INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER
Februari 2009
FOKUS
AKIBAT KRISIS FINANSIAL GLOBAL NERACA PERDAGANGAN AKAN DEFISIT
Dalam tiga bulan berturut-turut ekspor Indonesia mengalami penurunan yang cukup besar. Pada bulan November ekspor turun sebesar 11,09 % dibanding bulan Oktober 2008, kemudian pada bulan Desember ekspor turun sebesar 9,57 % dan pada bulan Januari ekspor Migas dan nonmigas Indonesia mengalami penurunan sebesar 17,70 persen dibanding Desember 2008 yaitu dari US$8.691,8 juta menjadi US$7.153,3 juta. Sementara bila dibandingkan dengan Januari 2008, ekspor juga mengalami penurunan sebesar 36,08 persen.
Keadaan ini menunjukkan dampak krisis finansial global sudah terjadi di Indonesia, pada sektor yang selama ini penunjang kuat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan terus berlanjutnya penurunan ekspor maka dikhawatirkan dampaknya akan luas terhadap perekonomian Indonesia.
Perkembangan ekspor Indonesia
Selain karena harga komoditas ekspor Indonesia menurun, maka volume ekspor juga menurun. Penurunan ekspor Januari 2009 disebabkan oleh menurunnya ekspor migas sebesar 23,85 persen yaitu dari US$1.243,7 juta menjadi US$947,1 juta. Sementara ekspor nonmigas mengalami penurunan sebesar 16,67 persen dari US$7.448,1 juta menjadi US$6.206,2 juta.
Penurunan ekspor migas disebabkan oleh menurunnya ekspor minyak mentah sebesar 18,05 persen menjadi US$373,2 juta, ekspor hasil minyak turun sebesar 26,31 persen menjadi US$71,4 juta dan ekspor gas turun sebesar 27,32 persen menjadi US$502,5 juta.
Hal ini lebih dikarenakan volume ekspor migas Januari 2009 terhadap Desember 2008 (berdasarkan data Pertamina dan BP Migas) untuk minyak mentah, hasil minyak, serta gas masing-masing turun sebesar 23,37 persen, 33,44 persen dan 15,31 persen. Sementara itu harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia justru naik dari US$38,45 per barel di Desember 2008 menjadi US$41,89 per
barel di Januari 2009.
Sementara itu, penurunan ekspor nonmigas terbesar Januari 2009 terjadi pada bahan bakar mineral sebesar US$191,9 juta, sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada timah sebesar US$47,5 juta.
Menurut sektor, ekspor hasil pertanian periode Januari 2009 menurun 8,24 persen dibanding periode yang sama tahun 2008, ekspor hasil industri turun sebesar 35,52 persen, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya turun sebesar 1,24 persen.
Komoditi lainnya yang juga mengalami penurunan ekspor adalah mesin/ peralatan listrik (HS 85) sebesar US$168,7 juta; mesin/pesawat mekanik (HS 84) sebesar US$88,1 juta; karet dan barang dari karet (HS 40) sebesar US$76,2 juta; serta lemak & minyak hewan/nabati (HS 15) sebesar US$68,6 juta.
Sedangkan komoditi yang mengalami peningkatan selain timah (HS 80) adalah besi dan baja (HS 72) sebesar US$38,0 juta; tembaga (HS 74) sebesar US$29,5 juta; perhiasan/permata (HS 71) sebesar US$13,9 juta, serta kertas/karton (HS 48) sebesar US$7,1 juta.
Selama periode Januari 2009, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 dijit) diatas memberikan kontribusi 51,89 persen terhadap total ekspor nonmigas. Dari sisi pertumbuhan, ekspor 10 golongan barang tersebut turun 35,31 persen terhadap periode yang sama tahun 2008. Sementara itu, peranan ekspor nonmigas diluar 10 golongan barang pada Januari 2009 sebesar 48,11 persen.
Jepang saat ini menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi komoditas ekspor dari Indonesia. Pada Januari 2009, Jepang masih merupakan negara tujuan ekspor terbesar dengan kontribusi 12,70 persen, diikuti Amerika Serikat 12,44 persen, dan Singapura 9,58 persen.
