2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Oktober 2010

Industri Pertambangan Batubara di Indonesia

 Perkembangan batubara dunia

Semenjak harga minyak dunia meroket tahun 2008, konsumsi batubara dunia kembali meningkatkan sebagai sumber energi. Hal ini terlihat dengan meningkatnya perdagangan batubara dunia yang meningkat cukup besar semenjak tahun 2004 yang lalu.

Peningkatan pasar batubara dunia terjadi seiring dengan peningkatan permintaan terhadap kebutuhan energi di India dan Cina yang ekonominya berkembang pesat. Peningkatan permintaan terhadap batubara juga terjadi di negara-negara Asean karena upaya mereka mencari energi alternatif pengganti  minyak bumi yang harganya tetap tinggi akhir-akhir ini.

Dalam lima tahun terakhir perdagangan batubara meningkat pesat dari 755 juta ton tahun 2004 menjadi 941 juta ton tahun 2009. Konsumsi batubara sendiri diperkirakan mencapai 4.646 juta ton tahun 2004.


Semakin pentingnya batubara sebagai sumber energi juga terlihat dari makin dominannya perdaganagn batubara jenis jenis batubara uap yang digunakan sebagai sumber energi untuk listrik atau untuk  boiler. Pada tahun 1995 perdagangan batubara dunia,  jenis batubara uap (steam) baru mencapai 297 juta ton, kemudian meningkat pesat sehingga mencapai 709 juta ton tahun 2009. 

Sementara itu batubara kokas (coking) untuk keperluan peleburan besi baja  pada tahun 1995 perdagangannya mencapai 196 juta ton, relatif stabil dan hanya mengalami sedikit peningkatan selama lebih dari sepuluh tahun sehingga pada tahun 2009 perdagangan batubara kokas hanya meningkat menjadi 232 juta ton.


Indonesia eksportir no 2 dunia

Sejalan dengan tetap tingginya permintaan batubara di pasar dunia, Indonesia terus menggenjot ekspor batubara dan  tetap mempertahankan posisinya sebagai eksportir batu bara no 2 dunia dibawah Australia. Sementara Cina dan Afrika Selatan semakin menurun perannya dalam ekspor batubara dunia karena konsumsi kedua negara tersebut semakin besar sehingga produksi batubaranya sebagian besar untuk konsumsi dalam negeri.

Selain Indonesia negara eksportir utma batubara dunia yang masih meningkatkan ekspor batubaranya adalah Colombia, Rusia dan Amerka Serikat.


Jepang merupakan negara importir batubara terbesar dunia. Selama ini Jepang sebagai negara maju yang mengkonsumsi energi yang besar sangat tergantung kepda negara lain untuk mendapatkan sumber energinya termasuk batubara, minyak dan gas.  Pada tahun 2009 impor batubara Jepang mencapai 165 juta ton

Sementara Cina yang sebelumnya merupakan produsen batubara terbesar dunia dan  salah satu eksportir batubara yang besar, kini telah menjadi net importir karena permintaan dalam negeri yang besar. Demikian juga India yang ekonominya meningkat pesat mendorong terjadinya permintaan terhadap sumber energi yang besar sehingga harus mengimpor lebih banyak batubara walaupun India termasuk produsen batubara yang besar.

Indonesia sebagai negara eksportir nomor dua di dunia ternyata hanya  menjadi negara produsen ke tujuh terbesar didunia. Cina sebagai produsen terbesar di dunia yang memproduksi 2,48 milyar ton batubara pada tahun 2008 juga merupakan konsumen batubara terbesar disusul oleh Amerika Serikat dan India.

Produksi batubara dunia pada tahun 2008 diperkirakan mencapai 7,271 juta ton atau meningkat sekitar 3,2% dibanding produksi tahun 2007 yang mencapai  7.047 juta ton. Produksi batubara ini diluar batubara jenis brown coal atau lignite yaitu batubara muda yang berkadar kalori rendah.


Cina dan Amerika Serikat adalah produsen dan sekaligus konsumen batubara terbesar di dunia. Pada tahun 2008 produksi batubara Cina mencapai 2,84 milyar ton dan Amerika Serikat mencapai 1.17 milyar ton. Sebagian besar batubara yang diproduksi kedua negara tersebut digunakan untuk konsumsi dalam negerinya sendiri yang besar. Sementara itu Indonesia yang merupakan negara eksportir batubara terbesar ke dua didunia sebenarnya produksinya tidak terlalu besar, namun karena konsumsi dalam negeri masih rendah maka kebanyakan produksi batubara dijual kepasar ekspor. Dengan makin meningkatnya permintaan dalam negeri yaitu semenjak PLN membangun lebih banyak PLTU batubara, maka Pemerintah mulai membatasi ekspor batubara. 




