan emisi rumah kaca yang akan diberlakukan pada 2011. Dalam aturan tersebut negara UE tidak bisa mengimpor CPO karena dianggap komoditas tersebut tidak memenuhi ketentuan mengenai pembatasan emisi mereka. Akibatnya, CPO tidak bisa masuk ke pasar UE. UE menerapkan aturan tersebut karena penguasaan pasar CPO lebih besar daripada minyak nabati lainnya seperti seperti rapeseed, minyak kedelai, maupun  minyak bunga matahari. 

Berkaitan dengan peraturan EU Directive, Indonesia akan membuat penelitian bekerjasama dengan Belanda dan Jerman mengenai emisi gas rumah kaca.
Sebab UE merupakan pasar penting bagi CPO nasional sebab ekspor ke negara tersebut mencapai 2,7-2,9 juta ton pada 2007. Sehingga tidak mudah untuk mencari pasar pengganti dengan jumlah yang diekspor sebesar itu. Selain tu, beberapa produsen Indonesia memiliki beberapa fasilitas pabrik di sana.

Untuk mempertahankan ekspor, Indonesia mengembangkan pasar baru maupun memperbesar pasar yang sudah ada. Misalnya Pakistan, Bangladesh, dan Eropa Timur serta China. 

Saat ini masalah yang dihadapi oleh industri CPO nasional terutama infrastruktur termasuk akses jalan dan konektivitasnya dengan pengangkutan di pelabuhan untuk mendukung industri pengolahan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Untuk mengatasi hal tersebut,  pemerintah telah menetapkan perbaikan infrastruktur termasuk perbaikan infrastruktur di semua lahan CPO yang ada di Indonesia dan lima kluster dasar yang telah disiapkan oleh pemerintah yaitu Pantai Utara Jawa, Pantai Timur Sumatera, Kalimantan Timur, daerah Sulawesi dan Merauke. Hal ini dibahas dalam Indonesia Palm Oil Conference And Price Outlook 2010 pada November lalu di Nusa Dua Bali.

Masalah lain yang dihadapi industri CPO adalah tidak selaras dengan pertumbuhan industri turunannya. Pertumbuhan industri CPO dan produk CPO selama ini hanya diikuti pertumbuhan industri hulu. Seperti, industri fatty acid, fatty alcohol, glycerine, methyl esther. Sampai saat ini CPO belum dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan industri hilir. Produk industri hilir hasil olahan CPO yang pengembangannya masih minim seperti surfactant, farmasi, kosmetik, dan produk kimia dasar organik. Padahal dengan mengembangkan industri hilir, maka nilai mata rantai dan nilai tambah produk CPO akan semakin tinggi. Apalagi, produk turunan CPO mempunyai hubungan dengan sektor usaha dan kebutuhan masyarakat di bidang pangan. Misalnya, pupuk, pestisida, bahan aditif makanan, pengawet makanan, penyedap makanan, kemasan plastik.

Struktur Industri

Perkebunan kelapa sawit menurut status kepemilikan 

Dalam 10 tahun terakhir luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 8,7% per tahun dari hanya seluas 3.902 ribu ha pada 1999 meningkat menjadi 7.321 ribu ha tahun 2009.

Perkembangan pesat perkebunan kelapa sawit dimulai pada akhir tahun 1980an, ketika perkebunan besar swasta (PBS) mulai masuk ke sektor perkebunan dan pengolahan minyak kelapa sawit dalam jumlah besar. Sebelumnya perkebunan kelapa sawit didominasi oleh perkebunan milik negara (PBN). 

Sejalan dengan harga Crude Palm Oil yang terus meningkat maka selain perkebunan swasta besar, maka petani kecil mulai menanam kelapa sawit. Semula kebun sawit milik rakyat dibangun dalam skema inti plasma dengan perkebunan besar baik swasta maupun milik negara sebagai inti, namun kemudian perkebunan rakyat (PR) semakin berkembang diluar skema inti plasma.