Ekspor nonmigas ke Jepang Januari 2009 mencapai angka US$788,0 juta, disusul Amerika Serikat US$772,3 juta dan Singapura US$594,5 juta, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,72 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa ( 27 negara ) sebesar US$1,03 miliar.
Pada hampir semua negara tujuan ekspor utama terjadi penurunan ekspor. Ekspor nonmigas Januari 2009 ke Jepang turun sebesar US$219,3 juta; Taiwan sebesar US$137,6 juta; Amerika Serikat sebesar US$134,7 juta; Singapura sebesar US$112,2 juta; Korea Selatan sebesar US$110,0 juta; Malaysia sebesar US$74,4 juta; Thailand sebesar US$19,4 juta; Australia sebesar US$16,7 juta; Perancis sebesar US$11,9 juta; Jerman sebesar US$10,1 juta; dan Inggris sebesar US$7,4 juta.
Hanya ekspor ke Cina yang mengalami sedikit kenaikan sebesar US$1,0 juta. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) pada Januari 2009 mencapai US$1.026,8 juta. Secara keseluruhan, total ekspor ke duabelas negara tujuan utama diatas turun 18,23 persen.
Dilihat dari kontribusinya terhadap ekspor keseluruhan Januari 2009, kontribusi ekspor produk industri adalah sebesar 68,60 persen sedangkan kontribusi ekspor produk pertanian adalah sebesar 4,09 persen, dan kontribusi ekspor produk pertambangan & lainnya adalah sebesar 14,07 persen, sementara kontribusi ekspor migas adalah sebesar 13,24 persen.
Perkembangan Impor
Sejalan dengan penurunan ekspor, maka impor juga mengalami penurunan. Nilai impor Indonesia Januari 2009 menurun sebesar US$1.357,3 juta (17,63 persen) menjadi US$6.342,6 juta yang terdiri dari impor migas sebesar US$1.043,4 juta atau men ingkat US$60,1 juta (6,11 persen) dan impor nonmigas sebesar US$5.299,2 juta atau menurun US$1.417,4 juta (21,10 persen) dibanding Desember 2008. Sedangkan impor melalui Kawasan Berikat sebesar US$1.172,4 juta dan di Luar Kawasan Berikat sebesar US$5.170,2 juta dengan kontribusi terhadap total impor masing-masing sebesar 18,48 persen dan 81,52 persen.
Selama Januari 2009 impor nonmigas terbesar adalah mesin/pesawat mekanik dengan nilai US$1,26 miliar atau 23,74 persen dari total impor nonmigas Indonesia. Negara pemasok barang impor nonmigas terbesar ditempati oleh Cina dengan nilai US$1,03 miliar dengan pangsa 19,47 persen, diikuti Jepang US$0,76 miliar (14,37 persen) dan Singapura US$0,66 miliar (12,39 persen). Sementara impor nonmigas dari ASEAN mencapai 22,90 persen dan Uni Eropa sebesar 10,80 persen.
Menurut golongan penggunaan barang, peranan impor untuk barang konsumsi dan barang modal selama Januari 2009 mengalami peningkatan dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya yaitu dari 6,75 persen menjadi 7,54 persen dan dari 16,71 persen menjadi 20,95 persen. Sedangkan peranan impor bahan baku/penolong menurun dari 76,54 persen menjadi 71,51 persen.
Dilihat dari peranan terhadap total impor nonmigas Indonesia selama Januari 2009, mesin/pesawat mekanik memberikan peranan terbesar yaitu 23,74 persen, diikuti mesin dan peralatan listrik sebesar 14,05 persen, besi dan baja sebesar 5,73 persen, barang dari besi dan baja sebesar 5,14 persen, kendaraan dan bagiannya sebesar 4,16 persen, bahan kimia organik sebesar 3,87 persen, dan plastik dan barang dari plastik sebesar 3,31 persen. Tiga golongan barang berikutnya diimpor dengan peran dibawah 3,00 persen yaitu serealia sebesar 2,49 persen, kapal, perahu dan struktur terapung sebesar 2,24 persen, dan kapas sebesar 1,91 persen. Peranan impor sepuluh golongan barang utama mencapai 66,63 persen dari total impor nonmigas dan 55,66 persen dari total impor keseluruhan.
