2008-2009 DATA CONSULT. All rights reserved.
LAPORAN MARKET INTELLIGENCE


PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TEBU MENUJU SWASEMBADA GULA

Mei 2010

 Latar belakang 

Sejalan dengan pertumbuhan industri gula nasional, sektor perkebunan tebu sebagai pendukung utama industri gula juga tumbuh. Perkebunan tebu di Indonesia terus berkembang, hal ini ditunjukkan dengan luas area perkebunan yang terus bertambah dari tahun ke tahun. Sampai dengan 2009 luas lahan perkebunan tebu di Indonesia 473 ribu ha atau naik 2,9% dibanding 460 ribu ha pada 2008. Peningkatan ini terjadi karena perluasan areal di beberapa wilayah. Untuk tahun 2008 perluasan areal tidak hanya di luar Jawa tetapi juga dilakukan di Jawa karena masih ada areal yang bisa dikembangkan.   

Selama ini perkebunan tebu masih lebih banyak terkonsentrasi di pulau Jawa. Namun saat ini sudah mulai dikembangkan ke luar Jawa mulai dari Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan dan Gorontalo sedangkan di daerah Jawa yaitu, Jawa Barat, Yogyakarta dan Jawa Timur. Sedangkan untuk pengembangan perkebunan tebu di Indonesia, akan dilanjutkan ke Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Riau, Merauke, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Sejalan dengan meningkatnya areal perkebunan tebu, maka produksi juga meningkat dengan pertumbuhan sekitar 2,8% menjadi 2,85 juta ton pada 2009 dari tahun sebelumnya 2,66 juta ton. Peningkatan produksi tebu tersebut juga didukung oleh harga gula yang terus merangkat naik, sehingga mendorong minat petani menanam tebu.  
 
Saat ini masalah yang dihadapi oleh industri perkebunan tebu adalah masih kurangnya areal perkebunan dalam rangka mendukung program swasembada gula nasional yang ditargetkan pada 2014.  Untuk mencapai swasembada gula diperlukan dukungan lahan perkebunan tebu seluas 600 ribu hektar. Sehingga untuk mencapai swasembada gula diperlukan lagi tambahan perluasan lahan perkebunan tebu hingga sekitar 157 ribu hektar lagi. Saat ini telah disiapkan  lahan seluas 500 ribu hektar oleh Kementerian Kehutanan yang lokasinya tersebar di beberapa daerah di Indonesia, yang karakteristiknya sesuai untuk lahan  tebu. 

Sementara itu, dalam jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan gula nasional dari dalam negeri, pemerintah menetapkan akan memperluas areal tanaman tebu hingga 150.000 ha pada 2010 dengan tahap awal seluas 41.705 ha.  Untuk areal seluas itu dibutuhkan bibit sebanyak 1,25 miliar mata senilai Rp563 miliar. Perluasan lahan tanaman tebu tersebut difokuskan di Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu, Jambi, Sulawesi Tenggara, dan Merauke. Lahan yang disediakan adalah lahan terlantar yaitu bukan dengan cara menebang hutan. Pembukaan lahan akan dilakukan di areal budidaya dan hutan konversi, sementara anggaran akan dipenuhi dari dana pemerintah dan juga dapat dilakukan oleh investor swasta. 

Dengan diperluasnya areal perkebunan tebu, maka produksi tebu diharapkan bisa bertambah, sehingga bisa memenuhi kebutuhan gula nasional, baik untuk konsumsi maupun untuk kebutuhan industri. Penambahan areal  perkebunan tebu itu juga bisa mengurangi impor gula putih, yang selalu terjadi sejak 2004. Impor gula hanya boleh dilakukan jika produksi tidak memenuhi kebutuhan gula nasional. Satu bulan sebelum dan sesudah musim giling atau periode Mei-Januari pemerintah tidak akan melakukan impor gula, karena petani tengah memasuki masa panen untuk produksi gula. 

Dalam laporan ini akan dibahas menganai luar areal perkebunan, produksi, ekspor dan impor produk tebu di dalam negeri.  

Total areal perkebunan tebu 

Dalam 10 tahun terakhir luas areal perkebunan tebu di Indonesia terus meningkat dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 3,75% per tahun dari hanya seluas 340.660  ha pada 2000 meningkat menjadi 473.841 ha tahun 2009.

Pada periode 2008 dan 2009 terjadi peningkatan yang relatif kecil hanya 2,9% dari 460 ribu ha menjadi 473 ribu ha, hal ini disebabkan  karena harga gula anjlok pada saat itu sehingga menurunkan minat petani tebu untuk menanam tebu. Dengan luas areal 2009 mencapai 473 ribu ha, produksi  tebu 2,85 juta ton, produktivitas tebu 5,1 ton per ha, rendemen 7,83%, produksi hablur 2,6 juta ton dan produktivitas hablur 5,96 ton per ha. 

Lahan seluas 500.000 ha siap bangun

Pada 2010 ini luas areal perkebunan tebu diperkirakan akan meningkat menjadi 478.206 ha, atau mengalami peningkatan 4.365 ha. Peningkatan ini dipicu semakin membaiknya harga gula, baik di pasar internasional maupun dalam negeri disamping dalam rangka peningkatan produksi gula nasional, perluasan perkebunan tebu tersebut mendesak dilakukan, berkaitan dengan target swasembada gula yang direncanakan akan terpenuhi pada 2014. Seperti diketahui, produksi gula nasional sudah stagnan karena area luas lahan perkebunan tebu terbatas. 