Saat ini PBS mendominasi luas areal perkebunan sawit di Indonesia. Pada tahun 2009 dari total areal perkebunan kelapa sawit nasional seluas 7.077 ribu ha, sekitar 3.501 ribu ha (49,47%) diusahakan oleh perkebunan besar swasta (PBS), sedangkan 2.959 ribu ha (41,80%) diusahakan oleh perkebunan rakyat (PR) dan selebihnya 617 ribu ha (8,73%) adalah milik PBN.

Pada periode 1999-2009, pertumbuhan luas areal perkebunan besar negara hanya relatf kecil yaitu meningkat rata-rata 1,73% per tahun. Sedangkan pertumbuhan terbesar terjadi pada perkebunan rakyat yang mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata 12,01% per tahun. Sementara  perkebunan besar swasta meningkat rata-rata sekitar 5,04% per tahun. 

Penyebaran geografis

Menurut data Ditjen Perkebunan, areal perkebunan kelapa sawit tersebar di 17 provinsi meliputi wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. Tahun 2005 wilayah Sumatera merupakan yang terbesar yaitu sebesar 4.280.094 ha atau 76,46% dari total areal perkebunan kelapa sawit nasional. Di wilayah ini provinsi Riau tercatat memiliki areal terbesar yaitu 1.383.477 ha dan selanjutnya diikuti provinsi Sumatera Utara seluas 964.257 ha.

Wilayah lainnya yang juga memiliki areal perkebunan kelapa sawit cukup besar adalah Kalimantan seluas 1.108.288 ha (19,80%). Dengan luas areal perkebunan kelapa sawit sebesar 466.901 ha berada di provinsi Kalimantan Barat yang tercatat sebagai yang terbesar di Kalimantan, kemudian disusul oleh Kalimantan Tengah seluas 269.043 ha. 

Sedangkan di P. Jawa wilayah luas perkebunan kelapa sawitnya sangat terbatas yaitu hanya 26.046 ha atau 0,46% dari total areal nasional. Lokasi perkebunan sawit di wilayah Jawa hanya terdapat provinsi Jawa Barat dan Banten. Kondisi alam di Jawa Barat yang dingin dan berbukit lebih cocok untuk jenis tanaman teh, sehingga lebih banyak terdapat perkebunan teh di wilayah ini yaitu mencapai 77,83% dari total perkebunan teh nasional.   

Luas kebun menurut kondisi tanaman

Pertambahan luas  kebun kelapa sawit di beberapa propinsi seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan dan Kalimantan dalam jumlah besar dalam lima tahun terakhir menyebabkan masih banyaknya kebun kelapa sawit yang masih muda dan belum menghasilkan. Pada 2009, secara nasional kebun kelapa sawit belum menghasilkan 2.173.668 ha (29,7%) dan kebun produktif 5.062.019 ha (69,1%), sedangkan kebun dengan tanaman rusak relatif kecil yaitu hanya 87.417 ha (1,2%).

Wilayah Sumatera Utara yang telah lama mengembangkan perkebunan kelapa sawit, dimana rata-rata komposisi tanaman muda yang belum berproduksi memiliki luas 1.256.509 ha atau 17,2% dari luas kebun sawit nasional.  Dengan demikian dalam waktu dekat produksi sawit Indonesia masih akan meningkat dan akan segera dapat melampaui produksi kelapa sawit dari Malaysia yang rata-rata kebunnya sudah dalam keadaan dewasa atau telah pada puncak produksinya.

 Pemain utama perkebunan kelapa sawit nasional


Halaman selanjutnya>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN - November 2009

FOKUS: TANTANGAN PRESIDEN UNTUK MEREALISASIKAN PROGRAM 100 HARI PERTAMANYA

PROFIL INDUSTRI: INDUSTRI PALM OIL DI INDONESIA

INDUSTRI: INDUSTRI OLEOKIMIA INDONESIA MASIH MENARIK
  • Latar belakang
  • Gambaran produk        
  • Kapasitas Produksi oleokimia meningkat pesat tahun 2007 lalu
  • Bahan baku
  • Produksi
  • Utilisasi industry oleokinmia cenderung turun
  • Ekspor melemah
  • Impor menurun
  • Konsumsi oleokimia
  • Walau melemah Investasi terus jalan
  • Kesimpulan