Impor Nonmigas Indonesia Menurut Negara Asal Barang Utama
Total nilai impor nonmigas Indonesia Januari 2009 sebesar US$5.299,2 juta atau menurun sebesar US$1.417,4 juta (21,10 persen) dibandingkan Desember 2008. Dari nilai tersebut sebanyak 22,90 persen berasal dari ASEAN, dan 10,80 persen dari Uni Eropa.
Berdasarkan negara asal utama, impor nonmigas dari Cina merupakan yang terbesar yaitu sebesar US$1.031,6 juta atau 19,47 persen dari keseluruhan impor nonmigas, diikuti Jepang sebesar US$761,4 juta (14,37 persen), Singapura sebesar US$656,6 juta (12,39 persen), Amerika Serikat US$408,9 juta (7,72 persen), Thailand sebesar US$291,7 juta (5,50 persen), Australia sebesar US$249,5 juta (4,71 persen), Korea Selatan US$235,0 juta (4,43 persen), Malaysia sebesar US$213,7 juta (4,03 persen), Jerman sebesar US$151,1 juta (2,85 persen).
Selanjutnya impor nonmigas dari Taiwan sebesar US$149,9 juta (2,83 persen), Perancis sebesar US$60,2 juta (1,14 persen), dan Inggris sebesar US$42,7 juta (0,81 persen). Secara keseluruhan, keduabelas negara utama diatas memberikan peran sebesar 80,24 persen dari total impor nonmigas Januari.
Neraca Perdagangan 2009 dikhawatirkan akan defisit
Selama ini Indonesia selalu mengalami surplus perdagangan karena tingginya nilai ekspor dibanding nilai impor. Walaupun pada bulan tertentu terjadi defisit biasanya selalu diikuti dengan surplus pada bulan selanjutnya. Semenjak krisis finansial ini telah terjadi defisit perdagangan dalam beberapa bulan berturut-turut sehingga dikhawatirkan akan terjadi defsit perdaganagn selama tahun 2009.
Kekhawatiran itu beralasan karena pasar ekspor selama tahun 2009 diperkirakan masih akan lesu, sehingga komoditas ekspor utama Indonesia belum akan pulih pasarnya.
Sementara itu impor walaupun juga merosot, namun kini dikhawatirkan masuknya impor barang konsumsi dan barang jadi yang akan menggerogoti pangsa pasar produk lokal. Selama ini pertumbuhan impor terdiri dari berbagai bahan baku dan barang modal yang juga mendukung ekspor barang jadinya. Selama pertumbuhan impor ini untuk mendukung industri pengolahan yang berorientasi ekspor naiknya impor tidak menjadi masalah.
Namun saat ini yang dikhawatirkan, Indonesia akan menjadi target pasar bagi negara produsen yang selama ini menjual produknya ke pasar ekspor utama seperti Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, dan Jepang. Dengan lesunya pasar dinegara ekspor utma maka Indonesia akan menjadi pilhan untuk menyalurkan produk yang tidak terjual kepasar utama tersebut.
Langkah Pemerintah untuk melindungi pasar domestik dari serangan produk impor sampai saat ini belum efektif. Stimulus pajak berupa pengurangan tarif Bea Masuk masih diragukan efektivitasnya selama pemberantasan impor ilegal belum menunjukkan hasil yang berarti.
Perlu langkah yang lebih nyata dalam menahan laju penurunan ekspor bukan haya dengan stimulus fiskal juga dengan upaya menekan biaya-biaya yang harus dipikul oleh eksportir seperti biaya pelabuhan, tersedianya infrastruktur penunjang ekspor dan upaya memperluas tujuan pasar ekspor. Tanpa upaya yang sungguh-sunggu dikhawatirka neraca perdaganagn Indonesia tahun 2009 akan defisit.