Cadangan batubara terbesar dikuasai oleh Amerika serikat sekitar 27% dari total cadangan batubara dunia disusul oleh Rusia, Cina dan India. Total cadangan batubara terbukti (proved reserve) didunia menurut data dari  Wourld Energy Council tahun 2005 mencapai 909 milyar ton, diantaranya 246 milyar ton  adalah cadangan batubara di Amerika Serikat yang memiliki cadangan abtubara terbesar di dunia.

Sedangkan Indonesia, walaupun menjadi eksportir no dua dunia namun cadangan batubaranya tidak begitu besar. Menurut data yang dikumpulkan oleh World Energy Council, tahun 2005 Indonesia hanya mempunyai cadangan batubara terbukti atau cadangan yang dapat diproduksi secara ekonomis 4,97 milyar ton, atau hanya  0,5% dari cadangan terbukti di dunia. Angka ini berbeda dibanding angka dari Departemen Energi dan Sumber daya Mineral yang  menghitung cadangan terbukti sebesar 6,9 milyar ton. Dengan berkembangnya kegiatan eksplorasi batubara maka pada tahun 2009 cadangan terbukti meningkat menjadi 18,8 milyar ton. Peningkatan cadangan ekonomis juga terjadi karena semakin tingginya harga batubara, sehingga cadangan yang sebelumnya tidak ekonomis menjadi cadangan yang ekonomis.



Jenis batubara dan spesifikasinya

Batubara, terdiri dari hardcoal dan brown coal atau batubara muda. Masing batubara ini memiliki karakteristik yang berbeda. Berikut ini penjelasan singkat dari setiap jenis batubara yang ada di Indonesia: 

       Hardcoal, adalah batubara yang mempunyai nilai kalori diatas 5700 kcal/kg (23,26 MJ/kg). Hardcoal terdiri dari batubara steam, batubara coking, bituminous dan antrasit.
       Brown coal atau batubara muda adalah jenis batubara yang nilai kalorinya rendah. Jenis batubara yang temasuk brown coal adalah jenis lignite sampai subbituminous. Batubara ini umumnya dapat digunakan untuk pembangkit listrik.
       Batubara Steam adalah batubara yang dipakai di ketel uap (boiler/steam generator) dan tungku pemanas. Yang termasuk dalam kategori ini adalah batubara antrasit dan bituminous. Nilai kalor bruto (Gross Calorific value) nya lebih besar dari 23.865,0 kJ/kg (5700 kcal/kg) dan dibawah batubara cooking.
       Batubara Coking adalah batubara yang bisa dipakai untuk membuat kokas untuk bahan reduktor di tungku peleburan baja (blast furnace).  Nilai kalor bruto (Gross Calorific value) nya lebih besar dari 23.865,0 kJ/kg (5700 kcal/kg) yang bebas debu.
       Batubara Subbituminous, adalah batubara yang mempunyai nilai kalor bruto (Gross Calorific value) antara 17.435,0 kJ/kg (4165 kcal/kg) dan  23.860,0 kJ/kg (5700 kcal/kg).
       Batubara Anthrasit, batubara yang berkwalitas paling tinggi karena kandungan kalorinya paling tinggi yaitu diatas 6900 kka per kg. batubara ini mempunyai sifat-sifat seperti batubara steam.
       Batubara Lignit, adalah batubara yang mempunyai nilai kalor bruto (Gross Calorific value) dibawah 4.165 kcal/kg (17,44 MJ/kg) yang mempunyai abu terbang (volatile matter) diatas 31% dalam keadaan kering.  Batubara lignit sering disebut sebagai batubara kelas rendah (Low Rank Coal), batubara jenis ini sering juga disebut sebagai Brown Coal.
       Kokas, adalah hasil karbonisasi dari batubara steam pada temperatur tinggi.  Produk ini dipakai sebagai reduktor pada peleburan baja.

Umumnya cadangan batubara yang terdapat di Indonesia, tergolong berumur tersier, yang terbentuk sekitar 65 juta tahun lalu.Sebagian besar (83%) produk tambang batubara Indonesia termasuk tipe batubara muda (brown coal)  yang termasuk katagori Lignit sampai Sub Bituminous, sebagian kecil (<20%) termasuk katagori Bituminous dan Antracite.