Mulai 2010 ini dilakukan perluasan areal perkebunan tebu secara bertahap hingga mencapai seluas 150.000 ha di beberapa wilayah. Perluasan ini diperkirakan akan menyerap investasi sekitar Rp 4,2 triliun. Program perluasan tersebut dimulai pada 2010 mencakup wilayah Riau, Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, Lampung, dan Papua. Peningkatan luas areal tanaman tebu tersebut terutama terjadi di Jawa dan Lampung yang memang hingga saat ini masih menjadi basis pengembangan komoditas tebu.

Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan 500.000 hektar untuk perluasan tanaman tebu. Lahan itu diperlukan untuk menambah area tanam tebu dari yang saat ini 422.935 hektar menjadi 766.613 hektar pada tahun 2014. Perluasan untuk perkebunan tebu itu diambil dari lahan yang masuk kawasan hutan produksi, lahan hak guna usaha yang ditelantarkan, atau lahan PT Perhutani dengan penanaman pola tumpang sari. Untuk membiayai pengembangan  perkebunan tebu rakyat itu diperlukan investasi sekitar Rp 5 triliun. Dana itu diambil dari kredit perbankan melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi yang mendapatkan subsidi bunga APBN hanya Rp 17 miliar.

Sejumlah wilayah yang dinilai cocok untuk tanaman tersebut yakni Lampung, Sumatera Selatan, Riau, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Papua. Tanaman tebu hanya cocok untuk wilayah tertentu yang curah hujannya tidak terlalu banyak. Namun demikian, untuk perluasan perkebunan tidak mudah sebab adanya kendala pembebasan tanah. Dengan kondisi tersebut menyebabkan calon investor kesulitan untuk menanamkan investasi. 

Perluasan lahan, diperkirakan meningkatkan kebutuhan pupuk untuk komoditas perkebunan pada tahun 2010 yang diperkirakan 14,5 juta ton atau naik 4-5% dari tahun 2008 sebesar 13,8 juta ton. Sebanyak 1,8 juta ton di antaranya merupakan pupuk bersubsidi dari pemerintah, sisanya diimpor pelaku industri perkebunan. Untuk menekan penggunaan pupuk, terutama nitrogen, fosfor, dan kalium, Departemen Pertanian  mengembangkan teknologi hipernano. Produknya berupa konsulat yang bisa mendominasi unsur hara sehingga pertumbuhan tanaman tinggi, tetapi kebutuhan pupuknya sedikit. 

Untuk pengadaan lahan tebu, dibutuhkan investasi sekitar Rp 28 juta per hektar. Anggaran itu belum termasuk pengadaan pabrik pengolahan dan infrastruktur pengangkutan. Pembukaan lahan dilakukan di areal budidaya dan hutan konversi. Kebutuhan investasi akan dipenuhi dari dana pemerintah, namun tidak menutup kemungkinan adanya investasi dari pihak swasta. Saat ini banyak investor yang tertarik menginvestasikan dana untuk perluasan lahan itu. Namun, banyak investasi yang terhambat pembebasan lahan.

Perkebunan menurut status kepemilikan 

Sejalan dengan harga gula yang terus meningkat maka selain perkebunan swasta besar, maka petani kecil mulai kembali menanam tebu. Semula kebun tebu milik rakyat dibangun dalam skema inti plasma dengan perkebunan besar baik swasta maupun milik negara sebagai inti, namun kemudian perkebunan rakyat (PR) semakin berkembang diluar skema inti plasma.

Saat ini perkebunan tebu rakyat mendominasi luas areal perkebunan tebu di Indonesia. Pada tahun 2009 dari total areal perkebunan tebu nasional seluas 443.832 ha, sekitar 255. 513 ha (57,6%) diusahakan oleh perkebunan rakyat (PR), sedangkan 108.450 ha (24,4%) diusahakan oleh perkebunan besar swasta (PBS), dan sisanya 80.069 ha (18,0%) adalah milik PBN.

Pada periode 2000-2009, pertumbuhan luas areal perkebunan besar swasta (PBS) hanya relatif kecil yaitu meningkat rata-rata 0.9% per tahun. Sedangkan pertumbuhan terbesar terjadi pada perkebunan rakyat (PR) yang mencapai tingkat pertumbuhan rata-rata 4.7% per tahun. Sementara  perkebunan besar negara meningkat rata-rata sekitar 3.3% per tahun. ...
 
MONTHLY REPORT
INDONESIAN COMMERCIAL NEWSLETTER (ICN)
HOME            Laporan Utama          Fokus            Daftar Isi          Berlangganan   
Topik Terkait

ICN -Mei 2010

FOKUS: EKONOMI INDONESIA MASIH STABIL DITENGAH GONCANGAN KRISIS FINANSIAL

PROFIL INDUSTRI: PENGEMBANGAN PERKEBUNAN TEBU MENUJU SWASEMBADA GULA

PERTANIAN: PERKEMBANGAN AGRIBISNIS KAKAO DI INDONESIA