Batubara Indonesia dikenal memiliki kadar abu dan kadar belerang yang rendah. Sehingga dengan sifat-sifatnya itu, sebagian besar batubara Indone¬sia lebih cocok digunakan untuk bahan bakar, atau steam coal, yang kadar polusinya relatif rendah. 

Penyebaran Sumberdaya  Batubara

Cadangan terbukti (proven reserve) batubara saat ini yang terbesar berlokasi di provinsi Sumatera Selatan. Menurut data Januari 2009, tercatat cadangan batubara di provinsi Sumatera Selatan mencapai 9,54 milyar ton. Di provinsi ini beroperasi perusahaan tambang BUMN yaitu PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Yang memiliki wilayah pertambangan batubara terbesar di Bukit Asam.

Cadangan yang besar lainnya terdapat di provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Di provinsi ini beroperasi perusahaan tambang batubara swasta terbesar yaitu PT Adaro, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin, dll.

Era Kontrak Karya Berakhir

Industri pertambangan batubara di Indonesia meningkat pesat semenjak Pemerintah tahun 1983 mengundang perusahaan swasta asing dan domestik untuk menanamkan modalnya di tambang batu bara melalui kesepakatan kontrak karya (KK) pertambangan batubara. Sebelumnya pertambangan batubara dilakukan oleh dua perusahaan negara yang kemudian dimerger menjadi PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT BA).

Kontrak karya generasi pertama ditandatangani tahun 1983 terdiri dari 10 perusahaan yang kini 9 diantaranya telah berproduksi dan menjadi produsen batubara terbesar di Indonesia seperti PT Adaro, PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin dll.. Selanjutnya Pemerintah menandatangani konrak karya Generasi II antara  tahun 1993-1996 dengan 18 perusahaan diantaranya 8 perusahaan sudah memasuki tahap produksi dan 4 diantaranya sudah tidak aktif atau ijinnya dicabut. 

Pada tahun 1996, melalui Keppres No. 75/1996, Pemerintah telah melakukan pembaharuan pola pengusahaan batubara yang meliputi aspek investasi melalui deregulasi, penyederhanaan birokrasi dan kontrak. Salah satu peruba¬han itu, menyangkut ketentuan perjanjian kontrak dari Kontrak Kerja¬sama Batubara (Coal Cooperation Contract/CCC) menjadi Coal Contract of Work (CCOW), baik untuk perusahaan  kontraktor batubara dengan status PMA maupun PMDN. 

Saat ini era kontrak karya telah berakhir setelah DPR  menyetujui Undang-Undang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, Januari 2009 yang lalu.  UU no 4 tahun 2009 tersebut mengakhiri era kontrak karya dalam pengelolaan pertambangan di Indonesia yang sudah berjalan selama 41 tahun.UU baru ini menggantikan UU Pertambangan Nomor 11 Tahun 1967. Melalui UU yang baru ini, pengusahaan pertambangan dilakukan melalui pemberian izin oleh pemerintah.

Perubahan bentuk pengelolaan menjadi perizinan menjadi hal paling krusial dalam perubahan aturan pertambangan, karena dengan izin, posisi negara ada di atas perusahaan pertambangan. Kondisi ini yang tidak didapat dalam pola perjanjian kontrak karya. Perusahaan pertambangan dalam kontrak karya berada dalam posisi sejajar dengan negara. Perubahan atas kontrak hanya dapat dilakukan dengan kesepakatan kedua pihak.

UU Mineral dan Batu Bara (Minerba) juga memperjelas desentralisasi kewenangan pengelolaan pertambangan. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota juga diberi kewenangan untuk mengeluarkan izin pertambangan di wilayahnya.

UU Minerba juga mengakui kegiatan pertambangan rakyat dalam suatu wilayah pertambangan. Hal krusial lainnya menyangkut upaya meningkatkan nilai tambah dari bahan tambang dengan mewajibkan perusahaan tambang yang sudah berproduksi untuk membangun pabrik pengolahan di dalam negeri.

UU baru itu kemungkinan akan mengubah rencana investasi perusahaan tambang yang semula berharap masih bisa memperoleh bentuk pengelolaan kontrak karya.
Namun, ia menyatakan yakin secara keseluruhan UU baru ini tetap memberi kepastian investasi. Pihaknya, harus segera menyelesaikan peraturan pemerintah agar UU Minerba bisa segera diimplementasikan dan tidak terjadi kevakuman.

Namun dalam UU Minerba ini masih ada masalah yang kontriversial dan terus menjadi polemik di masyarakat. Pokok persoalan yang dipermasalahkan adalah ketentuan peralihan yang diatur dalam Pasal 169 yang terdiri atas bagian a, b, dan c.

Pasal 169 bagian a menyatakan Pada saat undang-undang ini mulai berlaku maka kontrak karya dan perjanjian karya pengusahaan pertambangan batu bara yang telah ada sebelum berlakunya undang-undang ini tetap diberlakukan sampai jangka waktu berakhirnya kontrak/perjanjian.

Banyak pihak menilai pasal itu menunjukkan UU Minerba bersifat diskriminatif, karena perusahaan-perusahaan baru dikenakan pembatasan yang sangat ketat, sementara perusahaan lama yang sangat eksploitatif diberi insentif untuk tetap melakukan kegiatan penambangan sampai masa kontrak berakhir. Pasal 169 bagian a seolah dapat diinterpretasikan sebagai perlindungan kepada perusahaan kontrak karya yang ada saat ini.
Penguasaan sumberdaya batubara

Sebagian besar  sumberdaya batubara dikuasai oleh perusahaan yang sebelumnya telah menandatangani kontrakkarya generasi pertama seperti  PT Adaro, PT Arutmin, PT Berau, PT Kaltim Prima Coal dan perusahaan tambang milik negara yaitu PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero). 

Pada kontrak karya Generasi III terdapat dua perusahaan tambang yang mempunyai sumberdaya diatas 1 milyar ton yaitu PT Pendopo Energi Batubara di Sumatera Selatan dan PT Yamabhumi Palaka di Kalimantan Barat, namun kedua tambang tersebut kini belum berproduksi dan masih dalam tahap eksplorasi. 

PT Yamabhumi adalah satu-satunya perusahaan penandatangan kontrak karya yang berlokasi di Kalimantan Barat dan menemukan  sumberdaya batubara yang besar yaitu sebesar 4,21 milyar ton, padahal menurut data dari Ditjen GSM per 1 Januari 2004 sumberdaya batubara di Kalimantan barat hanya 527 juta ton.
 

Produksi batubara meningkat 13.9% per tahun

Dalam sepuluh tahun terakhir  produksi batubara mengalami pertumbuhan yang sangat pesat terutama. Produksi batubara antara tahun 2001-2009 meningkat rata-rata 13,9% dari 92 juta ton menjadi 226 juta ton tahun 2009.  Sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia yang sangat tinggi, maka semakin banyak negara yang mengalihkan sumber energinya dari minyak bumi menjadi batubara. Keadaan ini mendorong makin besrnya produksi batubara Indonesia karena sebagian besar batubara produksi Indonesia sejak lama adalah untuk melayani pasar ekspor.

Dengan biaya produksi penambangan batubara yang relatif rendah di Indonesia maka dengan segera tamabang-tambang batubara Indonesia meningkatkan produksinya. Batubara  produksi tambang di Indonesia juga sangat cocol untuk bahan bakar pembangkit listrik yang bersih karena rendahnya kandungan sulphur. Diperkirakan akan makin banyak batubara muda yang juga akan ditambang sejalan dengan bertambahnya perminyaan untuk jenis batubara itu pada pembangkit listrik yang sedang dibangun PLN.

Produksi menurut provinsi

Pulau  Kalimantan memproduksi lebih dari 90% produksi batubara di Indoensia. Provinsi yang terbesar adalah Kalimantan Timur yang produksinya  pada tahun 2009 mencapai 127 juta ton.

Dengan lokasi yang strategis dekat ke lokasi pasar di kawasan Asia yang sedang tumbuh, maka batubara dari Kalimantan akan mempunyai daya saing yang cukup kuat dibanding batubara dari negara eksportir lain seperti Australia. 

Sumatera Selatan yang mempunyai sumberdaya batubara yang besar saat ini belum berkembang kecuali PT BA.

Produksi menurut perusahaan

Produksi batubara Indonesia lebih dari 80% dikuasai oleh enam perusahaan yaitu BUMI Energi (pemilik KPC dan Arutmin) yang produksinya pada tahun 2009 mencapai 58 juta ton, lalu Adaro dengan produksi 40,6 juta ton, Kideco 24,7 juta ton, Banpu Group 20,7 juta ton, Berau 14,3 juta ton dan PT BA 10,8 juta ton.

Secara individual produsen terbesar batubara saat ini adalah PT Adaro Indonesia  yang menggeser posisi PT Kaltim Prima Coal. Pada tahun 2005 produksi PT Adaro mencapai 40,6 juta ton. Kemudian disusul oleh PT KPC dengan produksi 38,15 juta ton.

Lihat Daftar isi>>
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan